
"Maksud Abi?"
"Bukan ilmu atau harta sepadan yang akan membuat putriku bahagia. Pengertian dan rasa pedulimu akan masa depannya yang kelak akan membuatnya bahagia. Aku tidak butuh menantu yang berilmu tinggi atau berharta melimpah. Aku butuh hati yang mengerti akan air mata dan senyum putriku. Temuilah Aura dengan keberanian. Layaknya dirimu yang memintanya berani menemuiku. Putuskan yang terbaik diantara kalian. Sepenuhnya aku akan mendukung keputusan kalian!" ujar Abi Salim, Arkan menunduk terdiam.
Tak berapa lama terdengar suara azan dari speaker masjid. Salah satu santri mengumandangkan azan. Membangunkan santri yang ingin sholat di sepertiga malam. Arkan dan Abi Salim terhenyak. Mereka tak menyadari saat ada santri yang masuk ke dalam masjid. Lalu dengan isyarat mata, Abi Salim mengajak Arkan masuk ke dalam masjid.
Arkan dan Abi Salim berjalan beriringan masuk ke dalam masjid. Satu per satu santri dan santriwati datang memenuhi masjid. Tak butuh waktu lama, area masjid sudah dipenuhi para penghuni pesantren. Setelah sholat malam biasanya para santri mengaji sembari menunggu waktu subuh.
"Abi, maaf Arkan harus pamit sekarang. Besok pagi Arkan harus ada di rumah sakit. Arkan akan istirahat di rumah!" pamit Arkan, sesaat setelah selesai melaksanakan sholat malam.
Abi Salim mengiyakan, meski dalam hatinya masih mengganjal masalah yang tadi dibicarakan dengan Arkan. Namun seperti perkataannya pada Arkan. Beliau tidak akan ikut campur masalah antara Arkan dan Aura. Semua keputusan hanya ada di tangan mereka. Sepenuhnya Abi Salim percaya dan akan mendukung apapun keputusannya.
"Baiklah Arkan, kamu hati-hati di jalan. Jangan mengendarai sepeda motormu dengan kecepatan tinggi. Semalaman kamu belum tidur, takut nanti kamu mengantuk!" ujar Abi Salim lirih, Arkan mengangguk pelan.
Arkan mencium punggung tangan Abi Salim. Dengan lembut Abi Salim mengusap rambut hitam legam Arkan. Kasih sayang tulus nyata terlihat. Abi Salim sudah menganggap Arkan seperti putranya sendiri. Meski kelak dia tidak berjodoh dengan Aura. Arkan akan tetap menjadi putranya.
"Abi, sebelum Arkan pulang. Ada yang ingin Arkan katakan!" ujar Arkan, Abi Salim mengedipkan kedua matanya. Seakan mengerti maksud perkataan Arkan.
"Katakanlah, aku akan mendengarkan. Aku tidak akan mencampuri keputusanmu. Seandainya kamu tetap menolak Aura. Itu artinya Aura harus siap menangis dan terluka. Sebaliknya jika kamu mantap menerima Aura. Maka Aura harus siap meninggalkan pesantren ini. Mengikuti langkah berat kakimu. Menjadi makmum yang akan mendampingimu. Bukan mengunggulimu dengan kelebihan yang dia miliki!" tutur Abi Salim bijak.
__ADS_1
"Abi, aku sangat tersanjung mendengar Abi mempercayakan kebahagian kak Aura padaku. Aku merasa sangat berati, ketika Abi menyerahkan kebahagia permatamu padaku. Namun seperti yang aku katakan tadi. Pundakku masih terlalu rapuh, untuk menopang beban perbedaan yang ada. Tanganku masih sangat lemah, untuk menggandeng tangan kak Aura yang begitu berarti. Kedua kakiku terlalu berat melangkah melewati ujian hidup. Langkah yang hanya akan membuat kak Aura tersiksa!"
"Lantas!" sahut Abi Salim.
"Abi, di depan rumah Allah SWT. Aku berkata jujur, seandainya diriku siap hari ini. Takkan aku pulang tanpa menggandeng tangan kak Aura. Tidak perlu waktu untuk berpikir menjadi imam dunia akhiratnya. Namun Hanif Arkan Kahairullanam, tak lebih dari pemuda biasa dengan banyak kekurangan. Hatiku masih dipenuhi gelap dan hitam masa lalu. Hati kotor yang akan merusak kemurnian hati Kak Aura!" ujar Arkan lirih.
"Apa keputusanmu?" sahut Abi Salim santai.
"Kupertaruhakan cintaku dalam ketetapan-NYA. Kuletakkan kebahagianku dalam kehendak-NYA. Kupasrahkan pendamping hidupku dalam pilihan-NYA. Kupercayakan jalan hidupku dalam keadilan-NYA. Di sepertiga malamku, kusebut nama putrimu penuh keagungan. Berharap kelak dia yang akan menjadi pendampingku. Di sepertiga malamku, kupanjatkan doa penuh ketulusan. Bermimpi kelak akan ada bahagia diriku dengan amanahmu. Abi, dalam lantunan ayat-ayat suci. Kusebut nama putrimu dengan penuh rasa cinta. Mengharapkan ridho Allah SWT akan rasa cinta ini!" tutur Arkan tegas penuh rasa.
"Jika kamu sudah menyebut nama Aura di sepertiga malammu. Kenapa kamu masih bimbang hidup bersamanya?" tanya Abi Salim heran.
"Baiklah Arkan, Abi mengerti maksud perkataanmu. Pulanglah ke rumahmu, temui wanita yang menjadi alasan bahagia dan dukamu. Jika restu itu ada dan kamu yakin bersedia menjadi imam Aura. Kembalilah dan pinanglah Aura padaku. Bukan dengan harta atau mahar mewah. Cukup pinang putriku dengan diawali bismilah, diteruskan ijab qobul dan kamu tutup dengan alhamdulillah. Niscaya restuku akan selalu bersama kalian kelak!" tutur Abi Salim, Arkan mengangguk lalu pamit keluar.
"Tunggu Arkan, tidakkah kamu ingin bertemu Aura. Setidaknya katakan padanya, kenapa kamu menolaknya hari ini?" ujar Abi Salim, Arkan menggeleng. Abi Salim mrngeryitkan dahinya tak mengerti.
"Abi, kondisi fisik kak Aura belum stabil. Biarkan dia beristirahat. Aku tidak ingin menyakiti hatinya dengan memberikan harapan tak pasti. Sejujurnya meski aku sangat yakin akan rasaku. Namun dibalik semua rasa ini, ada ketentuan dan ketetapan-NYA yang tak mampu kita pungkiri. Aku tidak akan menemuinya, tanpa membawa pinangan padanya!" ujar Arkan tegas, Abi Salim tersenyum.
"Laki-laki yang meletakkan perasaan wanita di atas kepentingannya. Insyaallah akan menjadi imam yang baik, karena sejatinya imam bukan hanya pembimbing atau pendamping seorang makmum. Namun imam harus mampu merangkul dan mengerti hati makmumnya. Kini tak akan pernah aku ragu menyerahkan putri kecilku. Sebagai seorang ayah, aku masih merasa tak rela. Namun mendengar caramu memandang Aura. Kini sepenuh hati aku mengharap pinanganmu!" ujar Abi, Arjan mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Arkan berjalan keluar dari masjid. Di tengah dingin dan gelap malam. Arkan berjalan menuju rumah utama. Sebab sepeda motornya terparkir disana. Abi Salim mengikuti langkah Arkan. Dia menatap punggung tegak Arkan. Laki-laki yang dia harapkan mampu menjadi imam putrinya.
"Arkan, bisa kita bicara!" ujar Aura ramah, Arkan menoleh dengan tetap menggunakan helm di kepalanya. Kedua mata Arkan melihat Aura berdiri tepat di depannya. Meski terhalang kaca helm, tapi kecantikan Aura dan keteduhan wajahnya masih jelas terlihat.
"Asthgfirullahhaladzim!" batin Arkan sembari menekan dadanya pelan. Jantung Arjan berdetar sangat cepat. Bak ingin keluar dari tempatanya.
Aura sengaja menemui Arkan, saat dia merasa Arkan tidak akan menemuinya. Aura berlari sekencang mungkin. Ketika melihat Arkan sudah menaiki sepedanya. Mungkin Aura bersikap tidak tahu malu. Namun hati dan pikiran Aura hanya dipenuhi rasa pada Arkan. Dadanya terasa sesak, dia sulit bernapas.
"Ada apa kak Aura memanggilku?" sahut Arkan, Aura menelan ludahnya kasar. Saat Arkan menyahuti sapaannya. Selama bertahun-tahun mereka berada di bawah atap pesantren yang sama. Namun baru kali ini mereka begitu dekat.
"Kenapa kamu pulang tanpa menyapaku? Sekadar ingin mengatakan keputusanmu setelah bicara dengan Abi. Aku yakin Abi sudah mengatakan semuanya!" ujar Aura lirih, Arkan mengangguk pelan.
"Karena tidak ada yang ingin aku katakan padamu. Semua rasaku dan harapanku bersamamu. Sepenuhnya kukatakan di sepertiga malamku. Kini tak ada lagi yang ingin aku katakan!"
"Baiklah, aku mengerti sekarang. Jika kamu bisa meletakkan semua rasamu dalam doa di sepertiga malam. Aku akan melakukan hal yang sama. Sebab hanya DIA pemilik jawaban dalam setiap rasa gelisahku!" ujar Aura lirih, Arkan mengangguk pelan.
"Assalammualaikum!"
"Waalaaikumsalam!" sahut Aura lirih, sembari menatap Arkan yang menjauh mengendarai sepeda motornya.
__ADS_1
"Semoga selamat sampai tujuan, wahai calon imamku!" batin Aura.