
Kondisi Hanif mulai membaik setelah penanganan diambil alih oleh Nissa. Secara teknis Nissa bukan lagi dokter, tapi merawat cucu kesayangannya. Tidak akan membuat Nissa merasa keberatan. Sebagai dokter spesialis anak. Nissa mudah memahami sakut yang dialami Hanif. Baik secara lahir maupun batin. Cara penyembuhan yang selalu diterapkan oleh Nissa.
Pagi ini Nissa datang memeriksa kondisi Hanif. Dia datang bersama Hana, si cantik yang mulai cerewet. Selama Hanif berada di rumah sakit. Hana berada di bawah pengawasan Nissa dan Dimas. Sebenarnya ibunda Agam memaksa untuk merawat Hana. Namun dengan tegas Tika melarangnya. Cukup Hanif yang tertekan tinggal bersama Ibunda Agam. Tidak akan Tika membiarkan Hana tertekan. Bila terpaksa tinggal bersama orang tua Agam.
Bak gayung bersambut, penolakan Tika diiyakan oleh Agam. Entah kenapa Agam sepakat dengan Tika? Setidaknya itu membuat ibunda Agam terdiam dan tak lagi memaksa membawa Hana bersamanya. Kini Agam mulai bersikap realistis. Dia tidak lagi diam melihat sikap keras dan tak pantas orang tuanya Meski tak pernah bisa Agam merubah pemikiran ibunda Agam tentang Tika dan keluarganya.
Setelah melakukan pemeriksaan, Nissa dan Tika membawa Hanif ke taman rumah sakit. Bukan hanya obat yang dibutuhkan Hanif. Namun ketenanangan Hati yang sepenuhnya dibutuhkan oleh anak yang tekanan. Hanya dengan kehangatan sebuah keluarga. Kondisi Hanif akan membaik dan pulih kembali.
Tika dan Nissa menemani Hanif di taman rumah sakit. Sedangkan Agam membawa Hana keluar rumah sakit. Dia sedang membeli makanan kesukaan Hana. Sejak kecil Hana lebih manja pada Agam. Sebaliknya Hanif selalu mandiri bila berhadapan dengan Agam. Sebab itu Hana langsung bermanja, ketika bertemu dengan Agam.
"Mas Agam!" panggil Zalwa, Agam menoleh ke arah Zalwa. Agam melihat Zalwa datang dengang berpakaian kantor. Seketika Hana mengeratkan pelukannya pada Agam. Hana mengalungkan tangannya ke leher Agam. Saat Hana melihat Zalwa datang. Hana langsung menenggelamkan kepalanya ke pundak Agam. Entah apa yang membuat Hana merasa takut kepada Zalwa? Tak pernah sekalipun Zalwa mengusik Hana atau Hanif. Namun sikap takut Hana, seakan ingin menunjukkan rasa tidak suka Hana pada Zalwa.
"Kenapa kamu kemari? Aku sudah mengatakan padamu. Aku tidak akan memikirkan masalah kantor. Aku sudah memintamu mengambil alih semua urusan kantor!" ujar Agam dingin, sesaat setelah Zalwa berdiri di sampingnya. Zalwa diam membisu, tak pernah dia berpikir datang ke rumah sakit.
__ADS_1
Zalwa menyadari rasa tidak suka Hana dan Hanif padanya. Zalwa tidak ingin melihat kondisi Hanif semakin memburuk bila bertemu dengannya. Namun lagi dan lagi Zalwa harus menekan ketakutannya. Keegoisan ibunda Agam mengalahkan semua rasa pedulinya pada Hanif. Paksaan dari ibunda Agam dan orang tuanya. Memaksa Zalwa harus melawan hati nuraninya. Dilema Zalwa yang ingin keluar dari masalah keluarga Agam. Sikap baik Tika menjadi alasan terbesarnya untuk tak terlibat dalam pusaran rumit keluarga Agam. Tika bukan wanita yang pantas tersakiti.
"Aku hanya ingin menjenguk Hanif, tapi jika mas Agam melarang. Aku akan langsung pulang!" ujar Zalwa lirih, Agam menatap kedua bola mata Zalwa. Tak ada kebohongan dalam perkataan Zalwa.
Agam melihat sikap Zalwa jauh dari kata penggoda. Namun kehadirannya seolah menjadi duri dalam pernikahannya dengan Tika. Adanya Zalwa membuat ibunda Agam berpikir Zalwa jauh lebih baik dari Tika. Sikap ya ng tak seharusnya diperlihatkan oleh ibunda Agam.
"Baiklah, jika memang tidak ada niat yang lain. Aku ucapkan terima kasih, kamu bersedia menjenguk Hanif. Namun alangkah baiknya, kamu tidak menjenguknya. Di dalam ada Tika dan bundanya. Aku tidak ingin mereka salah paham akan kedatanganmu!" ujar Agam menolak Zalwa sopan. Zalwa mengangguk pelan.
"Tunggu Zalwa, kamu tidak boleh pergi. Hakmu jika ingin menjenguk Hanif, tidak seharusnya Agam menolak itikad baik seseorang. Apalagi orang itu peduli pada putranya. Tika dan Nissa tidak berhak menyalahkan kedatanganmu. Sekarang masuk bersama bunda!" ujar Ibunda Agam lantang, Agam dan Zalwa menatap dengan rasa terkejut.
Agam hanya bisa menghela napas panjang, tak pernah Agam berpikir kalau ibundanya ada di belakang mereka. Zalwa dan Agam hanya bisa pasrah. Melihat sikap keras ibunda Agam yang terus memaksa perjodohan diantara mereka. Akhirnya dengan langkah gontai, Agam masuk bersama Zalwa dan ibundanya.
Agam berjalan menuju taman rumah sakit. Dia melihat Hanif duduk di kursi. Tika dan Nissa berusaha menghibur Hanif. Mereka menjaga Hanif dan selalu berusaha membuat Hanif tersenyum. Ibunda Agam berjalan sembari merangkul tangan Zalwa. Seakan ingin mengatakan pada dunia. Bahwa Zalwa calon menantu, bahkan menantu satu-satunya. Sekilas Tika melirik ke arah Agam dan Zalwa.
__ADS_1
Nissa melihat jelas sikap Tika, ketika Agam dan Zalwa datang berdua. Nissa merasa sikap dingin dan tegas Tika sebagai cara dia menutupi rasa sakitnya. Nissa tidak pernah menyangka, semua bisa berputar begitu cepat. Kebahagian Tika hancur tak bersisa. Hanya karena sikap angkuh kedua orang tua Agam.
"Tika sayang, terbuat dari apa hatimu? Sampai bunda tak melihat raut wajah kecewa. Melihat Agam dan Zalwa datang bersama. Dimana air matamu tersimpan? Setidaknya menangis jalan yang terbaik saat semua ini terjadi?" ujar Nissa lirih, Tika menggeleng lemah.
Tika menatap lurus ke depan. Teduhnya taman penuh dengan pohon-pohon rindang. Seakan membuat Tika melupakan cemas dan gelisah yang pernah memenuhi pikirannya. Bukan dimana atau terbuat dari apa? Sekarang Tika bak pohon yang terus berdiri kokoh demi melindungi pohon-pohon kecil di sekitarnya. Meski diterjang hujan angin dan terbakar sinar matahari yang panas. Tegar Tika kini hanya demi Hana dan Hanif. Bukan orang lain, terutama menangisi cinta Agam yang tak layak dipertahankan.
"Hati Tika telah mengeras, seiring waktu yang terus berputar. Ketika hati ini melihat kegamangan mas Agam akan keutuhan pernikahan kami. Saat hati ini terus menangis, mendengar hinaan dan cacian yang tak ada hentinya. Tidak mungkin Tika diam melihat orang tuanya terus menyepelekan kalian. Air mata Tika tak ada lagi. Jika untuk menangisi hubungan diantara kami. Air mata murni dan suciku hanya akan sia-sia. Bila menangis demi mereka yang terus menganggapku hanya wanita angkuh. Seberapa besar cintaku, tetap akan mereka anggap penghinaan. Sebab mereka bukan butuh cintaku, tapi kehancuranku!" ujar Tika tegas dan dingin, Nissa menatap Tika lalu menoleh pada Hanif.
"Tapi Hana dan Hanif butuh Agam. Dia ayah yang seharusnya ada di saat-saat indah pertumbuhan Hana dan Hanif!" ujar Nissa bijak.
"Seandainya mas Agam berharap akan hubungan ini. Tidak perlu aku menunggu selama 2 tahun sikap tegasnya. Mungkin membuat Hana dan Hanif tumbuh jauh dari mas Agam salah. Namun membiarkan mereka melihat dan mendengar aku dihina dan disepelekan. Itu jauh lebih salah. Bertahan ketika terus tersakiti aku mampu, tapi bertahan dengan terus mendengar mereka menghina kalian. Jujur aku tidak sanggup. Bukan mereka yang membesarkanku, bukan mereka yang ada dalam sedih dan sakitku. Sangat tidak pantas, bila aku diam menerima sikap mereka!" ujar Tika, Nissa diam melihat amarah yang coba ditahan oleh Tika.
"Meski demi Hana dan Hanif!"
__ADS_1