
"Mama!" teriak Hanna sembari merentangkan kedua tangannya. Tika mendongak menatap Hanna yang berlari ke arahnya. Arkan diam menunduk, tanpa menoleh ke arah Tika.
Tika sempat melirik ke arah Arkan yang sejak berangkat dari rumah terlihat murung. Arkan sebenarnya bukan pribadi yang pemurung. Setiap masalah yang dihadapinya selalu dihadapi dengan tenang. Entah kenapa sejak semalam Tika melihat perubahan sikap Arkan? Terlihat gelisah dan lebih pendiam. Seolah mengatakan sedang terjadi sesuatu. Bahkan saat melihat Hanna berlari ke arahnya. Arkan tetap diam tak bergeming. Sikap dingin yang tak biasa dan penuh tanda tanya.
"Hanna, kamu sudah besar bukan anak kecil lagi. Apa pantas berlari sembari berteriak seperti itu? Sebagai seorang wanita, kamu harus bisa menjaga harga diri dan kesopananmu. Bukan ingin dipandang orang atau dipuji orang. Melainkan agar orang lain menghargai dan tidak memandang rendah pribadi kita!" tutur Tika lembut, Hanna mengangguk mengiykan.
Lalu dengan penuh kasih sayang dan kebahagian. Hanna memeluk Tika erat. Hanna mencium pipi Tika yang tertutup cadar. Kemudian mrnempelkan kedua pipinya di wajah Tika.
"Aku sayan mama, tidak peduli orang bicara apa? Namun nasehat mama akan selalu Hanna ingat. Sudah lama Hanna merindukan amarah penuh kasih sayang ini. Terima kasih!" ujar Hanna tepat di samping telinga Tika. Dengan lembut Tika membelai kepala Hanna. Mengiyakan perkataan Hanna yang penuh keharuan.
Arkan menoleh ke arah Tika dan Hanna. Seandainya dia bisa memilih mungkin Arkan akan tinggal di rumah saja. Sudah lama Arkan tidak pergi jalan-jalan. Dia lebih memilih istirahat di rumah saja. Arkan merasa malas bila menghabiskan waktu tanpa tujuan. Lalu terdengar helaan napas panjang Arkan.
"Sudah selesai belum, jika sudah kita berangkat sekarang!" ujar Arkan kesal, sembari menoleh ke arah Tika dan Hanna. Sontak Hanna menggeleng tidak setuju. Seketika pula Arkan melotot menatap Hanna.
"Kenapa lagi?" sahut Arkan ketus, Tika melihat perdebatan Arkan dan Hanna. Perdebatan yang dulu selalu terjadi hampir setiap hari.
"Papa meminta kita menunggunya sepuluh menit. Dia ingin pergi bersama kita!" ujar Hanna santai, Tika tercengang mendengar Agam akan pergi bersamanya.
Tika merasa aneh, ketika dia harus pergi bertemu Agam. Apalagi jelas baru saja Hanna mengatakan, Agam akan ikut bersama mereka. Tika merasa canggung harus bersikap seperti apa? Setelah lima belas tahun terpisah. Haruskah Tika bersikap biasa, seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
"Papa akan ikut. Bukankah kamu tadi mengatakan, dia sedang ada rapat. Sekarang kamu mengatakan, dia akan ikut dengan kita. Sebenarnya mana yang harus aku percaya!" ujar Arkan sinis, Hanna menatap Arkan lekat. Dia berjalan mendekat ke arah Arkan. Dengan penuh emosi, Hanna menatap Arkan.
"Apapun yang aku katakan semuanya benar. Kita tunggu saja sepuluh menit. Jika papa tidak datang kita pergi tanpa dia!" ujar Hanna menatang Arkan.
"Terserah!" sahut Arkan tak kalah emosi. Tika menggelengkan kepala melihat perdebatan Arkan dan Hanna. Lalu dengan lembut Tika menepuk tangan Arkan. Dengan isyarat mata, Tika meminta Arkan bersabar menghadapi Hanna.
"Kita tunggu papa sepuluh menit. Lagipula kita sudah menunggu tadi. Sepuluh menit lagi tidak akan membuat kita merugi!" ujar Tika menengahi, Arkan mengangguk setuju.
__ADS_1
Hanna langsung memeluk Tika. Dia merasa Tika sedang membelanya. Hanna merasa bahagia bisa merasakan kasih sayang Tika. Arkan mengutas senyum melihat kebahagian Hanna dan Tika.
Disisi lain, Agam berdiri bersandar pada dinding hotel. Dia sengaja bersembunyi dari Hanna. Sepuluh menit waktu yang diminta Agam. Hanya alasan semata demi melihat arti dirinya di hadapan Arkan dan Tika. Agam ingin membuktikan, bersediakah mereka menunggu Agam.
"Kebahagian yang seharusnya ada sejak dulu. Namun kuhancurkan dengan sikap bimbangku. Kini setelah lima belas tahun. Aku merasa semua seolah sangat pantas. Tika sayang, waktu telah menguji cintaku. Lima belas tahun kita terpisah. Pantaskah bila hari ini aku berharap kita bersatu kembali. Setelah melihat kasih sayangmu pada Hanna putri kecil kita!" batin Agam sembari tersenyum menatap keluarga kecilnya.
"Sudah lebih dari sepuluh menit. Kita jadi berangkat atau tidak?" ujar Arkan memecah kesunyian. Agam tersentak kala melihat Arkan berdiri. Dia tersadar dari lamunanya.
Arkan mulai merasa bosan menunggu Agam. Sebenarnya bukan kesalahan Agam bila Arkan merasa kesal. Permasalahannya dengan Aura, sedikit menyita pikirannya. Dia merasa kesal setiap kali teringat akan kebersamaan Aura dan Hafidz. Pribadi Hafidz yang pernah digadang-gadang menjadi calon suami Aura. Membuat Arkan merasa rendah diri. Aura pribadi nyaris sempurna dengan ilmu agamanya. Hafidz pribadi yang nyaris sempurna dengan ilmu dan latar belakangnya.
Arkan akhrinya berdiri menjauh dari Tika dan Hanna. Suka tidak suka, Hanna harus setuju untuk meninggalkan Agam. Dalam hati Hanna memggerutu. Dia marah kepada Agam yang telah berbohong padanya.
"Dasar papa, tidak bisa menepati janji. Sudah tahu sangat sulit bertemu kak Arkan. Sekarang malah membuat kak Arkan marah. Dari dulu sampai sekarang papa tidak pernah berubah. Selalu menyakiti mama, seolah mama tidak pernah bisa menangis. Papa jahat!" batin Hanna kesal, sembari menginjak lantai berkali-kali. Seolah ingin menunjukkan kekesalannya pada Agam.
"Sayang, papa mungkin sibuk. Hanna tidak boleh kesal atau marah pada papa. Lain kali kalau ada waktu. Kita akan pergi bersama papa. Mama yang akan membujuk kak Arkan!" ujar Tika lembut penuh kasih sayang. Ketenangan Tika dan sikap bijaknya, meneduhkan hati Hanna. Dengan sigap Hanna merangkul Tika. Sedangkan Arkan berjalan di depannya tanpa menoleh lagi.
"Hanna sayang, papa tidak akan melewatkan hari ini. Lima belas tahun papa menunggu hari ini. Papa akan mempertaruhakan segalanya demi bisa bersama kalian. Papa akan berubah lebih baik demi kalian!" ujar Agam sembari merangkul Hanna. Tanpa sengaja tangan Agam menyentuh tubuh Tika. Seketika Tika melepaskan rangkulan Hanna.
Tika menunduk malu, sebaliknya Agam merasa bersalah. Meski semua dia lakukan tanpa sadar. Hanya Hanna yang merasa bahagia melihat kedekatan kedua orang tuanya. Kedekatan yang dia harapkan selama lima belas tahun terakhir.
"Maaf!" ujar Agam lirih, Tika mengangguk tanpa menatap Agam. Keduanya merasakan desiran aneh yang tak pernah ada. Desiran hangat yang dulu ada saat mereka bersama. Namun Agam dan Tika seakan tak ingin menganggap itu nyata.
Tin Tin Tin
"Cepat, sudah waktunya kita pergi!" ujar Arkan kesal, sesaat setelah membunyikan klakson.
"Kak Arkan, ini mobil siapa?"
__ADS_1
"Diam dan duduk di belakang bersama mama. Papa akan duduk di depan bersamaku. Waktuku hanya sampai senja, setelah itu aku harus ke rumah sakit!" ujar Arkan tegas sembari memegang setir kemudi mobil sportnya.
"Memangnya kita akan pergi kemana?" ujar Agam membuka suara.
"Mengantar mama menatap senja, harapan yang dia inginkan selama ini!"
"Maksud kak Arkan?" sahut Hanna penasaran.
"Mama selalu merindukan hari dimana kita berempat menatap senja. Kebetulan hari ini kita lengkap. Jadi aku akan memenuhi harapan mama. Aku tidak tahu, kapan lagi kita bisa bersama?" ujar Arkan sembari mengemudikan mobilnya.
"Kenapa tidak tahu? Papa dan mama bisa kapan saja bersama?" sahut Hanna tidak setuju perkataan Arkan. Seketika Arkan menggeleng tidak sependapat.
"Tidak akan kubiarakan mama bersama papa. Lebih baik kita sempurna meski tidak utuh. Daripada utuh tapi tidak sempurna!"
"Kak Arkan!" teriak Hanna kesal dan emosi.
"Aku tidak ingin kita bersama, tapi mama menangis. Lebih baik kita terpisah, tapi mama bahagia. Sudah cukup mama terluka!" ujar Arkan tegas. Tika menggeleng lemah, sebaliknya Agam menunduk merasa bersalah.
"Maafkan papa!"
"Papa tidak salah, sebab cinta itu pengorbanan. Papa tidak bisa memilih mama dan meninggalkan kedua orang tua papa!"
"Arkan, kamu kenapa sayang?" sahut Tika lirih. Agam dan Hanna menatap Arkan bersama. Mereka baru sadar ada yang berubah dengan sikap Arkan.
"Aku baik-baik saja!" ujar Arkan dingin.
"
__ADS_1