
"Papa!"
"Kak Hanna!" sapa Qaila ramah, sontak Agam dan Hanna menoleh. Suara yang terdengar memanggil mereka sangat familiar. Suara yang pernah ada dalam hidup mereka.
Keduanya berdiri dari tempat duduk, menoleh ke belakang. Terlihat Qaila Fatimah Khanza, putri lain Agam. Putri angkat yang selalu mengharapkan cinta tulus Agam. Putri yang dibesarkan dengan kasih sayang, meski tak sepenuhnya tulus. Seorang adik yang selalu mengharapkan pelukan hangat dari Hanna.
"Qaila!" ujar Agam, Qaila mengangguk lemah.
Qaila gadis belasan tahun, hijab panjang menutup sebagian tubuhnya. Putri kecil Agam yang sejak kecil tinggal di pesantren. Qaila tidak pernah menyadari hubungan dirinya dengan Agam yang sebenarnya. Qaila menganggap Agam satu-satunya ayah kandungnya. Bagi Qaila tidak ada lagi ayah kecuali Agam.
"Assalammualaikum pa!" sapa Qaila ramah, dengan lembut Qaila mencium punggung tangan Agam. Lalu bergantian mencium punggung tangan Hanna. Tak lupa Qaila menghampiri Tika yang duduk tak jauh dari Hanna. Qaila mengangguk pelan menyapa Hafidz yang kebetulan duduk tepat di Tika.
Qaila berdiri tepat di samping Agam dan Hanna. Menatap lekat dua orang yang sangat disayanginya. Qaila menatap penuh harap, sebuah harapan akan sebuah pelukan dari Agam dan Hanna. Namun lama Qaila menunggu, harapan selamanya tinggal harapan. Qaila menghela napas mengakhiri harapnya yang tak akan pernah terwujud.
"Kenapa papa dingin? Kenapa kak Hanna tak menyayangiku? Aku merindukan kalian, satu kali saja aku ingin merasakan hangat pelukan kalian. Pelukan yang kuharapkan ada setelah bertahun-tahun kita tidak bertemu. Papa aku putrimu, aku berdiri di sampingmu. Sekali saja pa, sekali saja peluk aku, tanpa aku memintanya. Agar aku yakin papa juga menyayangiku. Setidaknya pelukan tulus papa pengobat rasa sepi dan dinginku!" batin Qaila pilu.
"Qaila, kapan kamu pulang dari pesantren? Dengan siapa kamu datang ke restoran!" ujar Agam lirih, Qaila menunduk membisu.
Qaila terdiam mendengar perkataan Agam. Perkataan Agam tak lebih dari sikap tak peduli Agam. Qaila berharap pelukan dan rasa khawatir Agam. Namun semua harapan harus berakhir pilu. Suara Qaila terhenti di tenggorokan. Rasa sakit di hatinya membuat dadanya sesak. Apalagi sikap acuh Hanna, semakin membuatnya hancur.
"Hanna, dia Qaila saudara perempuanmu. Dia adik yang harus Hanna lindungi. Tidak sepantasnya Hanna bersikap acuh dan dingin. Seorang kakak harus bisa menjaga adiknya!" ujar Tika ramah, Hanna menatap lekat Tika lalu menoleh ke arah Qaila yang tengan menunduk.
Hanna melihat jelas raut wajah sedih Qaila. Jika ada yang bertanya sakitnya tak dianggap? Dingin dan sepinya hidup tanpa saudara atau orang tua? Dengan mudah Hanna bisa menjawabnya. Sebab Hanna sendiri betapa sakit dan sesaknya hidup tanpa kasih sayang. Layaknya Qaila yang terus berharap pelukan dari Agam dan Hanna.
"Haruskah aku memeluknya? Adik yang tak pernah aku harapkan. Saudara yang membuatku kehilangan saudara yang lain. Seorang anak yang lahir dari rahim wanita perebut kebahagianku. Putri yang tanpa sadar menjadi sainganku mendalatkan kasih sayang papa. Meski sejujurnya dia tidak pernah salah dan pantas disalahkan. Qaila bukan anak yang tak pantas lahir. Hanya saja hatiku angkuh mengakuinya. Meski aku menyayanginya, aku terlalu takut mengakuinya!" batin Hanna bimbang.
"Sayang, duduk di samping mama Tika. Jika kakakmu Hanna tidak ingin memelukmu. Juga papamu yang tak menganggapmu. Kamu jangan bersedih, ada mama Tika yang akan menyayangimu!" ujar Tika ramah, lalu menarik tubuh mungil Qaila ke dalam dekapannya.
Agam dan Hanna tertegun menatap sikap Tika. Sedangkan Hafidz tersenyum penuh arti. Seolah dia memahami ketulusan hati Tika. Qaila mendekap erat Tika, kehangatan Tika membuat Qaila terharu. Terdengar isak tangis Qaila. Tika membelai hijab yang menutupi kepala Qaila.
"Tidak perlu takut, mama akan menyayangi Qaila. Layaknya mama Zalwa yang selalu menyayangimu!" ujar Tika lirih, Hanna menunduk malu. Dia tidak menduga, Tika akan bersikap sehangat itu pada Qaila. Meski nyata Qaila putri dari wanita yang membuatnya tersakiti.
__ADS_1
"Hanna, haruskah mama mengingatkan lagi. Kamu jauh lebih dewasa dari Qaila. Tidak sepantasnya kamu bersikap kanak-kanak. Jika itu kak Arkan, mama akan diam!" ujar Tika tegas, Hanna mengangguk mengerti.
Dengan lembut dan perlahan, Hanna menarik tubuh Qaila. Dia memeluk Qaila untuk pertama kalinya. Saudara angkat yang seharusnya mendapatkan kasih sayang layaknya saudara kandung. Hanna mendekap erat tubuh Qaila. Gadis cantik yang berbeda usia 6 tahun dengannya. Qaila membalas pelukan Hanna dengan hangat. Bahagia sangat bahagia, akhirnya harapannya terkabul juga. Pelukan penuh kasih sayang dan tulus dari Hanna.
"Maafkan kakak yang selalu mengacuhkanmu. Maafkan kakak yang membuatmu merasa tersisih. Maafkan kakak yang selama ini menjauh darimu!" ujar Hanna lirih, sembari mendekap tubuh mungil Qaila. Dengan tegas Qaila mengangguk mengiyakan perkataan Hanna.
Hanna menarik tubuh Qaila, mengusap air mata yang menetes haru. Hanna mencium lembut kening Qaila. Menunjukkan kasih sayang seorang kakak pada adiknya. Hafidz menatap Hanna penuh rasa bangga. Meski dia tidak tahu alasan sikap acuh Hanna. Namun Hafidz bisa melihat kasih sayang yang seakan tertahan.
"Hanna, lagi dan lagi aku kalah oleh rasa ini. Sikapmu membuatku semakin mencintaimu. Sampai kapan Hanna? Aku harus menahan rasa ini!" batin Hafidz sembari menatap penuh cinta ke arah Hanna.
"Mas Agam, dia mungkin bukan darah dagingmu. Namun dia tumbuh dengan kasih sayang dan keringat kerja kerasmu. Jangan acuhkan dia, jangan bedakan dia dengan Hanna dan Arkan. Sejatinya dia mengenal dan menganggapmu ayah kandungnya. Dia terlahir tanpa cinta, jangan rebut cinta keluarga yang menjadi haknya!"
"Tika sayang, dia putri Zalwa!" ujar Agam, Tika mengangguk mengerti.
"Aku tahu, jangan mas Agam pikir aku tidak mengetahuinya. Wajah cantiknya mengingatkan aku akan kecantikan mbak Zalwa!"
"Kamu tidak marah!" ujar Agam, lagi dab lagi Tika menggelengkan kepalanya pelan.
"Dia tidak salah dan tak pantas disalahkan!" ujar Tika final. Agam mengangguk sembari tersenyum simpul.
"Papa, kami masih ada disini. Tidak bisakah kemesraan kalian nanti saja saat berdua. Kami semua masih sangat kecil. Jangan kotori mata kami dengan hal yang tak pantas!" ujar Hanna lantang, Agam menatap tajam Hanna. Tika menggelekan kepala. Sikap santai Hanna persis dengan sikapnya kala remaja.
"Hafidz, maafkan tante. Kamu harus melihat kerumitan keluarga kami. Jika kamu ingin mundur menjadi bagian keluarga ini. Masih banyak waktu. Lebih baik pikirkan kembali keinginanmu. Hanna sangat jauh dari harapan!" ujar Tika menggoda Hafidz, Hanna melotot ke arah Hafidz. Seakan dia marah mendengar perjodohan diantara mereka.
"Jangan berani berharap padaku!"
"Lantas pada siapa aku harus berharap? Pada adikmu Qaila!" ujar Hafidz dingin dan tegas.
Nyuuuttt Nyuuuuttt Nyuuuuttt
"Kenapa hatiku sakit? Ada apa denganku? Seharusnya aku senang mendengarnya akan bersama Qaila. Kenapa malah terasa sakit dan menyesakkan!" batin Hanna heran, Hanna menepuk dadanya pelan. Berharap sakitnya segera hilang.
__ADS_1
"Kenapa tidak Hafidz? Dia juga putriku, kamu akan tetap menjadi menantu kami!" sahut Agam lantang.
"Papa benar, mereka berdua cocok. Sama-sama memiliki iman yang kuat!" ujar Hanna, lalu berdiri menjauh.
"Kenapa kamu pergi?"
"Aku tidak ingin menjadi obat nyamuk. Kalian berempat berpasangan. Lebih baik aku jalan-jalan!" sahut Hanna dingin, Hafidz berdiri mengrjar Hanna.
"Tunggu, aku belum selesai bicara!"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kalian serasi, jadi tidak perlu memamerkannya padaku!" sahut Hanna dingin, sembari terus berjalan.
"Aku tidak sempurna tanpamu. Hanya kamu yang kuharapkan menjadi tulang rusukku!"
"Tapi tulangku tak mampu menopang tubuhmu. Aku lemah dan rapuh. Carilah tulang yang jauh lebih kuat dan kokoh. Seorang makmum harus mampu mengikuti imam. Sedangkan aku tak ingin mengikuti langkahmu!" ujar Hanna tepat di depan Hafidz.
"Jika aku yang mengikutimu!" ujar Hafidz, Hanna menggelengkan kepala lemah.
"Kenapa?" ujar Hafidz.
"Hatiku penuh luka, aku tak ingin terluka. Maafkan aku, Qaila mungkin pantas untukmu!" ujar Hanna lalu berlari menjauh.
Tap Tap Tap Tap Tap
"Aku tak pantas menerima cintamu. Qaila jauh lebih sempurna dariku. Dia wanita sempurna, sedangkan aku wanita penuh luka. Bahkan papa dan mama sudah merestui hubungan kalian. Aku percaya, kelak Qaila akan membuatmu bahagia. Bertahun-tahun aku mengacuhkannya. Setidaknya kali ini aku bisa memberikan kebahagian padanya. Seandainya dia bisa menjadi bagian hidupmu!" batin Hanna sembari berlari tak tentu arah.
"Aku akan menunggu hatimu siap menerima rasaku!" ujar Hafidz lirih.
"Tenangkan dirimu, Hanna tidak selemah itu!"
"Arkan!" sapa Hafidz, Arkan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Jika kamu yakin dengannya. Tunggu dia siap, jika tidak lupakan dia selamanya!" ujar Arkan lirih.
"Aku akan menunggu hatinya menerima rasaku!" ujar Hafidz tegas dan lantang.