Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Dokter Hanna


__ADS_3

"Sayang!"


"Kak Hafidz, sejak kapan menungguku?"


"Aku baru saja datang. Shaila menghubungiku, bunda ada di rumah sakit!" Ujar Hafidz lirih, Hanna tercengang mendengarkan perkataan Hafidz.


"Bunda sakit apa?" Ujar Hanna histeris, Hafidz mengangkat kedua bahunya pelan. Hafidz tak mengetahui alasan pasti sakit Sinta. Namun dari raut wajah Hafidz nampak kekhawatirannya pada Sinta. Hanna melihat jelas kecemasan Hafidz.


"Kenapa kakak masih berdiri disini? Kita harus segera menemui bunda!" Ajak Hanna lantang, lalu menarik tangan Hafidz. Namun seketika Hafidz menahan tangan Hanna. Seolah tak ingin mengikuti permintaan Hanna.


"Kenapa?" Ujar Hanna lirih, seraya menatap heran Hafidz.


Hanya diam yang nampak oleh Hanna. Tak ada jawaban, sekadar menjawab rasa penasaran Hanna. Diam Hafidz seolah pertanda buruk yang akan terjadi pada Hanna.


"Bunda tak ingin menemuiku!" Ujar Hanna lirih, seraya melepaskan tangan Hafidz. Hanna mundur menjauh dari Hafidz.


"Sayang, kamu jangan salah paham!" Ujar Hafidz, Hanna menggeleng lemah. Sekilas nampak Hanna menelan ludahnya.


Hanna memegang dadanya, menenangkan hati yang mulai teras sakit. Hanna menahan air mata yang mulai mendesak ingin keluar. Rasa tersisih nyata membuat hati Hanna hancur. Dengan ketegaran, Hanna mengutas senyum ke arah Hafidz. Berharap Hafidz merasa tenang dengan senyumnya.


"Pergilah, aku akan menemui bunda nanti. Titip salamku pada beliau. Lagipula aku ada rapat, jadi tidak mungkin menemui beliau!"


"Sayang, kamu salah paham!"


"Kak Hafidz, aku baik-baik saja. Jangan pikirkan diriku. Jaga bunda sampai sembuh. Banyak waktu aku menemuinya!"


"Sayang, kita pergi menemui bunda!" Pinta Hafidz, Hanna menggeleng lemah. Hanna menepis tangan Hafidz. Berharap Hafidz pergi tanpa dirinya.


"Aku harus pergi. Nanti malam aku hubungi kakak. Jika memungkinkan aku akan datang menemuimu. Jaga bunda, jangan biarkan bunda sakit sendirian!"


"Tapi kamu!"


"Aku mampu sendiri tanpamu. Bunda lebih membutuhkan kakak!" Ujar Hanna lalu pergi menjauh dari Hafidz.


Hanna pergi tanpa menoleh ke arah Hafidz. Punggung tegak Hanna terus berjalan menjauh dari Hafidz. Tatapan nanar Hafidz mengiringi langkah kaki Hanna. Mungkin Hanna hancur dan terluka. Namun Hafidz jauh lebih hancur. Kedua matanya menatap Hanna menjauh. Rasa takut kehilangan yang takkan pernah bisa dilupakan Hafidz dengan mudah.


"Kak Hafidz!" Teriak Hanna lantang.


"Akhirnya kamu kembali sayang!" Batin Hafidz ceria.

__ADS_1


"Ada apa sayang?"


"Nanti aku akan meminta seseorang mengirim pakaian untuk kakak. Jadi tidak perlu kakak pulang ke rumah. Kakak fokus saja menjaga bunda. Salam untuk beliau, semoga cepat sembuh!" Ujar Hanna lantang dan tegas.


Hafidz mengangguk tanpa banyak bicara. Hanna menghancurkan kebahagian sesaatnya. Bukan menghiba untuk terus bersamanya. Hanna malah meminta Hafidz tetap di rumah sakit. Sebuah permintaan yang sebenarnya benar, tapi seakan tak benar bagi Hafidz.


Hanna pergi tanpa menoleh lagi. Keputusannya sudah sangat final. Tanpa menunggu kepastian dari Hafidz. Hanna sudah lebih dulu memutuskan. Hanna merasa kedatangannya takkan pernah diterima oleh bunda Hafidz. Meski niat Hanna baik, tapi akan terasa salah. Saat bunda Hafidz tak berharap bertemu Hanna.


"Sayang, kamu pergi menahan luka yang tak seharusnya ada. Bukan bunda tak ingin menemuimu. Namun membiarkanmu bertemu dengannya, saat ini tidaklah baik. Ada seseorang yang akan membuatnya keruh dan tak terkendali. Maafkan aku jika membuatmu menangis. Namun percayalah, akan ada hari semua ini berakhir. Hari dimana aku dan kamu akan hidup bahagia. Tanpa ada yang mengusiknya, hanya kita tanpa siapapun?" Batin Hafidz gelisah.


...☆☆☆☆☆...


"Bagaimana kondisi bunda?"


"Kakak sudah datang!"


"Hmmmm!" Sahut Hafidz dingin.


Shaila hanya bisa menghela napas. Melihat sikap Hafidz yang dingin. Dua saudara yang semakin menjauh, karena perbedaan pendapat. Hafidz berjalan mendekat ke arah Sinta. Hafidz menatap bunda tercintanya. Wanita yang mempertaruhkan seumur hidupnya demi dirinya dan Shaila.


Hafidz menggenggam erat tangan Sinta yang lemah. Guratan-guratan tipis di wajah Sinta. Seolah mengatakan banyak waktu yang dipertaruhkan Sinta untuk Hafidz. Lemah tak lagi kuat, kini yang dilihat Hafidz pada tubuh lemah Sinta. Pengorbanan yang takkan pernah dibalas oleh Hafidz, dengan apapun di dunia ini. Tiap tetes keringat Sinta, takkan mampu dibayar Hafidz dengan harta sebanyak apapun. Air mata yang menetes, nyata takkan mampu dihapus oleh tangan Hafidz.


"Siapa dokter yang menangani bunda?"


"Dokter Savira!" Sahut Shaila lirih.


"Aku akan menemuinya. Kamu jaga bunda, jangan tinggalkan bunda sendiri. Aku akan meminta satu suster berjaga di sini!"


"Kak Hafidz, kemana Hanna? Seharusnya dia ikut bersama kakak. Apa bunda tak penting baginya? Sampai dalam sakit bunda, dia tidak datang menjenguk!" Ujar Shaila ketus, Hafidz menggeleng seraya mengutas senyum sinis.


Hafidz merasa perkataan Shaila, tak lebih dari bensin yang menyiram api kecil. Percikan api besar nyata tengah dibuat oleh Shaila. Mencari kesalahan Hanna yang nyata hanya sebuah alasan. Agar Hafidz membenci Hanna dan membuat Hanna tersudut di depan keluarga besar Hafidz.


"Bagaimana mungkin aku biarkan Hanna datang menemui bunda? Saat aku tahu, kamu sudah menyiapkan pisau tajam!"


"Apa maksud kak Hafidz? Sejahat itukah aku dimata kakak. Sampai kakak berpikir sekeji itu tentangku!"


"Jika kamu tak ingin membunuh Hanna. Tidak akan membiarkan dia ada di sini. Orang yang akan membantumu menyakiti Hanna. Namun kamu salah, selama aku ada. Takkan kubiarkan kamu menyakiti Hanna dengan cara apapun!"


"Tapi dia ada, karena bunda yang mengundangnya. Aku tak pernah berniat mempertemukan dia dengan kak Hanna!"

__ADS_1


"Kamu tak berniat, tapi kamu sudah merencanakannya. Ingat Shaila, bukan dia kakak iparmu. Tapi Hanna Ramaniya Santika kakak iparmu yang sesungguhnya. Wanita yang kupilih dengan iman dan hati yang tulus. Jadi jangan pernah kamu berpikir mampu membuatku berubah pikiran. Dia hanya masa lalu, selamanya masa lalu!"


"Kakak terlalu jauh berpikir!"


"Sejauh atau sekeji apa aku berpikir tentangmu? Satu hal yang harus kamu tahu. Kehadirannya hanya akan membuat hubunganmu denganku semakin menjauh. Bunda belum menerima Hanna sepenuhnya, tapi dia tidak akan pernah membuat rencana yang menghancurkan kebahagian putranya!" Sahut Hafidz dingin dan tegas.


"Maafkan aku Hafidz, jika kehadiranku menyulut pertengkaran diantara kalian!"


"Kak Ziva tidak salah, kakak yang berlebihan menilai semua ini. Kehadiran kakak yang membuat bunda tenang!" Ujar Shaila seraya memeluk Ziva. Hafidz diam menatap Sinta. Baginya tidak ada yang lebih penting. Selain kesembuhan Sinta dan senyum wanita yang paling berharga di hidupnya kini.


"Sayang, dimana kamu? Aku merindukanmu, aku lemah tanpamu. Aku membutuhkan kehadiranmu. Senyummu yang ingin aku lihat saat ini. Sayang, datanglah temani aku dalam lemahku. Aku sangat merindukanmu!" Batin Hafidz.


"Permisi!"


"Silahkan masuk dokter Savira. Kami sedang menunggumu!" Sahut Shaila ramah, Ziva tersenyum melihat adik cantiknya. Dokter muda yang akan merawat Sinta ibunda Hafidz.


"Maaf sudah menunggu lama. Seperti yang saya katakan tadi. Saya datang membawa dokter yang akan membantu dalam penyembuhan nyonya Sinta!"


"Apa maksud dokter Savira?" Ujar Hafidz cemas.


"Maaf tuan Hafidz, kondisi ibu anda tidak baik-baik saja. Saya butuh dokter yang lebih berkompeten untuk menanganinya!"


"Lakukan apapun, selama itu terbaik untuk bunda!"


"Dokter Hanna, silahkan masuk!" Ujar Savira lantang, Hafidz menoleh kaget ke arah pintu kamar. Dia mendengar nama Hanna disebut. Seketika jantung Hafidz berdetak hebat. Ada rasa penasaran yang mengusik hatinya.


"Assalammualaikum!"


"Sayang!" Sapa Hafidz bahagia.


"Saat ini aku bukan istrimu, aku dokter yang akan merawat bundamu. Jika sebagai seorang menantu aku tak bisa merawatnya. Setidaknya aku bisa merawatnya sebagai seorang dokter!"


"Tidak mungkin!" Ujar Shaila tak percaya.


Nampak gelengan kepala Shaila tak percaya. Shaila melihat Hanna memeriksa Sinta dengan sangat teliti. Sesekali dia menulis sesuatu, lalu mengamati lagi. Savira tersenyum bahagia, melihat jiwa Hanna kembali. Menjadi pembisnis tak lain karena tuntutan. Sedangkan menjadi dokter, tak lain karena panggilan jiwanya.


"Percaya atau tidak, Hanna yang terhebat saat ini!" Bisik Savira pada Shaila.


"Dokter Savira, observasi 3 jam ke depan. Lebih dari itu, kita akan melakukan penanganan lanjutan. Jika tak ada tanda kesadaran dari alat vital beliau!" Ujar Hanna tegas dan lantang.

__ADS_1


"Siap!" Sahut Savira lantang.


__ADS_2