Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Pertemuan


__ADS_3

Tepat pukul 02.30 dini hari, Arkan keluar dari ruang IGD. Arkan sengaja keluar hanya untuk mencari udara segar. Arkan sulit untuk tidur bila sedang bertugas malam. Arkan takut ketiduran dan melalaikan tugasnya. Maka dari itu, Arkan selalu berusaha terjaga saat malam hari.


Arkan berjalan mengelilingi rumah sakit. Dia memeriksa setiap kamar yang berdekatan dengan IGD. Agar Arkan bisa membantu bila ada pasien yang mengalami komplikasi. Arkan terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Sampailah Arkan di mushola rumah sakit. Arkan melihat satu bayangan tengah duduk bersila di dalam mushola.


Arkan mendekat ke depan mushola rumah sakit. Arkan melirik jam di tangannya. Jarum jam menunjuk ke arah 02.45 dini hari. Sekilas Arkan mengangguk mengerti, kenapa ada orang di dalam mushola? Arkan terus mendekat, Arkan mengambil wudhu agar bisa masuk ke dalam mushola.


Arkan melakukan sholat malam, menyerahkan hidupnya pada ketetapan-NYA. Arkan bersimpuh di sepertiga malam. Mencari ketenangan hati yang penuh dengan kegelisahan. Setelah melakukan sholat malam. Arkan menyempatkan mengaji sebentar. Sebelum ada pasien yang membutuhkannya.


Sejenak Arkan lupa akan sosok yang membawanya ke mushola. Sosok yang mengingatkannya akan kewajiban yang selalu dia lakukan. Arkan larut dalam sujudnya, dia melupakan sejenak kehidupan dunianya. Sekitar lima belas menit Arkan mengaji. Kemudian menutup Al-Quran yang dipegangnya, menciumnya lembut dan meletakkan di keningnya. Arkan mendapatkan ketenangan setelah bersujud.


"Dokter Arkan!" sapa Aura, Arkan menoleh seraya mengeryitkan keningnya.


Arkan dan Aura keluar dari mushola secara bersama-sama. Tak ada orang lain di dalam mushola selain mereka berdua. Arkan mengacuhkan kehadiran sosok yang berada di dalam mushola. Sosok yang tak lain Aura sang penggetar hati. Aura menyapa Arkan, tepat setelah Arkan mengenakan sepatunya. Arkan tidak menyangka bisa melihat Aura di mushola rumah sakit.


"Kak Aura!" sapa Arkan ramah, Aura mengangguk mengiyakan panggilan Arkan. Aura mendekat ke arah Arkan, keduanya berjejer dengan tetap menjaga jarak.


Aura mengalami sulit tidur, dia merasa tidak betah di rumah sakit. Seandainya bukan karena menjaga Abi Salim. Aura tidak akan berada di rumah sakit. Kewajibannya sebagai seorang anak merawat dan menjaga sang ayah. Membuat Aura harus bisa bertahan. Arkan melihat raut wajah kusut Aura. Dia bisa menebak, jika Aura tidak tidur sejak tadi.


"Kenapa belum tidur?" ujar Arkan, Aura menggeleng tanpa bersuara. Dia tidak mungkin berkata jujur. Sebab dia takut Arkan akan tersinggung. Rumah sakit ibarat rumah kedua Arkan, tapi terasa mencekam bagi Aura. Sebisa mungkin Aura mencoba menutupi rasa takutnya. Agar Arkan tidak salah paham padanya.


"Lantas kenapa kak Arkan sendiri masih terjaga? Meski kak Arkan berjaga di malam hari. Pasti ada waktu untuk istirahat!" ujar Aura lirih, Arkan menatap Aura dengan raut wajah heran. Bukan karena perkataan Aura, melainkan panggilan Aura padanya. Arkan terkejut sekaligus tidak percaya. Mendengar Aura memanggil Arkan dengan panggilan kakak.


"Kak Aura, barusan kamu memanggilku apa? Aku tidak salah dengar!" ujar Arkan tak percaya, Aura tersenyum sembari menatap Arkan.

__ADS_1


Aura dan Arkan berbeda usia dua tahun. Aura lebih tua dibandingkan Arkan. Namun Arkan lebih dulu lulus sekolah. Sebab Arkan selalu loncat kelas. Aura menjadi adik kelas Arkan di sekolah, tapi menjadi kakak di pesantren. Selama ini Arkan menghormati Aura sebagai kakak. Sedangkan Aura belajar menghormati Arkan sebagai calon imamnya.


"Kak Arkan!" sahut Aura lantang, seketika Arkan mencubit lengannya dengan keras.


"Aaaawwwss!" teriak Arkan, sontak Aura memukul pelan punggung Arkan. Aura merasa sangat dekat dan nyaman di samping Arkan. Seakan tak ada jarak diantara mereka.


"Kenapa kak Arkan tidak percaya? Apa kakak tidak suka kalau aku memanggilmu seperti itu? Aku harus mulai belajar menghormatimu!" ujar Aura lirih dengan nada sedikit kecewa. Arkan terkekeh melihat kekesalan Aura.


Arkan berjalan keluar dari area mushola. Aura mengikuti langkah Arkan sang calon imam. Arkan berjalan sejajar dengan Aura. Arkan berada di tepi kanan lorong, sedangkan Aura berjalan di tepi kiri lorong. Keduanya berjalan bersama dengan status yang jelas.


"Kak Aura, aku tidak memintamu menghormatiku sebagai cara kita bersama. Sejatinya aku dan kamu sama, meski dalam banyak hal kita berbeda. Tidak perlu kita menyamakan diri satu dengan yang lain. Sebab berbeda itu cara kita saling memahami!" ujar Arkan tegas, Aura mengangguk setuju akan perkataan Arkan.


"Sikap tenang dan teduh yang membuatku mengagumi dirimu. Setiap kali kamu berada di titik terendahmu. Tak pernah aku mendengarmu mengeluh. Sebaliknya saat aku melihatmu, berada di puncak keberhasilanmu. Tak pernah aku melihat kesombonganmu!" ujar Aura, Arkan menatap Aura penuh tanda tanya.


"Sejak kapan kamu mengenal diriku? Begitu banyak yang kamu ketahui tentangku. Namun tak satupun yang aku ketahui tentang dirimu!" ujar Arkan tak percaya. Aura mengutas senyum simpul. Lalu Aura mendekat ke arah Arkan. Aura memegang tangan Arkan, tapi terpisah oleh hijab panjangnya.


Arkan heran melihat sikap tak biasa Aura. Dia tidak mengerti alasan keberanian Aura memegang tangannya. Meski dilapisi oleh hijab. Arkan menggerakkan kedua alisnya naik turun. Seolah bertanya alasan Aura memegang tangannya.


"Kak Arkan, jauh sebelum kamu melihatku. Aku sudah mengenalmu. Hatiku tergetar ketika aku melihat seorang pemuda di pinggir jalan. Pemuda yang berdiri di bawah guyuran hujan deras sore itu. Pemuda yang menggendong nenek renta menyebrang jalan. Ketika orang lain bingung berteduh, takut basah oleh hujan. Saat itu aku melihatmu menerjan derasnya hujan, demi membantu sang nenek!" ujar Aura tegas, Arkan mengingat kejadian yang diceritakan Aura.


Arkan mengingat saat itu dia membantu seorang nenek lemah yang sedang kehujanan. Arkan membawanya ke rumah sakit, tapi pihak rumah sakit menolak merawat. Sebab tidak ada jaminan untuk membayar biaya rumah sakit. Alasan sebenarnya Arkan ingin menjadi dokter. Agar tak ada lagi pasien yang ditolak saat membutuhkan bantuan.


"Dimana kamu saat itu?" sahut Arkan dingin, Aura menunduk merasa malu akan sesuatu. Arkan menangkap sikap aneh Aura.

__ADS_1


"Aku gadis yang menghalangi jalanmu. Aku gadis yang tak membiarkanmu ikut dengan mobilku!" ujar Aura lirih merasa bersalah. Aura bersandar pada tiang penyangga. Aura menunduk malu, dia orang yang membuat Arkan susah secara tidak langsung. Aura dulu bukan yang sekarang. Rasa kagum pada Arkan membuatnya ingin berubah lebih baik.


"Jika kamu gadis itu, bagaimana bisa kamu berubah drastis?" sahut Arkan tak percaya.


"Tangan ini yang membuatku ingin berubah. Aku ingin menjadi makmum yang sepadan denganmu!" ujar Aura sembari mengangkat tangan Arkan.


"Aku beriman bukan karena dirimu, tapi cintaku membuatku semangat menjadi pribadi yang lebih baik. Belajar berbagi dan memahami orang lain. Seperti dirimu yang tak pernah lelah membantu!" ujar Aura, Arkan mengangguk sebentar lalu berjalan meninggalkan Aura.


Sejenak Aura berpikir Arkan membencinya. Aura takut Arkan marah mengingat sikap tak pantasnya. Aura terus mengikuti langkah kecil Arkan. Udara pagi mulai menusuk tulangnya. Ingin rasanya Aura pamit pada Arkan. Namun membiarkan Arkan sendirian. Hanya akan membuat Aura kegilisah.


Arkan melepaskan jas putih kedokterannya. Arkan berjalan mundur ke arah Aura. Raut wajahnya serius, Aura menelan ludahnya kasar. Dia benar-benar takut melihat amarah Arkan.


"Kembalilah ke kamar Abi Salim. Sebentar lagi subuh, tapi udara pagi sangat dingin. Aku akan kembali ke ruang IGD. Besok pagi, kita sarapan bersama!" ujar Arkan lirih, sembari memakaikan jas putih dokternya. Aura menoleh terkejut, ketika merasakan sentuhan Arkan. Secara tidak langsung Arkan memeluk Aura.


Tatapan Aura menatap lekat Arkan. Keduanya saling bicara dalam hati. Kekaguman yang sudah ada sejak lama. Kini mulai menemukan jalan untuk bersatu. Arkan mundur beberapa langkah, sesaat setelah memakaikan jasnya pada Aura.


"Terima kasih!" ujar Aura, Arkan mengangguk pelan.


"Kak Aura, jika aku semangatmu berubah. Sebaliknya suara yang membuatku lemah!" ujar Arkan.


"Maksudmu!" sahut Aura tak mengerti sekaligus sedih. Ketika Arkan mengatakan dirinya alasan lemah Aura.


"Sebab suaramu yang mengusik malamku. Suaramu yang mengusik jiwa dan hatiku. Suaramu yang membuatku kalah oleh hawa napsu. Seandainya aku bisa, ingin kurobohkan dinding pembatas diantara kita. Akan kuucapkan ijab Qobul, agar selamanya kamu halal untukku!"

__ADS_1


__ADS_2