Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Sifat yang Sama


__ADS_3

"Cinta, apa itu cinta? Jika cinta itu indah, kenapa sakit yang kurasakan kini? Seandainya cinta itu bahagia, dimana bahagia itu berada? Akan kuketuk pintunya, agar aku bisa melihat cintaku tersenyum. Mungkinkah cinta itu nyata, katakan bagaimana aku bisa melihatnya? Agar tak ada air mata menetes di kedua mataku. Pantaskah cinta ini kurasakan, bila dia menganggapku hina. Waktu, sampaikan padanya. Cintaku nyata, rasaku tulus. Agar dia mendengarnya, kembali tersenyum menatapku yang merindukannya" Batin Hafidz sendu.


"Hafidz!" Sapa Agam ramah, sembari menepuk pelan pundak Hafidz.


Sontak tak Hafidz mendongak, mengangkat wajahnya yang tertutup kedua tangan. Lamunannya buyar kala tangan Agam menyentuh pundaknya pelan. Hafidz menatap Agam yang berdiri tepat di sampingnya. Tatapan yang penuh arti, menghiba sebuah ketenangan yang nyata tergantikan gelisah.


Tanpa banyak berkata, Hafidz memeluk tubuh Agam erat. Melupakan hubungan diantara mereka. Hafidz melebur jarak yang nyata ada. Hafidz menangis dalam dekapan Agam, mengutarakan kegelisahan hatinya. Merindukan sosok ayah yang kini tak ada di sampingnya. Hafidz lupa siapa sebenarnya Agam? Hanya bersandar pada Agam, di kala lemah dan rapuhnya yang ada dalam benaknya. Hafidz tak lagi mampu menahan cemas dalam hatinya.


"Hanna!" Ujar Hafidz lirih tak terdengar di sela isak tangisnya.


Agam menepuk pelan pundak Hafidz. Mengusap lembut rambut Hafidz, menenangkan kegelisahan hati laki-laki yang mencintai putrinya dengan tulus. Hafidz yang kini terluka oleh sikap keras Hanna. Merasakan pahitnya penolakan Hanna yang tak mudah berubah. Ketakutan yang ditinggalkan Agam di hati Hanna. Kini nyata membuat Hafidz terluka dan hancur.


Agam merasakan betapa sakit hati Hafidz saat ini. Rapuh yang pernah dia rasakan, ketika kehilangan Tika dan Arkan putranya. Memikirkan hidup tanpa orang kita cintainya. Hanya sepi dan sunyi yang terasa nyata dalam jiwa hidup tapi mati. Tangis Hafidz bak simfoni lagu pedih yang kembali terdengar di telinga Agam. Kepedihan teramat yang dirasakan Agam, saat hatinya kalut mencari cinta yang pergi menjauh.


"Menangislah, keluarkan rasa sakit hatimu. Jangan memendam sesuatu yang tak mampu kamu simpan sendiri. Jangan takut mengakui sakit, jika nyata itu yang kamu rasakan. Tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan tentang air mata. Sebab hati yang sakit, akan mengetuk mata yang indah untuk menangis. Lelah hati mampu diutarakan mata, ketika tutur takut mengakui sakit itu!" Tutur Agam lirih, Hafidz mendekap erat tubuh Agam. Mencari sosok ayah yang kini tak dimilikinya.


"Kenapa harus Hanna? Kenapa dia terluka saat aku tak berhak menjaganya? Kenapa aku melihat sakitnya? Jika aku tak mampu meringankannya. Seandainya mungkin, ingin kutukar tubuhku menggantikannya. Tulangku kuat menahan rasa sakit itu!" Ujar Hafidz lantang, sesaat setelah melepaskan pelukannya.


Agam menarik tubuh Hafidz berdiri, saling berhadapan dengannya. Agam menggelengkan kepala tepat di depan Hafidz. Agam tak setuju dengan perkataan Hafidz. Mungkin Hafidz sangat mencintai Hanna. Namun menukar luka yang nyata menjadi takdir Hanna. Bukan cara menunjukkan cinta, melainkan sikap arogant yang menentang takdir tertulis. Bukan Agam tak sedih atau sakit melihat Hanna terbaring tak berdaya. Namun sebagai insan beriman, Agam percaya semua terjadi dengan cara terbaik dan demi kebaikan Hanna.


"Hafidz, tak sepantasnya kamu bicara seperti itu. Hanna mungkin putriku, tapi yang terjadi padanya bukan suatu kesalahan yang harus kamu tanggung. Melainkan sebuah pembelajaran dan jalan yang terbaik untuk Hanna. Mungkin tulangmu kuat menahan rasa sakit itu, tapi apa kamu yakin ibundamu kuat melihatmu terluka? Lihatlah disana, melihatmu seperti ini saja. Beliau sudah sangat cemas. Kelak pikirkan ibundamu sebelum Hanna, karena Hanna yang memintamu melakukan itu!" Ujar Agam bijak, Hafidz mengangguk setelah menoleh ke arah Sinta.


"Sekarang tenangkan dirimu, Hanna baik-baik saja. Bila perlu pulanglah, saat Hanna tersadar. Aku akan menghubungimu. Hanna tidak sendiri, kami ada bersamanya!" Ujar Agam, Hafidz diam membisu. Ingin rasanya dia berlari memeluk Hanna. Namun semua itu seakan tak nyata. Jarak dan status jelas memisahkan mereka.


Kreeekkkk


Suara pintu IGD terbuka, bersamaan dengan Arkan dan Dwi yang baru saja keluar. Setelah berjibaku memberikan pertolongan. Arkan dan Dwi keluar dengan wajah lemah tak bertenaga. Entah apa yang terjadi di dalam sana? Satu hal yang pasti, mereka berusaha sekuat tenaga memberikan pertolongan pertama pada para korban.


"Arkan!"

__ADS_1


"Papa sudah datang? Dimana mama?" Ujar Arkan lirih, Agam menggeleng tak mengetahui. Terdengar helaan napas Arkan, suara napas yang lelah setelah membantu Hanna. Agam menepuk pundak pelan Arkan. Putra yang nyata tumbuh jauh dari pengawasannya.


"Kamu sudah berusaha, tidak perlu mengeluh. Apapun hasilnya kamu sudah berusaha!" Ujar Agam tegas, Arkan menoleh menatap Agam. Sorot mata Arkan, seolah sedang bertanya balik pada Agam.


"Papa tahu kondisi Hanna?" Ujar Arkan, Agam mengangguk tanpa ragu.


"Sejak kapan Hanna tahu akan kondisinya? Alasan inikah yang membuat Hanna takut darah!"


"Papa tidak tahu, tapi Hanna mengetahui kalau kondisi tubuhnya berbeda. Sekali dia mengalami pendarahan, darahnya akan terus menetes. Sampai Hanna mendapatkan pertolongan yang tepat!" Ujar Agam, Arkan mengangguk mengerti.


"Kenapa Hanna bisa seceroboh ini? Dia sendiri terluka, tapi masih memikirkan orang lain!" Ujar Arkan lirih, Agam tersenyum mendengar keluhan Arkan.


"Karena dia adikmu, sifat kalian berdua sama. Mementingkan orang lain sebelum kepentingan kalian. Sekarang tidak perlu menyesali yang sudah terjadi. Mama yakin, Hanna baik-baik saja!"


"Mama!" Sahut Arkan, lalu mencium punggung tangan Hanna. Agam dan Hafidz mengangguk, seraya tersenyum ke arah Tika.


"Lebih dari itu Tika alasan sifat penyayang mereka. Arkan dan Tika menuruni watak keras dan baikmu. Mereka lebih mementinhkan kebahagian orang lain di atas kebahagian mereka sendiri. Sikap yang selalu kamu ambil, ketika harus memilih dirimu atau orang lain. Alasan kita berdua terpisah belasan tahun lamanya!" Batin Agam sembari menatap dua mata indah Tika.


"Kenapa?" Sahut Tika heran, Hafidz menunduk lemaah menatap lantai keramik rumah sakit.


"Hafidz sempat melihat darah di jas Hanna. Namun saat Hafidz menyapanya, Hanna menepis tanganku. Sejenak Hafidz berpikir, Hanna sedang mengacuhkanku. Sebab itu Hafidz diam, ketika melihat Hanna menggendong anak tadi!"


"Semua baik-baik saja, kamu tidak salah. Sebaliknya tante berterima kasih. Kamu sudah mendonorkan darahmu untuk Hanna!" Ujar Tika ramah, Hafidz mengangguk pelan. Semua orang kembali tenang, tak ada raut wajah cemas lagi.


"Bagaimana kondisi Hanna?" Ujar Tika.


"Hanna masih di ruang IGD. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang rawat!" Sahut Arkan, Tika mengangguk lalu berjalan menemui Sinta yang duduk tak jauh darinya.


"Apa kabar Sinta?" Sapa Tika ramah, Hafidz menatap sendu pertemuan Tika dengan ibundanya. Hafidz tak ingin ada kesalapahaman yang semakin besar.

__ADS_1


"Hanna benar-benar putrimu!" Ujar Sinta, Tika mengangguk pelan.


"Hanna putriku saudara kembar Arkan. Meski dia putriku, tidak akan aku memintamu menerima Hanna. Aku tidak akan ikut campur urusan anak muda!"


"Kamu tahu keputusanku pada Hanna?" Ujar Sinta lirih, Tika mengangguk seraya tersenyum.


"Aku tidak akan menyalahkanmu, mengharapkan makmum terbaik untuk putramu nyata hakmu. Aku menyadari Hanna putriku jauh dari harapanmu. Sebab itu aku tidak akan memintamu menerimanya!"


"Kamu tidak marah aku menolak Hanna. Bahkan aku meragukannya!" Ujar Sinta, Tika menggeleng perlahan. Kedua bola mata Tika menatap lekat Sinta. Seorang ibu yang menolak putrinya menjadi menantu. Seorang wanita yang meragukan iman putri kecilnya.


"Aku tidak marah atau kecewa, karena penilaianmu tidak berarti apa-apa? Sampai detik ini, aku percaya pada pribadi putriku. Kebaikan dan keburukan itu samar, tidak mudah dilihat dengan mata telanjang. Hanya hati yang bersih, bisa melihat kebaikan yang tulus dari hati!" Ujar Tika tegas dan final.


"Maaf!"


"Tidak perlu meminta maaf, Hanna putriku tidak kecewa dengan keputusanmu. Sebab baginya, kepercayaan keluarganya yang paling penting. Hanna tidak mengharapkan pujian atau rasa terima kasih. Hanna pribadi yang tegar dan tegas. Dia hidup dengan cara dan prinsipnya. Selama itu tidak menyakiti hati orang lain!"


"Termasuk mengacuhkan perhatianku!" ujar Hafidz.


"Tanyakan pada Hanna, saat dia tersadar. Dia tidak mengatakan apapun tentang keluargamu. Hanna sudah memutuskan untuk menjauh darimu!"


"Kenapa tante? Apa perkataan mama membuatnya membenciku?"


"Bukan, Hanna ingin menjadi pribadi yang baik. Setelah dia yakin layak menemuimu. Hanna akan menemuimu, entah sebagai teman atau lebih?" Sahut Tika, Hafidz tak lagi mampu mengatakan apapun. Keputusan Hanna final, tak lagi bisa diubah.


"Mama, kita pulang sekarang!" Ujar Hafidz, lalu berpamitan pada Tika. Hafidz berjalan dengan langkah gontai, Sinta menatap lemah putranya.


"Kita tunggu sampai Hanna tersadar?" Ujar Sinta, Hafidz menggeleng.


"Kenapa?

__ADS_1


"Aku tidak sanggup melihat tatapan acuhnya!" Sahut Hafidz.


__ADS_2