
"Kenapa sayang? Apa yang kamu pikirkan dengan pergi diam-diam? Seandainya aku boleh egois. Bukankah tidak benar kamu pergi tanpa izin dariku!" Ujar Hafidz lirih, Hanna mengangguk mengiyakan perkataan Hafidz.
Sepenuh hati Hanna membenarkan perkataan Hafidz. Tanpa restu seorang suami, tak seharusnya seorang istri ada di luar rumah. Namun jauh dari semua itu, ada pengertian yang tersirat. Kala Hanna memutuskan menikah dengan Hafidz. Tanpa banyak bicara, Hanna mengisyaratkan sebuah persetujuan untuk bekerja. Sehingga tidak akan ada tuntutan, saat Hanna bekerja.
"Sebuah pengertian!"
"Pengertian!" Ujar Hafidz mengulang perkataan Hanna. Seakan Hafidz tak mengerti maksud perkataan Hanna.
"Pengertian yang aku inginkan darimu sebagai mahar pernikahan kita dulu!"
"Sayang, apa hubungan janjiku dengan kepergianmu?" Ujar Hafidz semakin bingung dengan cara pikir Hanna.
Hafidz menatap dua bola mata Hanna. Nampak ketulusan tanpa kepalsuan. Kejujuran yang nyata dari lubuk hati terdalam Hanna. Menggetarkan hati Hafidz yang dingin oleh rasa kecewa. Tak ada amarah yang sempat memenuhi hati dan benaknya. Sebaliknya terselip rasa menyesal telah meragukan Hanna.
"Pengertian kak Hafidz, akan tanggungjawabku sebagai seorang putri. Bekerja tanpa meminta izin padamu. Kepercayaan penuh darimu, kalau aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Dalam kata lain, tak ada kewajiban dan hak yang membatasi hubungan kita. Terlebih kewajibanku sebagai seorang istri!"
"Sayang, aku tidak pernah meragukanmu. Aku hanya penasaran, kenapa kamu pergi menjauh dariku tanpa pamit? Menjauh yang seolah kamu ingin menghindari bunda!"
"Kak Hafidz, jika aku boleh jujur. Aku tidak siap bertemu bunda Sinta. Melihat kak Ziva ada di ruangan bunda Sinta. Sudah cukup membuat hatiku sakit. Jika seandainya bunda tersadar, lalu melihatku tapi menanyakan kak Ziva. Sungguh kak Hafidz, aku tidak akan sanggup. Tersisih dan tak dianggap. Itu sakit kak, sangat sakit!"
"Sayang, aku ada bersamamu. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu. Termasuk bunda Sinta, aku akan menjadi perisai. Agar tak ada luka yang menyentuh hatimu!" Ujar Hafidz, seraya menggenggam tangan Hanna erat.
__ADS_1
"Aku tidak meragukan itu, aku percaya padamu. Namun disisi lain, aku seorang putri yang kini memiliki tanggungjawab lain!"
"Maksudmu menggantikan papa!" Ujar Hafidz lantang, Hanna mengangguk tegas.
"Kamu benar-benar akan keluar kota!"
"Ada masalah di luar kota. Aku harus pergi ke sana. Papa sedang menemani nenek Salma di rumah sakit. Jadi aku yang menggantikan papa. Sebagai menantu aku sudah berusaha sebaik mungkin. Besok aku harus menjadi putri yang berbakti. Aku butuh pengertianmu, tanpa keraguanmu!"
"Sayang, aku tak pernah meragukanmu. Namun bisakah kamu jujur padaku. Bukan sebagai kewajiban, tapi izinkan aku mengetahui keberadaanmu. Jauh darimu aku tak mampu. Apalagi harus kehilangan jejakmu!"
"Baiklah kak Hafidz, aku akan selalu mengatakan kemana aku pergi. Sekarang kakak sudah mengetahuinya, bukankah kakak sudah tenang. Jadi kakak bisa kembali menemani bunda Sinta. Aku baik-baik saja, jangan pernah khawatirkan aku!"
"Kenapa kamu berkorban sebesar ini? Balasan apa yang kamu harapkan dariku? Tak ada yang berharga dariku saat ini. Aku tak sanggup membalas besar cintamu!" Ujar Hafidz, Hanna menggeleng. Hanna menyandarkan kepalanya di bahu Hafidz. Tangannya menggenggam erat Hafidz. Menyantukan dua tangan, sekaligus hatinya dengan Hafidz.
"Terima kasih, aku bahagia bisa mengenalmu!" Sahut Hafidz, lalu memeluk Hanna erat. Keduanya larut dalam suasana syahdu malam yang dingin.
"Sayang, lebih baik kamu istirahat!" Ujar Hafidz, tapi Hanna diam tak menyahuti. Hafidz menoleh ke arah Hanna. Nampak Hanna tengah tertidur dalam dekapan Hafidz. Terdengar dengkuran halus dari Hanna. Napas yang naik teratur, menandakan betapa lelah Hanna saat ini.
"Tidurlah sayang, aku tahu kamu sangat lelah. Betapa bodoh orang yang menepis kasih sayangmu? Betapa tak pantas pedulimu yang terbuang sia-sia? Kamu menyayangi dengan tulus, tapi mereka menepis kasih sayangmu. Hanna, aku tidak akan menjauh darimu. Aku tidak akan melepaskan tanganmu. Kamu satu dan selamanya. Aku akan berjuang mendapatkan kasih sayang bunda. Akan kubuat bunda sadar. Kamu wanita terbaik dari yang baik. Allah SWT mempertemukan kita, karena kamu yang terbaik dalam doa dan sujudku. Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu!" Batin Hafidz lirih.
"Hanya orang berhati dingin dan gelap yang terus ingin melihat mereka berpisah!"
__ADS_1
"Kamu!" Ujar Shaila kaget ke arah Savira. Dengan tatapan tak suka Shaila melihat Savira yang tengah berdiri di belakangnya. Savira mengangguk dengan sangat tegas. Seolah anggukan kepalanya mampu membuat Shaila tiada.
"Kenapa kaget? Seharusnya aku yang merasa aneh melihatmu ada di sini. Seorang adik yang rela mengintip di gelapnya malam. Seorang adik yang lebih suka melihat duka kakaknya. Seorang adik yang tak pernah percaya akan keputusan kakaknya!" Tutur Savira dingin. Shaila menatap tajam Savira. Penuh amarah dan rasa kesal. Perkataan Savira benar adanya, tapi terasa salah bagi Shaila.
"Apa maksud perkataanmu? Kenapa pertanyaan itu tidak kamu katakan pada dirimu? Malah kamu bertanya padaku. Padahal aku berdiri disini juga tanpa sengaja!"
"Shaila, aku tak pernah mengenalmu, tapi aku sangat mengenal Hanna sahabatku. Aku tak pernah mengenal pribadi kak Hafidz. Namun aku sangat paham dengan pribadi kak Ziva. Mungkin kamu berpikir, kak Ziva jauh lebih pantas bagi kak Hafidz. Namun tanpa kamu sadari, Hanna yang jauh lebih berharga dibanding kak Ziva!"
"Aneh kamu Savira. Ziva itu kakak kandungmu, tapi kamu malah membela Hanna. Seseorang yang bukan siapa-siapamu? Aku merasa kental darah diantara dirimu dan Ziva. Tak lantas membuatmu memihak Ziva!"
"Memihak, aku tak pernah memihak. Bahkan aku tak perlu memilih antara Hanna dan kak Ziva. Sebab sejak Hanna menikah dengan Kak Hafidz. Tidak ada wanita lain yang lebih berhak untuk kak Hafidz. Hanya Hanna yang berhak dan pantas memiliki kak Hafidz. Termasuk kak Ziva yang bukan siapa-siapa kak Hafidz!" Sahut Savita tegas, Shaila tersenyum mengejek. Seolah ada sesuatu yang terasa lucu.
"Kamu benar-benar melupakan hubungan darah. Persahabatanmu dengan Hanna sangat tidak masuk akal. Selama ini aku tak pernah melihat. Seorang adik yang lebih memilih orang lain, daripada kakaknya sendiri. Bahkan seorang adik yang lebih rela melihat air mata kakaknya dan menggantinya dengan senyum orang lain!"
"Kamu benar Shaila, aku seorang adik yang rela melihat kak Ziva menangis hari ini. Setidaknya kelak kak Ziva tidak merasa malu berdiri di depan umum. Aku bukan memihak kebahagian Hanna, tapi aku sedang mempertahankan harga diri kak Ziva sebagai wanita. Dia tidak terlalu rendah, sampai harus menjadi perebut suami orang. Apalagi dengan jelas kak Hafidz tak pernah mencintainya!" Ujar Savira lantang.
"Kamu hanya beralasan, tapi nyatanya kamu tetap membela orang lain. Adik yang tak pernah satu kata dengan kakak kandungnya!"
"Aku memang tak satu kata dengan kak Ziva saat ini. Namun tak pernah aku ingin menghancurkan kebahagian kak Ziva. Layaknya dirimu yang mengintip di pagi buta. Demi ingin mencari jalan menghancurkan cinta Kak Hafidz dan Hanna. Sekarang katakan, aku adik yang kurang ajar atau kamu adik yang tak berhati. Menghancurkan kebahagian kakaknya hanya demi ego semata!"
"Kamu!" Ujar Shaila penuh emosi, tatapannya mengunci Savira.
__ADS_1
"Tanyakan pada hatimu, pantaskah kamu bersikap sejauh ini. Hanya untuk menghancurkan Hanna. Sedangkan di depanmu, nyata kamu melihat kebahagian yang begitu besar. Mereka bahagia dengan cintanya, kenapa kamu tega ingin memisahkan mereka!" Ujar Savira lalu meninggalkan Shaila. Tak lagi Savira ingin meladeni Shaila yang keras kepala.
"Karena aku iri dengan kesempurnaan Hanna!" Batin Shaila penuh amarah.