Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Hanna Pingsan


__ADS_3

"Hafidz, antarkan mama ke rumah sakit!" Ujar Sinta lirih, Hafidz mengangguk tanpa banyak bicara.


"Kamu sakit!" Ujar Dirga menyahuti perkataan Sinta, dengan perlahan Sinta menggeleng.


"Lantas, kenapa harus ke rumah sakit?" Ujar Dirga santai, Sinta tersenyum ke arah Dirga.


"Aku ada janji dengan dokter Dwi, untuk melakukan general cek up!" Sahut Sinta singkat, Dirga manggut-manggut mengerti.


Dirga menoleh ke arah Hafidz yang banyak diam. Semenjak kejadian pagi itu, Hafidz tidak pernah bertemu Hanna. Setiap pesan yang dikirimnya, tidak pernah dibaca atau dibalas Hanna. Hafidz bak angin tanpa arah, dia gundah tanpa bertemu dengan Hanna. Seandainya Hanna menolak cintanya. Hafidz tak keberatan, setidaknya mereka masih bisa berteman.


"Kenapa kamu diam saja? Memikirkan Hanna yang semakin jauh. Jika tak sanggup berjuang, lepaskan saja. Hanna bukan pribadi yang mudah. Sifat dan masa lalunya, takkan dengan mudah terlupakan!" Ujar Dirga santai, sembari mengunyah makanan.


Sinta menatap sendu putranya, sikapnya pada Hana memang keterlaluan. Dia terlalu cepat menilai pribadi Hanna. Meski Hanna tak mengenal agama terlalu dalam. Namun Hanna bukan pribadi yang tak beradab. Melihat cara Hanna bicara padanya, tanpa disadari Hanna menghormati dirinya. Kini semua terlanjur terjadi, Hanna memilih mundur. Hanya diam Hafidz yang seakan menampar Sinta. Sebagai seorang ibu, dia telah meragukan keputusan putra terbaiknya.


"Hafidz, jawab pertanyaan om Dirga. Kenapa kamu mengacuhkannya? Sejak kapan kamu bersikap tidak sopan?" Ujar Sinta tegas, Hafidz mendongak. Meletakkan sendok yang sedang dipegangnya. Hafidz menyelesaikan sarapannya dengan meneguk segelas air putih.


"Maafkan Hafidz om, banyak pekerjaan yang harus Hafidz selesaikan. Entah kenapa semua bertumpuk di benak Hafidz saat ini?" Ujar Hafidz lirih, Dirga mengangguk memahami gundah hati keponakannya.


Hafidz menoleh ke arah ponsel pintarnya. Dengan tangan kanan, Hafidz memeriksa pesan yang ada di ponselnya. Berharap Hanna membalas atau sekadar membaca pesannya. Namun lagi dan lagi, Hafidz harus menelan kekecewaan. Hanna tak membaca atau membalas pesannya. Bahkan notif penggunaan ponsel terakhir Hanna terbaca, beberapa jam yang lalu. Hafidz semakin gusar memikirkan perasaannya pada Hanna. Dia tidak lagi berharap cinta pada Hanna. Namun besar harapannya bisa menjadi sahabat Hanna.


"Dimana kamu?" Batin Hafidz gelisah.


"Mama, sebentar lagi Hafidz berangkat ke kantor. Kita berangkat bersama ke rumah sakit? Atau Hafidz jemput mama nanti siang!" Tawar Hafidz ramah, Sinta menggeleng lemah.


"Kita berangkat bersama sekarang. Mama tidak ingin kamu lelah, karena bolak-balik menjemput mama. Nanti pulangnya, Shaila yang akan menjemput mama!" Sahut Sinta lirih, Hafidz mengangguk pelan.


Dengan langkah lebar, Hafidz berjalan menuju ruang kerjanya. Hafidz mengambil kunci mobil dan beberapa perlengkapan kerjanya. Dirga menatap sendu punggung Hafidz. Dengan sangat mudah Dirga melihat sakit Hafidz. Cinta yang tak bersambut. Sakitnya mampu membuat seseorang itu hidup, tapi seakan mati. Rapuh yang pernah dirasakan oleh Dirga.


"Sinta, aku tidak akan membujukmu menerima Hanna. Namun sebagai seorang kakak, aku hanya ingin mengingatkanmu. Lihatlah sekali saja luka putramu. Saat itu kamu menyadari, betapa sikapmu telah melukai hatinya!"


"Kak Dirga, salahkah aku berharap menantu yang sepadan dengan Hafidz. Menantu yang mampu menemani Hafidz menuju jannah-NYA. Bukan hanya menantu yang kaya harta dan memiliki status sosial yang tinggi!" Ujar Sinta lirih, Dirga menganggguk mengerti. Sepintas Dirga tersenyum simpul, seolah perkataan Sinta hanya pembenaran akan sikap tak pantasnya.


"Kamu tidak salah dan tak pernah salah. Hakmu menolak atau menerima Hanna, karena sampai detik ini. Bukan Hanna yang mencintai putramu, tapi putramu yang mengharapkan Hanna menjadi makmumnya!"


"Tidak mungkin!"


"Semua itu mungkin, karena Hanna tak pernah ingin menikah dengan Hafidz. Meski putramu sempurna, tapi Hanna tak pernah melihatnya. Perlu kamu ketahui, Hanna bukan hanya memiliki status sosial yang tinggi. Namun Hanna lahir dari lingkungan agamis. Tanpa kamu sadari, Hanna tak lain adik Arkan. Laki-laki yang pernah kamu pinang untuk Shaila!" Ujar Dirga, Sinta terdiam menunduk.


"Dia putri Kartika!"


"Iya, Hanna putri dari Kartika Putri Anggara. Wanita yang pernah menyelamatkan nyawamu. Darah yang mengalir dalam nadimu, tak lain darah yang sama dengan Hanna. Jika darah yang kamu pertanyakan. Itulah jawaban yang sebenarnya. Namun selama ini Hanna tinggal bersama Agam. Perpisahan orang tuanya, membuat Hanna takut menikah. Alasan dia tak pernah menoleh ke arah Hafidz. Menepis cinta Hafidz yang nyata untuknya!" Ujar Dirga tegas, Sinta semakin menunduk. Dia tak pernah menyangka, Hanna bukan pribadi yang sembarangan.


"Belajarlah menilai orang dari hatinya, bukan penampilannya. Lihatlah suami Shaila seperti apa? Menantu yang kamu banggakan, tak lebih dari benalu bagi Hafidz!"


"Kenapa kakak sangat mengenal keluarga Hanna? Adakah hubungan kakak dengan mereka!" Ujar Sinta penasaran, Dirga mengangguk tanpa ragu.


"Jodoh, tali jodoh yang seolah ingin membuat keluarga kita menyatu dengan mereka!"


"Maksud kakak!"


"Tika tak lain putra om Dimas, satu-satunya wanita yang aku cintai seumur hidupku. Wanita yang membuatku jatuh cinta dan patah hati sekaligus. Wanita yang hampir menjadi mertua Shaila, tapi jodoh berkata lain. Lagi dan lagi, tak pernah ada kata satu untuk rasa itu. Arkan menolak menikah dengan Shaila. Kini Hafidz terpikat oleh Hanna putri Tika. Mungkinkah Hafidz akan menelan kepahitan yang sama. Menerima penolakan dari Hanna, meninggalkan luka yang menganga dihati Hafidz. Aku tak pernah membayangkan, jodohku dengan Tika seakan ingin terpaut!"


"Kenapa aku tak pernah mendengar kakak bercerita tentang Tika?"


"Untuk apa aku menceritakannya padamu? Agar kamu bisa mencari dan memaksanya menikah denganku!" Ujar Dirga dingin, Sinta diam membisu. Pemikiran yang sangat mudah diketahui oleh Dirga.

__ADS_1


"Sebab itu, aku tak pernah ingin mengenalkan Tika padamu. Aku sengaja menghindar, agar tak bertemu dengan Tika. Karena sejatinya, rasaku tulus tanpa janji dan paksaan. Tidak pernah aku menyalahkan Tika atas luka dan sendiriku. Akan kurasakan sendiri sakit dan bahagia cintaku!"


"Apakah Hafidz merasakan hal yang sama?" Sahut Sinta, Dirga mengangguk lalu menggeleng.


"Hafidz sangat mencintai Hanna, tapi aku berharap dia tidak akan merasakan sakitnya cinta tak bersambut. Cukup aku yang merasakannya!"


"Maafkan aku kak, aku salah menilai Hanna!"


"Terlambat kata maaf itu terucap. Ketakutan Hanna akan pernikahan semakin besar. Dia mungkin akan menjauh dari Hafidz!"


"Aku akan meminta maaf pada Hanna. Aku akan membujuknya agar menerima Hafidz!" Ujar Sinta lirih, Dirga terdiam lalu menggeleng. Isyarat dia tidak setuju dengan perkataan Sinta.


"Mama tidak perlu membujuk Hanna. Dia tidak akan mengubah pendiriannya. Sebelum aku membawanya kemari. Dia sudah memintaku memilih antara dia dan mama!"


"Apa jawabanmu?"


"Aku tidak memilih, tapi dia memintaku memilih mama. Dia tidak pernah ingin melihat ibu yang jauh dari putranya!" Ujar Hafidz tegas.


"Kamu kalah Sinta, menantu yang kamu tolak. Ternyata menghargaimu lebih dari siapapun? Dia memikirkan kebahagianmu, sebelum air mata dan kebahagiannya!" Sahut Dirga dingin.


...☆☆☆☆☆...


"Mama, aku antar sampai ke dalam. Jika Shaila belum datang. Aku akan menemani mama!" Ujar Hafidz, Sinta menggeleng lemah. Sinta tidak ingin Hafidz terlambat ke kantor. Dia hanya perlu tumpangan sampai rumah sakit. Setelah itu dia bisa menjaga dirinya.


"Baiklah!" Sahut Hafidz singkat, Sinta menangkap ada kekecewaan dari suara Hafidz. Namun apa itu? Sinta tidak mengerti.


"Kenapa Hafidz? Kamu ingin bertemu seseorang!" Ujar Sinta, Hafidz diam menatap lurus ke jalan besar di depannya. Lalu terlihat Hafidz menggeleng perlahan, jawaban samar yang meninggalkan gelisah di hati Sinta.


"Bukan orang lain yang ingin aku temui ma, tapi Hanna yang ingin aku lihat. Sebentar saja, meski dari jauh aku melihatnya. Asalkan dia baik-baik saja. Aku sudah sangat lega, tapi mama melarangku masuk ke rumah sakit. Jawaban final, jika aku tak bisa menemuinya. Karena masuk ke dalam rumah sakit, tanpa alasan yang benar. Hanya akan membuat Hanna semakin membenciku!" Batin Hafidz.


"Mama baik-baik saja, terima kasih!" Sahut Sinta lirih penuh kasih sayang.


Hafidz mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Dengan hati berdebar dan penuh harap, Hafidz melajukan mobilnya. Sedikit harapan sudah cukup baginya. Berharap bisa bertemu dengan Hanna di depan rumah sakit.


"Mama, Hafidz berangkat ke kantor!" pamit Hafidz, sembari mencium punggung tangan Sinta. Dengan senyum penuh kehangatan, Sinta mengangguk mengizinkan. Sekilas Sinta melihat Hafidz yang menoleh kesana kemari. Seakan sedang mencari seseorang. Sinta mulai teringat akan perkataan Dirga. Sebuah kenyataan yang tak pernah ingin diakuinya. Namun kini nyata memang terjadi, putranya Hafidz terlihat bingung tanpa arah tujuan.


"Assalammualaikum!" Ujar Hafidz ramah.


"Waalaikumsalam!" Sahut Sinta.


Ciiiiittt


Berhenti sebuah mobil tepat di depan Hafidz. Suara gesekan ban dengan aspal jalan. Terdengar sangat nyaring, kala pedal gas diinjak mendadak oleh sang pemilik mobil. Hafidz dan Sinta terkejut, seketika mereka menoleh. Menatap mobil mewah berwarna silver. Mereka penasaran alasan mobil berhenti mendadak di depan pintu IGD rumah sakit.


Braaakkk


Bantingan keras pintu mobil, bersamaan dengan turunnya Hanna dari pintu depan mobil. Mengisyaratkan semua tidak dalam keadaan baik-baik saja. Hafidz melotot, kedua bola matanya membulat sempurna. Dia melihat Hanna turun dengan raut wajah tegang. Penampilan Hanna jauh dari kata rapi. Jas putihnya penuh darah.


"Hanna!" Teriak Hafidz cemas, tanpa sadar Hafidz menarik tubuh Hanna.


Dia memeriksa tubuh Hanna, takut terjadi sesuatu pada Hanna. Banyak darah yang menempel di jas putih Hanna. Membuat Hafidz kalut. Tak berapa lama, Hanna menepis tangan Hafidz. Mendorong Hafidz menjauh darinya, Hafidz mundur beberapa langkah dari Hanna. Hafidz terdiam menerima penolakan Hanna.


"Kenapa kalian diam saja? Cepat bawa bawa kemari brankar itu. Segera bawa pasien di dalam mobilku ke ruang IGD. Aku akan menyusul!" Teriak Hanna lantang, seketika dua perawat laki-laki maju.


Hanna membuka pintu belakang mobilnya. Hanna meminta dua perawat mengangkat seorang ibu yang terluka parah. Sedangkan Hanna menggendong anak kecil berusia dua tahun. Keduanya korban kecelakaan tak jauh dari rumah sakit.

__ADS_1


"Panggil dokter Arkan, katakan padanya aku menunggu di ruang IGD!" Teriak Hanna lebih lantang pada perawat yang lain.


Hanna berlari sembari menggendong anak perempuan yang terluka di bagian kaki. Sepintas terdengar suara rintihan dari mulit mungilnya. Sontak Hanna mendekap kepala sang bocah. Hanna mencium puncak kepala sang anak. Berharap dekapannya menghangat tubuh mungil yang mulai bergetar.


"Dokter Hanna, biarkan saya yang menggendongnya. Lebih baik dokter Hanna membersihkan diri!" Ujar salah satu perawat, Hanna menggeleng lemah.


"Terima kasih atas tawaranmu, tapi alangkah baiknya bila kamu menawarkan demi tanggungjawab. Bukan karena penampilanku yang berantakan. Kita seorang ahli medis, bukan tempatnya kita peduli pada penampilan. Menyelamatkan nyawa mereka jauh lebih utama!" Ujar Hanna tegas dan lantang, sontak perawat itu menunduk. Perkataan Hanna bak tamparan keras baginya.


"Maafkan saya!"


"Kamu tidak salah, lain kali belajarlah arti tanggungjawab. Sekarang siapkan ruang IGD, untuk anak ini. Siapkan ruang rongten, aku ingin melihat luka di kakinya. Takutnya ada retakan pada tulang kakinya!"


"Baik dokter Hanna!" Sahut perawat lantang, Hanna berjalan menuju ruang IGD. Hanna tidak peduli pada kecemasan Hafidz. Seakan kedua matanya buta akan keberadaan Hafidz.


"Aku akan menyelamatkanmu. Jangan menangis lagi, kakak akan mengurangi rasa sakitmu!" Ujar Hanna lirih penuh kepiluan.


"Kenapa Hanna? Kenapa kamu mengacuhkan kecemasanku? Sedetik yang lalu napasku berhenti. Aku gelisah melihat lukamu, aku sakit menerima penolakanmu. Hanna, tatap aku sekali saja. Agar aku tahu, kamu tak membenciku!" Batin Hafidz pilu, sembari menatap Hanna yang sedang kalut.


"Hafidz, kenapa kamu belum pergi? Kamu khawatir melihat Hanna. Jika memang iya, tunggulah dia sampai selesai. Mungkin dia mengacuhkanmu, karena sedang fokus pada korban kecelakaan tadi!"


"Tidak perlu mama, Hafidz akan berangkat sekarang!" Ujar Hafidz singkat dan dingin, Sinta mengangguk seraya tersenyum. Ketenangan yang coba dibuat, hanya untuk menipu hatinya yang gelisah memikirkan Hafidz. Sinta merasa dirinya sangat bersalah pada Hafidz.


Tap Tap Tap


Terdengar langkah lari tak jauh darinya, Arkan dan Dwi berlari hampir bersamaan. Ruang IGD tiba-tiba gempar, Hafidz dengan kepanikan beberapa perawat.


"Bu Sinta, maaf saya harus ke ruang IGD. Jika tidak keberatan anda menunggu saya!" Sapa dokter Dwi ramah, dengan anggukan ragu Sinta menyahuti perkataan Dwi.


Arkan dan Dwi salah satu dokter terbaik rumah sakit ini. Sedangkan Hanna masih dokter muda yang belum memiliki pengalaman apa-apa? Dia masih harus belajar dari Arkan kakaknya.


"Dokter Dwi, jika memang masih lama. Lebih baik saya datang besok saja!"


"Baiklah bu Sinta, maaf mengecewakan anda!" Ujar Dwi ramah, seraya menangkupkan kedua tangannya ke depan dada. Sinta mengangguk mengerti, tapi ada rasa penasaran menelusup ke hatinya. Kenapa Dwi juga berlari ke ruang IGD?


"Maaf dokter, jika tidak keberatan saya ingin bertanya. Kenapa anda juga pergi ke ruang IGD?"


"Dokter Hanna pingsan, jadi saya harus menggantikan dirinya merawat anak tadi. Sedangkan dokter Arkan yang menangani Hanna dan korban tadi?"


"Kenapa Hanna pingsan?" Ujar Hafidz panik, Dwi tersentak kaget mendengar kepanikan Hafidz.


"Dokter Hanna, dia juga....!"


"Dokter Dwi, anak itu kejang!" Teriak salah satu perawat. Sontak Dwi berlari panik, dia meninggalkan Hafidz dalam kegelisahn tak pasti.


Hafidz berlari menuju ruang IGD, berharap bisa mengetahui kondisi Hanna. Dengan langkah gontai, Hafidz mendekat ke arah pintu ruang IGD.


"Via, segera hubungi PMI atau keluarga dokter Hanna. Kita butuh donor darah!" Teriak dokter Arkan dari dalam ruang IGD. Via keluar dari ruang IGD.


"Ambil darahku, Hanna dan aku memiliki golongan darah yang sama. Ambil sebanyak yang kamu butuhkan!" Ujar Hafidz tegas, Via mengangguk ragu. Meski heran dia mengiyakan perkataan Hafidz.


"Kita akan periksa darah bapak. Silahkan ikut saya!"


"Hafidz, tidak perlu kamu yang mendonorkan darah. Banyak darah lain untuk Hanna. Mereka pasti menemukan stok untuk Hanna!"


"Maafkan Hafidz mama, kali ini Hafidz akan membantah perkataan mama. Jika menjauh dari Hanna, mungkin Hafidz sanggup. Namun diam menatap Hanna meregang nyawa. Ibarat aku mengiris nadiku sendiri, karena tiada Hanna akan menjadi tiadaku!" Sahut Hafidz dingin, lalu berlari mengikuti langkah Via.

__ADS_1


"Bertahanlah Hanna, aku ada untukmu. Seandainya bisa, biarkan aku yang menggantikan sakitmu!" Batin Hafidz.


__ADS_2