
"Hafidz, kamu sidah datang. Shaila sudah menyelesaikan administrasi. Kita bisa langsung pulang!" Ujar Sinta ramah dan lantang, Hafidz mengangguk tanpa banyak bicara.
Sinta terlihat begitu bahagia, saat dokter mengizinkan dirinya pulang. Meski setelah ini, Sinta harus banyak beristirahat. Sinta tak lagi bisa beraktivitas seperti dulu. Bahkan Sinta harus berjalan menggunakan kursi roda. Ada keretakan yang mengharuskan Sinta istirahat total. Sampai terapi yang dijalaninya selesai. Bagi Sinta selama dia bisa pulang. Apapun yang terjadi, dia akan menerimanya.
Namun kebahagiannya seakan tak sempurna. Ketika dia melihat raut wajah muram Hafidz. Tak ada senyum kala di wajah Hafidz. Kala mendengar Sinta pulang dari rumah. Beban yang nyata bisa dibaca oleh siapapun? Kesedihan yang seakan nampak jelas dari guratan wajah Hafidz. Sebagai seorang ibu, Sinta bisa memahami alasan kepahitan dalam Hafidz. Namun pehaman Sinta berbeda dengan Hafidz. Jika Hafidz merasakan cinta yang begitu besar pada Hanna. Sebaliknya Sinta menyalahkan dan selalu meragukan ketulusan cinta Hanna pada putranya.
"Ziva, kamu juga datang!"
"Shaila meminta Ziva datang. Kebetulan Ziva tidak sibuk, maka Ziva datang menemui tante!" Sahut Ziva ramah, Sinta tersenyum ke arah Ziva. Sesekali Sinta melirik Hafidz yang terus terdiam.
Hafidz merapikan barang-barang Sinta. Tak ada kata yang terdengar dari mulut Hafidz. Hafidz tenggelam dalam lamunan panjangnya. Rasa sakit yang tak bisa dikatakan. Sekadar berbagi dengan orang yang paling disayangi dan paling dekat dengannya. Sinta sosok yang seharusnya menjadi penopang kala goyah hati Hafidz. Nyata menjadi musuh yang tak bisa dijauhi oleh Hafidz. Terhalang oleh bakti yang harus selalu dijunjung tinggi Hafidz.
"Bunda, semua sudah Hafidz kemas. Kita bisa pergi sekarang!"
"Tentu Hafidz, kita pulang sekarang. Menunggu Hanna datang mengunjungiku juga percuma. Dia mulai lupa statusnya sebagai menantuku. Hanna merasa benar dengan sikap tak pantasnya!" Ujar Sinta ketus, Hafidz diam tak menyahuti perkataan Sinta. Hafidz menyadari alasan dibalik sikap Hanna. Semakin Hafidz memahami Hanna, semakin besar kekaguman dalam diri Hafidz untuk istrinya. Tak ada tuntutan baginya, melainkan pengertian yang tanpa batas.
"Kenapa kamu diam Hafidz? Perkataan bunda benar bukan? Hanna tak lagi menghargai bunda. Hanna merasa takut pada sesuatu yang tak pernah terjadi. Hanya demi membenarkan sikap tak pantasnya. Nyatanya bunda tak pernah melukai hatinya. Tak ada yang meminta dirinya menjauh darimu. Hanna merasa terluka, padahal tak ada yang menyakitinya. Hanna membenarkan suara hatinya, tapi dia buta akan kesedihanmu!"
"Suster, biarkan saya yang mendorong kursi roda bunda. Tolong bantu saya, membawakan tas bunda. Saya sudah meminta supir menunggu di depan rumah sakit!"
"Kenapa supir yang mengantar bunda? Kemana kamu akan pergi? Kamu ingin meratapi sakit hatimu sendiri. Melupakan bunda begitu saja, meski bunda sekarang butuh kamu!" Ujar Sinta dingin, Hafidz diam tanpa berpikir menyahuti perkataan Sinta. Entah apa yang tengah dipikirkan Hafidz? Kenyataannya Hafidz tak peduli pada Sinta saat ini. Apapun yang dikeluhkan Sinta? Seolah tak terdengar oleh telinga Hafidz.
Hafidz terus melangkahkan kakinya, tak sedikitpun Hafidz peduli pada keluhan Sinta. Lama kelamaan Sinta merasa kesal dengan sikap diam Hafidz. Akhirnya keduanya sama-sama membisu, hanya suara roda kursi yang terus berputar. Ziva dan satu suster mengekor langkah lebar Hafidz yang tengah mendorong kursi roda Sinta.
"Tuan Hafidz!" Sapa kepala penjaga, seraya membungkuk pelan. Hafidz mengedipkan kedua matanya. Mengiyakan sapaan penjaga ruangan Hanna.
"Hafidz, kita akan pergi kemana? Siapa yang sedang sakit?" Ujar Sinta bingung, lagi dan lagi hanya diam yang diperlihatkan Hafidz.
__ADS_1
"Saya ingin masuk sebentar. Saya janji hanya di luar ruangan. Tidak akan mengganggu pasien!" Ujar Hafidz tegas, kepala penjaga mengangguk mengiyakan.
Dengan langkah lebar Hafidz melangkah masuk ke dalam ruangan VVIP 1. Sinta bingung melihat sikap dingin dan diam Hafidz. Dengan rasa penasaran yang berkecamuk. Sinta mengikuti kemana Hafidz akan membawanya. Tepat di depan sebuah ruangan kaca yang besar. Hafidz menghentikan kursi roda Sinta. Memutar kursi roda menghadap ke arah ruangan. Lurus ke arah tempat tidur yang ada di dalamnya.
"Siapa dia Hafidz?"
"Wanita yang sejak tadi bunda salahkan. Istri yang kesetian dan ketulusannya terus bunda ragukan. Seseorang yang berjuang sekuat tenaga menyembuhkan bunda. Namun hinaan dan cacian yang diterimanya. Bukan rasa terima kasih, meski dia tak pernah mengharapkannya!" Ujar Hafidz lirih, sembari berdiri tepat di depan jendela kaca ruangan Hanna.
Hafidz menatap lurus ke arah ranjang Hanna. Nampak jelas Hanna tengah terbaring tak berdaya. Lemah tanpa ada yang bisa menopangnya. Sendiri menahan rasa sakit yang seharusnya dia topang bersama Hafidz. Tatapan nanar yang seolah menyesal akan semua yang terjadi pada Hanna.
"Siapa yang kamu maksud Hafidz? Bicara yang jelas, bunda benar-benar tidak mengerti!" Ujar Sinta, sembari mencoba berdiri.
Sinta berusaha berdiri, dia ingin melihat sosok yang tengah terbaring sakit. Tubuh Sinta terhuyung hendak jatuh. Namun tak sekalipun Hafidz berpikir membantu Sinta. Ziva yang sigap dan setia membantu tubuh Sinta. Setelah berdiri sejajar Hafidz. Sinta menatap lurus ke arah tubuh lemah Hanna. Lalu Sinta menggelengkan kepalanya pelan. Sinta tak percaya dengan penglihatannya.
"Hanna!" Ujar Sinta dan Ziva bersamaan.
"Hafidz, sejak kapan Hanna sakit? Kenapa kamu diam saja? Jika kamu mengatakannya pada bunda. Tentu bunda akan mengerti dan tidak terus salah paham padanya!"
"Seandainya aku mengetahuinya lebih awal. Tentu bunda orang pertama yang aku kabari. Namun sungguh disayangkan, aku orang terakhir yang mengetahui kondisi Hanna. Suami yang tak bisa melindungi istrinya!"
"Apa maksudmu Hafidz?"
"Bunda seharusnya mengerti, kenapa aku menjadi orang terakhir yang tahu akan kondisi Hanna? Sebab apapun yang terjadi hari ini. Semua karena keraguan bunda pada Hanna. Pendapat buruk yang tak pernah berubah. Seakan Hanna tak layak menjadi istri putramu yang tak berguna ini!"
"Hafidz, jaga bicaramu. Bunda tak mengerti dan tak bertanggungjawab atas kondisi Hanna. Kamu salah bila melampiaskan amarahmu pada bunda. Seharusnya kamu bertanya pada Hanna. Kenapa kamu menjadi orang terakhir?"
"Karena aku harus menjaga bunda!" Sahut Hafidz dingin.
__ADS_1
"Maksudmu!" Ujar Sinta tak mengerti, Hafidz menggelengkan kepalanya perlahan. Dia merasa tak percaya dengan yang terjadi. Cinta yang seharusnya indah. Kini penuh dengan air mata dan pengorbanan. Hidup yang seharusnya bahagia, kini penuh dengan duka.
"Aku harus menerima kenyataan, jika aku tak lain putramu. Seorang putra yang harus menjaga ibunya. Tanpa bisa merangkul istri yang dicintainya secara bersama. Aku laki-laki yang tak bisa memilih, tapi harus siap dengan pilihan yang diberikan. Aku harus menjadi penopang lemah bunda. Meski aku sendiri lelah tanpa Hanna istriku. Hanna memilih menjauh dariku, merasakan sakitnya sendiri tanpaku. Agar aku tetap bersama denganmu. Melupakan kewajiban sebagai seorang suami. Meski sampai kapanpun aku takkan pernah lupa akan tanggungjawab itu!"
"Apa yang sebenarnya ingin kamu kat'akan?"
"Seandainya Hanna menginginkan aku memilih. Mungkin aku akan memilih dirinya daripada bunda. Jika Hanna bisa, mungkin dia bisa membuatku membenci bunda. Sebab semakin aku mengenal Hanna. Aku mengerti arti cinta sesungguhnya. Cinta yang tak pernah ingin membuatku jauh dari keluarga. Tidak menuntut kebersamaan, melainkan pengertian arti tanggungjawab yang sesungguhnya. Sebaliknya semakin aku bersama bunda. Aku melihat betapa egois dan angkuh sikap bunda. Menilai Hanna bersalah, tapi tak pernah mengakui. Jika Hanna tak pernah salah dan tak pantas disalahkan!"
"Hafidz!" Teriak Sinta emosi.
"Bunda, tidak perlu marah dengan perkataan Hafidz. Dia sedang gelisah, kondisi Hanna tidak baik-baik saja!" Ujar Ziva membujuk Sinta.
"Kamu salah Ziva, Hanna baik-baik saja. Bahkan mungkin sangat baik. Aku tidak gelisah memikirkan Hanna. Dia mampu berdiri tanpaku, apalagi Hanna tak pernah sendiri. Ada banyak orang yang mencintai Hanna, hanya bunda yang terus membencinya. Jadi tidak perlu kamu mencari simpati, karena tak ada tempat bagimu untuk menjilat!"
"Hafidz, tutup mulutmu!"
"Bunda, belajarlah mengerti. Hanna istri sahku, dia calon ibu dari anak-anakku. Semakin besar kebencian bunda padanya. Akan semakin jauh jarak diantara kita. Semakin kuat bunda mendekatkan aku dengan Ziva. Maka semakin kecil pula rasa hormatku padamu!"
"Hafidz kamu mengancam bunda!"
"Bunda yang memaksa Hafidz bersikap seperti ini. Cukup sekali aku kehilangan Hanna, takkan aku sanggup kehilangan Hanna lagi. Suka atau tidak, Hanna istriku bukan Ziva!" Ujar Hafidz final.
"Hafidz kamu salah sangka padaku!" Sahut Ziva lirih.
"Semoga saja pemikiranku salah, karena jika benar kamu mengharapkan hubungan lebih dari teman denganku. Aku tidak akan pernah mengingat hubungan yang pernah ada diantara kita. Sesungguhnya kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku!" Ujar Hafidz lantang dan tegas. Ziva menunduk sembari meremas gamisnya erat.
"Aku sedang belajar melupakanmu. Namun harapan yang diberikan bunda. Terkadang menjadi bisikan setan yang manis didengar. Semoga Hafidz, aku bisa melupakanmu. Agar aku mampu berdiri tegak dihadapanmu. Cukup kenangan yang pernah ada diantara kita. Jangan hancurkan dengan kebencian. Aku yang salah, bukan kenangan yang pernah ada diantara kita!" Batin Ziva pilu.
__ADS_1