
"Hanna, kamu sudah siap menikah dengan Hafidz. Menikah tanpa saling mengenal itu tidak mudah!" Ujar Arkan, Hanna mengangguk tanpa ragu.
Hanna berjalan mendekat ke arah jendela kamarnya. Nampak dibawah rumahnya tengah sibuk dengan persiapan pernikahan sederhananya. Setelah semalam Hafidz mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Hanna. Pagi ini tepat pukul 09.00 WIB, akan dilangsungkan pernikahan Hanna dan Hafidz. Keduanya sepakat menikah sah secara agama dan hukum. Meski surat-surat yang dibutuhkan belum siap. Semuanya menyusul setelah acara akad nikah digelar.
"Aku yakin dan harus yakin!" Sahut Hanna tegas, Arkan mengangguk mengerti.
Arkan berjalan menghampiri Hanna, menatap ke luar jendela yang sama dengan Hanna. Arkan menatap langit biru yang begitu tenang. Langit yang seakan ikut mendoakan kebahagian Hanna. Arkan menoleh sejenak ke arah Hanna. Dengan kebaya putih lengan panjang, dipadukan dengan jarik warna senada. Hanna terlihat anggun dan cantik, Hanna bak putri kerajaan jawa yang sangat cantik
Hanna menggunakan baju pernikahan yang sangat sederhana. Keputusan yang terlalu cepat, membuat semua persiapan dilakukan dengan seadanya. Hanna tak merasa keberatan dengan semua persiapan ini. Bagi Hanna kini, sah dan halal menjadi impian yang besar baginya. Menahan hasrat tanpa pernikahan sangatlah tidak mudah.
"Aku harap keputusanmu bukan karena terpaksa. Pernikahan bukan sebuah hubungan yang biasa. Terlalu banyak yang harus dimengerti dan dikorbankan. Agar pernikahan itu abadi. Banyak hati dan wajah yang mengisi sebuah pernikahan. Kakak berharap, kamu memutuskan dengan bijak dan tenang!"
"Aku memilih kak Hafidz, bukan kerena kesempurnaan iman atau wajahnya. Laki-laki yang tak pernah terpengaruh akan kemolekan tubuhku. Insyaallah kelak mampu menjaga pandangannya. Selama ini ketakutanku bukan pada pernikahan. Namun lebih kepada, pengkhianatan cinta. Seperti yang papa lakukan, menikah dengan tante Zahra. Walau aku tahu, pernikahan itu hanya kebohongan semata!"
"Hanna, apapun jalan yang kamu pilih. Kakak akan selalu mendukungmu. Setiap tetes air matamu sangat berharga. Jangan pernah simpan air matamu. Kakak berhak melihatnya kelak!" Ujar Arkan tegas, Hanna mengangguk mengiyakan.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Setelah pernikahan ini, aku harus siap menghadapi badai. Entah cintaku dengan keraguannya atau keyakinan kak Hafidz yang menang. Namun demi kebahagian yang dia tawarkan. Aku harus mampu melawan badai yang ada dihadapanku kelak!" Ujar Hanna mantap, Arkan mengangguk pelan. Dengan hangat Arkan memutar tubuh Hanna.
"Kamu yang terbaik dan selalu yang terbaik. Kakak percaya kamu mampu melawan semua badai. Ketegaran mama menurun padamu. Keteguhan papa mengalir dalam darahmu. Tidak akan ada yang mampu mengeluh tentangmu. Hafidz akan ada menghadang setiap masalah. Kakak akan selalu ada mendukung semua langkahmu!" Ujar Arkan mantap, Hanna mengangguk sembari memeluk Arkan. Menempelkan kepalanya tepat di dada bidang Arkan.
"Terima kasih!" Ujar Hanna lirih dalam dekapan Arkan.
Kreeeekkkk
Suara pintu terbuka perlahan, Tika masuk bersama dengan Aura. Hafidz sudah datang bersama rombongan keluarganya. Agam dan Dimas menyambut mereka. Sedangkan Tika naik ke kamar Hanna. Tika akan membawa Hanna turun menemui Hafidz dan keluarganya.
__ADS_1
"Pertama kalinya mama melihat kalian berpelukan. Ada rasa bahagia yang tak bisa mama utarakan. Kelegaan hati seorang ibu yang melihat kebersamaan kedua putranya!" Ujar Tika lirih, lalu memeluk Hanna dan Arkan bersama-sama. Tika mendekap kedua putranya sangat erat. Menyalurkan rasa cinta yang ada di hati terdalamnya.
"Kami sayang mama!" Ujar Arkan lantang, Aura meneteskan air mata haru.
Aura mengetahui perjalanan hidup Arkan yang sulit. Kebersamaan yang dilihatnya saat ini. Hadiah terindah pernikahannya dengan Arkan. Kabahagian tulus yang tak pernah bisa diberikannya pada Arkan. Senyum yang nyata ada, saat Arkan bersama Tika dan Hanna. Dua wanita yang mengisi hati Arkan sebelum dirinya.
"Sayang, mendekat pada kami. Kamu bagian dari keluargaku, tidak sepantasnya kamu diam menyendiri disana!" Ujar Arkan sembari menjulurkan tangan ke arah Aura. Dengan seutas senyum dan anggukan kepala. Aura membalas perkataan Arkan.
"Selamanya bersama!" Teriak Hanna lantang. Keceriaan dan kepolosan Hanna yang dirindukan Arkan dan Tika. Keceriaan tanpa batas dan tekanan. Mengalir apa adanya, tanpa peduli pendapat orang lain. Dengan catatan tidak merugikan orang lain.
Di lantai satu rumah Hanna, nampak para tamu undangan berkumpul. Tak tertinggal Hafidz yang datang bersama Dirga dan ibundanya. Tak ada lagi perdebatan yang mengiringi pernikahan Hafidz dan Hanna. Ibunda Hafidz sudah menyetujui pernikahan ini. Tak ada lagi keluhan darinya. Setelah Hafidz menjelaskan dan menyakinkan ibundanya. Hanya Hanna satu-satunya wanita yang membuatnya bahagia. Dengan lemah dan kuat Hanna, Hafidz akan melewati hidup hampanya menjadi penuh warna.
"Apa kabar Agam?"
"Papa mengenal Dirga?"
"Tentu saja, bukankah dia masih saudara jauh Bayu. Dirga juga rekan bisnis papa. Hampir saja dia menikah dengan Tika!" Ujar Dimas tanpa rasa bersalah. Dirga tersenyum mendengar kejujuran Dimas. Sebaliknya Agam sedikit lesu, saat Dimas mengutarakan niat pernikahan Dirga dengan Tika.
"Tenang saja Agam, itu hanya gurauan masa lalu. Posisimu tidak akan tergantikan, Tika tidak akan memilih atau menoleh ke arahku. Dia hanya peduli padamu!"
"Apa hubunganmu dengan Hafidz?" Ujar Agam dingin, sesaat setelah Dirga bicara tentang hubungannya dengan Tika.
"Dia keponakanku, aku kakak laki-laki ibunda Hafidz. Dengan kata lain, aku besanmu sekarang!" Ujar Dirga tegas, Agam menggeleng tak percaya.
"Tidak perlu terkejut, Kak Dirga memang paman Hafidz!"
__ADS_1
"Tika, kamu mengetahui fakta ini!" Ujar Agam lirih, Tika mengangguk mantap.
"Aku mengenal keluarga Hafidz. Ibunda Hafidz temanku dulu. Aku sengaja diam, karena hubungan Hafidz dan Hanna sepenuhnya keputusan mereka. Aku juga tidak bicara dengan kak Dirga. Jadi jangan salah paham atau berpikir yang tidak-tidak. Pernikahan ini terjadi murni keputusan Hanna dan Hafidz. Tanpa campur tanganku atau masa laluku dengan kak Dirga!" Tutur Tika tegas, Dirga tersenyum seraya mengangguk.
"Agam, sepertinya Tika tak pernah terkalahkan. Kamu selalu diam saat Tika bicara. Aura Tika mampu melumpuhkan saraf kita. Aku turut bahagia dengan pernikahan kalian!" Ujar Dimas, lalu pergi menjauh dari Agam.
Dirga dan Dimas duduk di tempat yang sudah disediakan. Hafidz duduk tepat di depan penghulu. Arkan duduk tepat di belakang Hafidz. Nissa dan Tika duduk berdampingan dengan ibunda Agam. Semua orang tegang menanti Hanna yang belum keluar dari kamar pengantin.
"Hafidz, tundukkan kepalamu. Takutnya kalau kamu melihat Hanna. Kamu akan lupa cara mengucapkan ijab qobul!" Bisik Dirga menggoda Hafidz.
"Hafidz, jangan sampai salah mengucapkan. Jika kamu salah ucap, aku akan berpikir lagi menikahkan Hanna denganmu!" Bisik Agam di telinga yang lain.
"Kalian bisa diam, Hafidz sedang galau. Malah kalian sibuk menggodanya!" Ujar Dimas lantang. Agam dan Dirga seketika diam, Hafidz menggeleng lemah. Dia semakin gugup, setelah mendengar perkataan Dirga dan Dimas.
"Kenapa terus menunduk? Kak Hafidz malu menikah denganku!" Bisik Hanna lirih, tepat di telinga Hafidz. Sontak Hafidz menoleh melihat Hanna.
"Kamu cantik!" Ujar Hafidz lirih, sembari mengelus dadanya pelan.
"Artinya dari dulu aku jelek!"
"Jangan mulai lagi, kita di depan penghulu!"
"Kak Hafidz yang jelek!"
"Ya Allah SWT, putar waktu secepat mungkin. Agar aku halal untuknya, aku sudah tak sanggup menahan hasrat ini. Hanna, kenapa kamu begitu sempurna? Sanggupkah aku menahan cemburu. Ketika ada mata nakal yang menatapmu. Ya Rabb, sungguh sempurna ciptaan Engkau!" Batin Hafidz seraya menatap nakal ke arah Hanna.
__ADS_1