
"Dokter Hanna!"
"Kamu, sedang apa disini? Aku rasa seorang CEO tidak ada kepentingan di tempat ini!" ujar Hanna dingin pada Hafidz.
Hanna berdiri meninggalkan Hafidz. Melanjutkan pekerjaan yang sejak tadi dilakukannya. Hafidz tersenyum menatap Hanna. Kelembutan hati Hanna tak lagi bisa ditutupi. Semakin Hanna keras menutup hatinya, semakin keras pula Hafidz ingin membukanya.
"Dia datang bersamaku!" sahut Arkan, Hanna menoleh seraya mengerucutkan bibirnya. Hanna kesal melihat Arkan membawa Hafidz. Namun dia tidak bisa marah pada Arkan. Hanna sangat menghargai Arkan dan Aura.
"Kak Arkan tidak asyik!" sahut Hanna santai, lalu berlalu menjauh dari Arkan. Meninggalkan Arkan yang tengah tersenyum melihat kekesalan Hanna. Aura menepuk pelan pundak Arkan, berharap Arkan tidak menggoda Hanna lagi.
Hanna berjalan semakin jauh ke dalam taman kota. Sebuah taman tak jauh dari rumahnya. Terkadang Hanna datang dengan berjalan kaki. Namun lebih sering menggunakan mobil. Taman yang terletak di tengah-tengah antara rumahnya dengan Tika. Tempat yang membuatnya merasa dekat dengan kedua orang tuanya. Tanpa harus memilih salah satu diantaranya.
Hanna menenteng satu keranjang makanan kucing.Hanna menuju tempat paling aman meletakkan manakan itu. Hampir setiap hari Hanna akan datang ke tempat ini. Memberikan makanan pada kucing-kucing liar. Bahkan Hanna sengaja meminta seseorang memberi makan setiap harinya. Jika dia tidak bisa datang mengunjungi mereka.
Meong Meong Meong
Satu per satu kucing menghampiri Hanna. Menyadari kedatangan Hanna yang sedang membawa makanan. Hafidz mengikuti langkah Hanna tanpa banyak bertanya. Arkan sengaja mengajak Hafidz. Agar Hafidz mengetahui sifat lembut, sekaligus luka yang ditutupi Hanna. Meski keduanya tidak akan bersama. Arkan ingin membuat keduanya menjalin pertemanan. Sudah saatnya Hanna membuka diri, bukan terus bersembunyi di balik luka lima belas tahun.
"Kak Arkan, kenapa Hanna begitu dingin pada setiap laki-laki? Aku melihat Hanna tidak pernah merasa nyaman berada di samping orang-orang yang menyayanginya. Jika kakak tidak keberatan, aku ingin mengetahui alasan itu. Aku ingin mengenal adikku Hanna dari air matanya, bukan hanya senyumnya!" ujar Aura lirih, sembari bersandar pada bahu Arkan.
Keduanya menatap Hanna dan Hafidz yang berada di tengah-tengah taman. Hanna yang terus menepis perhatian Hafidz. Sebaliknya Hafidz yang terus berusaha menyakinkan Hanna akan rasanya. Terdengar helaan napas panjang Arkan. Menandakan alasan yang dikatakannya tidaklah mudah. Aura menggenggam erat Arkan. Memberikan semangat pada suami yang sangat disayanginya.
"Hanna, kehilangan keceriaannya karena aku dan mama. Hanna merasa terkhianati dengan kepergian kami, lima belas tahun yang lalu. Hanna merasa sepi tanpa kasih sayang mama. Papa mendidik Hanna dengan harta. Berharap Hanna tidak akan bersedih. Jika dia melakukan semua yang diinginkannya. Namun dugaan papa salah. Hanna semakin dingin dan sepi. Lukanya semakin bertambah, ketika Hanna harus tinggal dengan istri kedua papa!"
"Apa semua itu yang kini membuat Hanna tak percaya akan cinta?"
"Kamu benar, Hanna takut terkhianati lagi. Dia merasa nyaman tanpa cinta. Dia tidak ingin ada Hanna lain dalam hidupnya. Seorang anak yang harus memilih satu diantara dua orang tuanya?" ujar Arkan lirih, Aura dia menatap lekat Arkan. Luka yang tanpa sengaja dia buka.
"Maaf!"
"Tidak perlu, kamu memang harus mengetahui semua itu. Seorang istri ibarat buku bagi suaminya. Tempat mencurahkan seluruh keluh kesah. Tempat berbagi suka dan duka. Aku yang seharusnya berterima kasih. Kamu sudah menerima keluargaku, baik dan buruknya!"
"Aku bukan hanya menerima mereka, aku juga mencintai dan menyayangi mereka. Karena sejati kakak dan mereka itu satu. Tidak mungkin aku mencintai separuh hati. Kakak surgaku kini, mereka surga dan segalanya bagi kakak. Aku akan berusaha menjadi anak menantu dan saudara ipar yang baik. Tuntun dan ingatkan aku bila kelak aku lalai. Agar aku bisa selamanya menjadi bagian dari hidupmu!" ujar Aura lirih dan hangat. Arkan mengangguk seraya mengusap kepala Aura yang tertutup hijab.
Cup
"Aku tidak salah menilaimu, terima kasih telah terlahir dengan selamat. Tulang rusukmu yang akan menguatkan setiap langkah lemahku!" sahut Arkan, sesaat setelah mengecup kening Aura mesra.
Aura mengangguk seraya bersandar pada bahu Arkan. Kehangatan Arkan meninggalkan kebahagian yang teramat di hati terdalam Aura. Sederhana tapi penuh ketulusan dan kejujuran hati. Kebahagian yang tak pernah direncanakan, tapi menjadi kenangan terindah.
"Adakah alasan khusus, kakak sengaja mendekatkan Kak Hafidz dengan Hanna!" ujar Aura, Arkan menggeleng lemah.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mencari teman untuk Hanna. Dia butuh seorang teman yang mengenal lukanya. Hafidz melihat sisi kelam itu, tapi Hafidz masih yakin akan rasanya. Pendamping yang dibutuhkan Hanna melebihi seorang imam!" sahut Arkan, Aura mengangguk mengiyakan perkataan Arkan. Keduanya menatap lurus ke arah Hanna dan Hafidz berdiri.
"Seandainya kamu menyayangiku, seperti menyayangi kucing-kucing kecil itu. Sungguh lengkap rasanya hidupku!" ujar Hafidz lirih, tepat di samping Hanna.
Hanna tak bergeming mendengar perkataan Hafidz. Malah terlihat Hanna pura-pura tidak mendengar perkataan Hafidz. Hanna sibuk memberi makan kucing-kucing yang ada di depannya. Seolah Hafidz tidak berada di sampingnya. Sikap acuh yang membuat Hafidz semakin tertarik ingin mengenal Hanna. Menjadikan Hanna pelengkap tulang rusuknya yang hilang.
"Kucing, bersedia tidak bertukar tempat denganku. Aku juga ingin merasakan belaian tangan halus itu!" ujar Hafidz lantang, Hanna tertunduk menahan tawa. Perkataan Hafidz terdengar aneh di telingan Hanna.
"Akhirnya aku bisa membuatmu tertawa!"
"Aku tidak tertawa, kapan aku tertawa?" sahut Hanna kesal dan ketus.
Hafidz berjongkok tepat di samping Hanna. Dia mengelus kucing berwarna abu-abu di depannya. Hanna melirik ke arah Hafidz. Dia melihat Hafidz mengelus kepala kucing manis di sampingnya. Hanna sedikit menjauh, agar bulu kucing tidak tercium hidungnya. Namun terlambat bagi Hanna. Angin membawa bulu halus kucing yang rontok menyentuh hidungnya.
Haaaaciiimmmm
"Kamu tidak apa-apa?" ujar Hafidz cemas, dia hendak menyentuh wajah Hanna.
Haaaaacccciiimmmm Haaaaaccciiimmm
"Hanna kamu!"
"Berhenti, menjauh dariku. Aku alergi bulu kucing!" ujar Hanna sembari menutup hidungnya.
"Siapa yang mengatakan aku tidak boleh melakukannya? Selama ini aku baik-baik saja. Kamu saja yang mengelus kepala kucing terlalu keras. Sehingga bulunya berterbangan!" ujar Hanna kesal, Hafidz menggeleng tak percaya.
"Kenapa kamu menyayangi mereka? Jika kamu tahu akan sakit!"
"Karena mereka tidak sengaja menyakitiku. Berbeda bila aku mencintai manusia. Mereka menyakitiku dengan sadar, karena mereka memiliki hati dan akal yang sempurna. Mereka selalu setia padaku. Tidak akan mereka meninggalkanku demi orang lain!"
"Hanna, sayangmu pada mereka, jauh berbeda sayangmu padaku. Mereka hewan yang akan setia pada majikannya. Sedangkan rasa diantara kita, cinta dua insan manusia. Prinsipmu tidak salah, tapi keraguan yang kamu katakan itu tidak adil!"
"Tidak adil, pada siapa aku berbuat tidak adil?" ujar Hanna heran.
"Padaku!"
"Kenapa aku harus adil padamu? Aku tidak mengatakan hal buruk tentangmu. Lama-lama aku merasa kamu aneh. Seorang CEO sepertimu seharusnya tegas dan bijak. Kenapa aku merasa kamu lemah?"
"Kamu mengacuhkan rasaku, karena masa lalu yang belum tentu akan terjadi di masa depan kita. Kamu mengacuhkan bahkan meragukan kesetian yang aku janjikan. Hanya karena kamu merasa kucing-kucing itu jauh lebih setia dariku!"
"Kamu tidak mengenalku, tidak akan pernah bisa mengenalku. Masa laluku, tidak hanya membuatku ragu akan rasamu. Namun membuatku takut akan rasa sakit!"
__ADS_1
"Setidaknya sekali saja kamu menoleh padaku. Aku tidak akan berjanji, tapi aku akan melakukannya dengan setulus hatiku. Bahagiamu alasan hidupku!" ujar Hafidz tegas, Hanna mendongak menatap langit yang gelap. Segelap dan sedingin hatinya.
"Kak Hafidz, aku terlalu dingin. Jangan dekati aku lagi. Jika tidak tubuhmu akan membeku dan kaku merasakan dingin hatiku!" ujar Hanna lirih.
"Tapi sungguh-sungguh ingin mengenalmu!"
"Terima kasih, tapi aku yang takut mengenalmu. Penolakan yang mama terima, tidak pernah ingin aku rasakan. Pahitnya terpisah dari orang disayangi, layaknya papa yang jauh dari mama. Tak pernah ingin aku alami. Harus memilih antara papa atau mama. Tak pernah ingin kurasakan pada putraku. Mungkin cintamu tulus, tapi ketakutanku nyata!"
"Hanna, masa lalu ada sebagai kenangan dan pengalaman. Bukan penghalang untuk kita menjalani masa depan. Sangat tidak adil, bila kamu menilaiku sama dengan tuan Agam. Atau kedua orang tuaku, sama dengan kakek dan nenekmu. Kamu harus bisa menatap masa depan, bukan terus menoleh pada masa lalu!" sahut Hafidz bijak, Hanna menunduk menatap tanah tempatnya berpijak.
Huuuufff
"Kenapa kamu terus memaksaku?"
"Karena aku yakin padamu!" sahut Hafidz, Hanna menggeleng lemah.
"Baiklah, aku ingin mengetahui seberapa besar keyakinanmu padaku!" ujar Hanna, Hafidz mengangguk tanpa ragu. Arkan dan Aura terus mengawasi Hanna dan Hafidz. Keduanya sama-sama penasaran akan akhir perdebatan Hanna dan Hafidz.
"Jika aku tidak mencintaimu, masihkah kamu ingin menikah denganku!"
"Aku akan tetap menikah denganmu, meski cintamu bukan untukku atau kamu tidak mencintaiku. Selama kamu sendiri yang bersedia menikah denganku!"
"Kenapa?"
"Kasih sayang dan kehangatan cintaku, yang akan mengalahkan kaku dan dinginnya hatimu!" sahut Hafidz lugas.
"Jika aku menolak memiliki keturunan? Akankah kamu tetap menikah denganku!"
"Aku menikah denganmu bukan hanya untuk memiliki keturunan. Kamu istri sekaligus tulang rusukku. Bukan alat untuk mencetak penerus keluargaku!"
"Jika orang tuamu menolak kehadiranku, masihkah kamu menikah denganku!"
"Aku tidak akan menikah denganmu!" sahut Hafidz seraya menunduk. Suara Hafidz terdengar sendu, seolah pertanyaan Hanna telah membuatnya sedih.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin membuatmu, menjadi menantu yang tak dihargai. Aku menikah denganmu demi membahagiakan dirimu. Bukan membuatmu terluka dan menangis. Aku tidak akan sanggup melihatmu dihina oleh orang tuaku. Lebih baik aku hancur, daripada melihatmu tersakiti oleh orang terdekatku!" ujar Hafidz pilu, Hanna mengangguk seraya tersenyum. Seolah satu keraguannya akan Hafidz pupus satu.
"Seandainya kamu harus...?" ujar Hanna terpotong, ketika Hafidz meletakkan telunjuk tepat di tengah bibir Hanna. Hafidz menggelengkan kepalanya pelan. Berharap Hanna tidak mengatakan keinginannya.
"Cukup Hanna, aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Jangan pernah memintaku memilih antara kamu dengan orang tuaku. Sungguh aku tidak sanggup memilih!"
__ADS_1
"Kalau begitu, bawa aku menemui orang tuamu. Kita akan buktikan, kepercayaanmu atau keraguanku yang akan terjadi!"