Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Aura Hikmatussa'idah


__ADS_3

Malam semakin larut, tapi entah kenapa Agam seakan tak ingin beranjak dari tempat duduknya? Agam merasa enggan pergi dari rumah Tika. Hampir satu jam lebih Agam duduk berdua dengan Tika. Keduanya saling bicara, tapi cenderung mereka lebih banyak diam. Agam dan Tika merasa canggung satu dengan yang lain. Agam merasa tak mampu mengeluarkan segala kerinduannya.


"Mama, Arkan harus ke pesantren. Batu saja Abi menghubungiku. Ada salah satu santri yang sakit!" ujar Arkan memecah kesunyian. Agam dan Tika menoleh serempak.


Terlihat Arkan membawa tas punggung. Tas yang mungkin berisi alat-alat medis. Pesantren yang Arkan maksud. Tak lain pesantren tempatnya menimba ilmu dulu. Pesantren putra-putri terbesar dan terbaik. Pesantren yang didominasi oleh para santri dan santriwati berbakat.


Arkan terbiasa diminta bantuan oleh Abi Salim pemilik pesentren. Selama Arkan tidak dalam posisi sibuk. Arkan selalu datang memenuhi permintaan Abi Salim. Orang yang berjasa mengajarkan agama padanya. Orang yang sudah dianggapnya seperti ayah kandung.


"Arkan, ini sudah larut malam. Pesantrenmu lumayan jauh dari sini. Akankah kamu menginap disana?" sahut Tika, Arkan mengangguk pelan. Agam diam menatap interaksi antara Tika dan Arkan. Kehangatan dan kedekatan keduanya sangat dekat. Tika dan Arkan layaknya sahabat dalam suka dan duka. Pengertian jelas menjadi landasan hubungan keduanya.


"Mama, Arkan akan pulang dini hari. Jika Abi Salim tidak mengizinkan. Arkan akan pulang setelah sholat subuh!" ujar Arkan, Tika mengangguk mengerti.


Arkan berpamitan pada Agam dan Tika. Lagi dan lagi Agam terdiam. Dia terharu melihat sikap Arkan padanya. Tak ada tatapan sinis. Tak terdengar suara dingin dari bibir Arkan. Hanya keramahan dan kehangatan Arkan yang dirasakan Agam.


"Tika, bermimpikah aku. Dalam satu jam Arkan memperlakukanku layaknya seorang ayah. Dia menghormatiku, dia tidak mengacuhkanku!" ujar Agam tak percaya. Tika tersenyum dibalik cadarnya. Dia menatap Arkan yang mulai menjauh.


"Arkan tak pernah mengacuhkanmu. Dia tidak akan pernah merasa nyaman. Jika kamu mendekat padanya dengan harta. Arkan tak pernah mengharapkan kemewahan darimu. Dia menginkan kasih sayang dan ketegasanmu. Arkan putra kita, selalu merindukanmu. Namun kelemahanmu yang membuatnya merasa tak nyaman!" ujar Tika.


"Maksudmu apa?"


"Mas Agam, Arkan tidak akan merasa nyaman di dekatmu. Bila kamu masih lemah dan bimbang. Belajarlah bersikap tegas pada orang tuamu. Namun ingat satu hal, buat orang tuamu menyadari kesalahannya. Tanpa melupakan rasa hormatmu pada mereka!" ujar Tika, Agam mengangguk pelan.


"Maafkan aku Tika, kelemahanku membuat keluarga kita hancur!" ujar Agam, Tika menggeleng tak setuju.


Tika tak pernah mempermasalahkan lemah atau tegas sikap Agam. Perpisahan Agam dan Tika semata jalan yang harus mereka jalani. Arkan dan Hanna buah cinta mereka. Bukti cinta diantara mereka pernah ada. Namun harus kalah oleh ujian yang menggadang.


"Semua sudah terjadi, tidak perlu mencari siapa yang salah atau benar? Perbaiki yang ada di depanmu. Agar Arkan dan Hanna yakin dan merasa nyaman bersandar padamu!" ujar Tika, Agam mengangguk mengerti.


"Tika!" sapa Agam ramah dan lirih.


"Hmmmm!"


"Masihkah kamu mencintaiku!" ujar Agam, Tika menunduk terdiam. Lama Tika membisu, seolah cinta itu masih ada. Namun ragu untuk mengatakannya.

__ADS_1


"Cinta itu rasa yang ada dalam hati terdalamku. Hanya ada satu nama yang pernah mengisinya. Namun cintaku untukmu, kini tak lebih rasa sayang sebagai sesama muslim. Aku tidak bisa menghapus namamu, tapi menghidupkan namamu dihatiku. Aku terlalu takut, hanya persahabatan yang ingin kutawarkan padamu!" ujar Tika, Agam diam lalu mengangguk.


Tak berapa lama, Agam pamit pada Tika. Kini tak ada lagi ganjalan dalam hatinya. Tika masih mencintainya, tapi kembali menjalin hubungan dengannya. Tika dengan tegas telah menolaknya. Setidaknya kini Agam mulai lebih dekat dengan Arkan dan Tika.


"Aku pamit!" ujar Agam dingin, Tika mengangguk pelan.


"Arkan tak pernah menjauh, dia menyayangimu!"


...☆☆☆☆☆...


Setelah satu jam lebuh Arkan mengendarai sepeda motornya. Arkan tiba di pesantren milik Abi Salim. Arkan langsung masuk ke rumah utama. Arkan sudah terbiasa datang ke rumah Abi Salim. Keluarga besar Abi Salim sudah menganggap Arkan seperti anaknya sendiri.


"Assalammualaikum!" sapa Arkan, Abi Salim menoleh sembari mengangguk. Arkan membungkuk kemudian berjalan perlahan ke arah Abi Salim. Arkan mencium punggung tangan Abi Salim.


"Maaf aku menghubungimu malam-malam. Aku tidak mungkin menghubungi rumah sakit!" ujar Abi Salim. Arkan diam menunduk, sejujurnya Arkan tidak mengerti maksud perkataan Abi Salim.


"Aura, dia yang sakit!"


Seketika jantung Arkan berdebar hebat. Dengan perlahan Arkan menekan dadanya pelan. Arkan harus bisa menenangkan diri. Jika tidak ingin Abi Salim menyadari kegelisahannya.


"Dia ada di kamarnya bersama Fatma. Sejak dua hari yang lalu dia sakit. Semua orang sudah membujuknya, tapi tak ada satupun yang bisa membawanya ke rumah sakit!" tutur Abi Salim lirih, Arkan mengangguk pelan.


Arkan berjalan menuju kamar Aura Hikmahtussa'idah. Putri tunggal Abi Salim pemilik pesantren. Salah satu santriwati terbaik di pesantren. Dengan langkah ragu, Arkan masuk ke dalam kamar Aura. Arkan tak pernah melihat raut wajah Aura dengan jelas. Namun malam ini, Arkan bisa menatap Aura dari dekat. Entah ini sebuah rejeki atau ujian keimanan Arkan?


"Assalammualaikum!" ujar Arkan, Aura dan Fatma menoleh.


"Arkan!" teriak Fatma, Arkan kaget mendengar teriakkan Fatma. Selama ini dia tidak pernah mengenal Aura dan Fatma secara langsung.


Arkan mengenal Aura, karena dia putri Abi Salim. Selama ini Arkan tidak pernah mencoba mengenal Aura. Meski setelah pertemuannya dulu, Arkan mulai merasakan adanya rasa dihatinya. Sebab itu Arkan sangat terkejut. Ketika Aura dan Fatma seakan mengenalnya.


"Jadi kamu yang akan merawatku. Sejak kapan Abi percaya pada laki-laki? Apalagi dia yang akan memeriksa putrinya!" sahut Aura dingin.


"Maaf jika kamu kecewa. Seharusnya Abi Salim memanggil calon imammu. Bukan laki-laki biasa sepertiku. Jika kamu merasa keberatan, aku tidak akan mendekat. Cukup katakan keluhanmu, aku akan membuatkan resepnya!" ujar Arkan tak kalah dingin. Fatma menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia merasa aneh melihat sikap dingin Arkan dan Aura yang sangat kompak.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah membahas calon imamku? Memangnya kamu mengenalnya?" ujar Aura kesal, Arkan mengangguk pelan.


"Aku mengenal imam yang akan membimbingmu. Sebab itu aku menjauh darimu dan pesantren ini. Namun aku tidak ingin menjadi kacang lupa kulit. Aku akan berbakti pada Abi Salim dan pesantren kapanpun dibutuhkan? Aku sanggup menatap senyummu bersama orang lain. Bahagiamu alasan hidupku!" batin Arkan, lalu mengukur shhu tubuh Aura.


"Kak Fatma, tolong ukur suhu kak Aura dengan termometer ini!" ujar Arkan, Fatma mengangguk pelan. Setelah Fatma mengecek suhu tubuh Aura.


"Permisi kak Aura, aku harus memeriksamu!" ujar Arkan lirih.


Tanpa menatap raut wajah Aura, Arkan memeriksa Aura. Arkan menggunakan sarung tangan medis. Agar dia tidak menyentuh Aura secara langsung. Sesaat setelah memeriksa, Arkan menulis beberapa obat. Lalu memberikannya pada Fatma yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Aura.


"Terkadang sakit tidak bisa sembuh dengan obat. Sebab obat paling terbaikpun akan kalah oleh tubuh yang menyerah. Jangan biarkan sakitmu mengalahkan kuatmu. Aku yakin kakak mengerti maksudku!" tutur Arkan, Aura menatap punggung Arkan yang hendak pergi.


"Arkan, jika kamu menyadari putus asaku. Apakah kamu bisa melihat isi hatiku? Jika iya, katakan pada Abi Salim yang kamu rasakan. Beliau akan mendengar pendapatmu!" ujar Aura memelas, Arkan menggeleng lemah. Dia takkan bisa menasehati sang guru. Meski semua orang akan melakukan kesalahan, tapi setiap orang akan mencari cara memperbaikinya.


"Apapun keputusan beliau, percayalah dia pilihan beliau yang terbaik untukmu. Yakinlah akan satu hal, orang yang baik akan bersama dengan yang baik. Sebaliknya orang yang buruk akan bersama yang buruk pula. Dia imam yang kelak akan menuntunmu menuju Jannah-NYA!"


"Kenapa harus dia?" sahut Aura.


"Karena kalian berasal dari lingkungan yang sama. Pengetahuannya tentang agama jauh di atas calon imam yang lain!" ujar Arkan, Aura menggeleng.


"Aku tidak bisa menerimanya!"


"Mungkin ini egois atau salah, tapi dia seseorang yang mungkin terbaik untukmu. Namun seandainya kamu tidak bisa menerimanya. Katakan pada Abi Salim. Beliau orang yang bijak, tidak akan beliau menolak pendapatmu. Kebenaran yang menyakitkan, jauh lebih baik daripada kebohongan yang menyenangkan!" ujar Arkan lalu berjalan keluar dari kamar Aura.


"Tunggu!" teriak Aura, sontak Arkan menghentikan langkah kakinya.


"Akankah Abi Salim menerima pendapatku. Akankah beliau setuju dengan pilihaku!" ujar Aura lantang dan tegas.


"Beliau orang yang bijak. Selama yang kamu katakan benar. Beliau akan menerima pendapat dan pilihanmu!"


"Termasuk, jika itu kamu!" ujar Aura tanpa beban. Hanya anggukan kepala yang diberikan Arkan.


"Terima kasih telah membuatku bahagia dengan perkataanmu. Dengan gurauanmu, sesaat aku merasa pantas bersamamu. Namun saat kusadar siapa diriku dan siapa dirimu? Semua seakan takkan pernah terjadi. Aura Hikmatussa'idah wanita penghapal quran penggetar hatiku. Aku berdoa agar bahagia selalu bersamamu. Semoga imam dunia akhiratmu, mampu mencintai sekaligus menghargai dirimu!" batin Arkan.

__ADS_1


__ADS_2