Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Lahirnya Penerus


__ADS_3

"Air matamu takkan mampu menghapus kesedihan Hafidz. Lihatlah disana, putramu berdiri tertunduk. Air matanya mengering, hatinya hancur dan tulang belulangnya rapuh. Tubuhnya tak lagi mampu berdiri tegak, terhuyung tanpa arah. Mencari cahaya yang telah meredup. Menyisakan gelap yang tak berarah. Kebahagian yang telah kamu renggut dengan dua tanganmu. Cinta dan kasih sayang yang kamu berikan dulu, kini telah terbayar dengan kandas cintanya. Doa keberkahan akan suksesnya, telah dia tebus dengan sakitnya kini. Tangan hangatmu kala mendekapnya. Kini berubah menjadi tangan yang meninggalkan dingin hati yang terluka!" Bisik Dirga, Sinta menggeleng lemah.


Dia menatap Hafidz yang berdiri tepat di depan ruang operasi. Ruangan yang memisahkannya dengan Hanna. Membuatnya tak lagi bisa bersama Hanna. Menghabiskan waktu yang tak lagi banyak, mungkin juga telah habis. Sinta menatap hancur putra yang begitu dicintainya. Gelengan kepala Sinta, isyarat tak pernah ada keinginan di hatinya menghancurkan kebahagian Hafidz. Namun semua seolah benar, ketika perkataan Dirga terdengar di telinganya. Sinta menyadari, betapa keras dan dingin hatinya selama ini.


"Hafidz!" Ujar Sinta lirih tak terdengar.


"Percuma Sinta, suara penuh cintamu takkan terdengar oleh Hafidz. Kedua mata Hafidz terbuka, tapi nyata terpejam. Telinganya tak lagi mampu mendengar, cinta dan kasih sayang dari kita. Hafidz hanya menyadari satu hal. Kebahagiannya telah hancur, Hanna membawa separuh hati dan jiwanya. Meski Hanna meninggalkan cinta yang teramat besar. Namun cinta itu yang akan terus mengingatkan Hafidz akan kebodohannya!"


"Tak pernah aku ingin menghancurkan kebahagian Hafidz. Sampai kapanpun? Seorang ibu menginginkan kebahagian putranya. Sejak dulu tak pernah aku menentang hubungan Hafidz dan Hanna. Tak sekalipun aku menolak Hanna, jika ada sikap dinginku. Itu semua karena aku belum bisa mengakui Hanna. Namun tak pernah ada kebencian di hatiku pada Hanna!" Sahut Sinta tegas, Dirga membisu. Tak ada kata yang mampu mendebat perkataan Sinta.


"Kamu benar Sinta, tak ada kebencian di hatimu untuk putriku. Sebab itu Hanna tetap bertahan, menunggu pengakuan yang belum dia dapatkan. Namun tak ada yang bisa menentang ketetapan-NYA. Apapun yang terjadi saat ini, bukan kesalahan siapapun? Mungkin ini yang terbaik untuk putriku!"


"Tika!" Sapa Dirga ramah, Sinta menunduk kala kedua bola matanya bertemu dengan mata indah Tika. Ada rasa malu di hati terdalamnya. Tatapan teduh Tika, seolah hukuman atas kesombongannya.


"Assalammualaikum kak Dirga, lama tidak bertemu!"


"Waalaikumsalam, senang melihat senyummu!" Sahut Dirga tanpa ragu.


"Bagaimana kakak bisa melihat aku tersenyum?"


"Tanpa mata, aku bisa merasakan kehadiranmu. Tanpa bicara, aku mengerti isi hatimu. Tanpa telinga, aku bisa mendengar suaramu. Karena sejak pertama aku mengenalmu, aku belajar mengenalmu dengan hatiku. Sebab aku sadar, tak mungkin aku memiliki jiwa dan tubuhmu. Namun bayangan dan rasa ini sudah lebih dari cukup mengisi hariku!"


"Kak Dirga, kita sedang di rumah sakirt!"


"Aku tahu, sejak kapan aku tidak lupa rumah sakit? Aku datang bukan demi Hafidz, karena aku tahu benar. Dalam rapuh Hafidz, masih ada kekuatan dari putranya yang terlahir. Aku datang tak lain, karena rasa khawatirku yang tak bisa aku bendung. Kekhawatiran akan air mata yang menetes dari mata indahmu. Kekhawatiran dan ketakutan seorang ibu yang akan kehilangan cahaya cintanya. Namun saat aku merasakan senyum di balik cadarmu. Aku merasa tenang, karena senyum manismu tak menghilang terkalahkan sedihmu. Sejenak aku lupa, Tika takkan jatuh dalam luka. Meski luka itu menghancurkan, bahkan menghentikan napasnya!" Tutur Dirga hangat, Sinta dan Tika diam membisu.


"Pertama kali aku mendengar suara hatimu kak. Sesakit inikah cinta yang kamu rasakan? Selama ini aku hidup bersamamu, tak sekalipun aku menyadari dukamu. Aku tak mengerti hatimu, sekadar menghapus air mata yang tersimpan di hatimu. Sungguh cinta yang begitu dalam, takkan mudah terlihat oleh hatiku yang gelap. Akankah putraku hancur dalam cinta sepertimu? Sanggupkah aku melihat sepi jiwanya? Betapa jahat dan keji diriku, jika semua itu nyata terjadi!" Batin Sinta, seraya menatap sendu wajah kakak yang begitu disayangi dan selalu melindunginya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Tidak perlu heran dengan perkataanku. Aku bisa mengatakan dalam luka Hafidz kehilangan Hanna. Sebab aku merasakan sakit dan sepi tanpa orang yang kita sayangi. Perbedaan diantara aku dan Hafidz, cintanya bersambut sedangkan cintaku tidak. Kuat Hafidz bila bersama Hanna, sebaliknya bahagiaku bila melihat senyum Tika. Hakikat cinta yang sama, suci tanpa noda. Namun pengertian kami berbeda dengan cara pandang yang sama!" Ujar Dirga, Sinta semakin menunduk.


Dirga tersenyum simpul melihat tatapan Tika yang tak pernah berubah. Ungkapan cintanya, dalam perhatian yang ditunjukkan Dirga. Sedikitpun tak pernah merubah pandangan Tika padanya. Tatapan hormat dan kagum yang takkan pernah bisa dirubah menjadi cinta. Keteguhan cinta Dirga, disambut dengan kehangatan rasa kagum seorang adik. Cinta yang selalu kuat dan penuh pengertian.


"Kenapa tersenyum?" Ujar Tika ramah.


"Aku bahagia melihat tatapanmu yang tak pernah berubah. Tak goyah oleh cintaku, tak rapuh akan perhatianku. Kekaguman akan diriku sebagai seorang kakak yang tak pernah berganti menjadi cinta. Terima kasih tak pernah membenciku, setidaknya rasaku tak membuat hubungan kita menjauh!"


"Tidak ada alasan aku membenci kakak. Cinta itu rasa yang tak bisa dicegah. Cinta suara hati yang tak pernah memaksa didengar. Aku hanya insan lemah tanpa daya. Tak pantas aku menilai rasa tulusmu. Selama kakak menghargaiku sebagai seorang wanita. Selama itu pula aku akan menghargai rasa tulus kakak!"


"Apa pak Agam tidak marah melihat kedekatan kalian? Bukankah sangat tidak pantas. Kak Dirga menyimpan rasa padamu. Sebaliknya kamu menyadari rasa itu dan tak merasa terganggu dengan rasa itu!"


"Tak ada hak mas Agam marah, jika dia percaya akan kesucian cintaku. Dia tidak akan mempertanyakan kesetianku. Kejujuranku mengakui hubungan yang ada diantara diriku dan kak Dirga. Dasar keyakinan bagi mas Agam, jika hubungan diantara kami tak selemah itu. Hubungan yang akan kalah oleh rasa tulus orang lain!"

__ADS_1


"Kamu dengar itu Sinta, pemikiran Agam dan Tika tak sesempit pemikiranmu. Mereka tidak mengutuk rasa cinta yang lahir dari suara hati. Rasa yang ada tanpa bisa dipaksakan. Kehangatan Tika menyambut tanganmu hari ini. Membuktikan betapa besar hati mereka. Bukan kebencian yang mereka tunjukkan padamu. Melainkan hubungan persaudaraan yang mereka tawarkan. Sebagai balasan atas kebencianmu pada Hanna. Keluarga hangat dan penuh cinta telah menyerahkan putrinya padamu. Sangat bodoh bila kamu buta dengan ketulusan mereka!" Tutur Dirga dingin, Sinta diam membisu. Perkataan Dirga bak tamparan di pipinya, terasa panas dan menyesakkan dadanya.


"Seburuk itukah penilaian kakak tentangku. Tidak bisakah kakak mengatakannya nanti, saat Tika tidak ada!" Sahut Sinta dingin, Dirga mengangakat pundaknya pelan. Seakan dia tidak peduli dengan rasa malu Sinta adiknya.


"Ada atau tidak Tika, tetap saja hatimu sempit. Kamu menyia-nyiakan wanita yang sempurna. Wanita yang lahir dalam kehangatan keluarga. Wanita yang akan menyayangimu sama selayaknya sayangnya pada kedua orang tuanya!"


"Sudahlah kak Dirga, tidak perlu berdebat. Aku menghampiri kalian berdua, bukan untuk berdebat. Aku datang menyampaikan amanah dari putriku. Sebuah surat yang akan menjawab rasa bersalah Sinta. Pemikiran Hanna atau mungkin suara hati putri kecilku!"


"Surat dari Hanna!" Ujar Sinta heran, Dirga dan Sinta saling memandang. Tika mengangguk seraya menyerahkan sebuah amplop kepada Sinta. Hafidz yang tanpa sengaja menoleh, langsung menghampiri Sinta. Dia merasa heran akan isi surat yang diberikan Tika.


"Surat dari Hanna! Kenapa dia tidak menitipkan padaku? Apa Hanna tidak pernah percaya padaku? Katakan apa salahku padanya? Sampai Hanna begitu ingin menjauh dariku!" Ujar Hafidz pada Tika.


"Bukan tidak percaya, Hanna tidak ingin melihat rasa khawatirmu. Cintanya padamu membuat Hanna lemah. Dia tidak akan sanggup melihat air matamu. Percayalah Hafidz, apapun yang terjadi setelah ini. Semua yang terbaik dan paling benar!"


"Aku semakin kagum padamu Tika, kamu selalu tenang dalam menyikapi masalah. Percaya akan jalan yang tertulis. Ketabahan dan kesabaranmu takkan mudah kami ikuti. Namun semua itu sedikit membuatku menyadari. Ketakutan hanya akan membuat kita jauh dari iman!" Sahut Dirga, Tika mengangguk mengiyakan. Sebaliknya Hafidz dan Sinta diam menatap amplop yang baru saja diberikan Tika.


"Bacalah Sinta, mungkin kamu akan menemukan jawaban kegelisahan hatimu. Setidaknya kamu bisa melihat kehangatan kasih sayang putriku!"


"Tapi!" Sahut Sinta gamang, Tika mendekat lalu menepuk pelan pundak Sinta.


"Percayalah, Hanna tidak pernah menyalahkanmu. Bacalah dengan tenang, agar kamu mengerti kasih sayang yang tersirat. Aku harus menemani mas Agam!"


"Hafidz, temani bundamu. Dia butuh sandaran dalam rapuhnya!" Ujar Tika lalu pergi melangkah.


Sinta menatap nanar amplop yang ada di tangannya. Sinta ragu akan membuka surat tersebut. Ada rasa bersalah yang tak bisa lagi disembuyikan. Namun jauh di lubuk hatinya, ada rasa penasaran akan surat yang sengaja di titipkan untuknya. Amanah yang begitu berharga bagi Hanna tentunya.


"Bunda!"


"Haruskah Hafidz?" Ujar Sinta, Hafidz mengangguk seraya mengedipkan kedua matanya. Sinta membuka perlahan amplop putih di tangannya.


"Bismillahhirrohmannirohim!" Ujar Sinta lirih, sembari membuka amplop.


^^^Assalammualaikum Wr. Wb.^^^


Apa kabar bunda? Hanna harap bunda baik-baik saja. Maafkan Hanna harus menulis surat untuk bunda. Seharusnya Hanna mengatakannya langsung pada bunda. Namun ada rasa canggung, ketika Hanna menyadari ada jarak yang nyata diantara kita. Sebab itu Hanna menulis surat ini. Bukan ingin bersikap tidak sopan. Sebaliknya, Hanna tidak ingin melihat bunda merasa rendah. Maafkan Hanna, jika saat surat ini bunda baca. Hanna tak ada di samping bunda.


Kedua kalinya Hanna ucapkan terima kasih. Ucapan tulus dari hati terdalam Hanna. Kata yang takkan mampu membayar semua pengorbanan bunda. Setidaknya kata terima kasih ini, sedikit membalas kasih sayangmu pada kak Hafidz. Terima kasih telah melahirkan laki-laki hebat. Ayah dari putra kecilku, imam yang membuatku melihat cahaya iman. Bunda wanita hebat yang melahirkan laki-laki hebat. Laki-laki yang penuh cinta, menganggap diriku segalanya. Kebahagian dan cinta yang takkan pernah bisa aku balas. Terlalu besar, sampai Hanna takkan sanggup menerimanya lagi.


Bunda, dalam tulisan sederhana ini. Hanna ingin mengatakan ketulusan yang tersimpan sejak dulu. Hanna ingin mengatakan, betapa beruntungnya Hanna menjadi bagian keluarga bunda. Mengenal iman dan hangat keluarga bunda. Meski Hanna sadar, tak ada kata bangga bunda pada Hanna. Namun percayalah, Hanna sangat menghargai dan menghormati bunda. Karena bunda wanita hebat dibalik lahirnya imam hebat dalam hatiku.


Bunda, jangan pernah salahkan dirimu. Apapun yang terjadi padaku. Semua sudah tertulis, bahkan cinta dan hidupku bersama kak Hafidz. Semua tertulis tanpa bisa kita tawar. Setidaknya waktu yang ada diantara diriku dan kak Hafidz. Akan menjadi kenangan terindah. Buah cinta yang terlahir dari rahimku. Bukti cinta kami nyata dan suci. Tak ada penyesalan dalam hati Hanna. Mengenal keluarga bunda, sebuah anugrah yang indah. Terima kasih, telah menerima Hanna. Meski Hanna bukan yang terbaik dalam pandangan bunda.

__ADS_1


Bunda, Hanna penuhi janji yang pernah terucap. Takkan lagi cinta kak Hafidz terbagi. Sepenuhnya kak Hafidz milik bunda. Terima kasih telah membagi cinta kak Hafidz denganku. Kini semua akan kembali seperti semula. Putramu akan kembali di sampingmu. Limpahkan seluruh kasih sayangmu, jangan biarkan kak Hafidz hancur tanpa diriku. Setulus hati Hanna ucapkan, terima kasih.


Bunda, titip salam buat kak Hafidz. Jika kelak Hanna melupakannya. Tolong katakan permintaan maaf Hanna. Sesungguhnya, meski kelak Hanna lupa akan kisah kami. Sejatinya akan ada nama kak Hafidz di hati terdalam Hanna. Terima kasih bunda, terima kasih terlahir dengan sempurna. Karena kesempurnaan dan kekuatanmu yang menjaga kak Hafidz selama ini. Sehingga aku bisa mengenal dan mencintai kak Hafidz. Terima kasih bunda, Hanna sayang bunda.


^^^Salam hangat^^^


^^^Hanna^^^


"Hanna tak pernah membenciku!" Ujar Sinta lirih, surat yang dipegangnya terjatuh.


"Setenang itu kamu pergi meninggalkanku. Tidakkah kamu merasakan hancurku kehilanganmu. Kamu menjauh dariku di saat-saat terakhirmu. Kamu melupakanku begitu saja, tanpa kamu mengingat setiap tetes air mata yang menetes saat aku kehilanganmu!" Batin Hafidz pilu, sesaat setelah membaca tulisan tangan Hanna.


Kreeeekkk


"Bagaimana Hanna?" Ujar Agam dingin.


"Dia baik-baik saja, tapi?" Ujar Arkan, Savira menunduk lemas. Sedangkan Aura berada di dalam ruang operasi.


"Katakan dengan jelas!" Ujar Agam emosi.


"Maafkan Aura, kami sudah melakukan yang terbaik!"


"Kenapa Hanna? Apa yang terjadi?" Ujar Hafidz histeris, Arkan mendekat ke arah Hafidz. Dia menepuk pundak Hafidz pelan.


"Putramu lahir dengan selamat, pergilah ke ruang bayi. Kumandangkan azan dan iqomah. Suara hangatmu yang kelak menuntunnya!"


"Kak Arkan, jawab aku. Bagaimana Hanna?"


"Hafidz, temuilah putramu. Hanna baik-baik saja, hanya saja waktu seolah ingin merenggutnya sebentar. Hanna akan kembali di sisi kita, saat waktu mulai lelah bersamanya!" Sahut Arkan lemah, semua terdiam membisu.


"Papa!"


"Apa yang terjadi pada Hanna?"


"Dia baik-baik saja, Qaila sudah memenuhi janji yang sempat terucap. Namun tubuh kak Hanna merasa lelah. Jadi biarkan dia istirahat. Selama kak Hanna tertidur, Qaila akan memenuhi semua tanggungjawabnya. Terutama pada putra kak Hanna!" Ujar Qaila hangat.


"Maaf kak Hafidz, aku tak pernah mengenalmu atau ingin bersamamu. Namun demi janji yang telah kuucapkan. Suka atau tidak, aku akan berada di samping. Setidaknya sampai kak Hanna kembali mengambil posisinya!"


"Terima kasih Qaila terima kasih!" Sahut Tika, lalu memeluk hangat Qaila.


"Pelukan yang hangat, sangat hangat. Pantas kak Hanna tak pernah menerima mama. Pelukan mama Tika jauh menenangkan. Seandainya aku bisa memilih, aku akan ingin terlahir dari rahimnya. Namun sama halnya putra kak Hanna yang tak bisa memilih. Akupun harus ikhlas menerima, mama Tika bukan ibu yang melahirkanku. Namun ibu yang pelukannya selalu aku rindukan!" Batin Qaila.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


SEMOGA BESOK BISA UP, DOAKAN BOCIL TAK BEREBUT HP DENGAN AUTHOR. SEMOGA BERKENAN MEMBACA TULISAN RECEH AUTHOR, TERIMA KASIH.


__ADS_2