Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Malam Pertemuan


__ADS_3

☆Maaf readers, bab ini lanjutan yang tadi. Sebab ada kesalahan pas up, mohon maklum.🤗🤗🤗☆


PUKUL 00.00, KEDIAMAN HAFIDZ


"Hafidz, sudah malam! Kamu belum tidur?"


"Om Dirga, belum tidur juga!" Sahut balik Hafidz; Dirga menggeleng lemah.


Dirga duduk tepat di samping Hafidz. Dia sengaja keluar dari kamarnya. Saat dia mengetahui Hafidz sedang berada di ruang tengah. Dirga langsung menemui Hafidz. Sebab Dirga merasa ada yang tidak benar dengan sikap Hafidz. Sejak dulu Hafidz pribadi yang tak mudah menyimpan rahasia. Jadi dengan mudah Dirga bisa menyadari. Jika ada sesuatu yang menggangu Hafidz.


"Ada apa Hafidz? Kenapa kamu menonton televisi di sini? Kamu merindukan Hanna!"


"Aku baik-baik saja. Hanya saja aku teringat Hanna. Aku takut dia kesepian tanpaku!"


"Lantas kenapa kamu menginap? Seharusnya kamu menemani Hanna. Jika akhirnya kamu mengkhawatirkannya!"


"Hanna yang memaksaku, agar aku menginap. Meski aku sudah memaksa pulang. Hanna terus memintaku menginap. Dia tidak ingin bunda sedih, bila mengetahui aku pulang!"


"Tapi nyatanya kamu merindukan Hanna. Kamu membutuhkan Hanna!" Ujar Dirga, Hafidz menganggukkan kepalanya pelan. Dia mengakui kalau merindukan sosok Hanna.


"Om Dirga benar, aku sangat merindukannya. Aku teringat akan harum rambutnya. Sangat segar, sehingga aku merasa santai bila menciumnya. Suara napas Hanna kala tertidur, membuat diriku bahagia. Sungguh om Dirga, setiap inci tubuh Hanna membuatku candu!"


"Pesona keturunan keluarga Anggara yang sulit kita pungkiri!" Ujar Dirga lirih, Hafidz mengangguk pelan. Dia mengiyakan perkataan Dirga. Meski Hafidz tak menyadari, apa yang sedang dimaksud oleh Dirga?


Lama Dirga dan Hafidz terdiam. Tak ada suara yang keluar dari bibir mereka. Keduanya larut dalam lamunan. Baik Dirga atau Hafidz, sama-sama memikirkan wanita yang mereka cintai. Namun ada satu hal yang berbeda, Hafidz dapat menggapai cintanya. Sebaliknya Dirga tetap menggenggam cintanya. Meski Dirga sadari, takkan ada penyatuan dalam cintanya.


"Hafidz, kenapa kamu tidak pulang? Daripada kamu terus terjaga. Jangan kamu pikir, 6 jam bukan waktu yang lama. Jika hati dan pikiran hanya bisa mengingatnya!"


"Maksud om Dirga!"


"Pulanglah sekarang, lagipula bundamu sudah tidur. Jadi dia tidak akan mengetahui kepulanganmu!"


"Tapi!" Sahut Hafidz ragu.


"Pulang sekarang atau kamu akan menahan kerinduan sampai pagi!"


"Baiklah, aku akan pulang. Aku tidak sanggup jauh dari Hanna!" Ujar Hafidz lantang, Dirga mengangguk setuju. Dia mengizinkan Hafidz pulang menemui Hanna. Separuh belahan jiwa Hanna yang takkan bisa dipungkiri Hafidz.


Setelah pamit pada Dirga, Hafidz berjalan menuju kamarnya. Tak berapa lama, Hafidz kembali dengan membawa kunci mobilnya. Hafidz tak sanggup lagi menahan kerinduannya pada Hanna. Hanya Hanna nama yang ada di benaknya. Kedua matanya haus, hanya dengan menatap Hanna. Hafidz akan merasa lega. Dia sangat-sangat merindukan Hanna.


"Om Dirga, Hafidz pulang!"


"Hati-hati, sampaikan salamku bila kamu bertemu dengan Hanna. Percaya atau tidak, om yakin Hanna juga sedang merindukanmu!" Sahut Dirga lirih, Hafidz mengangguk pelan. Dia menghampiri Dirga, lalu mencium punggung tangan laki-laki yang telah merawatnya selama ini. Dirga orang yang menggantikan sosok ayah dalam hidup Hafidz.


Kreeekkk

__ADS_1


"Kamu benar-benar pulang Hafidz. Kamu bukan Hafidz yang dulu bunda kenal. Sekarang dalam hidupmu, hanya ada Hanna. Kamu tak lagi merasa nyaman di rumah ini. Kamu merasa asing berada diantara keluargamu. Sungguh Hafidz, bunda tidak menyangka. Kamu begitu mencintai Hanna. Sampai kamu menginap di rumah ini hanya sebagai kewajiban. Bukan kasih sayang dan kerinduanmu akan rumah ini!" Batin Sinta, sesaat setelah Hafidz keluar dari rumahnya.


...☆☆☆☆☆...


"Kak Hafidz!"


"Sayang, kamu belum tidur!"


"Aku baru dari dapur. Aku mengambil air minum. Kenapa kakak pulang? Bukankah tadi kakak akan menginap di rumah bunda!"


"Ehmmmm!"


"Ada apa? Kakak bertengkar dengan bunda. Tadi aku sudah minta maaf pada bunda. Memangnya dia masih marah!"


"Ehmmm!"


"Kak Hafidz, kenapa dari tadi hanya berdehem? Kakak sakit tenggorokan. Aku ambilkan obat dulu. Takutnya besok pagi semakin parah!" Ujar Hanna santai, Hafidz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Hanna berjalan perlahan menuju meja dekat tempat tidurnya. Dengan perlahan Hanna meletakkan gelasnya. Hanna lalu berjalan keluar kamarnya. Hanna berniat mengambilkan obat untuk Hafidz. Sebaliknya Hafidz kebingungan menjawab. Dia tidak tahu harus berbuat apa?


Hafidz kelabakan sekaligus malu, jika Hanna menyadari. Dia pulang hanya demi bertemu dengan Hanna. Meski Hafidz tak pernah ragu mengatakan cinta pada Hanna. Namun pulang tengah malam, karena tak sanggup menahan rindunya pada Hanna. Sungguh bukan sikap yang jantan. Entah kenapa Hafidz merasa malu bila jujur pada Hanna?


"Sayang, tunggu sebentar?"


"Ada apa? Aku akan mengambilkan kakak obat!"


"Ada apa sebenarnya?" Ujar Hanna, sembari berjalan mendekat ke arah Hafidz. Hanna berdiri menatap lekat wajah Hafidz.


Deg Deg Deg


Hafidz menekan dadanya pelan, saat tatapan Hanna menusuk tepat ke jantungnya. Tatapan Hanna membuat jantung Hafidz berdetak hebat. Kerinduan Hafidz tak bisa lagi ditahannya. Pesona Hanna membuat Hafidz tak berkutik. Hafidz tak lagi mampu berpaling dari kecantikan Hanna. Kesempurnaan makhluk ciptaan-NYA yang membuat Hafidz tak sanggup lagi berpikir jernih.


"Sayang!"


"Kakak aneh!"


"Aku pulang karena...!"


"Kak Hafidz baik-baik saja!" Ujar Hanna sembari menyentuh kening Hafidz. Hanna merasa sikap Hafidz sangat aneh. Biasanya Hafidz selalu bicara jujur. Tak pernah ada yang bisa mencegah Hafidz mengatakan isi hatinya.


"Tidak panas!" Gumam Hanna, Hafidz menepis tangan Hanna. Sekilas Hanna mengeryitkan dahinya tak percaya. Suhu tubuh Hafidz stabil, tapi kenapa sikap Hafidz sangat aneh?


"Sayang, aku baik-baik. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak!"


"Kalau begitu kenapa kakak aneh. Biasanya kakak selalu bicara tak tentu arah.Terkadang kakak Hafidz malah terlalu berlebihan kalau bicara. Sekarang malah aku melihat kak Hafidz bingung. Seolah ada yang sulit dikatakan oleh kak Hafidz!"

__ADS_1


"Aku tidak demam. Aku juga tida aneh. Kamu yang membuatku kehilangan akal!"


"Kenapa aku yang salah? Kak Hafidz yang bingung, tapi aku yang tertimpa getahnya!" Gerutu Hanna kesal, Hafidz menatap Hanna. Hafidz menelan ludahnya kasar. Saat hasrat mulai menguasau pikirannya.


"Karena kamu yang membuatku tak berkutik. Aku lemah dihadapanmu. Aku tak sanggup berpaling meski dari bayangmu!"


"Kakak Hafidz bercanda, tidak perlu lagi merayuku. Aku sudah menjadi istri sah kakak. Jadi tidak diperlukan lagi pembuktian cinta. Apalagi hanya kata-kata!" Sahut Hanna dingin.


"Kamu tak romantis!"


"Aku tidak dibutuhkan romantis, aku hanya perlu kesungguhan. Agar aku bisa hidup tanpa kekurangan!"


"Sayang, kamu tak menghargai cintaku!"


"Memang berapa harga cinta kakak? Kalau mahal aku tidak ingin membelinya?"


"Kamu sungguh tidak peka. Padahal aku sudah bekorban banyak!"


"Maaf kak Hafidz tampan, aku bukan putri malu. Sekali sentuh aku langsung peka, lalu menguncup!"


"Hanna, tidak lucu!"


"Aku tidak sedang melawak. Aku Hanna istrimu yang penuh kekurangan. Jadi maaf kalau aku tak bisa mengetahui niatmu!"


"Sudahlah, aku lelah. Kamu merusak kerinduanku. Jika tahu kamu mengacuhkanku, lebih baik aku tidur di luar!" Gerutu Hafidz kesal, Hanna menutup mulutnya menahan tawa.


Hafidz berjalan menjauh dari Hanna. Dia berjalan menuju kamar mandi. Hafidz ingin mendinginkan hasratnya yang menggebu. Tak ada lagi harapan Hafidz ingin menyalurkan hasratnya. Sikap acuh Hanna menghancurkan kehangatan yang terbayang di benaknya.


"Kak Hafidz, maaf sudah mengerjaimu. Aku tahu kamu merindukanku. Begitu juga aku yang selalu merindukanmu. Jika kamu merasa tak nyaman di rumah bunda. Sebaliknya, aku di sini tak bisa menutup mataku. Aku membutuhkan belaian hangatmu sebelum tidur. Aku sangat merindukanmu. Mungkin tubuh kita jauh, tapi hati kita sangatlah dekat. Takkan bisa kita merasa tenang, saat yang lain gelisah!" Ujar Hanna sembari memeluk Hafidz dari belakang. Hanna menyadarkan kepalanya di punggung Hafidz. Hanna mencium keringat Hafidz yang mulai menjadi candu dalam hidupnya.


"Sayang!" Ujar Hafidz.


"Jangan berbalik, biarkan aku bersandar pada punggungmu. Aku terlalu malu mengatakan cinta. Biarkan aku merasa hangat dengan memelukmu!" Ujar Hanna saat Hafidz akan berbalik menatapnya.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu!" Ujar Hafidz sembari mendekap hangat Hanna. Hafidz mengangkat dagu Hanna pelan. Dia melihat Hanna menutup matanya. Hasrat Hafidz semakin memburu. Bak mata elang Hafidz menatap Hanna.


Cup


"Sayang, aku mencintaimu!" Bisik Hafidz lirih, sesaat setelah mencium bibir mungil Hanna.


Bugghhh


"Aku mengingkannya malam ini!" Ujar Hafidz, sesaat setelah menidurkan Hanna di tempat tidur. Hanna menatap lekat Hafidz, hembusan napas Hafidz membangkitkan hasrat cinta Hanna. Kerinduan yang teramat besar, melebur dalam pertemuan malam ini.


"Kak Hafidz, lakukan apapun yang kamu inginkan. Kakak tidak membutuhkan izinku. Aku milikmu seutuhnya!"

__ADS_1


"Terima kasih, sayang!" Bisik Hafidz mesra.


__ADS_2