
Setelah Dirga pulang mengantar Hana ke rumah Nissa. Agam dan Tika memutuskan masuk ke dalam ruangan Hanif. Ibunda Agam memutuskan pulang ke rumah. Meski awalanya dia menolak, karena takut Agam dan Tika memiliki kesempatan berdua. Namun setelah Agam menjelaskan, akhirnya ibunda Agam bersedia pulang. Tubuh rentanya tidak akan kuat bila terus berada di rumah sakit. Suasana rumah sakit tidak bagus bagi kesehata. Terutama bagi orang yang lanjut usia. Sebab berada di rumah sakit tidak senyaman berada di rumah.
Setelah mengantar ibunya pulang. Agam menyempatkan mampir ke mini market. Agam membeli beberapa makanan ringan dan minuman kesukaan Tika. Agam mengetahui Tika akan mengalami susah tidur. Bila berada di tempat asing. Sebab itu Agam sengaja membelikan sesuatu yang bisa menemani malam Tika. Agam masih mengingat makanan ringan apa yang menjadi kesukaan Tika?
Sekitar pukul 22.30 WIB, Agam tiba di ruang rawat Hanif. Saat Agam datang dia melihat Tika sedang sholat. Sedangkan Hanif tertidur pulas. Sejak masuk ruang rawat inap, kondisi Hanif membaik. Demamnya sudah mulai turun, tidak sepanas saat Hanif dilarikan ke rumah sakit. Sekitar hampir setengah jam Agam menunggu Tika selesai sholat. Memang sejak dulu Tika terbiasa mengaji setelah sholat. Jadi tidak heran, bila Tika akan lama saat sholat.
Agam menatap punggung Tika, suara merdu Tika menelisik jauh ke dalam hati hampa Agam. Hati yang selama ini kosong, tanpa ada Tika sang pemilik hati. Setiap lantunan ayat suci yang keluar dari bibir Tika. Terasa menyejukkan dalam dahaga iman Agam. Entah kenapa perpisahan dengan Tika? Membuat Agam semakin jauh dari iman. Agam menjadi pribadi yang tidak pernah dikenal Tika. Agam lupa akan dasar cintanya pada Agam. Dasar yang kini dilupakan Agam dan seakan menjadi jurang pemisah diantara keduanya.
Tika menyelesaikan sholat lebih cepat dari biasanya. Dia tidak ingin Hanif terbangun dan menangis mencarinya. Meski Tika menyadari akan keberadaan Agam. Namun Hana dan Hanif akan sangat manja bila sedang sakit. Jadi Tika akan ada di samping Hanif. Tika tidak akan meninggalkan Hanif meski sebentar. Agam melihat cinta Tika yang begitu besar pada Hanif. Namun cinta itu kini tak lagi ada untuk Agam.
Tika duduk di samping tempat tidur Hanif. Tika meletakkan laptopnya tepat di samping kaki Hanif. Tika sengaja menyibukkan diri, agar dia tidak memiliki kesempatan bicara dengan Agam. Tika seakan enggan bicara mengenai sesuatu yang sudah ada jawaban sejak lama. Sebuah pertanyaan dan kepastian yang tak pernah Tika dapatkan.
Agam melihat Tika sibuk dengan laptopnya. Hal yang sama dilakukan Agam. Sama halnya dengan Tika, Agam menyibukkan dirinya demi menahan hasrat ingin mendekat dan bicara berdua dengan Tika. Agam melihat sosok Tika yang berbeda. Jari lentik Tika bermain indah di atas laptopnya. Sejak laptop menyala, Tika langsung fokus dan tanpa henti mengerjakan pekerjaan. Agam melihat betapa Tika kini telah berubah. Wibawa dan tanggungjawabnya mengubahnya menjadi Tika yang lain. Buka Tika yang dulu dikenalnya.
"Tika, istirahatlah sebentar. Aku sudah membelikanmu makanan. Makanlah sebelum tidur, agar perutmu tidak sakit. Sejak tadi sore kamu belum makan sesuatu!" ujar Agam, Tika mengangguk pelan.
Tanpa menoleh pada Agam, Tika mematikan laptop miliknya. Tika menghentikan sejenak pekerjaannya. Sekilas Tika melihat jam sudah sangat larut. Cacing di perut Tika mulai meronta ingin diberi makan. Tika berdiri menghampiri Agam. Dia duduk tepat di depan Agam. Keduanya sangat dekat, tapi jurang tak terlihat memisahkan keduanya.
Tika mengambil sebungkus naso goreng dan sebotol air mineral yang diberikan Agam. Tika meminumnya hanya tiga tegukan. Setelah itu Tika mulai memakan nasi goreng kesukaannya. Suasana ruangan Hanif terasa semakin sunyi. Hanya sesekali terdengar suara sendok yang menyentuh piring. Tika dan Agam sama-sama membisu. Tidak ada yang ingin memulai percakapan.
Tika memakan nasi goreng yang dibelikan Agam tanpa banyak bicara. Tidak ada kata pujian atau hinaan akan makanan yang dibawa Tika. Seolah Tika bersyukur apapun yang dibelikan Agam untuknya. Lama keduanya saling diam, melahap makanan tanpa kata. Bahkan suara detak jam dinding terdengar jelas.
"Tika!" panggil Agam, Tika mendongak menatap Agam. Sekilas Tika mengedipkan mata, isyarat dia memperhatikan Agam.
Agam menghela napas panjang. Sikap dingin dan diam Tika mampu membuatnya membeku. Tak ada kehangatan, tatapan Tika hanya sebagai bentuk dia menghormati Agam. Tak ada Tika berpikir akan mengembalikan kehangatan diantara mereka. Dingin dan keras hati Tika yang takkan pernah bisa Agam kendalikan. Mungkin kisah mereka memang harus berakhir. Jurang yang ada terlalu dalam, waktu yang hilang selama dua tahun. Seakan membuat dalamnya jurang tak terlihat dan semakin nyata.
__ADS_1
"Tika, hanya dua tahun kamu jauh dariku. Namun dua tahun itu, bisa membuatmu melupakan bertahun-tahun kebersamaan kita. Tak ada lagi cinta yang pernah ada diantara kita. Semua musnah hamua dalam dua tahun perpisahan kita!" ujar Agam, Tika menunduk terdiam. Dia meletakkan nasi goreng yang sedang dimakannya.
Tak ada lagi napsu Tika untuk mengisi perutnya. Perkataan Agam membuatnya mengingat setiap kenangan pahit yang pernah terjadi. Seketika nasi goreng yang nikmat terasa hambar di mulutnya. Butir-butir nasi goreng yang matang, terasa keras layaknya batu. Tika tak lagi mampu mengunyah nasi goreng yang ada di depannya. Tiga suap nasi yang dia makan. Seketika membuatnya kenyang, seolah-olah Tika telah menghabiskan satu porsi nasi goreng tanpa sisa.
"Tika, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu kehilangan selera makan. Aku mohon lanjutkan kembali makanmu!" ujar Agam, Tika menggeleng lemah. Dengan santai Tika mengambil sebotol air mineral yang dibawakan Agam. Tika meneguknya tanpa bernapas. Agam hanya diam merutuki kebodohannya. Seharusnya dia bersabar menunggu waktu yang jauh lebih tepat.
"Selalu seperti ini, setiap kali aku merasa nyaman di dekatmu. Di wakru yang sama, kamu selalu membuatku ingin menjauh darimu. Kata maaf yang terucap dari bibirmu. Seakan pengakuan akan kesalahanmu yang tak pernah kamu mengerti. Mas Agam selalu merasa aku yang harus menjawab, tapi mas Agam tak pernah merasa harus membuat keputusan!" ujar Tika sembari tersenyum sinis, Agam menunduk sesaat setelah meletakkan makannya.
Agam tak pernah bisa memahami cara berpikir Tika. Bahkan saat ini Agam tidak mengerti, kemana arah perkataan Tika. Agam hanya mengetahui, Tika yang selalu ingin menjauh darinya. Bukan Agam yang tak pernah ingin bersamanya.
"Aku tidak mengerti maksud perkataanmu. Kapan kamu merasa nyaman di dekatku? Tidak pernah Tika, sebaliknya kamu selalu ingin menjauh dariku. Dua tahun aku hidup dalam kebimbangan. Aku kesepian tanpamu dan anak-anak kita. Aku berusaha mendekat padamu. Meski penolakan dan penolakan yang kamu berikan padaku. Seakan perpisahan yang selalu kamu inginkan dari pernikahan kita!" ujat Agam sedikit menekan perkataannya.
Tika menatap lekat Agam, tatapan yang tak lagi bisa diartikan. Jika mengatakan tak ada cinta dihati Tika untuk Agam. Semua itu tidak benar. Cinta itu tetap ada, meski tak sebesar dulu. Sayang itu nyata, meski tak sehangat dulu. Tika telah mengubah rasa cinta itu menjadi rasa yang lain. Tika mengubah sebuah keyakinan akan pernikahannya, menjadi kepercayaan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Rasa nyamanku ada, ketika aku bisa menatap wajahmu tanpa air mata. Rasa nyamanku terasa, saat aku bisa duduk di dekatmu tanpa aku takut terluka. Seandainya kamu merasa aku ingin menjauh darimu. Kamu salah mas Agam, aku tidak pernah menjauh darimu. Hanya saja mendekat pada sesuatu yang tak mungkin kumiliki. Hanya akan membuatku berharap tanpa kepastian!" sahut Tika dingin, Agam menggeleng lemah. Agam menatap nanar Tika, wanita yang semakin menjauh dari tangannya.
"Aku tidak akan pernah bersamamu. Bila harus melihat air mata ibumu. Tidak akan ada bahagia dalam rumah tangga kita. Bila sumpah serapah ibumu hadir di tengahnya. Aku terluka dengan perpisahan ini, tapi aku percaya mampu bertahan. Aku yakin akan ada bahagia untukku, bersama denganmu atau tanpa dirimu. Semua hanya Allah SWT yang tahu itu!" tutur Tika, Agam menatap Tika dengan raut wajah kecewa.
Sekali saja Tika meminta Agam meninggalkan keluarganya. Detik itu juga Agam akan pergi dari keluarganya. Namun selama ini Tika memilih menjauh, hanya demi Agam terus bersama kedua orang tuanya. Entah itu sebuah keikhlasan atau tindakan bodoh Tika? Seorang istri yang memilih kehancuran rumah tangganya. Demi mempertahankan keutuhan keluarga suaminya.
"Sekali saja Tika, minta aku meninggalkan kedua orang tuaku. Detik itu juga aku akan meninggalkan mereka demi bersamamu. Jika memang permintaanku terlalu berat untukmu. Mengalah dan bersabarlah demi bersatunya keluarga kita kelak. Berharap ada masa, dimana kita bersama selamanya?" ujar Agam penuh harap, Tika menggeleng lemah.
Agam menghela napas panjang, lagi dan lagi dia menerima penolakan dari Tika. Gelengan kepala Tika pertanda tak ada lagi harapan akan keutuhan pernikahnya dengan Tika. Hanya perpisahan yang Tika harapkan. Entah mungkin cinta diantara mereka benar-benar hilang tak tersisa?
"Aku seorang wanita dan ibu dari dua anak. Tidak mungkin aku tega menjadi alasan kehancuran hati wanita dan ibu lain. Sebagai seorang istri mungkin aku hancur, ketika aku harus memilih perpisahan denganmu. Namun sebagai seorang ibu dan anak, aku bangga pada diriku. Air mata yang kuteteskan tidak akan sia-sia, karena air mataku alasan senyum ibu yang melahirkanmu!" ujar Tika, Agam mendongak menatap wajah Tika yang tegas tanpa mengalah.
__ADS_1
"Kamu bangga ketika menjadi alasan sakit hati Hana dan Hanif. Kamu merasa benar dengan membuat mereka tumbuh dalam keluarga yang tak utuh!" ujar Agam emosi, Tika tersenyum simpul. Tak ada amarah yang Tika perlihatkan, ketika Agam menyalahkannya.
"Lantas haruskah aku memintamu menjauh dari ibu yang melahirkanmu. Pantaskah aku bahagia, bila kedua orang tuamu bersedih. Hana dan Hanif tidak akan tumbuh dalam keluarga yang tak utuh. Mereka akan mendapatkan kasih sayangmu dan kasih sayangku seutuhnya. Meski kita tak harus bersama!" ujar Tika, lalu menoleh ke arah Hanif. Agam menatap ke arah yang sama. Ada rasa ngilu teramat melihat putranya terbaring tak berdaya. Hanif menjadi korban keegoisan orang tuanya.
"Kamu kejam Tika, hatimu keras dan dingin. Bahkan di depan Hanif yang sedang terbaring tak berdaya. Kamu masih teguh pada pendirianmu. Kamu egois dan angkuh, mengalah demi Hana dan Hanif saja kamu tidak bersedia!" ujar Agam lirih, lalu menunduk lemah.
"Aku tidak ingin kelak melihat Hanif melakukan hal yang sama. Meninggalkan diriku demi istri yang dicintainya. Sama halnya dirimu yang akan meninggalkan ibumu demi diriku. Seandainya Hanif melakukan semua itu. Tidak akan ada lagi tempatku berharap. Sama halnya kedua orang tuamu yang akan goyah tanpamu disisi mereka!" ujar Tika, Agam menatap Tika dengan raut wajah heran dan terkejut. Alasan yang benar, tapi menyakitkan bagi Agam.
"Mengalah pada kedua orang tuamu, tidak semudah yang kamu katakan. Berapa kali lagi aku harus mengalah dan menerima hinaan dari mereka? Seandainya aku egois dan angkuh. Biarkanlah, asalkan hanya aku yang menangis. Bukan orang tuamu atau Hana dan Hanif. Aku tidak akan merebut putra dari ibunya dan aku tidak ingin melihat seorang putra menangis karena ibunya. Hinaan kedua orang tuamu pada papa dan bunda Nissa. Terasa sangat sakit dihatiku. Hal yang sama tak pernah aku inginkan pada Hana dan Hanif. Ketika melihatku terhina oleh orang tuamu!" tutur Tika, lalu berdiri mendekat pada Hanif.
Hana mengelus lembug wajah mungil sang putra. Tika mencium kening Hanif lembut. Satu tetes air mata Tika jatuh menyentuh pipi Hanif. Rasa sakit yang sengaja Tika tutupi dari Agam. Tak ada kata bahagia bila berpisah dengan Agam. Namun bertahan dengan Agam, seakan tak mampu Tika lalui.
"Setidaknya kita bisa berusaha menyadarkan ibu. Bahwa kita bahagia bila bersama. Jika kamu terus keras dan tidak mengalah. Beliau juga tidak akan menyadari kesalahannya!" ujar Agam, Tika menggeleng lemah.
"Sudah kukatakan, berapa kali lagi aku harus mengalah? Bila sebenarnya bukan siapa yang mengalah dan kalah? Sejak pertama kedua orang tuamu tidak pernah menyukaiku. Masih kurangkah air mataku, sampai aku harus mengalah dan bersabar lagi. Ketika ibumu meragukanku sebagai seorang wanita tanpa anak. Beliau datang menyanjung wanita lain dan berharap menjadi istrimu. Ketika aku ditakdirkan menjadi seorang ibu, dia kembali datang membawa seorang wanita. Beliau menghina keluarga tanpa alasan yang jelas!" ujar Tika, Agam menunduk malu.
Perkataan Tika bak belati tajam menusuk relung hatinya. Semua yang pernah terjadi, nyata adanya. Tak ada yang salah, Tika merasakan pahitnya sikap ibunda Agam.
"Tanyakan pada hatimu, layakkah aku mengalah dan diam pada ibundamu lagi? Jawab dengan hati terdalammu, apa yang kamu lakukan pada ibunda? Ketika beliau memperlakukanku seperti itu. Lantas haruskah aku mencoba kembali bersamamu. Bila tak pernah ada pembelaanmu untukku!" ujar Tika.
"Maaf!" ujar Agam, Tika menggelengkan.
"Kata maafmu tak pernah bisa menghapus semua itu!" ujar Tika dingin.
"Baiklah, jika berpisah yang kamu harapkan. Aku akan memenuhinya!" ujar Agam, lirih.
__ADS_1
"Berpisah bukan harapanku, tapi berpisah mungkin yang terbaik!" sahut Tika tegas, tanpa menoleh lagi pada Agam.