Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Jalan-jalan bersama


__ADS_3

"Hana, jangan berlari-lari. Nanti kamu jatuh!" teriak Agam cemas, dia mengejar Hana yang berlari kesana-kemari. Hana terlihat sangat bahagia bisa jalan-jalan bersama dengan Agam. Sore ini Agam menjemput si kembar dari sekolah. Agam membawa keduanya pergi ke pusat perbelanjaan yang ada wahana bermain anak-anak. Sementara Hana berlari dengan gembira. Hanif hanya diam mengikuti langkah kaki Hana adiknya. Hanif tersenyum saat Hana menggodanya. Setelah itu Hanif tak lagi tersenyum.


"Papa, itu mama!" teriak Hana lantang, sembari berjingkrak-jingkrak senang. Seketika Agam menoleh ke arah tatapan Hana. Agam melihat Tika sedang duduk di podium. Sekilas Agam melihat tema acara yang berlangsung. Ternyata sore ini diadakan launching novel karya Tika. Tak jauh dari Tika berdiri, Agam melihat Rayhan berdiri. Ada rasa cemburu menguasai pikiran Agam. Namun rasa cemburu itu seolah tak pantas lagi. Ketika Agam menyadari dirinya datang bersama Zalwa dan kedua orang tuanya.


Hanif berjalan perlahan menuju tempat acara. Agam mengikuti langkah kecil sang putra. Jarak diantara Agam dan Hanif sangat jelas terlihat. Jarak yang seolah Hanif ciptakan dari rasa kecewa pada sang ayah. Agam melihat Hanif menatap Tika dengan lekat. Seakan ada kerinduan yang mendalam. Agam merasakan sesak di dadanya. Ketika dia ingin memeluk sang putra. Namun tangannya seolah tak mampu menggapainya. Jarak yang begitu dekat, laksana jurang yang tak terlihat kedalamannya. Sakit yang harus Agam rasakan, demi membayar kekecewaan kedua buah hatinya.


Setelah hampir setengah jam lebih Hanif menatap sang mama. Tika menoleh melihat sang putra berdiri tak jauh darinya. Akhirnya Tika turun dari podium. Dia menghampiri Hanif yang berdiri menatapnya. Tika juga melihat Hana yang bermain tidak jauh dari Agam. Tika melihat Zalwa dan kedua orang tua Agam mengawasi Hana. Keceriaan Hana melebihi Hanif. Sejak kecil Hana sangat lincah dan susah berhenti bermain. Seandainya dia menemukan permainan yang dia sukai.


"Akhirnya hari ini tiba, kamu mempertemukan kedua putramu pada Zalwa. Mencoba mengenalkan keduanya pada calon mama mereka. Aku mungkin terluka dengan kenyataan ini. Namun aku pasti kuat, selama tangan mungil dan wajah mereka masih menemaniku. Semoga kamu bahagia dengan pertemuan ini. Agar kamu sanggup melepaskan tanganku. Jujur aku mulai lelah menunggu. Tangan yang seharusnya terlepas, tak seharusnya terus digenggam. Aku tak setegar karang, yang terus bertahan menerima hantaman ombak. Ketegaran karang sesungguhnya tak sekuat itu. Terkadang rapuhnya tak terlihat, karena tersembunyi dan menghilang dalam suara keras ombak. Abdillah Abqari Agam, lepaskan aku!" batin Tika.


Tepat di depan Agam Tika mengangguk pelan menyapa Agam. Tika berjongkok di depan sang putra, Tika memeluk Hanif dengan penuh kehangatan. Hana berlari ketika dia melihat Tika memeluk Hanif. Seketika Hana memeluk Tika dari belakang. Tika kewalahan menerima pelukan Hana. Agam mundur beberapa langkah, ada rasa ngilu yang teramat. Dia melihat keluarga yang dulunya bersatu harus hancur tak bersisa. Suara tawa Hana, bak pisau yang menyayat hatinya. Sebaliknya diam Hanif, bak garam yang tertabur sempurna di atas hatinya. Sakit dan perih tak lagi bisa dikatakan. Sakitnya serasa sesak di dada, ketika kedua matanya melihat dua buah hatinya harus memilih.


Tika melepaskan pelukannya, lalu berdiri menghadap Agam. Tak ada lagi luka atau bahagia yang dirasaka Tika. Hatinya membeku bahkan mati melihat sikap bimbang Agam. Lalu Hanif menarik tangan Tika. Memintanya menunduk menghadap Hanif. Tika berjongkok menatap sang putra yang kelak melindunginya. Hanif mengambil sapu tangan dari saku celananya. Hanif mengusap keringat yang ada di wajah Tika. Keringat kecil yang terlihat mata indah Hanif. Dengan lembut Hanif mengusap keringat Tika. Lalu memberikan botol mineral yang sejak tadi dibawanya.


Hanif menunggu Tika, bukan ingin melihat sang mama. Hanif hanya ingin memberikan sebotol air mineral pada mamanya. Tika menerima air mineral dengan perasaan haru. Setetes air mata jatuh membasahi cadarnya. Tika meletakkan air yang diberikan Hanif. Dengan lembut Tika mencium kening sang putra. Ucapan terima kasih Tika pada Hanif.

__ADS_1


Agam membisu diam mematung. Tubunya kaku tak lagi mampu bergerak. Lengkap sudah luka hatinya. Dia kalah sebagai seorang ayah. Putranya dewasa sebelum waktunya. Kedewasaan yang tak seharusnya terjadi. Ketika masa anak-anaknya.


"Maafkan papa sayang, semua salah papa. Diammu membuat papa terluka, tapi dewasamu jauh menyakiti papa. Kamu lupa akan senyum manismu. Semua karena papa yang lemah. Kamu diam dalam ramainya tempat inu. Semua karena papa yang egois. Papa mencintai mamamu, tapi sikap kerasnya yang tak ingin papa mendekatinya. Maafkan papa, jika terus egois menahan tangan mama. Papa terlalu takut kehilangan mama, tapi hidup bersama mamamu. Papa belum pantas, kekek dan nenekmu belum menerima mama. Seandainya mereka melihat betapa hancurnya hatimu. Akankah mereka melunak menerima mamamu? Sampai kapan semua ini terjadi? Mungkinkah mama menunggu papa atau mama akan melepas papa selamanya. Hanif…Hana, maafkan papa!" batin Agam sendu.


"Terima kasih!" ujar Tika lirih, Hanif mengangguk pelan. Tika menggendong Hanif dan Hana bersamaan. Agam hanya bisa diam melihat istri dan anaknya bersama penuh kehangatan. Tanpa dia bisa mendekat atau ikut merasakan kebahagian yang sama.


"Mama, jangan terlalu lelah. Kalau Hanif besar, mama tidak perlu bekerja. Hanif yang akan bekerja buat mama dan Hana!" ujar Hanif lirih, seraya mengalungkan tangannya pada leher Tika. Hana melakukan hal yang sama, Tika menahan tubuh kedua buah hatinya. Mungkin tangannya kuat menggendong tubuh mungil keduanya. Namun hatinya tak lagi kuat, ketika dia mendengar impian sederhana sang putra.


"Hanif, mama tidak pernah lelah. Bukankah Hanif ingin melihat mama tersenyum. Menulis membuat mama bahagia. Jangan cemaskan mama, sekarang Hanif dan Hana bermain dengan papa!" ujar Tika lirih dengan hati tersayat. Hanif dan Hana mengangguk hampir bersamaan. Mereka turun dari gendongan Tika lalu menarik tangan Tika mencium punggung tangannya.


"Mama sering mual, permen Hana buat mama!" ujarnya, lagi dan lagi hanya anggukan kepala yang Tika berikan. Seketika Tika menarik tubuh kedua buah hatinya. Mendekap erat tubuh mungil yang terlahir dari rahimnya. Bukti cintanya pada Agam.


Agam dan kedua orang tuanya hanya bisa diam menatap kehangatan Tika dan pewaris keluarganya. Tak ada yang bisa membuat mereka terpisah lagi. Namun keegoisan orang tua Agam, seolah tak melihat luka kedua cucunya.


"Terima kasih!" ujar Tika, Hanif dan Hana mengangguk pelan. Tika berdiri dan berjalan mendekat pada Agam.

__ADS_1


"Aku mengizinkanmu membawa mereka, untuk membuat mereka bahagia. Jangan pernah sakiti mereka dengan sikap lemahmu. Cukup aku yang terluka dengan bimbangmu. Mereka terlalu kecil, untuk mengerti dan mengenal orang lain dalam hidupmu. Jika kamu akan bahagia dengan Zalwa. Berbahagialah, tanpa memaksa mereka mengenal Zalwa!" ujar Tika tegas pada Agam.


"Aku yang mengajak Zalwa, bukan Agam. Cucuku berhak mengenal calon ibu mereka. Apa kamu takut melihat kedekatan mereka dengan Zalwa? Sehingga kamu marah tidak jelas!" ujar ibu Agam, Tika menoleh seraya tersenyum sinis. Lalu mendekat pada Orang tua Agam dan Zalwa berdiri. Tika menatap ketiganya bergantian.


"Seorang ibu tidak pernah takut dilupakan kedua putranya. Mereka terlahir dari rahimku, pelukanku yang menghangatkan dan melindungi mereka selama ini. ASI yang mereka minum, akan mengingatkan mereka arti diriku. Jika anda berpikir Zalwa bisa menggantikanku. Anda sangat naif, putramu saja belum mampu melupakanku!" ujar Tika lantang, ibu Agam marah. Dia mengangkat tangannya, tapi ditahan oleh Tika.


"Jangan buat anda rendah di depan semua orang. Aku tidak akan diam bila putraku menangis melihat lukaku!" ujar Tika lirih, lalu menghempaskan tangan orang tua Agam.


"Sombong kamu, Agam sudah melupakanmu sejak lama. Buktinya hari ini dia pergi dengan Zalwa!" ujar ibunya Agam bangga, Tika mendekat pada Zalwa. Lalu mengulurkan tangan ke udara. Menawarkan tangan pertemanan pada Zalwa. Dengan keraguan Zalwa menerima uluran tangan Tika.


"Bunda, hentikan omong kosong itu. Tidak ada rencanaku menikah dengan Zalwa. Aku tidak akan melepaskan Tika, tidak akan pernah!" ujar Agam lantang, Tika tersenyum sinis mendengar perkataan Agam. Jika semua itu Agam katakan dulu. Mungkin Tika merasa bahagia telah diperjuangakan. Namun semua telah berubah.


"Selamat atas rencana pernikahan kalian. Semoga bahagia, aku akan datang menjadi saksi. Hana dan Hanif akan menjadi dayang di pernikahan kalian!" ujar Tika lantang, lalu berjalan menuju Agam.


"Lepaskan cincin di tanganku, agar semua berakhir dengan damai. Dua tahun waktu yang cukup kamu memutuskan. Kedua orang tuamu berharap kebahagianmu dengan Zalwa, bukan dengan Tika!" ujar Tika, Agam menggeleng seraya berjalan mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskanmu, biarkan mereka berharap!" --


__ADS_2