Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Dia Berharga...


__ADS_3

"Amin!" ujar Tika sembari membasuhkan tangannya ke seluruh wajahnya. Setelah dua tahun lebih, siang ini Tika menjadi makmum sholat Agam. Alasan yang membuat Tika percaya akan cinta abadi dunia akhirat. Tanpa berpikir perbedaan usia dan status. Hanya berdasarkan rasa yakin Agam yang terbaik. Tika menyerahkan hidupnya pada Agam.


Selesai berdoa Tika tidak langsung berdiri. Dia terbiasa melakukan sholat sunnah. Kebiasaan yang tidak pernah berubah dari Tika. Sebab itu di dalam tasnya. Selalu ada perlengkapan sholat. Jadi Tika tidak akan sulit bila melakukan sholat. Tanpa Tika sadari, Agam memperhatikan Tika dengan seksama. Jauh dalam hatinya, Agam menyesali semua perbuatannya. Dia tidak menyangka harus kehilangan Tika dan dua buah hatinya. Semua hanya karena kebimbangan hatinya.


"Kenapa harus dilepaskan? Bila kamu begitu mencintainya. Seharusnya perjuangkan dia dengan segenap dayamu. Bukan larut dalam kebimbangan yang tanpa akhir!" tutur Rendy lirih, seketika Agam menoleh. Dia melihat Randy asisten Dimas berdiri di belakangnya. Sebagai Asisten Dimas, Randy menjadi laki-laki yang paling dekat dengan Tika sekarang. Dia selalu ada dimana Tika berada? Agam menatap tajam ke arah Randy yang sedang melihat ke arah Tika.


"Apa maksud perkataanmu? Bukan tempatnya kamu bicara. Statusmu hanya asisten papa Dimas tidak lebih. Jadi tidak sepantasnya kamu menilai hubungan diantara kami. Banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang rumah tangga kami. Sebaiknya sekarang kamu diam dan penuhi kewajibanmu sebagai seorang asisten!" ujar Agam kesal, Randy tersenyum simpul mendengar perkataan Agam.


Memang benar rumah tangga mereka bukan urusan Randy. Namun melihat wanita sebaik Tika terluka. Hati kecil Randy seolah tidak tega. Kesholehan Tika sedikit mengusik hati Randy. Meski rasa kagum itu ada. Randy sadar diri, status yang sangat berbeda dan takkan pernah sama. Sebab itu Randy hanya sebatas kagum, tanpa ada rasa ingin bersama Tika.


"Tidak ada maksud apapun dalam perkataanku. Aku juga tidak berniat ikut campur urusan kalian. Sepenuhnya aku menyadari posisiku. Aku kagum pada bu Tika, dia wanita yang baik dan hebat. Tidak sepantasnya dia menerima semua ini. Aku berharap dia mendapatkan kebahagiannya. Walau itu artinya harus melihatnya bersama orang lain!" ujar Randy tegas, Agam menoleh dengan raut wajah yang penuh amarah. Dia mendengar seseorang mengagumi, bahkan secara sekilas mengakui telah menyimpan rasa pada Tika.

__ADS_1


"Kamu menyukai Tika!" ujar Agam sembari melotot, Randy menggelengkan kepalanya lemah. Agam terperangah melihat jawaban Randy yang tak sejalan dengan perkataannya tadi. Padahal dengan jelas Randy mengungkapkan kekaguman pada Tika. Bahkan pembelaannya pada Tika menunjukkan rasa cinta yang mulai bersemi di hati Randy.


"Aku tidak pantas menyukai wanita sehebat dia. Bukan secara materi, secara iman aku jauh darinya. Wanita yang selalu menjaga kehormatannya, bukan demi dirinya semata. Namun dia menjaga iman yang ada dalam dirinya. Aku laki-laki biasa dengan banyak kekurangan. Kartika Putri Anggara, dia wanita yang pantas dihargai dengan sepenuh hati. Sebesar apapun rasa sayang laki-laki sepertiku. Masih tak pantas bersanding dengannya. Selama ini aku bersama, tapi tak pernah aku melihatnya bergantung padaku!" ujar Randy lirih, Agam menunduk merasa malu.


Randy yang baru saja mengenal Tika. Bisa memahami Tika dengan sangat baik. Bahkan Randy menyimpan rasa cintanya dan mengubahnya dengan menghargai Tika. Agam merasa malu, ketika dia menyadari sikapnya yang tak pernah menghargai Tika. Bahkan dia menempatkan Tika pada posisi yang tidak sepantasnya. Selama ini Tika terhina dan tersakitu demi Agam. Namun dengan angkuhnya Agam terus menempatkan Tika pada tempat yang sama. Berpikir jalan yang dia pilih, menjadi jalan yang terbaik.


"Diam dan terus bimbang, tidak akan membuatnya tetap baik-baik saja. Meski bukan aku, kelak akan ada laki-laki yang jauh lebih berani mengatakan cinta padanya. Berjuang atau melepaskan, dua pilihan yang harus kamu pilih. Bu Tika berhak bahagia dan mengenal laki-laki lain. Layaknya dirimu yang terlihat nyaman jalan berdua dengan Zalwa!" ujar Randy, lalu meninggalkan Agam yang tertegun mendengar perkataan Agam.


Tika berjalan menuju mobilnya. Dia harus segera menuju proyek selanjutnya. Tika tidak pernah berada dalam satu mobil dengan Randy. Dia selalu menggunakan mobil sendiri. Meski dia jauh dari Agam. Tidak serta merta Tika dekat dengan banyak laki-laki. Tika selalu menjaga diri dari yang bukan mukhrim.


"Tika, kita harus bicara!" teriak Zalwa, Tika menoleh lalu menutup kembali pintu mobilnya. Tika bersandar pada mobilnya. Dia menunggu Zalwa yang sedang berlari ke arahnya. Entah apa yang ingin dikatakan Zalwa? Jika hanya permintaan maaf. Sungguh sesuatu yang sangat terlambat.

__ADS_1


"Aku ingin bicara berdua denganmu!" ujar Zalwa sesaat setelah dia berada di depan Tika. Dengan anggukan kepala, Tika setuju bicara dengan Zalwa. Selama ini Tika dan Zalwa tidak pernah bisa bicara dari hati ke hati. Namun meski begitu, tak pernah Tika marah dan menyalahkan Zalwa akan kondisinya saat ini.


"Katakanlah dengan cepat, satu jam lagi aku ada rapat!" ujar Tika tegas, Zalwa mengangguk mengerti. Tika di depannya, bukan Tika yang dulu. Dia kini jauh berbeda, Tika telah menjadi wanita hebat dengan bakat bisnis yang tak bisa diragukan lagi. Sepak terjang Tika telah membuatnya menjadi pembisnis yang berpengaruh. Pantas bila waktunya sangat berharga saat ini.


"Jika memang kamu sudah tidak menyukai Agam. Kenapa kamu tidak melepaskannya? Kamu menunggunya tapi seakan tidak membutuhkannya. Aku lelah melihat Agam terluka seperti ini. Dia hanya seorang anak yang masih berharap restu dari orang tuanya. Sebaliknya kamu terus menjauh, seolah kamu bisa berdiri tanpa dirinya!" ujar Zalwa, Tika tersenyum simpul. Dia tidak marah atau kecewa mendengar pertanyaan Zalwa. Sebaliknya Tika merasa sudah waktunya Zalwa mengetahui isi hatinya.


"Aku tidak bisa melepaskan Agam, hanya karena sebuah janji yang pernah aku ikat dengannya. Janji yang bisa aku lupakan, bila Agam memintaku melupakannya. Jika Agam seorang anak yang menunggu restu. Aku seorang wanita yang menunggu kepastian. Meski sesungguhnya kepastian Agam sudah sangat terlambat. Jika kamu merasa lelah melihat luka Agam. Maka aku seorang ibu yang lelah melihat air mata kedua putraku. Aku kuat hanya demi mereka. Jadilah sandarannya, agar dia kuat memutuskan yang terbaik untukku!" ujar Tika, lalu berbalik segera membuka pintu mobilnya.


"Tunggu Tika, janji apa yang begitu penting. Sampai kamu rela hidup terkatung tanpa kejelasan!"


"Janji yang melekat di jariku. Cincin pernikahan yang masih melekat di tanganku. Minta Agam melepasnya dari tangaku. Agar kita bertiga bisa hidup dengan damai!" ujar Tika lalu masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2