
Duaaarrr Duaaarrr Duaaarrr
Suara guntur menggema di seluruh penjuru langit. Kilatan petir menyambar bergantian, menerangi langit. Biru langit seketika tergantikan awan gelap. Pertanda langit akan memuntahkan air mata sucinya. Anugrah terbesar bagi seluruh penghuni bumi.
Kala langit bersiap memuntahkan kesedihannya. Langit yang terus bertasbih dengan gelegar suara petir. Nampak sebuah mobil mewah berwarna biru tua. Mobil yang berjalan tanpa arah tujuan. Di bawah langit yang gelap gulita, mobil terus berjalan mencari tempat berteduh. Sedangkan sang pengemudi, terus mengemudikan mobil sesuai suara hatinya.
Ciiiiittt
Suara gesekan mobil dengan aspal yang tiba-tiba berhenti. Terdengar nyaring di tengah rintikan gerimis yang mulai turun. Entah kenapa sang pengemudi menghentikan mobilnya mendadak? Nampak mobil berhenti tepat di depan rumah mewah.
Rumah mewah dengan gerbang yang cukup tinggi. Nampak beberapa pohon rindang menjulang tinggi melewati pagar beton yang mengelilingi rumah. Lama sang pengemudi mengamati rumah, lebih tepatnya mencari alasannya menghentikan mobilnya. Lalu dengan perlahan, mobil bergerak maju. Tepat di depan gerbang, saat sang pengemudi hendak turun. Mencari tahu adakah penghuni rumah mewah? Tiba-tiba gerbang terbuka otomatis, seolah pintu pagar tak berhati mengenali mobil yang berhenti di depannya. Dengan rasa penasaran dan kebingungan, sang pengemudi terus mengemudikan mobilnya masuk ke dalam halaman rumah.
"Rumah siapa ini? Kenapa hatiku berdebar begitu hebat? Tangan dan tubuhku tergerak ingin masuk ke dalam rumah ini. Mungkinkah aku mengenal rumah ini? Rumah mewah dengan keindahan taman yang tak terbantahkan. Jelas menunjukkan sang pemilik bukan orang biasa. Apalagi tatanan rumah yang begitu mempesona. Beruntungnya penghuni yang mampu menempati rumah ini. Sungguh aku beruntung bisa melihat semua ini!" Batin Hanna, orang yang berada di balik kemudi.
Hanna turun dengan anggun dari mobilnya. Pikiran Hanna dipenuhi kebingungan yang tak terpecahkan. Hatinya gelisah tanpa tahu penyebabnya. Hanna benar-benar tak mengerti dengan kekalutan hatinya. Demi alasan yang sama, Hanna menginjak halaman rumah yang membuatnya bingung.
Tap Tap Tap
Selangkah demi selangkah Hanna berjalan, semakin jauh dari mobilnya. Hanna berjalan memasuki taman bunga yang mengelilingi kolam ikan kecil. Nampak jelas halaman yang terawat dengan sangat baik. Tak ada satupun bunga atau tanaman yang layu. Bahkan rumput halaman, nampak rapi dan indah. Ikan dalam kolam terlihat besar nan cantik. Hanna kagum sekaligus tenang melihat semua yang ada tepat di depan matanya. Hanna terus berjalan mengelilingi taman. Lalu kakinya terhenti tepat di samping pohon tinggi nan rindang.
Hanna meraba batang pohon yang tak lagi muda. Mendongak menatap ranting penuh daun hijau. Buah mangga muda bergelantung di ujung ranting. Nampak pohon mangga tua yang berbuah lebat. Hanna menatap lekat, kerutan-kerutan batang pohon yang mengelupas. Hanna meraba mencari tahu alasan gelisah hatinya. Sebuah pohon yang jelas tak ada hubungannya dengan Hanna. Namun seolah memiliki keterikatan dengan hatinya.
"Hanna!"
Hanna menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Dengan tatapan heran, Hanna menatap orang yang memanggilnya. "Siapa dia?" Batin Hanna, tanpa berkedip. Hanna merasa asing dengan orang yang memanggilnya. Tak ada satupun getaran dihatinya, seolah tak pernah ada hubungan diantara mereka. Hanna diam membisu, menatap canggung orang yang berdiri tepat di depannya.
"Hanna, kamu Hanna bukan!" Sapanya, tak ada suara dari bibir mungil Hanna. Hanya senyum simpul yang diiringi anggukan kepala. Cara Hanna menghormati orang yang memanggilnya.
"Hanna, aku bunda Sinta. Tidak mungkin kamu lupa padaku. Ini rumahmu, tempat tinggalmu dulu!" Ujar Sinta lantang, sontak Hanna melotot.
Kedua bola mata Hanna membulat sempurna. Perkataan Sinta bak petir yang menyambar hatinya. Mengalahkan suara petir yang menyambar langit. Debaran jantung Hanna yang begitu cepat, seketika melemahkan tulang dan syarafnya. Hanna merasa takut dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya. Ketakutan yang membuat dadanya sesak.
"Anda salah mengenali orang. Saya memang Hanna, tapi saya bukan Hanna yang anda maksud. Rumah ini baru pertama kali saya kunjungi. Jadi tidak mungkin saya tinggal di rumah ini!" Sahut Hanna dengan suara lirih setengah bergetar. Tangan Hanna memegang dadanya yang terasa sesak. Hanna mencoba tetap tenang, meski hatinya gelisah.
__ADS_1
"Kamu memang Hanna, ini rumahmu. Aku yakin kamu Hanna. Tidak mungkin aku salah mengenali orang!" Ujar Sinta tegas dan menggebu, Hanna menggeleng lemah.
"Maaf anda salah, sebaiknya saya pulang. Maaf saya telah masuk rumah anda tanpa permisi!" Pamit Hanna sopan, lalu melangkah melewati Sinta.
Duaarrr Duaaarr Duaaarrr
"Tunggu!" Teriak Sinta.
Hanna menghentikan langkah kakinya, perlahan Hanna menoleh. Dia melihat Sinta berjalan menghampirinya. Rintik hujan mulai turun. Gerimis seakan ingin mendinginkan hati Hanna yang bergemuruh. Sinta semakin dekat dengan Hanna. Sinta hendak menarik tangan Hanna, tapi terhenti kala Hanna mundur menjauh.
Hanna jelas menolak ajakan Sinta, tanpa Hanna peduli akan kenyataan yang baru saja dia dengar. Sinta termenung melihat penolakan Hanna. Tatapan Hanna yang dingin, semakin membuat Sinta sedih. Meski sesungguhnya, Sinta pantas mendapatkannya. Apalagi setelah semua yang terjadi. Sinta mencoba melupakan penolakan Hanna. Sinta tersenyum ke arah Hanna, seakan ingin mengatakan pada Hanna. Sikap dingin Hanna tidak akan membuatnya sakit hati.
"Baiklah Hanna, jika kamu memang berpikir aku salah mengenali orang. Setidaknya biarkan aku menunjukkan bukti. Jika kamu pemilik rumah ini. Sekaligus aku ibu mertuamu!"
"Maaf sebelumnya, saya tidak terlalu ingin mendengar kebenaran yang anda katakan. Masa lalu yang pernah ada dalam hidup saya, biarkan menjadi kenangan yang tersimpan dalam memori saya yang hilang. Terima kasih telah menganggap saya sebagai menantumu. Saya meminta maaf, bila pernah menyakiti anda!"
"Hanna, masuklah sebentar. Sekadar mengganti bajumu yang basah!"
"Aku memang pantas menerima sikap dinginmu. Kamu layak melupakanku, bahkan kalau perlu. Marahlah atau hukum aku, tapi putraku tak bersalah. Tak seharusnya dia terlupa olehmu, karena sikap jahatku dulu!"
"Maaf, saya benar-benar tidak mengerti. Apapun yang pernah terjadi dulu. Mari kita lupakan, entah itu baik atau buruk? Biarkan semua tersimpan, tak perlu lagi kita ungkit!"
"Mungkin kamu sanggup melanjutkan hidup, tapi putraku tak bisa hidup tanpamu. Dia hancur tanpa senyummu. Meski kamu meninggalkan semangat dalam hidupnya. Putraku larut dalam penyesalannya!"
"Putramu, artinya dia suamiku!" Sahut Hanna, Sinta mengangguk.
"Ternyata aku pernah menikah, tapi siapa dia? Kenapa aku tak pernah menyadarinya? Jangan sampai dia kak Hafidz!" Batin Hanna bingung.
"Demi dia Hanna, masuklah ke dalam. Mungkin kamu akan mengingat kepingan masa lalu yang hilang!" Pinta Sinta, Hanna menggeleng.
"Maaf, saya permisi!" Pamit Hanna dingin, dia tak peduli dengan permintaan tulus Sinta.
"Hanna, sejak kamu sakit. Putraku pergi menjauh dariku, meninggalkan rumah dengan membawa hadiah terindahmu. Semenjak tiga tahun lalu, tak pernah aku melihat senyumnya. Bahkan wajahnya tak pernah bisa aku sentuh. Putraku telah kehilangan semangatnya, dia pergi meninggalkan tubuh rentaku. Rumah ini tak lebih dari bangunan tanpa penghuni. Tak ada lagi tawa atau tangisan, semua terasa sunyi sampai hembusan napas menggema di seluruh penjuru rumah. Dia tak lagi peduli padaku yang telah menua!"
__ADS_1
"Maaf!"
"Aku mohon jangan meminta maaf, tapi maafkan aku yang tua ini. Kembalikan senyum putraku, hanya dirimu yang mampu membuatnya bahagia seperti dulu!" Ujar Sinta memelas, kedua tangannya menangkup tepat di depan dadanya. Hanna menggeleng menolak permintaan Sinta. Seketika tubuh Sinta lemas, tulangnya rapuh seakan tak ada lagi harapan dalam hidupnya.
Buuuuggghhh
"Bodohnya aku yang telah menyia-nyiakanmu dulu. Sekarang aku sadar, Hafidz hanya akan bahagia bersamamu!" Ujar Sinta sesaat setelah tubuhnya jatuh ke tanah. Sinta merutuki kebodohannya dulu.
"Hafidz, jadi dia suamiku!" Batin Hanna terkejut.
"Lebih baik anda masuk, hujan semakin deras!" Pinta Hanna, tanpa memikirkan permintaan Sinta yang sederhana.
"Hanna, tidak mungkin kamu melupakan semua hubungan dengan mudah. Baik benda hidup atau mati dalam rumah ini. Menyimpan kenangan bersamamu. Aku mohon kembalilah!"
"Maaf!" Sahut Hanna dingin. Hanna berjalan menuju mobilnya. Entah kenapa Hanna tak tersentuh melihat Sinta terjatuh. Malah Hanna terus berjapaj menuju mobilnya dengan tenang.
"Bunda bangunlah, tidak perlu menghiba pada Hanna. Jika kelak kami masih berjodoh, tentu dia akan mengingat kebahagian yang pernah ada?"
"Kak Hafidz!"
"Iya Hanna, aku putra bunda Sinta sekaligus suamimu. Davin putra kita, dia lahir dari rahimmu!"
"Tidak mungkin!"
"Tapi sayangnya semua ini benar. Kamu istri sahku, tapi entah kenapa aku merasa kamu sangat ingin melupakanku?"
"Mungkin melupakanmu jauh lebih baik, daripada mengingatmu. Agar aku tak terluka dengan cinta yang sama!" Sahut Hanna dingin.
"Tapi Davin!"
"Dia akan baik-baik saja, kasih sayangmu yang menjaganya!"
"Kenapa kamu berubah?" Batin Hafidz sembari menatap mobil Hanna pergi menjauh
__ADS_1