Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Pamit


__ADS_3

"Papa, bisa Hanna bicara!" Sapa Hanna ramah, seketika Agam menoleh.


Hanna mencari Agam sejak sepuluh menit yang lalu. Namun entah kenapa Agam sulit ditemukan? Rumah megah dengan banyak ruangan, menjadi salah satu faktor kesulitan Hanna menemukan Agam. Setelah Hanna mengelilingi hampir separuh rumah megah Agam. Tanpa sengaja Hanna melihat dari balik jendela, Agam tengah duduk santai bersama Hafidz dan Arkan. Ketiganya tengah duduk di taman belakang, sembari meminum secangkir kopi dan makanan ringan.


Nampak di sisi lain taman, Tika dan Davin yang tengah bermain bersama. Sedangkan Arkan tengah bermain dengan putri kecil yang duduk dipangkuannya. Aura mendapatkan tugas memasak. Qaila penghuni lain rumah ini terlihat berjalan menghampiri mereka. Hanna sekilas mengenal Qaila. Adik yang terlupa olehnya. Seketika Hanna berjalan menghampiri Agam. Meski ada sedikit ragu dalam hatinya, karena melihat Hafidz ada di samping Agam.


"Bunda!" Teriak Davin, sembari berlari menghampiri Qaila.


"Davin sayang!" Sahut Qaila, sembari menyambut pelukan hangat Davin putra kecilnya.


Hanna menghentikan langkahnya, dia menatap nanar Davin yang tengah memeluk erat Qaila. Terasa hangat dan menyentuh. Ada rasa aneh menelisik hatinya, tanpa Hanna tahu alasannya. Rasa yang menusuk, dingin dan menyakitkan. Entah kenapa Hanna merasa tersakiti dengan kehangatan yang nampak di depannya. Tawa Davin yang terdengar begitu riang. Terasa semakin menyesakkan, sejenak Hanna tak mampu bernapas. Rasa sakitnya begitu menusuk hatinya. Namun semua berjalan beberapa detik saja. Hanna mencoba menenangkan diri, dia tidak ingin menghancurkan moment bahagia yang nampak di depannya.


"Assalammualaikum!" Sapa Hanna ramah.


"Waalaikumsalam!" Sahut semuanya serentak.


Hafidz mendongak menatap Hanna penuh cinta. Agam dan Arkan menatap haru Hafidz. Cinta dan kesetian Hafidz pada Hanna jelas terbukti nyata. Meski Hanna melupakan hubungan diantara mereka. Hafidz tetap setia fan sabar menunggu Hanna. Bahkan meski keluarga Hanna meminta Hafidz menikah dengan Qaila. Hafidz menolak dan memilih setia pada Hanna. Hafidz harus belajar tegar, ketika dia bisa menatap Hanna. Tanpa bisa menyentuh atau sekadar mengatakan cintanya setia menunggu Hanna kembali.


"Maaf pa, jika tidak keberatan. Bisakah Hanna bicara dengan papa?"


"Katakan sayang, tidak perlu kamu meminta izin!" Sahut Agam, Hanna diam membisu. Sekilas dia menoleh ke arah Hafidz. Lalu menoleh ke arah Arkan. Seakan-akan Hanna canggung bicara di depan mereka berdua.


Agam melihat kebingungan Hanna, cara Hanna menoleh ke arah Hafidz dan Arkan. Mengisyaratkan Hanna merasa tidak nyaman berbicara di depan keduanya. Namun Agam harus bisa menyakinkan Hanna. Jika Hafidz dan Arkan bukan orang lain yang pantas diacuhkan oleh Hanna. Sebaliknya, mereka dua orang yang sangat dekat dengannya.


"Tidak perlu ragu, katakan saja. Hafidz dan Arkan bukan orang lain. Mereka berdua sudah seperti saudara. Artinya keduanya sama-sama putraku. Jadi tidak ada yang perlu papa rahasiakan dari mereka!" Tutur Agam, Hanna membisu. Tangannya semakin erat memegang berkas. Keringat dingin mulai menetes, membasahi sampul berkas yang dipegangnya.


Hafidz berdiri, seolah dia tahu ketidaksukaan Hanna akan keberadaannya. Hafidz lebih memilih mengalah, agar Hanna tidak tertekan dengan dirinya. Dokter yang menangani Hanna, jelas memperingatkan agar tak memaksa Hanna mengingat semuanya. Kondisi Hanna harus tetap tenang, tanpa ada beban yang berat dalam benaknya.


"Pa, lebih baik Hafidz pergi. Sebentar lagi Hafidz harus ke kantor. Davin juga harus sekolah, banyak yang harus Hafidz lakukan!" Ujar Hafidz ramah, Agam mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Hafidz berjalan melewati Hanna, namun baru beberapa langkah. Hafidz berhenti, saat ada tangan yang menghalangi langkahnya. Hafidz mendongak menatap pemilik tangan yang mencegahnya. Hanna menoleh, kala menyadari Hafidz berhenti tepat di belakangnya. Arkan dan Agam membisu, bingung memahami apa yang terjadi?


"Qaila!"


"Tidak perlu pergi, kak Hafidz bagian dari keluarga ini. Tidak ada yang perlu dirahasiakan diantara keluarga. Jika memang kak Hanna ingin bicara berdua dengan papa. Kak Hanna bisa mencari waktu lain. Tanpa merusak kebersamaan pagi ini!"


"Diamlah Qaila!" Ujar Hafidz dingin, Qaila menggeleng lalu berjalan menghampiri Hanna.


"Apa kakak keberatan jika bicara dengan papa lain waktu?" Ujar Qaila tegas, Hanna menggeleng lemah.


Hanna membalikkan badan, dia berjalan membelakangi Qaila. Hanna hendak mendinggalkan Agam bersama Arkan dan Hafidz. Agam dan Arkan langsung berdiri, mereka terkejut mendengar perkatan Qaila. Perkataan Qaila tidak salah, tapi cara bicara Qaila tak pantas. Sikap Qaila seolah Hanna salah telah merasa canggung dengan Hafidz.


"Hanna tunggu!" Teriak Hafidz, Hanna menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Hafidz dan Qaila.


"Kamu tidak perlu pergi!" Ujar Hafidz mencegah Hanna. Saat Hafidz merasa takkan ada jawaban dari Hanna. Pribadi Hanna telah berbeda, pendiam dan selalu menjaga jarak.


"Sudah seharusnya aku pergi. Qaila benar, aku telah mengganggu waktu kalian. Lebih baik aku bicara lain waktu dengan papa!"


"Akupun sama, aku pergi juga bukan karenamu!" Sahut Hanna tegas.


"Sudah cukup, kalian berdebat tanpa ada akhirnya. Sekarang lebih baik, kita masuk ke dalam. Kita sarapan bersama, menenangkan hati yang mulai panas!" Ujar Agam menengahi.


"Qaila, lain kali jaga bicaramu. Hanna kakakmu, tak sepantasnya kamu bicara sedingin itu. Apapun keputusan kak Hanna, bukan tempatmu menilai!" Ujar Agam tegas, Qaila diam menatap tajam Agam.


"Silahkan kalian masuk, Hanna harus pergi. Maaf Hanna tidak bisa ikut sarapan!"


"Kemana kamu pergi Hanna?" Ujar Arkan heran.


"Ada seminar yang harus Hanna datangi. Setelah seminar Hanna akan kembali ke desa!"

__ADS_1


"Bukankah kamu janji akan menginap beberapa hari!" Sahut Tika datar.


"Maafkan Hanna, suasana kota tidak sesuai denganku. Hanna merasa nyaman dengan suasana desa yang tenang dan sepi!" Ujar Hanna, lalu mencium punggung tangan Tika dan Agam bergantian.


"Kamu marah pada kami!" Ujar Arkan, Hanna menggeleng lemah.


"Sebaliknya aku berterima kasih pada kalian. Hanna yang hidup tanpa ingatan, bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Tinggal di rumah megah nan indah. Tidur di tempat tidur yang empuk dan nyaman. Menikmati makanan yang lezat dan nikmat. Sungguh Hanna tidak akan melupakan semua itu. Namun adakalanya seseorang menyadari batas kemampuannya. Senyaman apapun rumah ini, Hanna merasa asing. Sehangat apapun uluran tangan kalian, Hanna masih merasa ragu. Alangkah baiknya Hanna kembali pada titik nyaman!"


"Bukan kamu yang harus pergi, tapi aku!" Sahut Hafidz.


"Kenapa kak Hafidz yang pergi?"


"Qaila, papa minta kamu diam!" Bentak Agam, seketika Qaila terdiam.


Hanna menyerahkan berkas yang ada di tangannya pada Agam. "Papa, dalam berkas itu ada ATM yang dulu papa tinggal untukku. Di dalamnya juga terdapat buku tabungan. Uang yang papa kirim tunai pada Hanna. Semua ada dalam tabungan itu. Hanna sengaja ingin berbicara berdua dengan papa. Bukan karena ingin menjauh dari siapapun? Hanna hanya menjaga harga diri papa. Hanna tidak ingin papa malu dengan menolak semua pemberianmu. Maaf jika akhirnya, cara Hanna malam membuat keributan!"


"Assalammualaikum!" Pamit Hanna, dengan spontan Hafidz menahan tangan Hanna.


"Tunggu!"


"Kehangatan apa ini? Kenapa aku merasa nyaman dengan sentuhan ini?" Batin Hanna heran.


"Ada apa lagi?"


"Pergilah setelah kamu mengatakannya pada Davin!" Ujar Hafidz, Hanna menggeleng lemah.


"Dia akan mencarimu!" Ujar Hafidz lagi.


"Selama bunda Qaila ada di sampingnya. Davin tidak akan mencariku. Baginya aku hanya angin yang sejenak menyejukkannya, tidak lebih!"

__ADS_1


"Kamu salah Hanna, Davin selalu merindukanmu!" Batin Hafidz pilu.


__ADS_2