
"Arkan!" teriak Ghibran lantang, sembari menggedor pintu kamar kost Arkan.
Setelah hampir sepuluh menit Ghibran menggedor pintu. Ghibran mulai kesal, karena Arkan tidak membukakan pintu. Tak berapa lama, Arkan datang dari gang di depan kamar kostnya. Arkan memakai sarung dan membawa sajadah di tangannya. Seketika Ghibran mengangguk pelan. Dia mulai mengerti, Arkan baru saja pulang dari mushola di sekitar rumahnya.
"Assalammualaikum!" sapa Arkan, Ghibran mengangguk ke arah Arkan.
"Waalaikumsalam, ikut denganku sekarang!" ujar Ghibran panik, Arkan mengeryitkan keningnya tidak mengerti.
Ghibran tidak bisa menunggu Arkan berpikir. Dengan pelan Ghibran mendorong tubuh Arkan ke dalam kamar kostnya. Ghibran meminta Arkan mengganti pakaiannya secepat mungkin. Arkan tidak mengerti apa yang diinginkan Ghibran? Dengan setengah hati, Arkan mengikuti intruksi dari Ghibran.
"Kamu seperti orang yang baru saja di kejar setan? Memangnya ada apa kamu memaksaku ikut!" ujar Arkan dingin, setelah dia keluar dari kamar kostnya.
Arkan putra Tika dan Agam. Sengaja dia datang ke negara ini dan tinggal di kota kelahirannya. Bukan untuk mengakui keluarganya yang telah lama ditinggalkannya. Arkan datang hanya untuk melihat kondisi keluarganya. Terutama sang adik Hanna Santika Ramaniya. Adik kecil yang sangat dia rindukan.
"Kamu harus ikut denganku. Aku tidak bisa pergi sendirian!" ujar Ghibran cemas, Arkan terdiam lalu mengangguk pelan. Sebagai seorang sahabat Arkan akan membantu Ghibran sebisa mungkin.
Arkan bukan lagi Hanif yang memiliki kekayaan. Arkan hidup sederhana jauh dari keluarga. Tika pergi tanpa membawa sepeserpun harta keluarga Anggara atau harta gono gini dari Agam. Tika hanya membawa Arkan harta satu-satunya yang paling berharga. Tidak ada kemewahan yang ditawarkan Tika pada Arkan. Namun kasih sayang Tika sudah cukup membuat Arkan bahagia.
Arkan dan Ghibran pergi menggunakan mobil sport milik Ghibran. Arkan duduk di kursi penumpang tepat di samping Ghibran. Bukan Arkan tidak bisa mengendarai mobil, tapi Arkan merasa tidak nyaman mengendarai mobil milik orang lain. Sebab itu Arkan memilih duduk di samping Ghibran yang sedang memgemudi.
"Memangnya kita akan kemana? Awas saja jika kamu berani membawaku ke tempat yang terlarang!" ujar Arkan, Ghibran mengacungkan jempol ke udara. Dia tidak akan pernah berani membawa Arkan ke tempat-tempat yang tak pantas.
Ghibran menghargai sikap Arkan yang selalu berjalan lurus. Dia tidak akan membawa Arkan ke tempat yang tak pernah dia sukai. Sebab Ghibran takut, pertemanannya dengan Arkan akan hancur berantakan. Hanya karena Ghibran melupakan prinsip yang dipegang teguh oleh Arkan.
__ADS_1
Setelah setengah jam mengendarai mobilnya. Ghibran membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah rumah berpagar tinggi. Sebuah rumah yang lebih tepatnya dikatakan seperti istana. Bangunan dengan gaya klasik modern. Rumah besar dan mewah yang mampu menunjukkan siapa pemilik rumah bukan orang sembarang?
Arkan diam mengikuti kemana Ghibran membawanya? Selama perjalanan Arkan sedikitpun tidak peduli kemana arah mobil Ghibran. Arkan sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Ghibran fokus mengemudi.
"Arkan, ayo turun!" teriak Ghibran, sontak Arkan tersentak kaget. Sejak awal Arkan tidak peduli dia akan dibawa kemana?
Arkan langsung turun dari mobil Ghibran. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Megah dan mewah kata pertama yang mampu menggambarkan kondisi rumah. Arkan berjalan di belakang Ghibran. Dia mengekor kemana langkah kaki Ghibran. Sempat Arkan bertanya dalam hati. Rumah siapa yang dia datangi bersama Ghibran?
"Arkan, cepatlah! Aku sudah terlambat!" ujar Ghibran, Arkan mengangguk seraya mempercepat langkahnya. Langkah Ghibran begitu lebar, sampai Arkan harus berjalan dengan setengah berlari.
"Memangnya siapa yang akan kamu temui? Sampai kamu berjalan seperti dikejar hantu!" celetuk Arkan, Ghibran tak menggubris perkataan Arkan.
"Diamlah, kamu akan mengetahuinya setelah sampai di dalam!" sahut Ghibran, Arkan diam sembari terus mengikuti langkah kaki Ghibran.
Keduanya berjalan semakin masuk ke dalam rumah megah nan mewah. Melihat cara Ghibran masuk ke dalam rumah. Arkan bisa menebak, jika Ghibran sangat mengenal keluarga ini. Arkan tidak berpikir ini rumah Ghibran. Sebab Arkan pernah datang bertamu ke rumah Ghibran.
Tubuh Arkan mematung, dia melihat sebuah keluarga yang sangat lengkap. Orang-orang dari masa lalunya. Sebuah keluarga yang sengaja ditinggalkan oleh Tika. Agam melihat Arkan datang bersama Ghibran. Seketika Agam memanggil Arkan untuk mendekat padanya.
"Dokter Arkan, mendekatlah duduk di sampingku!" ujar Agam, Arkan diam membisu. Langkah kakinya terasa berat. Dia tak sanggup mendekat. Arkan terlalu sakit melihat kehangatan yang ada dalam keluarga Agam.
"Siapa dia Agam? Kenapa kamu begitu hangat padanya? Melihat penampilannya, dia bukan dari kalangan berada!" ujar ibunda Agam, Ilham ayah Agam hanya bisa menggeleng tak percaya.
"Kamu tetap sama, selalu mengedepankan harta. Seakan harta membuatmu bahagia. Padahal jelas kamu telah kehilangan senyum putra semata wayangmu. Kamu kehilangan pewaris sejati keluarga ini. Hanna hidup tanpa bisa mengenal kakak kandungnya. Masih kurangkah semua penderitaan ini. Sampai dokter muda ini harus menerima hinaanmu!" sahut Ilham ayah Agam.
__ADS_1
Sebaliknya Agam hanya diam mendengar perdebatan yang sama selama bertahun-tahun. Agam terlalu lelah melihat semua ini. Agam mengangguk pelan ke arah Arkan. Meminta Arkan mendekat dan duduk di sampingnya.
"Dokter Arkan, tidak perlu mengambil hati perkataan ibundaku. Sebagai seorang anak aku meminta maaf. Silahkan anda duduk, dokter Arkan tamu saya. Jadi jangan pedulikan mereka!" ujar Agam, Arkan mengangguk lalu duduk di samping Agam. Ghibran duduk di tempat biasa dia duduk. Hanna belum terlihat, mungkin dia masih ada di dalam.
"Terima kasih!" sahut Arkan, Ghibran menoleh ke arah Agam dan Arkan. Ada rasa iri dalam hatinya. Meski Ghibran mendapat restu dari sebagian keluarga Agam. Namun hanya Agam yang belum memberikan restu. Agar Ghibran bisa dekat dengan Hanna.
"Selama ini saya ingin bertanya? Bagaimana anda bisa menjadi dokter diusia yang masih sangat muda? Setahu saya, dokter Arkan seumuran dengan Hanna putriku!" ujar Agam, Arkan menatap Agam bingung.
Arkan tidak tahu, jawaban apa yang harus Arkan berikan? Jika dia terlalu banyak bicara, takutnya mereka menyadari siapa sebenarnya Arkan?
"Om Ghibran tidak perlu heran. Kepintaran Arkan di atas rata-rata. Dia hanya menempuh SMP dan SMA selama 3 tahun. Setelah itu dia menepuh kuliah kedokteran pada usia belasan tahun. Jadi sangat mungkin, Arkan menjadi dokter di usia yang masih muda!" sahut Ghibran, Agam mengangguk mengerti.
"Ternyata dokter yang menggunakan kepintarannya untuk sekolah!" sahut ibunda Agam.
"Salma cukup!" bentak Ilham, Agam menggeleng lemah.
"Saya memang terlahir tanpa harta. Namun saya besar dengan cinta. Jadi tidak ada alasan saya malu mengakui kebenaran itu. Terima kasih sudah mengingatkan posisi saya. Jika saya bukan bagian dari keluarga ini!" ujar Arkan dingin, lalu berdiri sembari mendorong kursi yang didudukinya.
"Saya permisi!" pamit Arkan ramah, sembari sedikit membungkuk. Agam mengedipkan kedua matanya. Lalu Agam bangkit dari tempat duduknya.
"Dokter Arkan, kita bicara di luar saja. Jauh lebih nyaman dan tenang!" ajak Agam sembari merangkul Arkan. Ghibran menelan ludahnya kasar. Dia pesimis akan hubungannga dengan Hanna. Melihat sikap hangat Agam pada Arkan. Ada rasa takut Agam akan menjodohkan Arkan dengan Hanna.
"Jangan sampai om Agam berpikir ingin menjodohkan Arkan dengan Hanna. Jika aku tahu jadi seperti ini. Aku tidak akan membawa Arkan makan malam di rumah Hanna!" batin Ghibran sembari menggelengkan kepalan tak percaya.
__ADS_1
"Nenek selalu bisa membuat papa tidak napsu untuk makan malam!" sahut Hanna dingin, lalu berlalu menjauh dari meja makan. Hanna datang hanya untuk bicara, bukan ingin makan malam dengan keluarganya.
"Hanna, tunggu!" teriak Ghibran.