Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Darah


__ADS_3

"Tidak sepantasnya kamu menyerah. Seharusnya kamu bertahan dan berjuang mendapatkan kepercayaan Arkan. Mungkin kamu tidak akan pernah bisa menembus dinding hati Arkan yang penuh amarah. Dia bukan lagi bocah yang akan menangis bila tersakiti. Namun dia akan berjuang demi senyumku. Tanpa mas Agam sadar dia yang paling terluka. Tapi percayalah kelak Arkan akan kembali padamu!" ujar Tika lirih.


"Kapan?" sahut Agam lirih, Tika tersenyum dibalik cadarnya. Menatap Abdillah Abqari Agam lekat. Laki-laki yang pernah ada dalam hatinya dan mungkin masih tersisa sedikit rasa.


"Saat hatinya tidak lagi menyimpan amarah untukmu!" sahut Tika.


"Hati yang menyimpan rasa kecewa, tidak akan mudah memaafkan. Aku telah melukai Arkan dan Hanna. Mereka terpisah hanya karena kelemahanku sebagai seorang ayah. Aku kehilanganmu tanpa ada kata. Kamu pergi belasan tahun, sembunyi tanpa ingin aku temukan. Kini kamu ada di depanku, menemuiku disaat tubuh ini tak lemah tak berdaya!" ujar Agam, suara Agam terdengar sangat berat.


Tika menggelengkan kepalanya lemah. Dia tidak pernah berharap melihat Agam terpuruk. Kepergiannya bukan untuk menghancurkan siapapun? Terutama Agam dan Hanna, tapi Tika pergi membawa harapan. Agar lukanya tidak tergores terus menerus. Mungkin Tika egois, dia pergi ingin mendapatkan ketenangan. Tanpa Tika berpikir, kepergiannya menghancurkan hati orang-orang yang menyayanginya.


"Setidaknya kamu bisa bertahan dengan keadaan ini. Tak seharusnya mas Agam menyiksa diri. Arkan tidak akan memaafkanmu dengan begitu mudah. Namun tidakkah mas Agam berpikir. Melihat kondisi lemahmu saat ini. Arkan semakin yakin, jika papanya tidak pernah berubah. Dia selalu lemah dan kalah oleh keadaan. Menyerah tanpa ingin berjuang yang akhirnya pasrah pada keadaan!" ujar Tika, Agam menunduk lemah.


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan? Aku lelah menebak, tapi pada akhirnya aku selalu salah dan mengecewakan. Satu per satu orang yang aku sayangi pergi menjauh. Tak ada yang tersisa dariku. Kukorbankan segalanya demi menjadi anak, suami dan ayah yang baik. Namun nyatanya aku tak lebih dari laki-laki bodoh yang tak dihargai dan tak dianggap!" tutur Agam lirih, Tika menggeleng lemah.


Dia tidak pernah berpikir melupakan Agam. Tika masih sangat menghargai Agam. Sebab itu Tika memilih pergi, daripada menjadi duri dalam keluarga Agam. Tika tidak pernah ingin melihat Agam memilih, antara dirinya dan Salma. Tika tidak ingin membuat Agam menjadi anak durhaka. Bukan Agam yang selama ini mengalah, tapi Tika yang berkorban menahan rasa sakit. Hanya agar tak melihat lemah Agam. Imam yang pernah mengetuk pintu hatinya.


"Mas Agam, jawaban itu ada dalam hatimu. Belajarlah mendengar dengan pikiran yang jernih. Ikutilah suara hati terdalammu. Putuskan dalam ketenangan, agar kamu melihat sisi baik dan buruk. Seandainya kamu tidak mampu memilih, maka pasrahkan pada jalan yang tertulis. Hadapi semua dengan keyakinan. Bahwa semua yang telah terjadi. Tak lain pilihan terbaik diantara yang baik. Percaya bahwa semua ada dengan hikmah. Agar senantiasa kita bersyukur dan jauh dari kata mengeluh!" ujar Tika hangat, Agam diam menatap Tika.


Kedewasaan Agam tak ada secuil dari cara pikir Tika. Selama lima belas tahun, Agam hidup dalam rasa bersalah dan penyesalan. Agam menghabiskan waktunya dengan bekerja. Agam mengerjar kedudukan yang dulu memisahkan dirinya dengan Tika. Agam menggapai status dan kekayaan setara dengan keluarga Tika. Hanya agar dia bisa bersama dengan Tika. Sampai Agam melupakan, Hanna terlupakan dan terbaikan. Separuh hidup yang ditinggalkan Tika. Tersakiti tanpa ada yang mengasihani.

__ADS_1


"Kenapa kita harus bersatu? Jika kenyataan sekarang kita terpisah. Aku hancur tanpa sisa, sedangkan kamu berdiri tegak menatap dunia yang kejam. Ketika dulu harta yang membuat kita berpisah. Sekarang cara berpikirmu yang membuat jarak diantara kita. Kapankah ada satu kata diantara kita? Aku lelah menanti waktu itu. Lima belas tahun aku mengharapkan cintamu. Belum cukupkah aku menderita, sehingga hari ini kamu dan Arkan menjauh dariku!" ujar Agam, lalu menutup kedua matanya erat. Agam tak lagi ingin menatap dunia yang seakan kejam padanya.


"Aku tidak bisa merubah cara berpikirmu. Satu hal yang pasti, kini semua tak lagi sama. Lima belas tahun aku pergi. Lima belas tahun kamu menunggu. Lima belas tahun Zalwa setia padamu. Tanpa kita sadari selama lima belas tahun. Ada tiga hati menjalani jalannya masing-masing. Hanya satu yang berbeda, cara tiga hati itu menjalaninya. Aku bertahan dan berjuang melawan rasa kecewa. Kamu menyerah dan pasrah menjalani penyesalan dalam hidupmu. Sedangkan Zalwa ikhlas dan setia berada di sampingmu. Tak dianggap bahkan tak dihargai olehmu!" ujar Tika dingin, Agam mendongak melihat ke arah Tika.


Agam tak menyangka Tika bisa berkata sejauh itu. Sedikit harapannya melihat kehangatan Tika musnah. Agam tak melihat cinta tersisa di hati Tika untuknya. Seakan Tika kembali bukan untuk bersamanya. Melainkan kembali Tika hanya ingin menegaskan jarak diantara mereka.


"Kejam, kamu tak berhati. Lima belas tahunku tanpa dirimu tak semudah perkataanmu. Lima belas tahunku tanpa melihat dan mendengar suaramu. Tak seringan pikiranmu tentang hidupku. Seandainya aku bisa memilih, ingin aku mati saat itu. Namun kamu pergi meninggalkan Hanna. Gadis kecil yang tak bersalah atas keegoisanmu. Buah hati kita yang lahir sebagai bukti cinta itu ada. Kamu yang angkuh dan terus menjauh. Merasa dirimu yang tersakiti, padahal kamu yang menyakiti!" ujar Agam emosi, dengan kasar Agam menarik selang infus di tangannya.


Tes Tes Tes Tes Tes


Darah segar Agam menetes memberikan warna lantai rumah sakit. Perawat yang mencoba menolong Agam. Tak mampu mendekat pada Agam, dengan sekuat tenaga Agam mendorong tubuh perawat menjauh darinya. Tika diam mematung melihat darah segar Agam yang terus menetes.


"Masih kurang merahkah darahku, sampai hatimu tak tersentuh sedikitpun. Aku sanggup mengucurkan seluruh darah dalam tubuhku. Selama itu mampu menggetarkan hatimu. Namun semua seakan tak berarti, kamu bukan Tika yang kukenal. Hatimu membeku, kamu sanggup melihat lukaku. Kamu kejam!" ujar Agam dengan suara yang semakin lemah.


Darah segar terus menetes, napas Agam mulai terlihat memburu dan susah bernapas. Sedikit demi sedikit Agam mulai kehilangan kesadarannya. Tika diam mematung, tak selangkahpun Tika mendekat. Tak lagi ada hak Tika merawat Agam. Semua menghilang tepat setelah ketuk palu hakim.


"Mas Agam!" teriak Zalwa histeris, dia langsung menghampiri Agam.


Zalwa memegang erat tangan Agam. Zalwa melepas hijab yang dipakainya. Dia menahan darah yang terus menetes dengan hijabnya. Agam dia acuh melihat sikap hangat Zalwa. Rasa khawatir Zalwa seolah tak ada harganya dihadapan Agam.

__ADS_1


Tika berjalan perlahan keluar dari ruangan Agam. Namun langkah kakinya terhenti, ketika mendengar suara tawa Agam. Suara yang seakan sedang menghinanya. Tika berdiam mematung menunggu Agam mengatakan maksud dalam tawanya.


"Aku telah salah mencintaimu. Selama lima belas tahun, aku menunggumu kembali. Aku merasa bersalah telah menyakitimu. Namun kenyataannya, kamu yang tak berhati. Kamu diam menatap aku meregang nyawa!" ujar Agam sinis, Tika tersenyum tipis mendengar perkataan Agam.


Zalwa terus menahan darah Agam, dia tidak peduli akan keberadaan Tika. Zalwa tidak ingin ikut campur dalam perdebatan Agam dan Tika. Dia hanya peduli pada darah yang terus mengalir dari lengan Agam.


"Nilai aku sesuka hatimu, tidak ada hakku melarangmu. Sejak dulu sampai sekarang, aku selalu salah dan salah. Jika hari ini aku diam, bukan berati aku tidak peduli. Sebab aku yakin akan ada wanita yang menjagamu dan itu bukan aku!" ujar Tika, Agam tertawa sangat keras mendengar perkataan Tika.


"Aku tidak bisa menjagamu, ada jarak nyata diantara kita. Zalwa wanita yang siap mengorbankan harga dirinya untukmu. Dia melepas hijab demi dirimu. Hijab yang menjadi jati diri dan kehormatannya. Zalwa mengorbankan segalanya demi cintanya padamu!" ujar Tika lirih.


"Tika tutup mulutmu, keluarlah dari kamar Agam. Kamu memang wanita tak berhati!" bentak Salma ibunda Agam.


"Aku permisi!" ujar Tika, lalu memutar tubuhnya berjalan menuju pintu kamar Agam.


"Mama, tetaplah disini!" sapa Arkan ramah, sembari menahan tangan Tika. Arkan mencium punggung tangan Tika. Lalu dengan hangat, Arkan merangkul tubuh Tika.


"Tuan Abdillah Abqari Agam, bukan mama yang egois. Sikap anda yang selalu membuat mama disalahkan. Membuat mama tak ingin menjadi bagian dari keluarga yang tak pernah menghargainya. Selama ini anda diam melihat mama disalahkan. Tak ada pembelaan yang anda berikan, malainkan sebuah keragauan tanpa alasan yang selalu anda perlihatkan. Selama ini mama diam, dia menahan hinaan dan cacian. Namun anda tetap diam tak berjuang. Anda berpikir setelah semua terjadi, anda bergerak saat semua telah hancur!" ujar Arkan, lalu mengajak Tika keluar dari ruangan Agam.


"Bukan hanya anda yang hancur, mama jauh lebih hancur!"

__ADS_1


__ADS_2