Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Tunggu Aku


__ADS_3

Arkan berjalan perlahan masuk ke dalam rumah sakit. Sudah dua hari Abi Salim di rawat. Tak satu kalipun Arkan datang menjenguk. Namun Arkan selalu memantau kondisi Abi Salim. Sebab Abi Salim ditangani oleh orang yang ahli.


Tepat pukul 21.00 malam, Arkan tiba di rumah sakit. Dia sengaja datang lebih malam, sebab Arkan tidak ingin bertemu dengan Aura. Hatinya masih terlalu lemah untuk berhadapan dengan Aura. Meski sesungguhnya apa yang terjadi hanyalah kesalahpahaman semata?


"Dokter Arkan?" sapa Aura lirih, seketika Arkan menghentikan langkahnya. Dia bingung harus menoleh atau menunggu Aura mendekat padanya.


Akhirnya Arkan menoleh, dia melihat Aura berdiri tidak jauh darinya. Aura sengaja menunggu Arkan datang. Dia ingin menjelaskan sesuatu. Sikap bodoh yang diambilnya, membuatnya jauh dari Arkan.


"Ada apa kak Aura? Apa terjadi sesuatu pada Abi Salim?" ujar Arkan tegas, Aura menggeleng.


Aura sengaja menemui Arkan bukan demi Abi Salim. Melainkan demi dirinya dan rasa kagumnya pada Arkan. Aura ingin mengatakan semua isi hatinya. Dia akan membuat Arkan mengerti akan rasanya.


"Aku mencarimu bukan demi Abi Salim. Melainkan semua demi rasaku untukmu. Kesalahpahaman yang terjadi, seharusnya dijelaskan. Agar tidak ada amarah yang tak sepantasnya ada!" ujar Aura lirih, Arkan menunduk lalu menggeleng pelan. Seakan dia tidak setuju dengan perkataan Aura.


Arkan merasa yang terjadi diantara dirinya dan Aura bukan kesalahpahaman. Melainkan kerapuhan rasa yang tak percaya satu dengan yang lain. Kelemahan cinta yang nyata tak pernah kuat. Arkan merasa pondasi hubungan yang retak sejak awal.


"Kak Aura tidak ada yang salah paham. Apa yang terjadi diantara kita? Membuatku tersadar, dirimu bukan untukku. Mungkin Hafidz jauh lebih baik dan pantas mendampingimu. Aku hanya laki-laki lemah tanpa daya yang tak pantas dipercaya!" ujar Arkan, Aura menggeleng seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.

__ADS_1


Aura meminta maaf pada Arkan penuh ketulusan. Aura tidak ingin melihat amarah Arkan yang jelas membuatnya hancur. Sebaliknya Arkan diam tak bergeming. Dia teguh pada pendiriannya, untuk tidak membuka hatinya pada Aura. Arkan belajar melupakan Aura, setidaknya sebelum rasanya terlalu dalam.


"Arkan, aku memang salah telah meragukanmu. Namun demi rasa yang nyata ada di hati kita. Tidak bisakah satu kali saja, kamu memaafkan diriku. Membuka hati pada wanita lemah tanpa cintamu ini. Arkan mungkin aku hina dengan menghiba padamu, tapi setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan hari ini!" ujar Aura dengan suara yang mulai terdengar serak.


Arkan diam membisu, dia bingung harus bersikap pada Aura. Arkan tak pernah menyadari, Aura bisa seberani ini. Kelembutan Aura berbanding terbalik dengan agresif sikapnya. Arkan menatap langit penuh bintang. Arkan mengingat perpisahannya dengan Aura pagi itu. Arkan meletakkan rasa dan kebahagiannya dalam ketetapan-NYA. Namun disaat Arkan belajar menerima jalan takdir. Aura seolah ingin membuat Arkan kembali pada cintanya.


"Kak Aura, aku tidak pernah ingin menyakitimu. Aku menjauh darimu, tak lebih demi kebaikanmu. Pilihan Abi Salim sangat tepat, Hafidz bukan hanya beriman dan berilmu. Dia calon imam dunia akhirat yang tepat. Dia punggung yang akan mampu menjadi sandaranmu. Laki-laki dengan kesempurnaan!" ujar Arkan tegas, Aura menatap lekat Arkan.


Satu tetes air mata telah membasahi pipi Aura. Perkataan Arkan bukan hanya penolakan. Melainkan pisau tajam yang menusuk hatinya. Kata demi kata yang keluar dari mulut Arkan. Menghancurkan harapan dan hidup Aura dalam satu pukulan. Aura menunduk menahan air mata yang seolah mengerti rasa sakit Aura. Air mata yang terus mengalir mewakili rasa sakit yang dirasakan Aura.


"Kak Aura, jadi kamu bersandar pada Hafidz. Ketika kamu merasa aku mengkhianatimu. Kamu cemburu melihatku memeluk Hanna dan dengan mudahnya kamu menganggapku sebagai pengkhianat!" sahut Arkan tak percaya. Aura diam membisu, Arkan menghela napas tak percaya.


"Aku takut kehilanganmu!" sahut Aura lirih, Arkan menggeleng lemah.


"Bukankah aku mengatakan padamu. Aku meletakkan semua rasaku padamu pada ketetapan-NYA. Kupasrahkan kebahagian kita pada ketentuan-NYA. Seharusnya sebagai seseorang yang beriman. Kak Aura percaya akan rasa yang ada. Tidak seharusnya kak Aura meragukan pertemuan diantara kita!" tutur Arkan, Aura menunduk merasa bersalah.


"Arkan aku mohon, maafkan kekhilafanku. Jangan hukum aku dengan menjauh dariku. Aku tidak sanggup menerima amarahmu. Akan kuterima apapun keputusanmu. Seandainya akhir hubungan diantara kita sudah menjadi pilihamu. Aku akan menerimanya, mungkin aku bukan makmum terbaik untukmu!"

__ADS_1


"Kak Aura, tidak perlu memohon padaku. Aku bukan laki-laki sempurna. Banyak kekurangan dalam diriku. Termasuk hati yang mudah hancur. Ketika aku mencintai dirimu. Aku menjauh darimu, bukan karena aku marah akan sikapmu. Aku hanya ingin mencari alasan dibalik rasaku padamu. Aku ingin mencintaimu dengan tulus, bukan hanya napsu semata!" sahut Arkan, Aura mundur beberapa langkah. Dia bersandar pada dinding rumah sakit.


Aura merasa lemah dan hancur, dia tidak bisa lagi mendengar perkataan Arkan. Sebuah kata yang hanya ingin menegaskan akhir rasa diantara keduanya. Aura merasa lemas, dia tak lagi ingin mendengar alasan yang membuatnya semakin merasa bersalah.


Arkan menoleh ke arah Aura yang bersandar pada dinding rumah sakit. Arkan melihat kerapuhan Aura yang disebabkan oleh sikap kerasnya. Arkan berjalan perlahan menghampiri Aura. Dengan tangan bergetar, Arkan mengangakat dagu Aura. Sesuatu yang tak seharusnya Arkan lakukan. Menyentuh Aura bukan hal yang benar, tapi seakan benar ketika Arkan hanya ingin menenangkan Aura.


"Jangan menangis, kecantikan wajahmu akan hilang. Tatkala air mata membasahi pipimu. Percayalah, jika rasa diantara kita tulus. Maka aku akan halal menyentuhmu kelak. Yakinlah akan janji diantara kita itu suci. Agar hatimu ikhlas menunggu ijab qobul dari diriku. Kesalahpahaman yang terjadi, anggap itu sebagai jalan awal kita mengenal. Seperti yang kukatakan pada Abi Salim. Tanganku masih terlalu lemah menggandengmu. Sebab beban berat masih ada dalam hatiku yang gelap!" ujar Arkan tegas sembari menatap dua bola mata indah Aura.


"Arkan, maafkan rasaku yang lemah!" ujar Aura lirih. Arkan menggeleng tak setuju.


"Bukan rasamu yang lemah, tapi napsu yang mengusai hatimu. Tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Pasrahkan rasa yang ada diantara kita. Aku akan datang meminangmu, ketika aku sudah bisa membahagiakanmu!"


"Arkan, seandainya aku boleh jujur. Kebahagianku bukan ada dengan kemewahan atau hidup berkecukupan. Kebahagianku kala dirimu menjadi imam sholatku!" sahut Aura, Arkan mengangguk mengerti.


"Aku tahu itu, tapi punggungku masih terlalu rapuh untuk menopangmu. Sebab dalam hatiku ada sisi gelap yang belum mampu aku terangi dengan iman!" ujar Arkan lalu menyentuh hidung Aura pelan. Arkan berjalan menjauh meninggalkan Aura yang tersipu malu.


"Aku mencintaimu karena Allah SWT. Tunggu aku wahai makmum penggetar hatiku!" ujar Arkan lantang, Aura mengangguk tanpa ragu.

__ADS_1


__ADS_2