
"Aku takkan pernah mengkhianati ikatan cinta kita. Aku takkan bisa menggantikan dirimu dengan cinta yang lain!"
"Kak Hafidz!" Ujar Savira dan Hanna hampir bersamaan.
"Tidak perlu kamu mencarikan aku cinta yang lain. Karena selamanya aku akan memegang cinta kita!" Sahut Hafidz dingin, Hanna tersenyum melihat Hafidz berdiri tepat di depan pintu.
"Akhirnya dia datang. Lihatlah cantik, pangeran pujaanmu berdiri disana. Tersenyumlah, kebahagianmu kini lengkap. Dia dan pangeran kecilmu akan ada disini. Menjadi semangatmu dan kekuatan bagiku. Aku takkan lemah, akan kupastikan kamu baik-baik saja!" Bisik Savira, Hanna mengangguk lemah. Seutas senyum menghiasi bibir mungil Hanna.
"Insyaallah Savira!" Sahut Hanna tegas, Savira menyahuti dengan anggukan kepala.
"Aku tahu, jika Allah SWT mengizinkan. Aku percaya, Allah SWT sesuai prasangka hamba-NYA dan aku berprasangka baik. Jika kamu akan baik-baik saja!"
"Aku percaya pada ketetapan-NYA dan aku yakin akan kesungguhanmu. Kita akan berjuang sampai akhir. Jika kamu kuat demi aku, sudah sepantasnya aku lebih tangguh darimu!" Sahut Hanna lemah, Savira mengangguk lalu mencium kening Hanna.
"Takkan kubiarkan senyum di wajah cantikmu pundar!" Ujar Savira, sembari mengusap lembut pipi Hanna.
Tap Tap Tap
"Temui Hanna, dia merindukanmu. Hanya kamu yang dicarinya, saat pertama kali tersadar. Seandainya Hanna tidak menanyakan dirimu. Mungkin tanganku sendiri yang menyeret tubuhmu menjauh dari Hanna. Bahkan bayangan Hanna takkan mampu kamu lihat!" Bisik Savira dingin dan tegas. Lalu pergi tanpa menoleh atau menunggu jawaban Hafidz
Braakkk
"Kenapa berdiri begitu jauh? Tidakkah kakak merindukanku?" Ujar Hanna lirih, suara Hanna lemah. Sisa tenaganya terkuras, tubuhnya benar-benar lemah. Tatapan Hanna sayu, menatap sendu Hafidz orang yang paling dicintainya.
Hafidz diam mematung, menatap tubuh lemah Hanna. Wajah cantik Hanna masih terlihat jelas, meski tanpa make up. Wajah cantik yang terlihat dibalik pucat dan lemah tubuh Hanna. Sebening bulir air mata Hafidz menetes. Hatinya terasa sakit, dadanya terasa sesak, tulang belulangnya lemah tak bertenaga. Tubuhnya terasa ringan bak kapas. Hafidz merasa melayang, kala menatap Hanna yang jelas tidak baik-baik saja.
"Kak, kemarilah!" Ujar Hanna lagi, tangan lemahnya terjulur ke arah Hafidz. Berharap Hafidz datang merangkulnya. Menggenggam erat tangan mungil yang kini mulai kurus.
Bugghh
"Hanna!" Teriak Hafidz, sembari menggenggam tangan Hanna.
Hafidz terlambat, tangan Hanna jatuh sebelum dia berhasil menggenggamnya. Suara benturan tangan Hanna dengan tempat tidur. Semakin menghancurkan hati Hafidz yang tak lagi utuh. Tangan lemah Hanna tak lagi mampu menggapai Hafidz. Jangankan menggenggam, menunggu uluran tangan Hafidz. Seolah Hanna tak lagi mampu, lemah dan tak berdaya. Kondisi Hanna saat ini.
"Maaf kak, tanganku tak lagi mampu menunggumu. Tangan ini terlalu lemah, untuk menanti tangan hangatmu. Semua telah berubah, aku lemah dan tak berdaya. Namun percayalah kak, dalam tubuh lemahku. Putramu tetap baik-baik saja. Dia akan lahir dengan sehat, tampan sepertimu!"
"Aku tahu!" Sahut Hafidz datar, lalu mencium lembut tangan Hanna.
__ADS_1
Tangan mungil yang dengan erat digenggamnya. Tangan lemah yang tak ingin dia lepaskan. Hafidz menggenggam erat tangan Hanna. Mendekap tangan istri belahan jiwanya. Berharap hangat cintanya, mampu menghapus dingin yang menyergap tubuh Hanna. Dingin yang mulai terasa, saat Hafidz menyentuh pipi Hanna.
"Aku baik-baik saja, kakak tidak perlu cemas!" Ujar Hanna, Hafidz diam membisu. Tak ada sahutan atau anggukan kepala. Hafidz menunduk semakin dalam. Menyembunyikan air mata yang memaksa untuk menetes.
"Percayalah kak, aku baik-baik saja. Tidak akan terjadi hal buruk padaku!" Ujar Hanna, Hafidz diam lalu mengangguk.
"Hemmm!" Hafidz berdehem menyahuti perkataan Hanna. Berpikir Hanna akan tenang dengan suara singkatnya.
"Angkat kepalamu kak, tatap aku dengan cintamu. Sudah lama dingin ada diantara kita. Jarak yang tercipta mulai mengikis ikatan suci kita. Waktu menjadi batas tak terlihat yang memisahkan kita. Setidaknya hari ini, biarkan aku merasakan hangat pelukanmu. Bahagia dengan tulus cinta yang pernah kamu tawarkan. Jangan biarkan lemahku menjadi jarak pemisah. Aku merindukanmu kak, sangat merindukanmu!" Tutur Hanna dengan sisa tenaganya. Hafidz mengangkat kepalanya.
Hafidz menatap nanar wajah Hanna. Menguasap pipi lembut Hanna dengan jarinya. Pipi Hanna yang dingin, membekukan jari tangan Hafidz. Beku yang menusuk jauh ke dalam hatinya. Lama Hafidz mengusap pipi Hanna, termenung menatap wajah yang tak lagi segar. Hanna tersenyum simpul penuh rasa bahagia. Hangat tangan Hafidz menggetarkan hati yang dingin. Usapan demi usapan Hafidz, menggetarkan tubuh kecil yang ada di rahim Hanna. Kerinduan sama akan kehangatan ayah yang lama tak terasa.
"Sayang, kamu merindukan ayah. Maafkan mama yang membuatmu jauh darinya. Kini dia ada di depan mama. Apa kamu merasakan hangat tangannya? Tangan kekar yang kelak menuntunmu, menggantikan tangan mama yang mungkin tak sempat menggenggammu. Sayang, apa kamu tahu? Ayahmu begitu tampan, kelak jaga dan lindungi ayahmu. Bantu dia menemukan cinta yang lain. Percayalah sayang, tanpa mama kalian pasti bahagia. Ayah orang yang baik, dia akan menemukan mama yang lebih baik untukmu. Jangan marah pada ayah, kalian harus saling menguatkan. Mama akan ada di hati kalian. Mama sayang kalian!" Batin Hanna sembari mengusap lembut perutnya. Tendangan si kecil membuat Hanna terharu. Dia yakin, putranya juga merindukan Hafidz.
"Haruskah kamu setenang ini? Lagipula senyummu takkan mampu menghapus kesedihanku. Hatiku sakit Hanna, bukan hanya karena melihat sakitmu. Namun aku sakit, saat aku menyadari betapa bodohnya aku? Sedikitpun aku tak pernah menyadari sakitmu, aku tak bisa merasakan luka yang ada dihatimu. Sekali saja Hanna, biarkan aku melihat lemahmu. Katakan padaku sakitmu, jangan biarkan aku menjadi orang terakhir yang menyadari dukamu. Bersandarlah padaku, agar aku merasa pantas menjadi imammu!" Ujar Hafidz lirih.
"Tangan kiri tak perlu mulut, untuk mengatakan pada tangan kanan akan sakitnya. Tangan kiri mampu menahan sakit, selama bisa membantu tugas tangan kanan. Sebaliknya tangan kanan, akan menggantikan tugas tangan kiri saat dibutuhkan. Dua tangan itu, ibarat hubungan diantara kita. Tak perlu kata, untuk menjelaskan rasa sakit. Tak perlu pengertian, agar bisa saling mengerti. Tak perlu menyalahkan, seandainya ada yang tak sepaham. Sejatinya tangan kiri akan melengkapi ruas tangan kanan. Sebaliknya tangan kanan, akan menguatkan tangan kiri yang lemah. Tanpa tangan kanan berpikir, tangan kiri lebih rendah atau dirinya lebih tinggi. Keduanya ada untuk menyempurnakan satu dengan yang lain!"
"Hanna!"
"Jika kamu hancur tanpaku, apa kamu pikir aku kuat tanpamu?"
"Kak kuat dan harus kuat, bukan demi diriku tapi demi putra kita. Kenang aku dihati terdalammu, tulis namaku di dinding hatimu. Namun berjanjilah, kakak akan tetap hidup bahagia tanpa diriku. Temukan cinta yang akan membuat kakak bahagia!"
"Jika aku memilih tiada bersamamu!" Ujar Hafidz tegas, sontak Hanna menutup mulut Hafidz dengan telapak tangannya. Hanna menggeleng lemah, isyarat Hanna tidak setuju.
"Jangan pernah katakan itu, kakak harus kuat. Putra kita membutuhkanmu, dia merindukanmu. Suaramu yang ingin dia dengar pertama kali. Lantunan azan dari bibirmu, cahaya iman yang kelak menerangi jalannya. Tangan hangatmu yang dinantikannya. Membelai lembut pipi gimbulnya, mendekap hangat tubuh mungilnya. Aku percaya, kakak mampu mendidik putra kita dengan cinta. Namun seandainya kelak ada cinta yang lain dihatimu. Aku mohon, biarkan putraku tumbuh bersama keluargaku. Aku pernah merasakan hidup dengan keluarga baru dan itu sangat tidak nyaman!"
"Cukup Hanna, cukup!" Teriak Hafidz, seketika Hanna terdiam. Hafidz berdiri membelakanginya. Nampak jelas punggung tegapnya. Punggung yang seolah dinding pembatas diantara mereka.
"Kak!"
"Kenapa kamu membuatku semakin bodoh? Tak sedikipun kamu membenciku. Tak ada amarahmu pada bunda, meski sikapnya sangat tidak pantas. Sampai kapan Hanna kamu membuatku dihantui rasa bersalah? Tidakkah ada satu kesempatanku, menebus semua dosaku padamu. Mengganti air mata yang menetes dari mata indahmu. Menjadi seorang suami yang pantas dan layak melindungimu!"
"Tak ada kekurangan dalam dirimu. Cintamu memberikan kebahagian tanpa batas. Kasih sayangmu yang membuatku tersenyum tanpa alasan. Cinta dari hati yang kamu tawarkan, membuatku bahagia hingga akhir hidupku. Tak ada keluhan, tak ada cacian, tak ada penyesalan. Putraku datang karena cintamu, aku pergi dengan membawa cintamu. Aku sangat mencintaimu!" Tutur Hanna, dengan napas yang mulai terengah.
"Tidak Hanna, jangan pergi!" Ujar Hafidz cemas, Hafidz mendekap Hanna erat.
__ADS_1
Tit Tit Tit
"Tidak Hanna, aku mohon tetaplah disisiku!"
"Terima kasih, kakak mengenalkanku arti cinta!" Bisik Hanna dengan setengah kesadarannya.
Braaakkkk
"Hanna!" Teriak Arkan dan Savira, mereka berlari saat mendengar panggilan dari Hafidz.
"Tidak Hanna, kamu akan terus bersama kami!" Gumam Savira, sembari terus mengembalikan kesadaran Hanna.
"Hafidz, keluarlah!" Pinta Arkan, Hafidz diam mematung. Tulang belulangnya kaku, Hafidz tak mampu melangkah keluar. Tubuh Hanna yang mendingin membuatnya membeku. Hafidz ketakutan, dia takut kehilangan Hanna.
"Dokter Arkan, tidak ada jalan lain!" Ujar Savira, Arkan mengangguk pelan.
"Apa dia sudah datang? Ruangannya sudah disiapkan!" Ujar Arkan, Savira mengangguk pelan.
"Semua sudah datang, tapi dokter yang Hanna diminta Hanna belum datang. Entah dia datang atau tidak?" Ujar Savira sinis.
"Dia akan datang, karena Hanna percaya hanya padanya!" Sahut Arkan mantap, Savira mengangguk pelan.
"Dokter Arkan, kita harus cepat. Waktu kak Hanna tidak banyak!"
"Akhirnya kamu datang!" Sahut Arkan, sesaat setelah mendengar suara sedang memanggilnya. Arkan dan Savira membawa Hanna keluar dari ruang rawat.
"Apa kakak suami kak Hanna?" Hafidz mengangguk pelan.
"Kak Hanna sangat mencintaimu, begitu besar cintanya padamu. Sampai dia sanggup memintaku menjadi istrimu. Menggantikan posisinya sebagai ibu putranya. Sungguh wanita berhati besar, cinta tulusnya membuatku tergetar. Namun percayalah, aku tak pernah setuju dengan permintaannya. Aku akan membantunya, tapi bukan menjadi istri suaminya. Melainkan saudara yang menggantikan kewajibannya sebagai ibu!"
"Pantas kamu begitu menyayanginya? Terlihat jelas cintanya padamu, sakit yang takkan sembuh meski aku menggantikan posisimu. Sungguh cinta yang hebat, cinta yang mulai hilang terkikis zaman!" Batin Dokter Aura lirih.
...☆☆☆☆☆...
**Hai pembaca,
Maaf author lama tidak up, bukan sengaja melainkan ada halangan. Beberapa hari yang lalu, author mengalami kecelakaan. Sehingga dua tangan author cedera dan sulit digerakkan Sekali lagi maaf dan terima kasih**.
__ADS_1