
"Sayang, apa kamu melihat mama? Sejak tadi pagi aku tidak melihat mama!" tanya Arkan santai, Aura menggeleng lemah. Arkan mengeryitkan dahi, dia tidak mengerti dan bingung. Tidak biasanya Tika pergi tanpa berpamitan.
Arkan berjalan menuju garasi rumah Dimas. Arkan semakin bingung ketika melihat mobil Tika tidak ada. Sudah sangat lama Tika tidak pernah mengendarai mobil sendiri. Dia selalu diantar oleh Arkan atau Vahira. Jika tidak Tika memilih menggunakan taxi. Namun hari sungguh tidak biasa. Tika pergi membawa mobil sendiri. Entah kemana dia pergi?
"Ada apa Arkan? Kamu mencari siapa?" ujar Dimas, Arkan menoleh dengan raut wajah terkejut.
Semenjak Arkan dan Tika memutuskan kembali ke negara ini. Mereka tinggal di rumah Dimas. Setidaknya mereka bisa menjaga Dimas dan Nissa. Arkan menghela napas panjang, mengeluarkan kebingungan yang melanda hatinya. Dimas mengangguk mengerti arti helaan Arkan. Dengan lembut Dimas menarik tubuh Arkan duduk di sofa ruang tengah.
Dimas mencoba mengenal cucu pertamanya. Putra yang terlahir dari rahim Kartika Putri Anggara. Putri alasan dirinya dan Nissa bersatu. Kisah cinta yang tak mudah, tapi abadi sepanjang masa. Dimas menuntun Arkan duduk santai di depan TV. Ruang tengah yang sengaja didesain luas. Agar semua keluarga bisa berkumpul menjadi satu. Dimas menepuk pelan pundak Arkan. Mencoba menenangkan cucu yang tak pernah ada dalam dekapannya.
"Siapa yang sedang kamu cari? Kamu khawatir kemana perginya Tika?" ujar Dimas lirih, Arkan menoleh kaget. Dia tidak menduga Dimas dengan mudah mengerti cemasnya. Kegelisahan akan kemana perginya sang ibu. Membuatnya kalut tak bisa berpikur jernih.
Tak berapa lama, terlihat Aura datang membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan. Aura meletakkan di meja yang ada di depan Dimas dan Arkan. Namun jelas Arkan tak peduli, ketika Aura menyajikan untuknya. Dimas tersenyum simpul, saat Aura memberikan secangkir kopi padanya. Dimas memahami kecemasan Arkan, tapi disisi lain dia melihat raut wajah kecewa Aura. Saat perhatiannya tak dipedulikan Arkan.
__ADS_1
"Aura, duduk bersama kami. Arkan tidak bermaksud melukai hatimu. Dia sedang khawatir akan keadaan mamanya. Terkadang mengerti itu sakit, tapi cobalah memahami Arkan. Hanya Tika yang ada dihidupnya selama ini. Sekali dia kehilangan Tika, dia akan gelisaha dan kalut. Bukan dia tidak peduli padamu!" ujar Dimas santai, Aura mengangguk tanpa berani menatap Dimas. Aura merasa malu dengan sikapnya yang tak pantas.
Arkan seketika menoleh ke arah Aura. Dengan lembut dia menarik tangan Aura. Menuntun Aura duduk di samping Arkan. Dengan lembut Arkan menggenggam tangan Aura. Arkan tidak merasa malu, meski ada Dimas di samping mereka. Sebaliknya Dimas yang memahami dilema Arkan dan Aura. Hanya tersenyum bahagia, Dimas mengingat jelas. Masa-masa dimana dia dan Nissa selalu berselisih paham? Dimas sangat mengerti rasanya marah tapi sayang. Layaknya pengantin baru yang sedang memadu kasih.
"Maaf!" ujar Arkan lirih sembari mencium lembut punggung tangan Aura. Dengan malu-malu Aura mengangguk pelan. Dia tersenyum menerima perlakuan hangat Arkan.
"Aku yang minta maaf telah bersikap seperti anak-anak!" ujar Aura, seketika Arkan menarik tubuh Aura masuk dalam dekapannya. Dimas tersenyum bahagia melihat cucunya mendapatkan cintanya.
"Agghhhmmm!" Dimas berdehem, seolah mengingatkan Arkan dan Aura akan keberadaannya. Sontak keduanya melepaskan pelukan mereka. Dimas terkekeh melihat Arkan dan Aura yang terkejut. Dimas seolah kembali muda hanya dengan melihat Arkan dan Aura.
"Kemanapun Tika pergi? Kakek yakin dia bisa menjaga diri. Tidak perlu kamu cemas, adakalanya kamu percaya pada Mamamu. Kakek malah senang melihat Tika seperti ini. Keluar dari rasa nyaman yang selama dia pilih. Tika tidak selemah itu, sehingga harus dikhawatirkan. Tika lebih kuat dari pemikiran kita. Kakek tak pernah mencemaskan Tika. Selama ini kakek selalu diam melihat duka dan suka Tika. Tak pernah kakek datang memeluknya, bahkan ketika air mata dan sakit mengisi hari-harinya!" ujar Dimas tenang, Arkan diam menunduk. Dia mengerti jelas saat-saat terpuruk Tika, tapi tak seorangpun yang ada disampingnya.
"Bukan kakek tidak menyanyangi Tika. Namun sebaliknya, kakek sangat mengenal siapa dia? Wanita lemah tapi tak ingin dikasihani. Seorang anak yang takkan ingin melihat air mata dan gelisah orang tuanya. Tika lebih baik menahan air matanya. Agar tak ada yang melihatnya. Maka dari itu, kakek tak pernah khawatir padanya. Agar Tika bisa menangis sepuasnya. Setidaknya dengan menangis, Tika bisa meluapkan semua dukanya!" ujar Dimas, Arkan menoleh dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
Selama ini Arkan berpikir, tidak ada yang menyayangi Tika. Mereka semua seolah baik-baik saja. Meski selama lima belas tahun mereka pergi. Arkan merasa tak ada yang merindukannya. Semua orang seolah menganggap lima belas tahun waktu yang sebentar. Tak ada yang berubah, semua terlihat sama. Namun semua pemikirannya salah. Dangkal pemikirannya akan hubungan diantara Tika dengan orang disekitarnya. Membuat Arkan berprasangka buruk, tapi semua telah berubah. Saat dia mendengar sendiri. Betapa besar pengertian mereka akan keras hati Tika.
"Maafkan Arkan yang selalu berpikir buruk!" ujar Arkan lirih, Dimas menggeleng lemah. Dimas menepuk pelan pundak Arkan.
"Kamu tidak salah, kami keras pada Tika. Selama ini dia sendirian menghadapi dukanya. Tika bukan hak kami setelah dia menikah dengan Agam. Tika pribadi yang kuat, bahkan kuat Tika yang membuatnya memutuskan hubungan dengan Agam. Meski jelas dia sangat terluka dan merindukan Agam. Hanya Agam laki-laki yang dicintai dan menggetarkan hati Tika!"
"Jika memang ada cinta diantara mereka. Kenapa perpisahan yang dipilih? Keluarga kami hancur tanpa sisa. Aku dan Hanna harus terpisah dan memilih, tanpa tahu kesalahan kami apa? Kami harus bergantian memeluk papa dan mama. Ketika ada papa, kami kehilangan mama. Hati kamu terisi separuh, hidupku tak pernah lengkap!" ujar Arkan lirih seraya menunduk.
Seketika Dimas menoleh, perkataan Arkan seolah rintihan seorang anak yang kekurangan kasih sayang. Dimas merasakan pahitnya hidup yang dijalani Arkan. Dibalik senyum Arkan tersimpan nyata air mata yang tak sanggup menetes. Ketegaran yang menutup rapat, rapuh hati seorang anak. Semata demi menjadi anak yang kuat didepan sang ibunda tercinta. Dimas menepuk pundak Arkan pelan. Mencoba menenangkan Arkan, jika semua akan baik-baik saja.
"Jika hidupmu tak sempurna, kenapa tidak mencoba menyempurnakannya? Dulu Tika meninggalkan kalian. Demi cinta dan baktinya pada Agam. Agar sang imam tak menjadi anak durhaka di depan orang tuanya. Sekarang satukan mereka dengan cinta kalian. Ikatan diantara mereka masih sangat kuat. Dan akan semakin kuat dengan harapan dan kasih sayang kalian!" sahut Nissa santai, lalu duduk tak jauh dari Dimas.
Sontak Dimas menghampiri Nissa. Dengan mesra Dimas bersandar pada tubuh Nissa. Seolah Dimas tidak menganggap keberadaan Arkan dan Aura. Nissa hanya bisa menggeleng melihat sikap Dimas yang manja padanya.
__ADS_1
"Tidak mungkin bisa!" sahut Arkan.
"Kata siapa? Dulu kami berpisah, tapi kami bersatu demi senyum mamamu. Sekarang buat mereka bersatu demi senyummu dan Hanna. Percaya atau tidak, cinta mereka masih ada dan selamanya ada!" ujar Nissa hangat.