Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Siapa dia?


__ADS_3

3 TAHUN KEMUDIAN


"Assalammualaikum!"


Suara merdu wanita cantik berhijab, membuyarkan lamunan penjaga gerbang. Ramah sikap dan senyum manis yang terutas. Menyejukkan hati setiap orang yang memandangnya. Wanita berparas teduh, berjalan perlahan memasuki gerbang tinggi sebuah rumah megah. Langkah kakinya terdengar layaknya simfoni, tearah penuh ketegasan. Gesekan kerikil kecil dengan sepeda yang didorongnya. Menunjukkan betapa sopan dan beradabnya sang wanita.


"Waalaikumsalam nona!" Sahut sang penjaga gerbang.


Nampak tangannya menjulur, meminta sepeda motor matic yang tengah didorongnya. Sang nona muda menggeleng, menolak bantuan dari sang penjaga. Senyum di wajah teduhnya, mengisyaratkan dia bisa melakukannya sendiri. Dengan tenang dan perlahan, sang wanita melangkah semakin ke dalam. Tatapan penuh kekaguman sang penjaga, mengiringi langkah nona muda rumah besar tempatnya bekerja.


"Senyum yang menenangkan bagi yang menatapnya. Namun siapa sangka? Dibalik senyum manis itu, ada luka yang tergores begitu dalam. Kebahagian yang direnggut dengan paksa dari wajahnya. Sungguh nona berhati baik, tidak mungkin Allah SWT menyakiti hati orang sebaik nona. Mungkin kepedihan yang ada saat ini. Awal kebahagian sejati nona, ketenangan di dunia dan akhirat. Kebaikan nona akan dibalas dengan surga-NYA. Apapun yang terjadi pada nona, selamanya aku akan mendoakan kebahagian nona. Termasuk hari ini, setelah sekian tahun nona tak bertemu dengannya. Malam ini nona akan mendapatkan kebahagian yang selama ini menghilang!" Batin penjaga, seseorang yang telah mengenal nona muda dengan sangat baik. Orang yang melihat sang nona sejak kecil sampai sekarang. Keluarga yang tak lagi menganggap dirinya orang lain, meski kedudukannya hanya sebatas penjaga rumah.


Tok Tok Tok


"Assalammualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Sahut Tika, lalu melangkah menuju ruang tamu.


Tika menatap lekat wanita muda yang berdiri di depan pintu. Gamis panjang menutup sempurna tubuh indah sang wanita. Hijab panjang menutupi rambutnya yang indah dan mempesona. Nampak tas kecil di punggungnya, sepatu sport putih melekat di kakinya. Penampilan yang begitu santai, sopan penuh keteduhan. Sang wanita mengutas senyum yang terasa menyejukkan.


Dua bola mata Tika terasa panas, setetes bening jatuh di pelupuk matanya. Sontak Tika mengusap air matanya, agar tak terlihat dan membuat sang tamu canggung. Bibirnya bergetar dibalik cadar. Tika merasa bahagia, sekaligus tak percaya. Setelah bertahun-tahun, dia melihat wajah yang begitu dirindukannya. Seketika Tika merentangkan tangannya, menawarkan pelukan hangat dan penuh cinta. Langkah ragu sang wanita, sedikit menusuk hati Tika. Keraguan yang jelas menanyakan hubungan diantara mereka.


"Kenapa kamu masih ragu sayang? Aku bukan orang lain, aku mama kandungmu!"

__ADS_1


"Maaf!" Sahut sang wanita, lalu dengan langkah kecilnya. Dia melangkah menghampiri Tika, menerima pelukan hangat yang ditawarkan seorang ibu.


Tika menguasap lembut rambut yang tertutup sempurna oleh hijab. Dekapan hangat Tika, menenangkan hati sang wanita. Putri yang lama jauh darinya. Malam ini berdiri tepat di depannya. Erat pelukan Tika, pertanda begitu berat rindu yang selama ini ditanggung Tika.


"Mama merindukanmu!" Ujar Tika lirih, anggukan kepala yang terasa dalam dekapan Tika. Seolah jawaban rindu yang sama akan pertemuan malam ini. Kerinduan yang belum sepenuhnya dimengerti, tapi nyata membisik dihati terdalamnya.


"Kita masuk ke dalam, semua orang sudah menunggumu!" Ujar Tika, seraya menarik tangan sang wanita. Sepintas nampak gelengan kepala dari sang wanita. Rasa ragu yang semakin jelas terlihat di raut wajah cantiknya.


Tika merasa penolakan itu sebagai sebuah hal yang benar. Bertemu dengan orang-orang yang tak lagi dikenalinya. Berada di lingkungan yang terasa tak pernah ditinggalinya. Merasa asing saat berdiri diantara keluarganya. Bukanlah ketakutan yang tak biasa, tidak mudah menenangkan hati yang ragu. Menghapus gelisah yang menyelimuti jiwa yang sejak awal tak tenang.


"Mereka keluargamu bukan orang lain. Lagipula ada mama, percayalah semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang memaksamu mengenali mereka. Semuanya akan tetap diam, jika kamu ingin mereka diam. Sebaliknya mereka akan hangat, saat kamu ingin mengenal mereka. Sudah saatnya kamu ada di samping keluargamu. Tak ada ancaman saat bersama keluarga. Malah kita akan tenang, karena kita merasa aman!" Tutur Tika menenangkan, lagi dan lagi hanya anggukan kepala yang terlihat oleh Tika.


Tika tersenyum sembari menatap wajah sang putri. Tak ada kebahagian yang paling membahagiakan di masa tuanya, selain menatap wajah sang putri yang lama dirindukannya. Tika menuntun putrinya dengan lembut dan hangat. Tangan dan belaian yang sama puluhan tahun lalu. Tahun-tahun terakhir yang akhirnya memisahkan mereka. Tika menatap putrinya yang terus menunduk. Tak ada suara yang keluar dari bibir putrinya. Hanya langkah pelan dan kecil putrinya. Terdengar menggetarkan hatinya, lagi dan lagi mengingatkan Tika akan puluhan tahun silam.


"Sayang, mama tidak hanya merindukanmu. Mama sangat ingin mendengar suara merdumu. Sejak pertama kamu melangkah masuk ke dalam rumah ini. Tak sekalipun mama mendengar suaramu. Kamu diam membisu, menyimpan suara merdumu. Sikap dingin dan takutmu, menelisik hati mama. Mengingatkan mama jarak yang pernah ada dan nyata ada diantara kita. Mama merindukanmu sayang, sangat merindukanmu!" Batin Tika pilu, tapi Tika tetap tersenyum menerima semua sikap dingin dan ragu putrinya.


"Assalammualaikum!"


Nampak sepasang mata menatap sang pemberi salam. Dua bola mata yang begitu lekat dan tegas, mengunci bahkan seakan ingin menelan sosok yang ada di depannya. Rasa terkejut yang diiringin rasa bahagia tak terkira. Membuatnya spontan berdiri, menatap haru sosok yang ada di depannya.


Braakkk


"Hannna!" Gumamnya lirih, bersamaan dengan jatuhnya kursi di belakangnya.

__ADS_1


"Hanna!" Sapa Agam penuh hangat, Hanna dan Tika mengangguk bersamaan. Senyum simpul nan manis terutas di bibir mereka.


Hanna berjalan menghampiri Agam, mencium punggung tangan Agam dengan penuh kasih sayang. Agam memeluk erat sang putri yang telah kembali. Hanna menyapa satu per satu anggota keluarga yang ada di depannya. Arkan saudara kembar yang terlupa oleh Hanna. Dengan sigap merentangkan tangan. Uluran tangan yang mengisyaratkan mereka saudar kandung. Seseorang yang mukhrim dengan Hanna.


"Aku kakak kandungmu, bukan orang lain. Setidaknya kita bisa berpelukan, setelah sekian tahun tak bertemu!" Ujar Arkan santai, Hanna mengangguk pelan. Dengan langkah anggun nan mungilnya, Hanna berjalan menghampiri Arkan. Menyambut pelukan hangat saudara yang begitu disayanginya.


"Maaf!" Ujar Hanna lirih, sesaat setelah memeluk Arkan. Lalu memeluk Aura yang berada di samping Arkan. Pelukan yang dulu terasa hangat bagi Hanna. Kini terasa asing, sangat asing.


"Dia Hafidz, sahabatku!" Ujar Arkan memperkenalkan Hafidz pada Hanna.


Hafidz mengulurkan tangan, berharap berjabat tangan dengan Hanna. Namun dengan sopan Hanna menolak. Hanna menangkupkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Anggukan kepala Hanna, cara Hanna menghormati Hafidz. Seakan pertemuannya malam ini dengan Hafidz baru pertama kali baginya. Hafidz hanya bisa ikhlas melihat Hanna. Tak ada yang bisa dilakukannya. Meski hatinya menjerit ingin mendekap Hanna atau sekadar menjabat tangan Hanna. Namun keadaan membuatnya berbeda.


"Hafidz!" Ujar Hafidz ramah, seraya menangkupkan tangan. Membalas sikap ramah Hanna, menghapus sikap canggung yang ada di hati terdalamnya.


"Siapa dia? Nama dan suaranya tak asing. Mungkinkah dia orang yang ada di masa laluku. Siapapun dia? Maafkan diriku, seandainya aku melupakan hubungan diantara kita. Saat ini bukan masa lalu yang ingin aku pikirkan. Hidupku hanya untuk masa depan. Menjadi pribadi yang lebih baik dari pribadiku dulu!" Batin Hanna.


"Hanna Ramaniya Santika, panggil aku Hanna!" Sahut Hanna ramah. Seketika Hafidz memegang dadanya, terasa sesak sampai dia tak mampu bernapas.


"Sayang, aku merindukanmu!" Batin Hafidz pilu.


"Papa!"


"Davin, jangan berlari!" Sahut Hafidz lantang.

__ADS_1


Deg Deg Deg


"Davin, siapa dia?" Batin Hanna, seraya menatap bocah tiga tahun yang tengah berlari menghampiri Hafidz.


__ADS_2