Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Rumah Sakit


__ADS_3

"Dokter!" teriak Arkan, dia berjalan tergesa-gesa. Sontak dokter jaga dan suster IGD menghampiri Arkan. Mereka langsung merawat anak yang digendong Arkan. Terlihat kondisi anak yang sangat parah.


Arkan berjalan setengah berlari. Kedua tangannya menggendog seorang anak yang terluka. Terjadi kecelakaan tepat di depan rumah sakit. Kebetulan Arkan baru saja sampai di rumah sakit. Dengan sigap Arkan berjalan menghampiri para korban kecelakaan. Arkan meminta bantuan para tenaga medis. Namun saat Arkan melihat anak kecil yang menjadi korban kecelakaan. Arkan langsung menggendongnya masuk ke dalam rumah sakit.


Arkan seakan tak peduli pada sekelilingnya. Arkan hanya fokus pada kondisi anak itu. Luka parah di kepalanya membuat darah mengalir tanpa henti. Arkan sempat melepas jaket yang dipakainya. Arkan menyelimuti tubuh sang bocah, saat Arkan melihat tubuh sang anak mulai menggigil.


"Dokter Arkan!" sapa Bayu, Arkan menoleh sesaat setelah meletakkan anak di atas ranjang rumah sakit.


Baju yang dipakai Arkan tak lagi berbentuk. Warna merah darah merubah warna kemeja putih yang dipakainya. Arkan tak lagi peduli dengan kondisinya. Dia hanya fokus pada kondisi sang anak.


Bayu melihat Arkan yang datang dengan menggendong seorang anak. Bayu menangkap raut wajah penuh rasa cemas. Jelas bayu melihat kehangatan seorang Arkan pada anak kecil yang tak pernah dikenalnya. Sikap diam dan dingin Arkan terbantahkan. Ketika semua mata melihat sikap Arkan pada sang anak.


Bayu datang bersama Nissa. Akan ada seminar yang dihadiri Nissa. Saat mereka berjalan menuju ruang aula. Mereka melihat Arkan yang datang sembari menggendong anak korban kecelakaan. Di waktu yang sama, Agam dilarikan ke rumah sakit. Dia mengalami penurunan kesadaran. Sebab itu Bayu dan Nissa berjalan menuju IGD.


"Dokter Bayu!" sahut Arkan ramah, Arkan mengusap wajahnya kasar. Dia gusar takut terjadi sesuatu pada anak yang ditolongnya. Nissa terus menatap wajah Arkan. Nissa melihat gerak-gerik yang dia kenali.


Nissa berjalan perlahan menghampiri Arkan. Tepat di samping Arkan, Nissa menepuk pundak Arkan pelan. Bayu heran melihat sikap Nissa. Biasanya Nissa akan menjaga jarak dengan yang bukan mukhrim. Meski Arkan lebih cocok menjadi putra atau cucunya. Tapi tetap saja Arkan laki-laki yang bukan mukhrim untuk Nissa.


Arkan langsung menoleh, ketika dia merasakan sentuhan hangat Nissa. Desiran darah Arkan terasa cepat dan hangat. Jantung Arkan berdetak hebat, ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Nissa. Dua mata yang dulu selalu menatapnya penuh kasih sayang. Tangan Arkan tak lagi mampu menahan hasrat ingin memeluk Nissa. Kerinduan yang teramat besar menguasai hati dan pikirannya. Nissa melihat kerinduan yang begitu besar. Meski Arkan mencoba menyimpannya. Nissa mampu merasakan kerinduan itu. Satu sentuhan Nissa mampu membuktikkan. Siapa sebenarnya Arkan?

__ADS_1


"Bagaimana kabar mamamu!" ujar Tika, Arkan menelan ludahnya kasar. Kaget dan takut yang kini menguasai Arkan.


Arkan terdiam sesaat mendengar perkataan Nissa. Dia takut Nissa mengetahui kebenaran jati dirinya. Dengan suara terbata-bata, Arkan mencoba menjawab pertanyaan Nissa. Pertanyaan mudah, tapi bermakna dalam.


"Mama…!" ujar Arkan terhenti, Arkan begitu ragu menjawab.


Nissa mengedipkan kedua matanya, lalu mengangguk pelan. Seolah mengisyaratkan pada Arkan. Semua akan baik-baik saja. Bayu tercengang melihat sikap hangat yang tak biasa dari Nissa. Seandainya Arkan orang yang sangat dikenalnya. Mungkin Bayu tidak akan heran.


"Katakanlah, jangan ragu!" ujar Nissa, Arkan mengangguk mengerti. Arkan mengumpulkan semua keberaniannya. Arkan mencoba melawan rasa takut yang ada dalam pikirannya. Arkan mencoba menenangkan dirinya. Agar Nissa tidak mengetahui rahasia jati dirinya.


"Mama, baik-baik saja!" ujar Arkan singkat. Nissa mengangguk lega, Arkan menunduk tanpa berani menatap wajah Nissa. Wajah yang selalu dirindukan Tika. Nissa tersenyum ke arah Arkan.


"Sampai kapan kamu menyembuyikan mata indah itu? Tidakkah kamu ingin bertemu kami. Masih marahkah kalian pada kami. Sampai kamu menyembuyikan diri dari kami orang-orang yang menyayangimu!" ujar Nissa lirih, kedua tangannya menangkup wajah Arkan.


Arkan menunduk tanpa berani menatap Nissa. Bayu semakin heran dengan perkataan Nissa. Rasa penasaran mendorongnya mendekat. Bayu tak lagi mampu menahan rasa ingin tahunya.


"Kak Nissa, memangnya dia siapa?" ujar Bayu, Nissa menoleh sembari tetap menangkup wajah Arkan. Sekuat tenaga Arkan mencoba menyembuyikan dirinya. Nissa sudah sangat yakin Arkan tak lain Hanif cucunya.


"Bayu, lihatlah dua mata yang dimilikinya. Bukankah mata itu yang selalu kita rindukan. Mata yang menghilang lima belas tahun lalu. Tidak mungkin kamu lupa, mata indah ini!" ujar Nissa, Arkan diam membisu. Dia tak lagi bisa menutupi fakta siapa dia sebenarnya?

__ADS_1


Bayu berjalan mendekat ke arah Nissa dan Bayu. Dengan tatapan tajam, Bayu mengunci mata Arkan. Sekilas ada bayangan Tika keponakan cantiknya. Satu-satunya anak perempuan Dimas dan cucu perempuan keluarga Anggara.


"Tika!" ujar Bayu lirih, Nissa mengangguk mengiyakan. Arkan tak mampu menatap Nissa atau Bayu. Dia telah gagal menjaga rahasia jati dirinya. Tika mengizinkan Arkan datang ke negara ini. Dengan syarat dia tidak membocorkan rahasia tentang dirinya.


"Arkan atau Hanif, nama mana yang harus aku pakai. Kenapa kamu menyimpan jati dirimu. Dimana mamamu sekarang? Lima belas tahun kalian pergi. Apa kalian pikir kami tidak merindukan kalian. Sekarang dengan santainya kamu datang. Bahkan berdiri diantara kami, tapi tak sedikitpun kamu ingin mengatakannya pada kami. Sebenci itukah kalian pada kami, sampai darah yang mengalir dalam tubuh kalian seakan tak ada harganya!" ujar Bayu emosi, Nissa menggeleng lemah. Sebaliknya Arkan hanya bisa diam.


"Kenapa Arkan? Apa salah kami? Sampai Tika menjauh sampai tak terlihat!" ujar Nissa lirih, Arkan menggelengkan kepalanya.


"Kalian tidak salah, mama juga tidak salah. Aku yang salah, kenapa harus datang ke negara ini? Seandainya aku tetap menghilang. Tidak akan ada yang menyalahkan mama. Kami akan tetap tak terlihat!" ujar Arkan lirih, Nissa menggeleng lalu menarik tubuh Arkan.


"Jika kamu pikir, aku tidak akan mengenalimu. Kamu salah Arkan! Aku yang memilihkan nama untukmu. Aku yang membantu kamu terlahir. Dengan tanganku, aku pernah menyuapi dan memandikanmu. Darah yang mengalir dalam tubuhmu, mungkin bukan darahku. Namun dalam darah Tika mengalir kasih sayangku. Aku dengan mudah bisa mengenali aroma Tika dalam tubuhmu!" ujar Nissa, Arkan menunduk lesu.


"Maaf aku telah mengganggu ketenangan kalian selama 15 tahun tanpa kami. Seharusnya aku tetap menjauh. Agar tak ada luka lama yang terkuak kembali. Kalian sudah bahagia tanpa mama. Papa sudah bahagia bersama Hanna dan tante Zalwa. Tidak ada lagi yang harus aku cemaskan!" ujar Arkan, Nissa mundur beberapa langkah. Arkan mendekat pada Nissa, dia menarik tangan Nissa lalu mencium lembut punggung tangan Nissa.


"Maafkan Arkan dan mama, kami akan baik-baik saja. Selama kakek dan nenek baik-baik saja. Arkan titip Hanna, dia adik kecil Arkan satu-satunya. Kini tidak ada hak Arkan melindunginya. Dia bahagia bersama papa!" ujar Arkan, lalu mundur menjauh.


Plaaakkk


"Dulu kamu pergi tanpa bicara, sekarang setelah datang. Kamu malah pamit akan pergi. Mungkin aku bukan ayah yang baik, tapi setidaknya ada darahku dalam tubuhmu!" ujar Agam lantang, sesaat setelah dia menanpar Arkan.

__ADS_1


"Kak Hanif!"


__ADS_2