
"Hanna, ini silahkan!"
"Terima kasih Savira!" Ujar Hanna ramah, Savira mengangguk. Lalu duduk di depan Hanna yang tengah berkutat dengan beberapa kertas.
Savira melihat Hanna yang berbeda, jauh dari kata santai. Hanna yang kini duduk di depannya begitu serius dan bertanggungjawab. Sekilas Savira melirik jam yang menempel di dinding. Larut sudah sangat larut, tapi Savira masih melihat Hanna berkutat dengan layar laptopnya. Tak sedetikpun Savira melihat Hanna memejamkan mata. Hanna benar-benar larut dalam tanggungjawabnya. Sampai Hanna lupa akan kesehatannya sendiri.
"Itu cangkir terakhir, tidak akan ada lagi kopi untukmu. Kamu sudah meminum tiga cangkir. Aku tidak akan memberikanmu kopi lagi!"
"Baru tiga gelas Savira. Kenapa kamu heboh?"
"Tiga gelas mungkin tidak banyak bagi penikmat kopi, tapi kamu bukan penggemar kopi. Aku juga tahu, asam lambungmu mudah kambuh bila meminum kopi berlebihan. Bukannya kamu yang merawat bunda Hafidz. Malah kamu yang ada di ranjangnya nanti!" Ujar Savira ketus dan kesal. Hanna hanya tersenyum mendengar Savira mengomel.
Hanna jelas tahu, betapa Savira sangat menyayanginya? Sejak dulu Savira orang pertama yang peduli pada kesehatan Hanna. Bahkan Savira akan bersikap layaknya seorang kakak. Bila melihat Hanna bersikap sembrono. Savira akan menegur Hanna habis-habisan.
"Baiklah, aku janji ini cangkir terakhir. Aku tidak akan minum kopi lagi, tapi dengan syarat kamu istirahatlah dulu. Aku yang akan menjaga ibunda kak Hafidz. Sebab besok pagi aku harus ke luar kota. Jadi aku harus pulang pagi buta!" Ujar Hanna tegas, Savira diam menatap lekat Hanna.
"Haruskah kamu bersikap sekuat ini? Demi siapa kamu berkorban sebesar ini? Tubuhmu tak sekuat itu Hanna. Kamu juga butuh istirahat!"
"Aku baik-baik saja Savira. Istirahatlah terlebih dahulu. Lagipula kondisi bunda Sinta jauh lebih baik. Kita hanya perlu mengawasi. Pekerjaan kantorku sebentar lagi selesai. Setelah memeriksa bunda Sinta aku akan istirhat!"
"Aku mendengar perjakataan yang sama dua jam lalu. Sekarang sudah pukul 01.00, malam semakin larut. Sedangkan kamu masih berkata akan melanjutkan perkerjaanmu!" Ujar Savira dingin, Hanna mengangguk pelan.
"Kamu terlalu keras Hanna. Bukankah besok pagi, kamu masih bisa melanjutkannya. Kenapa kamu malah menyelesaikan malam ini juga? Aku merasa kamu sengaja pergi, agar tak melihat tante Sinta sadar!"
"Kamu terlalu banyak berpikir!" Sahut Hanna dingin, seraya menggelengkan kepala. Sesaat setelah Savira mengatakan semua isi hatinya.
"Aku benar Hanna, jelas dari cara bicara dan tatapanmu yang kikuk. Hanna tak pernah takut saat bicara dengan orang lain. Hanna hanya akan menunduk, ketika dia berbohong. Kenapa Hanna? Kenapa kamu pergi saat semua membaik!" Cecar Savira, Hanna menunduk menatap layar laptopnya.
__ADS_1
Savira menatap kegelisahan Hanna. Ketakutan yang tak pernah Hanna katakan. Namun tersirat nyata dari sikap dan raut wajah Hanna. Selama seharian, Savira ada bersama Hanna. Berjuang menyembuhkan Sinta yang tak sadarkan diri. Savira saksi hidup, kerasnya Hanna berjuang demi kesembuhan Sinta. Hanna membatalkan semua rapat yang sudah terjadwal. Bahkan Hanna lupa akan makan dan istirahatnya. Hanna fokus merawat Sinta, agar segera tersadar dari pingsannya.
Sinta mengalami kecelakaan kecil, meski sebenarnya tidak kecil akibatnya. Benturan keras saat Sinta terpeleset. Mengakibatkan gegar otak yang menyumbat pembuluh darah di kepalanya. Jika salah dalam penanganannya. Sinta bisa mengalami koma atau pecah pembuluh darah. Savira melihat Hanna berusaha keras, demi kesembuhan Sinta. Bahkan setelah semuanya mulai membaik. Savira melihat Hanna menyelesaikan tugas kantornya. Sembari terus berjaga sampai larut malam.
"Kenapa kamu memilih pergi? Setelah perjuangan yang kamu lakukan!"
"Aku harus pergi, bukan aku yang ingin dilihat bunda Sinta. Aku tidak ingin menjadi penyebab lukanya semakin parah. Menjauh akan membuat semua menjadi lebih baik!"
"Sampai kapan kamu akan mengalah? Kamu istri sah kak Hafidz. Suka atau tidak suka, kamu menantunya. Jika melihatmu membuatnya semakin sakit. Tentu bukan salahmu, tapi sudah saatnya beliau sakit!"
"Savira, kelak kamu akan mengerti keputusanku. Saat kamu merasakan cinta yang kini kurasakan pada kak Hafidz!"
"Tapi cinta itu bahagia, bukan tersakiti atau malah menangis sendiri. Jika memang cinta itu ada. Kenapa hanya kamu yang berkorban? Harusnya kak Hafidz juga berkorban. Dia harus memilih bahagia bersamamu atau terus bersama keluarganya yang tak pernah peduli padamu!"
"Karena itu aku harus mengalah. Menghapus air mataku, agar aku tak melihat gelisah di wajah suamiku. Aku seorang istri yang harus bisa melindungi kehormatan suamiku. Jika menahan air mataku bisa menghapus kecemasannya. Aku akan melakukannya, karena aku percaya. Kelak ada waktu bahagia itu ada bersamaku!"
"Aku tidak tahu, kapan waktu itu tiba? Namun aku percaya, pengorbananku tidak akan sia-sia. Saat ini, aku hanya ingin melihat senyum di wajah kak Hafidz. Menghapus kegelisahan yang menjadi beban hidupnya. Kak Hafidz suami yang baik, tak sepantasnya dia kecewa dengan sikap keluarganya!"
"Lantas, apa kamu pantas terus dikecewakan? Jika bukan kamu yang menghiba padaku. Sudah aku seret keluar kak Ziva. Aku sadar dia kakakku, tapi aku saudara yang wajib mengingatkannya. Cinta mungkin buta, tapi kedua matanya tidak. Kak Ziva harus bisa melihatmu ada di sana. Kamu jauh lebih berhak ada di samping kak Hafidz. Bukan malah sendiri di sini. Menjaga tanpa lelah, tapi harus pergi tanpa kata. Bukan rasa terima kasih, tapi tersisih yang kamu terima!"
"Savira, percayalah padaku. Aku baik-baik saja. Setelah ini, aku serahkan perawatan bunda Sinta padamu. Jika ada masalah, kamu hubungi aku atau kak Arkan. Aku akan ada di luar kota selama beberapa hari!" Ujar Hanna tegas, Savira menatap lekat dua bola mata indah Hanna.
"Agar kak Hafidz tinggal di rumah sakit, tanpa merasa bersalah telah meninggalkanmu di rumah!" Sahut Savira dingin, Hanna tercengang mendengar perkataan Savira. Lalu dengan ragu, Hanna menggeleng tak setuju dengan Savira.
"Jika aku orang lain, mungkin aku percaya perkataanmu. Bertahun-tahun aku bersamamu, aku tahu siapa dirimu? Aku mengenal pribadimu dengan baik!"
"Savira, aku mohon jangan katakan apapun?"
__ADS_1
"Ternyata benar dugaanku!"
"Biarkan kak Hafidz menemani bunda Sinta!" Ujar Hanna lirih, Savira berjalan mendekat ke arah Hanna. Dengan lembut dan hangat Savira memeluk Hanna.
"Apapun keputusanmu aku akan mendukungnya. Ingat satu hal Hanna, kamu tidak pernah sendiri. Aku ada untukmu, Allah SWT ada bersama hamba-NYA dalam setiap sujud!" Bisik Savira lirih, Hanna mengangguk dalam pelukan Savira.
"Terima kasih!"
"Aku percaya kamu kuat Hanna. Kelak pengorbananmu takkan sia-sia!"
"Sekarang istirahatlah, dini hari aku akan membangunkanmu. Aku akan berangkat pagi buta. Aku akan mengirim pesan pada kak Hafidz besok pagi. Aku titip bunda Sinta!" Ujar Hanna seraya melepaskan pelukannya. Savira mengangguk mengiyakan.
Kreeeerkkk
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sekarang? Kenapa harus besok pagi? Saat aku tak lagi bisa menemuimu!"
"Kak Hafidz!" Ujar Hanna lirih dan kikuk.
"Selamat malam Hanna!" Pamit Savira.
"Kak Hafidz, apapun keputusan Hanna? Salah atau benar jalan yang diambilnya. Semua demi kebaikan kakak dan cintanya padamu!" Ujar Savira tegas, Hanna diam menunduk.
"Sekarang katakan padaku, bukankah kamu akan pamit pergi!" Ujar Hafidz dingin.
...☆☆☆☆☆...
Sementara author akan jarang up. Banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya ponsel author yang suka macet. Aplikasi NT di ponsel author sering gangguan. Namun author usaha akan up setiap hari, meski hanya satu bab. Sekali lagi author minta maaf🤗🤗🤗 dan terima kasih selalu mendukung author.
__ADS_1