Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Di Kantor


__ADS_3

"Tika, ambilah surat ini! Bacalah dengan teliti. Jika kamu setuju, tandatangani secepatnya. Agar aku bisa memprosesnya!" ujar Agam lirih, Tika mendongak menatap ke arah Agam.


Tika mengambil berkas dari tangan Agam. Terlihat Tika mengeryitkan alisnya. Ada rasa tak percaya ketika melihat Agam menyerahkan berkas yang susah Tika tunggu selama dua tahun terakhir. Setelah sekilas membaca isi surat itu. Tika menandatangani semua berkas tanpa ada kecuali.


"Kenapa kamu tidak bertanya akan isi dari berkas itu? Tidakkah kamu ingin menuntut sesuatu dariku!" ujar Agam dingin, Tika menggeleng pelan.


Tika tidak akan bertanya apapun pada Agam. Keputusan dan ketegasan Agam yang selama ini Tika tunggu. Jika sekarang Agam sudah bisa memutuskan. Lalu untuk apa lagi Tika bertanya atau menuntut? Sebab tuntutan terbesar Tika sudah terpenuhi. Hidup yang Tika inginkan akan terjadi. Tak perlu lagi drama yang akan memperpanjang masalah diantara mereka. Hari semua selesai, entah untuk sementara atau selamanya?


"Aku tidak ingin menuntut apapun darimu. Satu hal yang ingin aku tahu. Setelah sekian lama aku menungu berkas ini ada. Hari ini kamu tiba-tiba menyerahkannya padaku. Tanpa ada angin atau hujan yang mengiringi. Seharusnya aku yang bertanya, apa alasan di balik ketegasanmu!" tutur Tika, Agam berjalan menjauh dari Tika.


Agam berdiri menatap ke luar jendela kantor Tika. Agam mengingat perpisahan yang pernah terjadi diantara mereka. Setelah waktu itu, Agam mulai merenung. Dia memikirkan perkataan Dirga yang tiba-tiba membuatnya tersadar. Sejak dulu jauh sebelum mereka menikah. Tika dan Agam selalu ada di persimpangan jalan. Namun selalu saja Tika bijak dalam berpikir. Sedangkan Agam selalu lemah dan lambat dalam memutuskan. Usia yang jauh lebih tua, tidak menjamin Agam mampu berpikir dewasa. Sebab selama ini Tika yang selalu tenang dan tegas dalam memutuskan masalah diantara mereka.


FLASH BACK


"Kartika Putri Anggara, gadis manis berhijab penyuka senja. Bolehkah aku duduk di sampingmu!" ujar Agam seraya mengutas senyum ke arah Tika. Terlihat Tika mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Agam.

__ADS_1


"Silahkan pak, tidak ada yang melarang!" ujar Tika ramah. Lalu kembali menunduk, sesungguhnya sampai detik ini. Tika tidak pernah melihat wajah Agam secara detail. Tika selalu menunduk bila berhadapan dengan Agam. Tak pernah Tika menatap Agam, sebab dia tidak boleh menatap yang bukan mukhirmnya.


"Kenapa Tika? Kenapa harus berakhir seperti ini? Rasaku yang tulus, kalah oleh rasa bakti pada orang tua!" tutur Agam lirih, dia menoleh pada Tika yang tetap menunduk. Tak ada respon dari Tika. Dia tetap diam menunduk, seakan ada jawaban di bawah kakinya. Tika mencoba mencari jawaban di balik kegelisahan hati Agam.


"Pak Agam, tidak ada yang salah dalam kisah kita. Tidak ada yang terluka, bila kita ikhlas demi bakti pada orang tua. Tidak alasan untuk kita berbakti pada orang tua. Meski kita harus mengubur dalam kisah cinta yang belum sempat dimulai, tapi cinta yang nyata sudah tertanam jauh dalam hati. Sebab orang tua kita, tidak pernah membutuhkan alasan kala membesarkan dan menyayangi kita. Pantaskah kita membalas pelukan hangat mereka, dengan meninggalkan mereka. Pergi menggapai cinta, menjalin hubungan yang baru dengan melupakan hubungan lama." tutur Tika lirih, Agam hanya menunduk terdiam tanpa mampu berkata-kata. Perkataan Tika mengoyak hatinya yang gelisah. Cintanya pada Tika nyata, tapi pengorbanan orang tuanya juga tidak bisa dipungkiri.


Agam bimbang menimbang, akan bertahan pada cintanya atau berbakti pada orang tuanya. Namun perkataan bijak Tika, membuka mata hatinya. Jika sangat tidak pantas bila sebagai seorang anak. Kita melupakan perngobanan orang tua hanya demi cinta yang baru saja kita rasakan.


"Pak Agam, anda orang yang berpendidikan. Anda juga seorang guru, tanpa aku menjelaskan pasti pak Agam merasakan. Betapa sulitnya kala mendidik kami para muridmu? Bagaimana pak Agam mengajarkan pada kami? Untuk berbakti pada orang tua dan guru kami. Lantas kenapa sekarang pak Agam seolah lupa akan ajaran itu? Pak Agam terlena oleh cinta yang belum tentu membuatmu bahagia. Sedangkan kedua orang tuamu jelas hanya menginginkan kebahagianmu!" tutur Tika lirih seraya mengutas senyum tipis tanpa menoleh pada Agam. Meski Tika tidak pernah menatapnya, tapi Tika merasakan bahwa Agam selalu menatap ke arahnya. Agam mendengarkan perkataan Tika, tapi entah kenapa telingannya seakan tuli? Pandangannya tak terarah dan pikirannya jauh menerawang? Agam bak tubuh tanpa nyawa, kosong dan linglung memikirkan kisah cinta yang kandas sebelum dimulai.


"Tika, dalam diammu tersimpan kesederhanaan yang kini menjadi alasanku menyayangimu. Rasa sayangku padamu membuatku menyadari. Betapa berharganya dirimu. Kesederhanaan pemikiranmu membuatku mengganti rasa sayangku untukmu. Dengan rasa baktiku kepada orang tuaku. Menyadarkan diriku jika rasa sayangku tak bertepuk sebelah tangan. Pandangan sederhanamu yang lebih memilih pergi. Daripada bertahan, jika hanya menyakiti orang tuaku. Membuat keteguhan hatiku padamu semakin besar. Aku takkan menghiba padamu, untuk berjuang demi rasa ini. Sejatinya rasaku dan rasamu sama, tapi kita hanya butuh waktu lebih untuk memenangkannya." tutur Agam lirih, Tika mengangguk pelan.


"Pak Agam, saat ini berbaktilah pada kedua orang tuamu. Yakinlah jika aku tercipta dari tulang rusukmu yang hilang, maka suatu saat aku akan kembali. Kita akan bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Namun jika aku kembali nanti, kamu berjodoh dengan wanita lain. Ingatlah dalam setiap napasmu, pernah ada satu gadis manis penyuka senja yang menyukaimu. Gadis yang berharap menjadi makmummu, tanpa sedikitpun ingin menyakiti orang tuamu." tutur Tika menjelaskan isi m hatinya. Agam mengangguk memahami setiap perkataan Tika. Kini hanya ini jalan terbaik yang harus Agam pilih.


"Tika, aku akan setia menunggumu. Akan kuteguhkan hatiku untukmu, kuyakinkan diriku hanya dirimu yang aku tunggu. Pergilah jika itu terbaik menurutmu, aku akan disini menanti kedatanganmu. Dulu aku mampu memperjuangkanmu disepertiga malamku, kini aku akan berjuang dalam diam demi menanti dirimu. Terima kasih, mengingatkanku akan baktiku pada orang tuaku. Akan kubuat mereka melihat kasih sayang tulusmu. Akan kubuktikan pada mereka, bahwa dirimu penyemangat hidupku." tutur Agam dengan seutas senyum, meski rasa sakit terasa begitu dalam.

__ADS_1


"Pak Agam, Aku tak mengharapkan janji apapun darimu. Biarlah jodoh dan waktu menjawab semua rasa ini. Aku takkan terluka, seandainya dalam penantianmu menemukan wanita lain yang lebih baik dari diriku. Pak Agam berhak bahagia tanpa terbebani akan rasamu untukku. Pak Agam imam sholatku, dosen pengajar dikala bodohku. Aku menganggumimu semoga kebahagianmu menjadi bahagiaku." tutur Tika. Sebuah doa tulus untuk Agam, laki-laki yang dicintainya. Namun akan sulit untuk mereka bersama.


"Aku takkan terbebani dengan janjiku padamu. Jika bahagiaku menjadi bahagiamu, maka sakitmu menjadi sakitku. Ingat aku dalam setiap sujudmu, jaga hatimu untukku. Ingatlah ada laki-laki yang setia menantimu disini!" tutur Agam, Tika mengangguk pelan. Sebuah janji yang terucap tanpa berharap kepastian.


FLASH BACK OFF


"Perkataanmu bertahun-tahun yang lalu. Mengajarkanku akan tali jodoh yang takkan pernah salah. Aku mulai menyadari, sekuat apapun aku berusaha bertahan denganmu. Jika Allah SWT tak berkehendak. Semua akan sia-sia dan hanya menyakitimu. Aku angkuh mengakui kedewasaan sikapmu. Kini aku sepenuhnya sadar. Hidup harus memilih dan aku memilih melepasmu. Agar hatimu tak terluka lebih dalam!" ujar Agam tegas.


"Terima kasih, mas Agam telah memenuhi permintaanku!" ujar Tika lirih, lalu menandatangani berkas yang diberikan Agam.


"Tika!" panggil Agam, Tika mendongak menatap lekat Agam. Tika melihat Agam fokus menatapnya.


"Kenapa kamu begitu ingin berpisah dariku? Apa semua ini ada hubungannya dengan orang lain?" ujar Agam, Tika menggeleng.


"Aku tidak ingin hidup sebagai anak yang durhaka. Orang tuamu berhak memilikimu sepenuhnya. Mereka yang membesarkanmu, tak sepantasnya aku berebut dengan mereka. Meski perpisahan itu salah, tapi terus bertahan dengan mengecewakan orang tuamu. Aku tidak akan pernah bisa. Sebagai seorang istri aku menyakiti ibumu, tapi sebagai ibu dari Hanif. Kelak aku yang akan tersakiti. Pertemuan dan perpisahan ada tanpa bisa dihindari. Namun persaudaraan takkan pernah bisa diputus begitu saja. Mas Agam mungkin bukan suamiku, tapi aku akan bisa menjadi adikmu!" tutur Tika, Agam menunduk.

__ADS_1


"Inikah bahagia yang telah kuhancurkan dengan sikap bimbangku dulu. Hangatnya panggilanmu, menggetarkan hatiku. Terima kasih Tika, setidaknya aku merasakan kembali bahagia yang dulu menghilang!" ujar Agam, Tika mengangguk pelan.


"Jadwal sidang akan ada dalam satu minggu ke depan!" ujar Agam, Tika mengangguk seraya tersenyum.


__ADS_2