Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Sebuah Janji


__ADS_3

"Masuklah Hanna, tidak perlu kamu mengetuk pintu!" Ujar Hafidz tanpa menoleh ke arah Hanna. Sejak awal Hafidz sudah menyadari kedatangan Hanna.


Hanna tersentak, dia terkejut mendengar suara Hafidz. Sejak sepuluh menit yang lalu, Hanna berdiri mematung di depan kamar Davin. Hanna merasa ragu mengetuk pintu kamar Davin. Dua mata indah Hanna, menangkap satu sosok yang membuatnya ragu. Nampak Hafidz duduk tepat di depan Davin. Hafidz tengah sibuk dengan laptop miliknya. Sengaja Hafidz cuti bekerja, dia ingin menjaga Davin. Meski kondisi Davin mulai membaik. Hanya saja Hafidz masih khawatir. Jika harus meninggalkan Davin. Sedangkan Hanna merasa canggung, saat melihat Hafidz berada di dalam kamar Davin.


"Aku akan pergi, jika kamu tidak nyaman!" Ujar Hafidz, saat melihat Hanna masih ragu masuk ke dalam kamar Davin. Hanna menggeleng lemah, Hafidz tersenyum dalam hati. Setidaknya ada sedikit rasa nyaman Hanna bersamanya. Meski sangat sulit bagi Hanna mengatakannya.


"Assalammualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Sahut Hafidz ramah. Dengan terus menatap layar laptopnya. Hafidz seolah-olah tidak peduli akan kedatangan Hanna. Meski sejujurnya, Hafidz sangat bahagia melihat Hanna datang ke dalam kamar Davin.


"Davin!" Sapa Hanna ramah, tangan lembutnya menggerakkan tubuh mungil Davin.


Sejak dini hari, Hanna menunggu Davin. Sedangkan Qaila tertidur lelap di samping Davin. Hafidz yang semula berpura-pura tidur. Lambat laun akhirnya tertidur pulas. Hanna dengan telaten merawat Davin. Dengan kehangatan seorang ibu dan keahlian seorang dokter. Hanna menjaga dan merawat Davin. Panas yang semula tinggi, lama kelamaan menurun.


"Mama!" Panggil Davin lirih, Hanna mengangguk pelan.


Setetes bulir bening, jatuh di pelupuk matanya. Hanna terenyuh mendengar Davin memanggil namanya. Sejak lama, Hanna rindu akan panggilan mama. Hatinnya kosong, saat Davin tak pernah memanggilnya. Pagi ini semuanya terasa lengkap. Panggilan lemah Davin, mengisi kosong hati Hanna yang dingin.


"Sarapan sayang!" Ujar Hanna, Davin menggelengkan kepalanya lemah. Hanna menghela napas, Davin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dengan tegas, Davin menolak sarapan.


"Kalau Davin tidak makan, kapan Davin sembuh?" Bujuk Hanna, Davin menggelengkan kepalanya lemah. Dia benar-benar tidak ingin memakan apapun. Meski itu hanya sesuap bubur.


"Ini mama yang masak!" Ujar Hanna lagi, Davin menggeleng lebih tegas.


Hanna diam menatap nanar Davin. Tubuh lemah Davin jelas menunjukkan dia tidak baik-baik saja. Perlahan Hanna meletakkan nampan berisi sarapan untuk Davin. Hanna menepuk pelan punggung tangan putranya. Lalu dengan penuh kasih sayang, Hanna mencium lembut tangan mungil Davin. Bocah tiga tahun yang tak pernah mengerti kesalahannya. Sehingga dia harus jauh dari ibu yang melahirkannya.

__ADS_1


Sikap hangat Hanna tak luput dari perhatian Hafidz. Dengan mata elangnya, Hafidz melihat kehangatan Hanna pada buah cinta mereka. Kebahagian paling sempurna yang tak pernah dirasakan Hafidz. Hidupnya seakan lengkap, dengan kedekatan Hanna dan Davin. Namun dalam kebahagiannya, ada sedikit rasa sakit. Ketika dia ingat akan dirinya yang takkan pernah menjadi bagian dari kebahagian Hanna dan Davin.


"Seandainya aku ada dalam kebahagian itu. Lengkaplah hidupku Hanna, tapi penolakanmu jelas kurasa. Tak ada harapku dekat denganmu. Setidaknya aku bisa tersenyum, melihat putraku bahagia berada di sampingmu!" Batin Hafidz.


"Sayang, mama sudah lelah memasak untuk Davin. Mama tidak tidur sejak semalam, demi menjaga Davin. Sekarang Davin tidak ingin memakan masakan mama. Davin tahu tidak?" Ujar Hanna lirih, Davin menggeleng lemah.


"Mama sedih, Davin tidak menghargai lelah dan kantuk mama!" Ujar Hanna lirih, sembari menundukkan kepalanya.


Sontak Davin berhambur memeluk Hanna. Davin menenggelamkan kepalanya dalam hangat dekap Hanna. Tangan mungil Davin tak mampu merangkul tubuh Hanna erat. Namun sekuat tenaga, Davin merangkul erat sang mama. Jelas Davin takut Hanna bersedih. Davin menangis dalam dekapan Hanna.


"Kenapa menangis?" Ujar Hanna sembari mengelus kepala Davin.


"Maaf!" Ujar Davin lirih, Hanna tersenyum simpul. Keluhannya berhasil membuat Davin merasa bersalah.


"Mama maafkan, jika Davin bersedia makan sarapannya!" Ujar Hanna, Davin menangis semakin menjadi. Hanna bingung melihat sikap Davin. Hafidz yang semula berpura-pura tidak melihat. Langsung berhambur ke arah Davin dan Hanna.


"Mulut Davin pahit!" Ujar Davin polos, Hafidz dan Hanna saling menoleh. Entah kenapa keduanya merasa saling membutuhkan? Dengan anggukan kepala, Hanna meminta bantuan Hafidz.


Davin harus makan sarapannya, bagaimanapun caranya? Meski Hanna harus meminta bantuan Hafidz. Hanna tetap akan melakukannya. Semua demi keceriaan Davin yang menghilang. Hanna tidak ingin Davin lemah dengan sakitnya. Davin harus berjuang melawan sakitnya.


"Kalau begitu, biar papa yang menyuapi!" Ujar Hanna, Davin mendongak ke arah Hanna. Lalu dengan mata sayu, dia menoleh ke arah Hafidz. Kedua tangan Hafidz sudah memegang semangkok bubur.


"Tapi!" Ujar Davin lemah.


"Davin duduk di pangkuan mama, lalu papa yang suapin Davin. Kalau Davin patuh, besok setelah Davin sembuh. Kita jalan-jalan bersama. Davin ingin pergi kemana?" Bujuk Hafidz, Davin langsung menganggukkan kepala. Seolah Davin setuju dengan penawaran Hafidz.

__ADS_1


"Aaaaa!" Ujar Hafidz, dengan senyum ceria. Davin melahap suap demi suap bubur yang dibuat Hanna.


Hanna dan Hafidz bersama menjaga Davin. Sebuah keluarga kecil yang berkumpul. Setelah tiga tahun mereka terpisah. Sebuah tawa yang sesungguhnya mudah tercipta. Namun seakan enggan terutas, kala air mata tak menetes.


"Davin kenyang!" Ujar Davin polos. Hanna dan Hafidz mengangguk. Hanna mencium keninh


Hanna mengambil mangkok dari tangan Hafidz. Perlahan Hanna berjalan menuju pintu kamar Davin. Namun langkah kakinya terhenti, ketika mendengar rengekan Davin. Hanna terenyuh, hatinya pilu saat mendengar pembicaraan Davin dan Hafidz. Sebagai seorang ibu, Hanna telah menghancurkan hati putranya tanpa sisa. Hanna menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata. Sebuah rasa bersalah yang teramat besar.


Tap Tap Tap


"Maafkan mama sayang!"


"Hanna!" Ujar Hafidz, saat melihat Hanna menangis sembari memeluk tubuh mungil Davin. Hafidz mengerti pedih yang dirasakan Hanna. Kepedihan yang sama dirasakan oleh Hafidz. Menatap wajah polos Davin yang takut akan kehilangan Hanna lagi.


"Mama tidak akan pergi!" Ujar Hanna, sembari mendekap Davin.


"Janji!" Sahut Davin polos, Hanna mengangguk pelan. Hanna mendekap semakin erat tuhuh Davin. Seolah tak lagi Hanna melepas Davin.


"Mama janji, mama akan ada untuk Davin. Mama akan ada di samping Davin. Menatap Davin tumbuh dewasa. Sampai napas mama berhenti berhembus!" Ujar Hanna, Davin mengangguk pelan.


"Doakan mama sehat sayang. Mama akan melawan sakit ini demi dirimu. Mama akan kuat demi senyummu. Mama akan bertahan demi hidupmu. Mama akan menebus tiga tahun yang hilang. Mama akan berjuang demi tiga tahun yang akan kita lalui. Mama janji, mama janji!" Batin Hanna.


"Mama akan sembuh demi dirimu!" Gumam Hanna, Hafidz langsung menoleh menatap Hanna.


"Kamu sakit apa?" Ujar Hafidz cemas, tangannya menggenggam erat lengan Hanna.

__ADS_1


"Lupakan, aku baik-baik saja!" Sahut Hanna dingin.


__ADS_2