Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Hanif Sakit


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tanpa terasa hampir satu bulan lembih Hana dan Hanif tinggal bersama Agam. Selama sebulan Tika selalu menahan rindu akan kedua buah hatinya. Tika hanya bisa bertemu mereka. Ketika pagi saat mereka akan masuk sekolah. Atau sore ketika mereka akan pulang sekolah. Tika tidak bisa menemui kedua buah hatinya di rumah Agam. Sebab kedua orang tuanya melarang Tika datang.


Beberapa hari ini, Tika tidak menemui Hana dan Hanif. Tika sedang berada di luar kota. Ada masalah dengan salah satu proyek yang dikerjakannya. Sebab itu Tika harus pergi ke luar kota. Tika sudah izin pada Hana dan Hanif. Tika mengatakan pada mereka akan membawa hadiah saat bertemu mereka. Dengan sikap dewasa Hana dan Hanif mengangguk. Mereka menolak hadiah dari Tika. Hanya kedatangan Tika yang mereka harapkan.


"Agam!" teriak ibundanya, sontak Agam berlari ke arah kamar Hana dan Hanif. Kebetulan ibunda Agam sedang berada di kamar Hana dan Hanif.


Ibunda Agam hendak memanggil mereka untuk makan malam. Sejak pagi Hana dan Hanif tidak berselera makan. Raut wajah Hanif pucat, sedangkan Hana sedikit lesu. Puncaknya malam ini mereka tidak turun, untuk makan malam. Dengan perasaan cemas, ibunda Agam menuju kamar si kembar. Memeriksa apa yang terjadi pada mereka.


"Mama…!" rintih Hanif dengan tubuh bergetar mendekap selimut. Sedangkan Hana memeluk tubuh Hanif erat. Hana mencoba menghangatkan Hanif yang demam. Ibunda Agam histeris melihat kedua cucunya yang sedang tidak sehat. Kebetulan pengasuh Hana dan Hanif sedang pulang kampung. Alhasil mereka tinggal berdua dengan ibunda Agam di rumah.


Agam berlari menuju kamar Hana dan Hanif. Ketika mendengar teriakan Ibunya. Agam cemas takut terjadi sesuatu yang bahaya. Sebab itu tanpa berpikir akan terjatuh. Agam berlari tanpa arah. Agam membuka pintu kamar Hana dan Hanif keras. Pikirannya sangat kacau takut terjadi sesuatu pada Hana atau Hanif.


"Hanif, kenapa kamu sayang?" ujar Agam cemas. Agam melihat tubuh Hanif menggigil kedinginan, tapi ketika Agam menyentuh kening Hanif terasa sangat panas. Sontak Agam gelisah melihat Hanif demam.


Kedua mata Hanif tertutup rapat. Hanya sesekali terdengar Hanif memanggil Tika. Sedangkan Hana meringkuk di samping Hanif. Hana memeluk Hanif sangat erat sembari menangis. Tangisan Hana semakin membuat Agam frustasi. Agam melihat kedua buah hatinya terbaring tak berdaya. Ada rasa ngilu di hati Agam. Ketika telinganya mendengar rintihan Hanif. Bukan dirinya yang dibutuhkan Hanif dan Hana melainkan Tika.


"Sayang, mama akan segera datang. Papa akan menghubungi mama. Hanif sekarang minum obat dulu!" ujar Agam, Hanif diam tak menyahuti perkataan Agam. Ibunda Agam semakin cemas melihat kondisi Hanif.

__ADS_1


Hanya rintihan lirih yang terucap dari bibir mungil Hanif. Tangan lemahnya memegang erat selimut. Antara sadar dan tidak sadar, Hanif hanya memanggil Tika. Ibunda Agam semakin cemas, ketika melihat tubuh Hanif yang mulai membiru.


"Agam, kita tidak bisa merawatnya di rumah. Hanif harus segera dibawa ke rumah sakit. Tidak perlu kamu menghubungi Tika. Kita bisa merawat Hanif sendirian tanpa bantuan Tika!" ujar ibunda Agam, seketika Agam menggendong Hanif. Sedangkan Hana berjalan di belakang Agam. Dia mengikuti papa dan Hanif dengan terus menangis.


Setengah jam kemudian, Agam tiba di rumah sakit. Dia langsung membawa Hanif ke ruang IGD. Hana terus menangis melihat Hanif yang mulai tertidur tak sadarkan diri. Agam mencoba menenangkan Hana dengan menggendongnya. Namun usahanya sia-sia, Agam tak bisa menenangkan Hana. Dia terus menangis meski Agam mengatakan Hanif baik-baik saja. Agam sempat menghubungi Tika, meski sebenarnya Tika sedang ada di luar kota.


Hampir satu jam Hanif mendapatkan perawatan di ruang IGD. Dokter keluar menjelaskan pada Agam. Jika Hanif mengalami penyakit tifus. Kondisi Hanif sudah melewati masa kritis. Dia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Agam sudah memesankan ruang rawat inap kelas 1. Agam hanya ingin Hanif mendapatkan pelayanan yang jauh lebih baik.


"Hana!" panggil Tika, seketika Agam menoleh ke arah Tika. Bukan menyapa dirinya, Tika malah memanggil Hana.


"Bagaimana kondisi Hanif? Dimana dia sekarang?" ujar Tika dingin, tanpa melihat ke arah Agam. Terdengar suara helaan napas Agam. Rasa kecewa Tika jelas terlihat. Tak ada lagi cinta yang tersisa untuknya kini.


Agam menoleh menatap Tika yang mengacuhkannya. Kasih sayang Tika bukan lagi untuknya. Melainkan untuk Hana dan Hanif. Mungkin juga imam yang kelak akan menuntunnya. Namun imam itu bukanlah Agam.


"Hanif mengalami tifus, dia sudah melewati masa kritis. Jadi dia akan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Kita bisa melihatnya sebentar lagi!" ujar Agam, Tika mengangguk pelan tanda dia mengerti.


Ibunda Agam mendekat pada Tika dan Agam. Tangannya menjulur hendak mengambil Hana dari gendongan Tika. Namun tangan mungil Hana menepisnya kasar. Ibunda Agam terperangah melihat penolakan Tika. Dia mencoba kedua kalinya, tapi tetap saja Hana menepisnya. Saat ibunda Agam mencoba untuk ketiga kalinya. Bukan tangan Hana yang menepisnya, tapi tangan Tika yang menepisnya kali ini. Dengan kasar Tika melempar tangan ibunda Agam. Sebaliknya Agam hanya diam melihat Tika dan ibunya bersitegang.

__ADS_1


"Aku ibu yang melahirkannya, tidak pantas berebut Hana denganku. Jika anda berbicara tentang hak. Aku jauh lebih berhak atas Hana dan Hanif, bukan putramu. Biarkan Hana tetap bersamaku. Tidak cukupkah Hanif sakit, karena sikap egois anda yang melarangnya bertemu denganku. Sekarang anda ingin melihat Hana sakit dengan memaksanya menjauh dariku!" ujar Tika dingin, Agam mundur beberapa langkah. Dia tertegun mendengar perkataan Tika.


"Tidak perlu heran, ibumu tidak pernah membiarkan aku menemui Hana dan Hanif. Selama ini aku diam, bukan melindungi hubunganmu dengan ibumu. Aku diam menelan kejam sikap ibumu. Agar kamu bisa melihat sakit Hana dan Hanif. Namun sepertinya sikapku salah, kamu tetap Agam yang tak pernah bisa melihat kenyataan!" ujar Tika pada Agam. Ibunda Agam meradang, dia marah mendengar perkataan buruk tentang dirinya. Meski yang dikatakan Tika bukanlah kebohongan. Semua memang benar adanya.


"Jaga bicaramu, putraku tak seperti tuduhanmu. Kamu saja yang tidak pernah menyadari keangkuhanmu. Kamu membuang putraku, karena kamu memiliki harta keluargamu. Kami memang jauh di bawah keluargamu, tapi harga diriku tidak semurah itu. Sehingga kamu bisa membuat Agam putraku tunduk!" ujar Ibunda Agam, Tika menggeleng lemah.


Setelah sekian tahun, hanya harta yang selalu menjadi permasalahan dalam keluarga Agam dan Tika. Pemikiran ibunya yang sangag dangkal, membuat Tika harus menelan kepahitan akan pernikahannya. Tika selalu salah dan disalahkan karena terlahir dari keluarga yang jauh lebih kaya dari Agam.


"Tidak penting siapa yang benar atau salah diantara kalian? Kesehatan Hanif jauh lebih penting. Lebih baik kalian diam, jika tidak bisa membantu menyembuhkan Hanif!" ujar Agam, seketika Tika tersenyum sinis.


"Kamu tidak pernah berubah, selalu memilih berada di posisi yang kamu pikir nyaman. Entah kamu seseorang yang terlalu bijak atau pengecut? Hanya kamu sendiri yang bisa menilainya!" ujar Tika lirih, lalu berjalan menjaub dari Agam. Hana tetap berada dalam gendongan Tika. Tak terdengar lagi suara tangisnya. Hanya sesekali Hana sesegukan.


"Om Dirga!" teriak Hana, sembari meronta turun. Dia berlari menuju Dirga, sesaat setelah dia turun dari gendongan Tika.


Agam dan ibundanya termenung melihat kedekatan Hana dengan Dirga. Kehangatan Dirga kala itu, masih membekas dalam ingatan Hana. Kasih sayang tulus Dirga membuat Hana merasa nyaman dan terlindungi.


"Dirgantara Eka Mahendra, laki-laki yang baru aku kenal. Jika anda berpikir dia tak lain selingkuhanku. Silahkan saja, anda berhak berpikir. Satu hal yang pasti aku katakan. Dia laki-laki yang menghargai wanita. Bukan hanya ingin memiliki wanita. Dia tahu kapan tangannya harus bergerak merangkul dan mendekap, untuk melindungi. Atau kapan tangannya diam, untuk tak ikut campur. Bukan seperti putramu yang tak pernah tahu kapan dia harus berjuang atau diam menanti takdir? Lihatlah Hana, dia bisa merasakan ketulusan Dirga. Anak kecil bisa melihat kasih sayang tulus atau kasih sayang yang hanya ingin mengusai!" ujar Tika kepada ibunda Agam.

__ADS_1


__ADS_2