
Jam kuliah Andin sudah selesai, ia keluar dari ruang fakultas seni. Riko lagi lagi terus mengikuti Andin. Andin merasa risih tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, karena Dosen menyuruh mengerjakan tugas kelompok dan Andin satu kelompok dengan Riko dan teman-temannya.
"Kita makan siang dulu yuk!" Ajak Riko dan kedua temannya mengiyakan. Berbeda dengan Andin, ia malas untuk makan bersama mereka.
"Aku tidak mau! Kalian saja yang pergi. Aku pulang, biar tugas besok saja menyusul."
"Kamu mau makan apa?" Riko berpura-pura tidak mendengar Andin.
"Aku tidak mau makan sama kamu! Mengerti kan?" Andin menatap kesal wajah Riko.
"Lo harus mau!" ancam Riko.
Entah kenapa, setiap kali Riko mengancamnya, Andin merasa sangat takut. Untung saja Ken datang.
"Din, ayo pulang!" ajak Ken. Andin segera menghampiri Ken.
Andin pulang bersama Ken, tetapi di jalan Andin menyuruhnya berhenti. Ken tahu bahwa Andin dan Jhon pasti bertengkar.
"Kita makan di taman sebentar, aku lapar."
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Andin. Ia hanya diam. Ken membawa Andin ke Cafe biasa, ketika Joan dan Ken bertengkar dulu. Ken selalu curhat pada Andin, dan kali ini, Ken ingin agar Andin juga cerita padanya.
"Duduklah, aku pesankan sesuatu untukmu."
Andin duduk di kursi dekat jendela, ia memperhatikan orang yang berlalu lalang. Pikirannya menerawang. Ia ingin berpisah dengan Jhon, tetapi hatinya tidak bisa lepas. Dia sangat mencintai Jhon, tetapi bertahan sendirian baginya sangat sulit.
"Hei, aku pesankan jus jambu kesukaanmu. Minumlah," ucap Ken sambil menyodorkan jus dan sepotong cake mangga.
"Kau bahkan tahu kesukaanku, tetapi dia.... ."
"Ada apa antara kalian? Selama ini, Jhon selalu bangga menunjukkan hubungan kalian," ucap Ken.
Andin menyusuri jalanan dengan melamun. Pikirannya kacau, antara melanjutkan atau memutuskan hubungan dengan Jhon. Ia sudah lelah, usianya juga masih muda. Ia tidak ingin terus membuang waktunya untuk mempertahankan hubungan yang belum jelas. Andin melamun sampai hampir tertabrak motor, jika laki-laki itu terlambat menarik Andin satu detik saja, entah apa yang akan terjadi padanya.
"Lo, udah bosan hidup! Kalau lo bosan hidup, jangan libatkan orang lain. Kalau lo mati ketabrak, tuh pengendara bakal dipenjara padahal lo yang salah!!" ucap laki-laki itu dengan emosi bercampur khawatir.
"Terima kasih," ucap Andin tanpa melihat orang yang sudah menolongnya. Ia kembali melangkah dengan gontai.
Laki-laki itu khawatir dengan keadaan Andin, jadi ia putuskan mengikuti Andin dibelakangnya. Hingga sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Andin berdiri sejenak, ia menarik nafas dalam sebelum membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Riko memperhatikan Andin, ya, orang yang menolong Andin adalah Riko. Ia kebetulan baru mengantarkan paket dari ibunya untuk sang nenek yang tinggal di daerah itu. Ia melihat Andin yang berjalan sambil melamun, karena khawatir ia ingin menegur Andin. Saat melihat sebuah motor yang hampir menabrak Andin, Riko segera menarik Andin ke tepi, tetapi Andin masih saja melamun. Riko khawatir terjadi hal serupa, jadi ia mengikuti dan menjaga Andin sampai tiba di rumahnya.
"Apa sebenarnya yang membuat dia begitu tertekan?" Riko bertanya dalam hatinya. Melihat Andin sudah masuk ke dalam rumah, Riko berbalik dan pergi.
***
"Halo, Ken kamu dimana?" Joan pulang lebih lambat karena harus membantu Dosen untuk memeriksa tugas mahasiswa dan mahasiswi fakultas pariwisata. Joan sudah meminta Ken menunggunya, tetapi Ken malah tidak ada.
"Aku di Cafe, sedang membeli sesuatu untukmu, " ucap Ken.
"Oh, baiklah. Jangan lama-lama! " ucap Joan lalu menutup panggilan. Ia tersenyum menunggu Ken, dan senyumnya langsung menghilang saat mobil dosen resek melewatinya. Dosen itu menegurnya.
"Jo, belum pulang?"
"Belum,Pak," jawab Joan. Tangannya terkepal di belakang punggung.
"Mau sekalian kuantar?" Dosen itu menawarkan.
"Terima kasih. Saya menunggu tunangan saya," jawab Joan. Setelah Joan menolaknya, mobil dosen itu berlalu pergi. Joan gelisah menunggu Ken, karena tak juga muncul.
__ADS_1