
Jhon mencoba memejamkan matanya, tetapi sulit baginya untuk terpejam. Jhon dan Andin tidur saling membelakangi. Sebenarnya Andin juga tidak bisa memejamkan mata. Ini pertama kalinya Andin tidur seranjang dengan laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Rasa canggung dan debaran jantungnya yang tidak menentu membuatnya tidak mampu terpejam. Dengan posisi masih saling membelakangi, Andin mencoba mengajak Jhon mengobrol.
"Jhon."
"Hem."
"Sudah tidur?"
Jhon berbalik dan berbaring menatap punggung Andin. "Belum. Kamu tidak bisa tidur juga, sayang?"
"Hem." Andin menjawab dengan gumaman pelan. Ia tahu kalau Jhon sedang menatap dirinya. Pantulan mereka terlihat dari cermin yang berada di depan Andin. Melihat pantulan bayangan Jhon di cermin membuat Andin semakin berdebar-debar. Tiba-tiba Jhon bergerak maju dan memeluk pinggang Andin dari belakang.
Deg!
Darah Andin berdesir merasakan embusan napas Jhon di tengkuknya. Tangan kekar Jhon mulai meraba gundukan bagian dada Andin. Andin bergetar dan menegang, napasnya seakan terhenti sejenak. Jhon mulai mengecup tengkuk dan pundak Andin. Andin bangun dari ranjang.
"A-ku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Andin dengan gugup. Andin segera berlari masuk ke dalam kamar mandi dan duduk dengan gelisah di atas toilet yang tertutup.
Jhon tidak marah karena ia mengerti perasaan Andin. Andin seorang wanita pemalu, meskipun mereka sudah menikah Andin pasti masih merasa malu dan canggung tidur dalam kamar yang sama dengan laki-laki. Jhon mencari cara agar Andin merasa santai dan tidak terlalu gugup. Jhon butuh kesabaran ekstra untuk membuat Andin terbiasa dengan perubahan statusnya sekarang. Jhon menyalakan mesin video game, saat Andin keluar Jhon sedang duduk dan menyiapkan tempat untuknya dan Andin.
"Hai, sini! Karena kita sama-sama tidak bisa tidur. Bagaimana kalau main video game? Kita bertanding." Jhon menyodorkan satu stik video game pada Andin dan satu dipegang oleh Jhon.
"Aku tidak bisa main PS. Kamu saja," jawab Andin dengan halus.
Namun Jhon menarik tangan Andin agar duduk di sampingnya. "Kalau main sendiri mana seru. Temani aku, sayang, ya." Jhon menatap dengan penuh harapan. Andin akhirnya mengangguk karena tidak tega melihat Jhon. Meskipun sejujurnya Andin tidak mengerti, tapi ia akan mencoba bermain. Jhon memberitahu fungsi dari tombol di stik game. Mereka memulai pertandingan game yang tentu saja dimenangkan oleh Jhon berkali-kali.
"Sudah, ah. Aku kalah terus." Andin menaruh stik game yang dia pegang. Wajahnya seperti baju yang belum disetrika, kusut. Andin cemberut karena sama sekali tidak bermain PS. Wajar saja karena Andin tipe gadis kutu buku. Kapan ada waktu senggang maka ia akan lebih suka membaca buku pelajaran atau membaca novel kesukaannya.
"Aku ambilkan minum dulu, ok." Jhon bangun dan pergi ke dapur. Ia menyeduh teh hangat tanpa gula untuk Andin dan kopi susu tanpa ampas untuknya. Jhon membawa dua cangkir minuman itu ke kamar. "Ini. Minumlah dulu, setelah itu kita tanding satu kali lagi."
__ADS_1
"Terima kasih." Andin menyesap teh hangat itu sedikit. Andin dan Jhon menaruh minuman mereka di atas meja di samping mesin video game. "Ayo, main lagi!"
"Ok." Jhon melirik ke arah Andin dengan penuh arti. Andin tidak melihat tatapan Jhon dan fokus ke layar video. Kali ini Jhon sengaja mengalah agar Andin merasa senang. Setengah jam permainan selesai dengan Andin yang menjadi pemenang.
"Yeyy, aku menang." Andin berdiri dan bersorak kegirangan. Tanpa sadar Andin langsung memeluk Jhon yang ikut bangun dan berdiri di depan Andin. Jhon membalas pelukan Andin.
Deg! Deg! Deg!
Andin mundur selangkah dan melepaskan pelukannya tetapi Jhon menarik pinggang Andin dan mendekapnya erat. Andin menunduk dan tidak berani menatap wajah Jhon.
"Sayang, kamu masih malu ya?"
Andin mengangguk pelan. Kedua pipinya memerah menjawab pertanyaan Jhon.
Jhon menangkup dagu Andin dan menengadahkan wajah Andin agar menatap wajahnya. Mata Jhon menelusuri setiap sudut wajah Andin. Dari alis Andin, turun ke mata lalu ke hidung, dan berakhir menatap bibir tipis merah muda milik Andin. Bibir tipis yang memiliki belahan di bibir bagian bawah. Andin memalingkan wajahnya ke arah lain karena malu ditatap se-intens itu oleh Jhon.
"Kenapa?"
"A-ku … tambah malu dan gugup." Andin kembali menunduk.
Jhon menangkup wajah Andin dengan kedua tangannya dan mengecup lembut bibir Andin. Kecupan yang semakin lama semakin mengalirkan hasrat gairah birahi yang kian memuncak. Jhon mendorong Andin ke atas ranjang, dia merangkak diatas tubuh Andin kemudian kembali mengecup bibir Andin. Bibir Andin bagaikan candu bagi Jhon. Berapa lamanya pun Jhon mengecup bibir itu rasanya tidak cukup puas. Andin mulai terengah-engah kekurangan oksigen, kecupan Jhon yang begitu lama membuat Andin seolah akan kehabisan napas.
Jhon menurunkan kecupannya ke leher Andin dan kedua tangannya mulai nakal dan bergerilya menyusuri setiap lekukan tubuh ramping Andin. Entah kapan pakaian tidur yang Andin kenakan itu lolos dari tubuhnya. Gejolak gairah yang tercipta dari sentuhan-sentuhan tangan Jhon membuat rasa gugup dan malu Andin menguap. Rasa malu itu seolah bagai asap yang hilang tertiup angin. Di sela-sela desakan gairahnya Jhon membisikkan sesuatu di telinga Andin dengan napas berat.
"Sayang, percayakan semuanya padaku. Aku … tidak akan menyakitimu," ucap Jhon pelan.
"Hem, aku percaya padamu, sayang." Andin menjawab dengan senyuman samar. Jhon mematikan lampu tidurnya dan ritual malam pengantin pun akhirnya mereka lakukan. Dengan lembut Jhon memperlakukan Andin hingga akhirnya mereka mencapai puncak dan terbaring kelelahan dengan peluh yang membanjiri sekujur tubuh kedua insan yang dimabuk asmara.
Jhon berbaring memeluk Andin. Kepala Andin berbaring di lengan Jhon. Dengan senyuman bahagia mereka berbaring melepas lelah. Jhon mengecup kening Andin dan mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang. Telah menjaga kesucianmu untukku. Aku sangat bahagia karena akhirnya kita benar-benar bisa bersama. Menghirup udara di kamar yang sama, berbaring di ranjang yang sama dan menjalani hari-hari kedepannya bersama-sama. Terima kasih karena telah menjadi istri dari pria yang tidak sempurna ini," ucap Jhon sambil membelai pipi Andin.
"Terima kasih juga karena telah menjadi suami dari wanita kuper yang tidak romantis ini. Marilah kita sama-sama saling melengkapi mulai hari ini dan sampai kita tua nanti. Sampai kita memiliki anak dan cucu. Sampai maut yang akan memisahkan kita."
"Hah, kamu bilang tidak romantis tetapi ucapanmu jauh lebih romantis dariku. Aku kalah. Sini, beri aku pelukan!" Jhon merapatkan tubuh mereka dan berpelukan dengan wajah Andin menempel di dada bidang Jhon. Dini hari kian merayap menyongsong pagi. Jhon dan Andin bergantian membersihkan diri dan tidur berpelukan setelah Andin mengganti sprei yang basah oleh keringat dan terdapat bercak merah. Jhon dan Andin terlelap setelah mendaki bukit asmara bersama.
--------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
I Love you, readers ♥️♥️♥️
__ADS_1