
"Sayang, apa kamu masih ingat tempat kita duduk sekarang?"
"Masih. Kenapa?"
Irgi menggeser duduknya dan merebahkan kepala Seren ke pundaknya. Seren memang tidak pernah bisa marah terlalu lama pada Irgi. Irgi terdiam menatap surya yang mulai tenggelam.
"Sudah lama, sejak kita berempat duduk di sini dan memandang matahari tenggelam. Apa kamu masih ingat kapan terakhir kita berkumpul dan liburan keluarga?" tanya Irgi sambil merangkul pinggang Seren.
"Sepertinya saat kita ke tempat nenek di Surabaya," jawab Seren.
"Bagaimana kalau kita liburan keluarga lagi, sudah lama sekali kita tidak berkumpul."
"Boleh. Nanti aku bicarakan dengan yang lainnya. Tapi untuk sekarang, aku mau pulang dan Kakak tidur di sofa malam ini," ucap Seren. Ia bangun dan melangkah meninggalkan Irgi.
"Sayang, masa aku tidur di sofa sih," ucap Irgi sambil mengejar Seren yang melangkah cepat menuju ke mobilnya.
"Biarin. Karena Kakak nakal, ketemu sama mantan tapi tidak bilang-bilang sama aku." Seren masuk ke dalam mobil dan melaju membawa mobilnya keluar dari area wisata pantai.
"Ch, aku pikir sudah hilang ngambeknya. Sepertinya nanti malam harus bekerja keras untuk membujuknya." Irgi menggumam dan masuk ke dalam mobil miliknya. Ia menyusul mobil Seren yang sudah keluar lebih dulu.
Seren dan Irgi memiliki rasa saling percaya yang kuat. Seren tahu ucapan Irgi benar adanya, dan ia tidak berbohong apalagi berselingkuh. Seren hanya kesal karena Irgi tidak mengirimkan pesan atau menelepon ke rumah. Padahal Irgi tahu, Die Die menanti kepulangannya. Jadi, Seren menghukum Irgi atas salahnya yang tidak menelepon puterinya.
Mobil Seren tiba lebih dulu di rumah. Seren memarkir mobilnya di garasi dan melihat ke gerbang.
"Kemana lagi dia?"
"Siapa?" tanya Syahdan yang sedang menggendong Die Die.
"Kak Irgi," jawab Seren singkat. Seren dan Syahdan masuk ke dalam rumah.
***
Joan dan Ken berhenti di sebuah warung bakso. Joan merasa malas untuk makan, jadi ia mengajak Ken makan bakso.
"Sayang, rencana pernikahan kita, jadi barengan sama Jhon dan Andin?" tanya Ken dengan hati-hati. Sebelumnya saat Ken mengajak Joan untuk segera menikah, Joan menolak. Entah apa yang membuat Joan berubah pikiran dan mengajak Ken menikah di hari yang sama dengan Jhon.
"Kenapa? Tidak mau menikah?" tanya Joan sambil menyuap bakso dengan garpu. Joan lebih suka bakso bakar pedas. Berbeda dengan Ken yang lebih suka bakso kuah.
"Bukan begitu. Aku takut kalau kamu berubah pikiran. Boleh aku tanya?"
"Boleh, tanya saja."
"Apa yang membuat kamu berubah pikiran?"
"Em. Alasan pertama, karena sudah lama kita bersama. Alasan kedua, kita sudah dewasa, dan sudah waktunya berhenti bermain-main. Sudah waktunya kita serius menghadapi hubungan rumah tangga. Alasan ketiga, karena aku dengar kalau Bidadari bercerai dengan Rui. Aku takut kalau hati kamu goyah, Ken." Joan menatap Ken dengan rasa takut. Wajahnya sangat jelas menyiratkan ketakutan.
"Jo, kamu masih belum percaya dengan cintaku? Percayalah, di hatiku, hanya ada satu tempat untuk satu nama. Jo, mari kita hidup bersama dalam rumah yang sama. Menghabiskan 24 jam dalam sehari dengan saling menatap satu sama lain, Jo." Ken menggenggam tangan Joan.
Joan mengangguk dan membalas menggenggam tangan Ken. Kurang dari seminggu lagi, Jhon, Andin, Ken dan Joan akan menikah. Mereka mengikuti jejak kedua orang tua mereka. Pernikahan mereka adakan di cafe, sama seperti saat Syahdan dan Lara menikah, juga Rina dan Zidane. Setelah bakso yang mereka pesan habis dilahap. Joan dan Ken pergi ke taman dan duduk disana sambil menatap langit yang mulai berubah menjadi warna jingga.
"Ken, bisakah kamu menyanyikan sebuah lagu untukku?" Joan bersandar di pundak Ken.
__ADS_1
"Lagu apa yang ingin kau dengar, sayangku?"
"Em, coba aku pikir sebentar." Joan berpikir kira-kira lagu apa yang cocok dengan suasana romantis mereka saat ini.
"Lagu 'Kangen band' yang 'Takkan terganti' bisa?" tanya Joan.
"Em, sebentar aku ingat-ingat dulu. Ok." Ken menarik napas dalam sebelum mulai bernyanyi.
*Ku bersyukur memiliki kamu
Ku bahagia ada disampingmu
Hati ini terasa tenang
Bila kau selalu bersama diriku
Ku terima kekurangan kamu
Kau terima kekurangan aku
Lengkapilah lembar jalanku
Untuk mengarungi di setiap langkahku
Dari dalam hati kau takkan terganti
Sampai nanti aku mati
Dari dalam hati kau takkan terganti
Kusayangi kau sepenuh hati
Aku mohon kau tetap di sini
Menemani aku sampai akhir nanti
Kan kujaga kau selama-lamanya
Sampai raga tak lagi bernyawa
Aku mohon kau tetap setia
Menemani aku sampai akhir dunia*
Joan menutup mata selama Ken bernyanyi. Ia menghayati arti dari lagu yang Ken nyanyikan. Saat Ken berhenti di akhir bait lagu, Joan membuka mata dan menatap kedua manik mata Ken.
"Terima kasih, sayang." Joan tersenyum bahagia menatap Ken.
"Suaraku ini jelek, tapi kenapa kamu selalu menyuruhku bernyanyi? Apa kamu tidak merasa bosan?"
"Tidak. Suaramu sangat lembut saat bernyanyi, aku harap kamu jangan merasa bosan jika nanti saat kita sudah menikah. Aku mungkin akan memintamu menyanyikan satu lagu setiap malam, setiap hari, sampai aku terlelap."
__ADS_1
"Aku terima syarat darimu, Jo. Jika kamu ingin aku menyanyikan lagu nina bobo setiap hari juga tidak apa-apa."
Joan tersenyum menanggapi ucapan Ken. Joan bangun dan mengulurkan tangan. Ken meraih uluran tangan Joan dan mereka melangkah bergandengan tangan menuju ke dalam mobil.
"Ah, aku sangat tidak sabar menunggu mendapatkan SIM," ucap Ken saat mereka sudah masuk kedalam mobil.
"SIM? Bukannya kamu sudah dapat SIM?" tanya Joan.
"Belum."
"Belum? Bagaimana kalau kita ditilang?" tanya Joan kembali.
"Kamu benar. Aku sangat ingin melakukannya tapi aku takut ditilang."
"Melakukan, melakukan apa? Kamu sedang membicarakan apa sih," ucap Joan dengan ketus.
"SIM, Surat Izin Menyentuhmu," jawab Ken sambil menatap lekat wajah Joan. Setelah Joan menyatakan bersedia menikah, pikiran Ken dipenuhi dengan hal yang terlarang. Semua yang ada dalam diri Joan, terlihat sangat menggoda bagi Ken. Bibirnya, dagunya, lèhernya, semuanya membuat Ken selalu menelan saliva. Sekuat hati ia bertahan, menunggu saat dirinya telah sah untuk menyentuh setiap jengkal tubuh Joan.
"Em, ekhem. Kita jadi pulang ke rumah, kan?" tanya Joan gugup. Pandangan Ken yang seakan ingin melahapnya, membuat Joan gugup dan salah tingkah. Apalagi setelah Ken jujur mengatakan padanya bahwa Ken sangat ingin melakukannya, tubuh Joan berkeringat dingin.
"Tentu saja jadi. Atau ...."
"A-atau apa?" tanya Joan dengan tangan mengepal.
"Tidak ada, kita pulang sekarang," jawab Ken. Ken menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi meninggalkan taman. Sepanjang jalan, Ken tidak berhenti tersenyum. Di dalam hati ia terus berucap, " Sabar Ken, tinggal lima hari lagi." Ken sungguh bahagia, tidak lama lagi, Joan akan menjadi miliknya seutuhnya.
-----------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏