
Bidadari terusik dari mimpinya yang indah. Dia menggeliat malas di atas ranjang, saat terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya. Sayup-sayup dia mendengar suara lelaki, yang berteriak-teriak memanggil namanya.
tok tok tok
"Mba, mba Bie!" panggil seorang wanita. Dia adalah wanita, yang Bidadari percaya untuk mengurus anak-anak. Meski dengan terpaksa, akhirnya Bidadari bangun dari ranjangnya. Dengan mata yang mengantuk dan badan lelah, Bidadari membuka pintu. Selain suara sang pengurus panti, Bidadari juga mendengar suara pria di tengah rumah.
"Maaf, mba! saya sudah bilang, kalau mba tidak bisa diganggu, tapi!" ucapan pengurus panti menggantung karena suara teriakan.
"Bidadari yang katanya cantik, keluar lo!" teriak Ken. Pria yang sedang teriak-teriak di tengah ruang tamu itu adalah Ken. Bidadari langsung turun dari lantai dua, menapaki anak tangga dengan terburu-buru. Dia menghampiri Ken di ruang tamu.
"Kamu! ... Ngapain kamu teriak-teriak malam-malam di rumah orang! Kamu gak tahu sopan santun! dan juga namaku Bidadari Cantika, bukan bidadari yang katanya cantik!" bentak Bidadari.
"Terserah, pokoknya gue mau lo jelasin sama Joan sekarang juga! Atau gue akan teriak-teriak di sini sampai pagi dan ganggu penghuni rumah!" ancam Ken.
Bidadari hanya merengut kesal karena kelakuan Ken. Bidadari tidak mau mengganggu istirahat anak-anak panti. Terlebih jam delapan malam adalah jam tidur mereka.
"Ok, aku akan ikut! tapi tunggu aku di luar rumah, kamu sudah mengganggu anak-anakku!" ucap Bidadari dengan ketus.
Ken menaikkan sebelah alisnya. Ken yang tidak tahu jika Bidadari adalah pemilik panti asuhan itu merasa heran, saat Bidadari mengatakan anak-anaknya. Tapi Ken tidak mau menghambat waktu, jadi dia pergi keluar dan menunggu Bidadari di dalam mobil yang dia parkir di depan gerbang.
Bidadari mengganti handuk mandi yang tadi dipakainya untuk tidur dengan kaos biru dan celana jeans 3/4. Dia segera menyusul Ken setelah selesai berpakaian. Bidadari masuk ke dalam mobil dan Ken segera tancap gas.
"Dari mana kamu tahu alamatku?" tanya Bidadari.
flashback
__ADS_1
Sore hari setelah mandi, Ken menelpon Joan. Ken tidak mau kesalah fahaman mereka terus berlanjut. Ken menjelaskan soal Bidadari pada Joan, dan Joan ingin Ken membawa Bidadari ke hadapannya agar dia sendiri yang menjelaskan pada Joan. Ken pergi ke rumah Andin untuk menanyakan alamat Bidadari. Setelah mendapatkan alamat Bidadari, Ken segera meluncur mencari alamat itu.
Ken sampai di pintu gerbang dan terpaku heran. Kenapa alamat yang Andin berikan adalah alamat panti asuhan. Ken menunggu lebih dari satu jam. Dia menunggu Bidadari keluar, tapi karena tak juga keluar, akhirnya Ken masuk dengan bertanya pada satpam.
"Pak, saya mau bertemu Bidadari, bisa?" tanya Ken.
"Maaf, mas! mba Bie tadi pesan, jika ada yang mencarinya, suruh datang lagi saja besok!" ucap satpam itu. Satpam itu langsung kembali ke posnya.
"Besok lagi! yang benar saja! Kalau gue nunggu besok, bisa-bisa end beneran kisah cinta gue!" gerutu Ken. Ken mengendap-endap masuk melalui pagar samping. Dan teriak-teriak menggedor pintu. Satpam yang berjaga segera menghampiri dan menyeret Ken tapi tenaga Ken lebih kuat dari sang satpam. Mungkin karena Ken jauh lebih muda.
Saat pengurus panti membuka pintu, Ken langsung menerobos masuk dan memanggil Bidadari.
flashback off
Kruuccuukkk
Tiba-tiba tawa Ken menghambur.
"Haha haha, lo lapar?" tanya Ken sambil terus tertawa.
"Aku tuh pulang langsung mandi, tidur, niatnya bangun tidur mau makan. Tapi malah di culik demit !" jawab Bidadari teriak sinis menatap Ken.
"Wah, sialan! gue di katain demit! Kalau di culik demit ganteng kaya gue, harusnya lo bersyukur!" jawab Ken dengan senyum penuh percaya diri. Ken menepikan mobilnya di warung nasi goreng lesehan pinggir jalan.
"Turun, kita makan dulu!" ucap Ken.
__ADS_1
"Gak terlalu romantis nih, makan di pinggir jalan sambil ngelihat bintang!" sindir Bidadari.
"Udah buruan, bawel amat sih! Gue gak niat ya, traktir lo di caffe. Buruan makan, habis makan gue mau bawa lo ke caffe buat ketemu pacar gue!" ucap Ken dengan kesal. Bidadari memesan nasi goreng pedas, setengah jam menunggu akhirnya nasi goreng siap disantap.
Di rumah Joan
Joan sudah siap berangkat ke caffe. Rui yang kebetulan berencana menginap di rumah Zidane melihat Joan akan pergi.
"Kemana, Jo?" tanya Rui.
"Ketemuan sama Ken, mau ikut?" ajak Joan. Rui langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi bersama Joan.
Ditengah perjalanan menuju caffe, Joan melihat Ken yang sedang makan berdua dengan wanita yang mencium Ken pagi tadi. Joan menyuruh Rui berhenti. Dia terus memperhatikan ke seberang jalan. Rui mengikuti pandangan Joan.
Di warung nasi goreng, Ken dan Bidadari sedang saling meledek, dan itu terlihat seperti sedang bermesraan di mata Joan yang hanya melihat dari jauh.
"Kamu tuh, cowok dengan mulut yang pedas yang pernah aku kenal!" sindir Bidadari.
"Berisik lo, udah belum! Tar gue telat ke caffe gara-gara lo!" ucap Ken sambil menjewer telinga Bidadari.
"Aw, sakit! aku tuh pesan nasi goreng pedas masih panas, disuruh buru-buru juga gak bisa! Kamu cobain sini, gimana rasanya makanan pedas yang masih panas kalau nempel di mulut!" ucap Bidadari sambil mencoba menyuapi Ken sambil tertawa.
Dan adegan itu berhasil mengiris-iris hati Joan. Rui bingung harus menghibur Joan seperti apa. Dia hanya diam melihat Joan yang tersenyum getir melihat Ken.
"Rui, kita pulang saja!" ucap Joan. Rui putar balik dan pulang kembali ke rumah Rina. Sampai di rumah, Joan langsung mengurung diri di kamar. Rina dan Zidane sedang di ruang kerja, minum teh dan bersantai sambil membaca buku. Mereka tidak tahu apa pun yang sedang terjadi pada Joan.
__ADS_1