Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
12.Maaf, Jo!


__ADS_3

Ayah dan anak itu duduk santai sambil bercerita.


"Pa, pernahkah papa merasa perasaan papa berubah pada Mama?" tanya Ken.


"Tidak! tidak pernah sekalipun Papa merasa tak mencintai Mama lagi. Papa selalu bertambah sayang dan cinta sama Mama," jawab Syahdan.


"Oh. Lalu bagaimana jika perasaan yang kita miliki tiba-tiba berubah?" tanya Ken.


"Kenapa? Perasaanmu pada Joan berubah?" Syahdan balik bertanya pada Ken.


"Tidak sepenuhnya, karena Ken masih mencintai Joan. Hanya saja diantara perasaan untuk Joan, ada perasaan untuk yang lain. Apa yang harus Ken lakukan, Pa?" Ken bicara sambil menatap Syahdan.


"Jika seperti itu, berarti cintamu pada Joan belum terlalu kuat. Saran Papa, lebih sering bersama Joan. Yang sedang kau alami adalah ujian cinta. Perkuat pondasi hubunganmu bersama Joan. Jangan jadi pecundang, dengan mencintai lebih dari satu wanita. Itu bukanlah sikaf yang Papa turunkan padamu. Papamu ini pria yang setia, yang cukup mencintai satu wanita!" jawab Syahdan panjang lebar.


"Begitu ya Pa?" gumam Ken pelan. Syahdan menepuk pundak Ken lalu meninggalkannya.


Ken merenungkan ucapan Papanya. Dia mengenang kembali perasaannya pada Joan, perasaan yang telah tumbuh sejak dirinya masih SD. Dia mengenang bagaimana hari-hari yang mereka lalui selama enam tahun itu. Ken sadar jika dirinya sudah berbuat tidak adil pada Joan.


"Maaf, Jo!" Ken memejamkan matanya seraya bergumam lirih.


Ken lalu bangun dari tempat duduknya dan turun mencari Joan. Setelah melihat Joan, Ken menariknya.


"Jo, ikut aku!" ucap Ken.


"Eh, mau kemana?" tanya Joan.


Ken tak menjawab dan terus menarik Joan keluar. Ken membawa Joan ke taman di bukit belakang desa. Sampai di sana, Ken berlutut di depan Joan.


"Ken! Apa yang kau lakukan?" tanya Joan lalu berjongkok di depan Ken.


"Maafkan aku, Jo!" ucap Ken dengan tertunduk.

__ADS_1


"Maaf, untuk apa?" tanya Joan heran.


"Karena aku, aku telah mengkhianatimu!" jawab Ken.


Joan berdiri seketika, dia mundur dua langkah. Joan tahu jika Ken sudah mengkhianatinya, tapi mendengar sendiri dari bibir Ken, sangat menyakitkan bagi Joan.


"Aku tahu, Ken. Kemana hatimu berkelana, Bidadari kan?" tanya Joan ditengah air mata dan isak tangis.


"Kamu tahu, Jo?"


"Aku tahu! semuanya aku tahu Ken. Hiks," jawab Joan.


Ken hanya menunduk tak bisa lagi berkata-kata.


"Kenapa, Ken? Aku selalu setia sama kamu! Kenapa kamu tega membagi hatimu pada wanita lain. Saat ini, aku tidak ingin melihatmu!" ucap Joan.


Joan berlari pulang, meninggalkan Ken yang masih berlutut di tanah. Acara pertunangan Bidadari dan Rui sudah berakhir sore hari. Mereka beristirahat setelah acara pertunangan yang melelahkan.


"Apa kalian ada yang melihat Ken?" tanya Lara khawatir.


"Bukankah tadi siang dia pergi bersama Jo!" ucap Rui.


Mereka yang berkumpul di meja makan itu jadi menatap ke arah Joan.


"Ken ingin berjalan-jalan sendiri, jadi Joan pulang tanpa Ken," jawab Joan.


"Oh, syukurlah kalau begitu, Tante sangat khawatir tadi!" ucap Lara.


Mereka melanjutkan makan dengan perasaan lega, berbeda dengan Joan yang mulai khawatir. Setelah makan malam, semuanya memilih beristirahat di kamar masing-masing. Joan mondar-mandir dengan gelisah sambil sesekali melirik jam dinding.


"Tidak mungkin dia masih di taman belakang desa itu kan?" Joan bertanya-tanya sendiri.

__ADS_1


Tok tok tok


"Masuk, tidak dikunci!" jawab Joan.


ceklek


"Mama! ada apa, Ma?" tanya Joan.


"Ada apa antara kalin?" tanya Rina.


"Ada apa, tidak ada apa-apa kok, Mah!" jawab Joan dengan gugup.


"Kamu bisa membohongi yang lain, tapi tidak dengan Mama! Katakan dengan jujur, dimana Ken?" tanya Rina.


"Tadi Joan meninggalkan Ken di taman, mungkin dia masih di sana!" jawab Joan.


"Jika punya masalah, selesaikan baik-baik! Jangan buat Tante Lara khawatir. Pergi dan suruh Ken pulang!" perintah Rina. Kemudian Rina keluar dan pergi ke kamarnya.


Joan berjalan pelan menuju taman belakang. Dia menggerutu sepanjang jalan.


"Cowok resek kaya dia, gak mungkin rasanya kalau masih berlutut di sana menunggu maafku! Huh, kalau bukan karena Tante Lara, rasanya malas buat jemput kamu. Biarin aja kamu masuk angin duduk di sana. Kamu juga gak bakalan mau berlutut di sana dari tadi siang sampe sekarang, itu tidak mu...ngkin. Ken!!" Joan berlari menghampiri Ken yang ternyata benar-benar masih berlutut di tempat yang sama saat Joan meninggalkan Ken siang tadi.


"Ken, hei!" panggil Joan.


"Kamu maafin aku kan, sayang?" ucap Ken lemah. Dia berlutut selama lebih dari delapan jam, sejak siang hari. Ken tidak peduli dengan terik matahari yang membakar kulitnya. Hingga jam sepuluh malam Joan datang, Ken sudah benar-benar lemas dan terduduk tepat saat Joan sampai di sana.


"Ayo bangun, Ken!" Joan mencoba mengangkat Ken tapi Ken tidak mau bangun sebelum Joan memaafkannya.


"Aku tidak akan bangun sebelum kamu maafin aku!" jawab Ken.


"Iya aku maafin, ayo bangun!" Joan mengangkat Ken tapi dia masih tak mau bangun. "Aku sudah memaafkanmu, kenapa masih tak mau bangun?" Joan mengomeli Ken.

__ADS_1


"Sebenarnya, kakiku sudah mati rasa!" ucap Ken dengan tersenyum memandang Joan. Joan memeluk Ken dan menangis. Ken membalas pelukan Joan dengan erat. Ken berjanji pada dirinya sendiri untuk melepaskan perasaan yang tak seharusnya dia pertahankan untuk Bidadari. Bidadari mungkin pernah mengusik hatinya. Tapi di dalam hatinya nama Joan masih terpatri dengan kuat. Ken sadar dia sudah banyak menyakiti hati Joan, dan dia berjanji untuk lebih mencintainya, lagi dan lagi.


__ADS_2