
Lara tiba di rumah Syahdan dan segera mengetuk pintu. Syahdan membuka pintu sambil membawa Seren dalam gendongannya.
"Nah, itu pasti tante Lara. Yuk, kita bukain pintunya," ajak Syahdan pada Seren.
Saat Syahdan sudah membuka pintu, Syahdan menganga dan Seren yang tadinya masih terisak berubah tertawa.
"Haha .... Tante Lala lucu. Lambutnya acak-acakkan," ucap Seren dengan tawanya yang menggemaskan.
Lara ingat, jika dia baru bangun tidur, langsung lari tanpa cuci muka ataupun mandi. Rambutnya juga acak-acakkan. Saking khawatirnya pada Seren. Lara seketika menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Tante Lala, Selen mau bobo, tapi pengen dipeluk tante," pinta Seren pada Lara.
Lara membuka tangan yang menutup wajahnya dan meraih Seren dari gendongan Syahdan.
"Ayo, Sayang. Tante temenin Seren bobo, ya." Lara membawa Seren dan menemaninya sampai tertidur. Setengah jam kemudian, Seren sudah terlelap. Lara meninggalkan Seren dengan suara pelan agar tidak membuat gadis kecil itu terbangun.
Di ruang tamu, Lara melihat Syahdan sedang membaca majalah. Lara melihat dan memperhatikan pria itu dari atas sampai bawah. Dia memperhatikan wajah Syahdan dengan intens. Mata bulatnya memancarkan ketegasan dan bibirnya berwarna merah tua tapi tidak hitam. Sepertinya Syahdan bukanlah pecandu rokok.
Lara menghampiri Syahdan. "Mas, maaf, bolehkah aku pinjam baju ganti? Aku belum mandi dari siang, tadi aku lupa karena langsung bergegas kemari."
"Sesayang itu kamu pada Seren?" tanya Syahdan.
"Saya juga gak ngerti, Mas. Begitu mendengar Seren mencariku, aku tidak memikirkan hal apapun lagi," jawab Lara.
"Mandi dan gantilah bajumu di kamarku. Di sana ada baju almarhum mamahnya Seren," perintah Syahdan pada Lara.
"Baik. Saya permisi ke kamar kalau begitu, Mas." Lara berlalu ke dalam kamar Syahdan.
Setengah jam kemudian l, Syahdan baru sadar.
__ADS_1
"Lara pasti tidak tau dimana aku menyimpan baju bekas Ranti. Sebaiknya, aku lihat ke dalam," pikir Syahdan.
Syahdan sampai di depan kamarnya dan membuka pintu. Syahdan terpana dengan pemandangan di hadapannya. Lara tidak memakai jubah mandi, tapi hanya memakai handuk. Dia berdiri membelakangi Syahdan, dia sedang mencari cari baju di lemari.
Syahdan menelan ludahnya. Dia melihat hal yang sangat menggoda imannya. Pundak putih Lara serta paha mulusnya membuat dia berpikiran liar.
*Syahdan mendekati Lara dan langsung memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya di perut Lara. Gadis itu terdiam dan bahkan membalas dengan mendekap tangan Syahdan di perutnya. Syahdan mencium pundak Lara.
Terdengar ******* kecil dari mulut tipis Lara.
Syahdan beralih mencium tengkuk Lara.
"Mas ...." ******* Lara semakin jelas.
Syahdan membalikkan tubuh Lara. Dan dengan segera, satu tangannya memegang pipi Lara, sedangkan tangan lainnya memeluk pinggang Lara.
Lara melenguh sambil membuka mulutnya dan membalas ciuman Syahdan*
Dan ... lamunan nakal Syahdan buyar.
Saat Lara menoleh ke belakang dan menjerit membuyarkan imajinasi liar Syahdan.
"Ah! Dasar mesum! Cepat keluar!" teriak Lara.
Lara menghampiri dan mendorong Syahdan keluar. Gerakan mendorongnya membuat handuk yang dipakainya terlepas.
"Aah! Mas, balik badan sana!" Wajah Lara benar-benar merah seperti kepiting rebus.
Syahdan memutar badannya membelakangi Lara. Gadis itu segera memungut handuk yang terjatuh dan memakainya kembali.
__ADS_1
"Mas ngapain masuk ke sini?"
"Saya cuma mau ngasih tau. Baju almarhum istri saya disimpan di koper, di lemari paling bawah," jawab Syahdan, memberitahu gadis itu sambil menunjuk ke arah lemari.
"Oh, maaf. Saya kira, Mas mau macam-macam," jawab Lara.
"Kalo diizinkan, boleh juga kalau macam-macam. Hahaha ...." Syahdan bercanda sambil berlari keluar kamar, lalu menutup pintunya
"Apa? Ikh! Mas mesum!" teriak Lara melihat Syahdan berlari keluar.
Syahdan bersandar pada pintu dan mengatur nafasnya. Hasratnya bangkit setelah melihat Lara tadi.
"Ah, sial! Si dede bangun lagi. Alamat olahraga di kamar mandi ini," gerutu Syahdan.
Lara selesai berganti baju, lalu membuka pintu. Syahdan yang masih bersandar di sana pun terjengkang, jatuh tertidur telentang di antara kedua kaki Lara.
"Mas!" teriak Lara. Kali ini ia benar-benar marah.
(Mampus, nih. Bakal runyam. Ah, mending saya pura-pura pingsan.) Syahdan bergumam dalam hati. Syahdan memejamkan matanya dan berpura-pura pingsan.
"Bangun, Mas. Saya, tau, Mas pura-pura. Cepat bangun." Sekali dua kali, Lara menyuruh Syahdan bangun, tapi Syahdan tetap diam. Lara mulai cemas, jangan-jjangan tadi, kepalanya menghantam lantai? "Aduh ... gimana ini?" Lara panik sendiri.
Karena para pembantu juga sudah tidur. Tidak mungkin, kan, Lara tega biarin Syahdan tergeletak di lantai. Meski masih sedikit kesal, akhirnya Lara membopong Syahdan ke kasur. Lara melingkarkan tangan Syahdan ke bahunya dan tangan Lara memeluk pinggang Syahdan. Ia membantu memapah laki-laki itu ke tempat tidur, lalu membaringkan Syahdan di sana.
Yah readers ternyata adegan muah muahnya cuma hayalan Syahdan haha
tunggu episode selanjutnya ta readers
hari ini aq up 3eps dulu smoga kalian suka
__ADS_1