
Pagi-pagi sekali Seren sudah duduk di balkon kamarnya. Seren menatap langit yang semula gelap perlahan-lahan berubah menjadi terang. Seren merasa pegal berbaring padahal ia tidak tidur. Seren memakai mode senyap sehingga saat Jhon mengirimkan sebuah pesan singkat, Seren tidak mendengarnya. Jam lima pagi, Seren turun dari ranjang perlahan agar tidak membangunkan Irgi.
Seren mengambil ponselnya dan melangkah ke arah balkon kamar. Ia duduk di kursi panjang yang ada di balkon. Seren membaca pesan dari Jhon, lalu menutup kembali ponselnya setelah membacanya. Seren duduk menatap langit yang mulai terang dan memperlihatkan awan berarak berwarna putih dan biru.
"Semalam hujan lebat, dan hari ini sepertinya akan menjadi hari yang cerah." Seren tersenyum lalu menguap. Jam tidur Seren seperti kelelawar, terjaga malam hari dan mulai mengantuk jika matahari sudah mulai muncul. Seren menutup matanya dan perlahan ia tertidur pulas di kursi panjang.
Irgi menggeliat di ranjang, ia meraba sisi ranjang dan perlahan matanya terbuka. Ia melihat tempat di sampingnya kosong. Irgi bangun dan melangkah menghampiri Seren. Ia sudah hafal keseharian Seren sejak ia hamil. Irgi menggendong Seren dan membaringkannya di ranjang dengan perlahan. Kemudian dengan lembut Irgi mengecup kening Seren dan menyelimutinya.
Irgi pergi ke kamar mandi karena ia sudah mulai bekerja. Sebenarnya Ronald sudah melarang Irgi untuk pergi ke kantor karena Irgi baru saja pulang dari rumah sakit. Namun Irgi beralasan bahwa tubuhnya malah kaku jika ia terus-terusan beristirahat di rumah. Ronald kembali ke luar kota setelah Irgi keluar dari rumah sakit. Karena Seren sedang hamil muda dan butuh perhatian, Ronald memerintahkan Irgi untuk bekerja di pusat saja, sedangkan kantor cabang di luar kota dipegang oleh Ronald.
Setelah rapi, Irgi turun ke bawah dan bergabung dengan Syahdan dan Lara untuk sarapan.
"Selamat pagi, Ma, Pa. Ken kemana?" tanya Irgi. Biasanya Ken sudah duduk bersama Lara dan Syahdan.
"Pagi, Gie. Papa tidak melihat Ken sejak bangun tidur," jawab Syahdan.
"Ken menginap dengan Jhon di rumah teman mereka. Tadi pagi-pagi Jhon telepon Mama," ucap Lara.
"Oh," pungkas Irgi.
Mereka kemudian sarapan, biasanya berlima tetapi kini mereka hanya makan berempat jika Ken ada di rumah. Karena Ken tidak ada di rumah, mereka hanya sarapan bertiga. Seusai sarapan, Irgi dan Syahdan pergi ke kantor dengan mobil masing-masing. Setelah mereka pergi, Lara menyiram tanaman bunganya di teras depan rumah.
***
Jhon bangun pagi-pagi sekali untuk menjemput Andin, tetapi Jhon tidak menjemput Andin di rumahnya. Jhon mengirim pesan singkat pada Andin bahwa ia menunggu Andin di ujung gang. Jika Jhon ke rumah Andin, ia khawatir ketahuan oleh Lara bahwa ia berbohong tentang Ken.
Andin keluar dari rumahnya setelah selesai berdandan rapi. Ia menyapa Lara yang sedang menyiram tanaman di halaman.
"Selamat pagi, Tante," sapa Andin.
"Pagi, Ndin. Berangkat kuliahnya mau naik apa? Atau Tante antar kamu, bagaimana?" Lara menawarkan diri mengantar Andin. Karena biasanya Andin berangkat dengan Ken.
"Tidak perlu, Tante. Terima kasih, Andin sudah memesan taksi, tetapi taksinya Andin suruh menunggu di ujung gang," ucap Andin sambil tersenyum.
"Jauh sekali, kenapa?" tanya Lara.
__ADS_1
"Andin ingin berolahraga sedikit, berjalan kaki kesana," ucap Andin. Ia segera berpamitan atau dia akan bertambah panjang berbohong pada Lara. Andin berjalan cepat ke ujung gang. Disana Jhon sudah menunggunya. Saat Andin sampai, Jhon segera memberikan helmnya dan mereka melaju secepatnya.
***
Ken terbangun dari tidurnya. Joan masih terlelap di paha Ken. Ken kasihan melihat Joan tidur dengan posisi duduk, jadi Ken merebahkan kepla Joan di pahanya dengan dialasi tas Joan, karena celana Ken masih basah. Ia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Joan. Joan terbangun karena sentuhan jemari Ken.
"Maaf, aku jadi mengganggu tidurmu."
"Tidak apa-apa, aku memang sudah cukup tidur," ucap Joan. Ia bangun dan duduk bersandar di samping Ken.
"Sudah pagi, ya?" tanya Joan.
"Seharusnya sudah pagi. Disini tidak ada jendela, kita tidak bisa tahu sudah terang atau belum," ucap Ken.
"Lalu darimana kamu tahu kalau ini sudah pagi?" tanya Joan.
Ken tidak menjawab, ia hanya menunjukkan ponselnya. Joan memukulnya dengan kesal.
"Kalau sudah tahu pagi, kenapa pakai acara sepertinya, seharusnya. Dasar menyebalkan," rungut Joan. Ken hanya tertawa melihat Joan cemberut. Ken dan Joan kemudian duduk diam kembali. Mereka memikirkan nasib mereka pagi ini. Semalam, ketiga penculik itu berkata bahwa bos mereka akan menemui Ken dan Joan pagi ini.
"Jangan khawatir, Jo. Aku akan berusaha menyelamatkan kamu semampuku," ucap Ken. Ia mengangkat tangan Joan dan mengecupnya dengan lembut. Joan menatap Ken dengan rasa haru yang membuncah.
"Kita hadapi saja semuanya bersama. Aku tidak akan pergi tanpa kamu, sayang," ucap Joan. Ia kembali memanggil Ken dengan panggilan sayang.
"Hem, senangnya karena kamu panggil aku sayang lagi. Baiklah, kita hadapi semua bersama-sama, sayang," ucap Ken. Mereka berpelukan erat. Didalam hatinya, Ken berharap ia bisa melindungi dan menyelamatkan Joan. Ken tidak akan membiarkan Joan terluka sedikitpun.
Kreett!
Pintu gerbang terbuka. Para penculik itu masuk satu persatu, dua orang yang bertubuh tambun dan gempal berjalan di depan. Penculik berbadan kurus yang menodongkan pistol di pelipis Joan semalam melangkah di belakangnya. Satu orang lagi bertubuh tinggi berbadan sedang, melangkah paling belakang.
Joan merapat pada Ken dan memeluk lengan Ken dengan erat. Wajah mereka tidak terlihat karena membelakangi cahaya matahari dan gudang itu tidak memiliki jendela. Ken dan Joan tidak bisa mengenali wajah mereka dengan jelas. Perlahan-lahan para penculik itu semakin mendekat. Joan semakin ketakutan.
Para penculik yang berada di depan, menyingkir dan memberi jalan untuk pria yang berdiri di barisan paling belakang.
"Kalian sudah bangun, baguslah. Dia adalah bos kami, orang yang memiliki urusan dengan kalian berdua," ucap penculik bertubuh kurus yang memegang pistol.
__ADS_1
Ken dan Joan memicingkan mata mereka agar bisa melihat dengan jelas, siapa pria yang menculik mereka.
Perlahan-lahan pria itu melangkah semakin mendekat. Ken dan Joan bangun dan berdiri di dekat dinding. Ken menyembunyikan Joan di belakang tubuhnya, Ken mencoba sebisa mungkin melindungi Joan. Ken merentangkan kedua tangannya. Pria itu terus berjalan hingga ia berdiri tepat di bawah lampu temaram berwarna kuning. Ken dan Joan sama-sama membelalak lebar saat melihat orang itu.
"Pak Radja!" Joan dan Ken secara bersamaan mengucapkan nama itu.
Radja berdiri di bawah lampu, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya. Ia tersenyum penuh arti, dan tidak lama ada tiga orang lain lagi yang masuk ke dalam gudang. Mereka berdiri di pintu dan Ken hanya melihat sosok tubuh mereka tanpa tahu wajahnya.
___________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏
__ADS_1