Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
23. Kencan Ken (2)


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Andin, Ken dan Joan berpamitan.


“Istirahatlah, kami pergi dulu,” ucap Ken.


Joan maju dan memeluk Andin.


“Din, maafin Jhon, ya. Aku akan coba menasihatinya,” ucap Joan lembut.


“Kenapa kamu minta maaf? Ini bukan salahmu, dan… soal Jhon kalian tak perlu ikut campur. Aku tidak mau kalian nanti malah bertengkar dengannya,” ucap Andin tersenyum.


“Kau selalu saja begitu tenang menghadapi Jhon. Jika aku yang menjadi dirimu, aku tidak akan tahan dengan Jhon. Kami pergi dulu,” ucap Joan lalu melangkah pergi bersama Ken.


Andin melihat mobil Ken melaju pergi meninggalkan halaman rumah Ken. Andin duduk di teras rumah. Ia memandangi langit malam yang terlihat cerah, disinari cahaya purnama. Angin bertiup menerpa tubuh Andin. Dingin, seperti hatinya malam ini, yang begitu kedinginan, hampa, bimbang dan sedih yang tidak bisa ia lukiskan. Dia ingin menyerah saja kali ini. Rasanya sulit untuk bertahan dengan orang seegois Jhon.


***


Ken menepikan mobilnya di samping warung nasi goreng angkringan. Dia membukakan pintu untuk Joan, lalu mengulurkan tangannya menuntun Joan turun.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Joan. Mereka masuk ke dalam tenda dan memesan dua porsi nasi goreng pedas level dua. Joan dan Ken tidak suka dengan makanan yang terlalu pedas, apalagi Joan yang punya penyakit asam lambung.


“Selamat menikmati,” ucap pedagang nasi goreng sambil menaruh dua piring nasi goreng pesanan mereka.


“Selamat makan,” ucap Joan tersenyum.


“Jo.”


“Hem,” jawab Joan sambil mengunyah.


“Terima kasih.”


“Untuk?”


“Pengertianmu, sekarang kau menjadi lebih pengertian. Aku jadi makin cinta,” ucap Ken.


“Aku hanya tidak ingin terus menjadi egois seperti Jhon. Aku sadar, selama ini aku terlalu egois, cemburuan, dan membuat kamu lelah. Seperti halnya Andin sekarang,” ucap Joan, menatap lekat kedua mata bermanik hitam milik pria yang dikasihinya.


“I love You,” bisik Ken di dekat telinga Joan.

__ADS_1


“I love You too,” jawab Joan pelan, lalu keduanya tersenyum.


Joan menghabiskan nasi goreng di piringnya, tapi Ken hanya makan beberapa suap.


“Kenapa tidak dimakan?” Joan melihat piring Ken yang masih penuh.


“Aku sudah makan, aku tidak enak jika tidak makan di rumah karena ada Kak Seren. Aku sudah jarang makan bareng Kak Seren.”


“Kenapa tidak bilang?” Joan jadi tidak enak hati.


“Kan ingin makan bareng kamu,” jawab Ken sambil mengelus rambut Joan.


“Dia selalu mengalah dan begitu perhatian. Bodohnya aku tidak menyadari sejak dulu. Mulai hari dan seterusnya, aku hanya akan percaya padamu Ken,” ucap Joan dalam hati.


“Kenapa menatap wajahku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?” Ken mengusap wajahnya.


Joan tersenyum dengan sangat manis. Ingin rasanya Ken menarik Joan dan mengecup bibir tipisnya, tapi karena itu di tempat umum, Ken jadi menahan niatnya.


“Kita main ke mana?” Ken membayar nasi gorengnya lalu masuk kembali ke dalam mobil.


“Sudah jam berapa ini? Masih mengajak main,” jawab Joan meledek.


Joan mengangguk, Ken bersorak kegirangan. Mobil Ken melaju membelah jalanan ibu kota yang masih ramai meski malam semakin larut. Joan menelepon Rina agar tidak mencarinya.


“Bagaimana? Boleh?” Ken bertanya setelah Joan menutup telepon.


“Boleh,” ucap Joan.


Ken memarkir mobilnya di sebuah pasar malam. Ken dan Joan lebih suka kencan di tempat terbuka, seperti pasar malam, taman bermain, pantai dan yang lainnya. Mereka tidak suka kencan di mall atau klub malam. Mereka berkeliling sambil bergandengan tangan, melihat berbagai wahana permainan. Ken mengajak Joan naik kora-kora, tapi Joan menolak karena sudah malam.


“Kita beli sosis bakar. Apa kau mau yang lain,” ucap Joan sambil menarik tangan Ken. Joan mengambil dua buah sosis jumbo.


“Tidak, aku tidak ingin. Kau saja,” jawab Ken.


Setelah sosisnya matang, Joan mengajak Ken ke mobil. Joan menawarkan satu buah sosis pada Ken, tapi Ken menggeleng.


“Aku beli dua dan ini ukuran jumbo, mana mungkin habis kumakan sendiri,” gerutu Joan. Ia menggigit sosisnya dan ucapan Ken membuyarkan rasa nikmat dari sosis bakar kesukaannya.

__ADS_1


“Aku masih kenyang, kau habiskan saja sendiri. Lagipula sosis itu kecil, masih lebih besar milikku.”


“Uhuukk, uhuukk, Ken!!” Joan tersedak dan berteriak, teriakan Joan membuat Ken menutup telinga sambil tersenyum jahil.


“Maksudnya saat aku membeli sosis bakar di tempat lain, sosisnya lebih besar. Haha, kau berpikir hal lain kan," goda Ken.


“Karena kau tidak mengatakan dengan jelas, dan kau malah tertawa. Aku tersedak gara-gara kamu.” Joan menaruh kembali sosisnya ke dalam bungkus plastik. Di sudut bibir Joan tersisa bekas saus tomat, Ken memajukan wajahnya dan menjilat bekas saus di bibir Joan.


Deg.


Jantung Joan seolah loncat keluar, tubuhnya menegang kaku. Pipinya merah merona karena ulah Ken.


“Hei, melamunkan apa?” Ken mengibaskan tangannya di depan wajah Joan.


“Tidak ada,” jawab Joan memalingkan wajahnya ke jendela mobil.


Ken tersenyum dan menarik Joan mendekat lalu mengecup bibir Joan. Bibir tipis yang sejak tadi memenuhi pikiran Ken. Mereka berpagut mesra beberapa saat sebelum Ken mengantar Joan pulang.


***


Jhon pulang dalam keadaan kacau, rambut berantakan dan mulut berbau alkohol.


Tok tok tok.


Jhon mengetuk pintu dan diwaktu yang sama, Ken dan Joan baru saja datang. Mereka menghampiri Jhon yang berdiri bersandar di tembok.


“Jhon, kamu mabuk?” Joan segera memapah Jhon dan Ken mengetuk pintu dengan lebih kencang.


Ceklek.


Rina membuka pintu dan mengernyit heran melihat Jhon.


“Jo, kenapa dengan Jhon? Em… bau alkohol, kalian pergi ke klub?” Rina menatap tajam ke arah mereka bertiga.


“Ssttt, jangan berisik, Ma. Andin sudah tidur, hik,” ucap Jhon sambil sesekali cegukan. Rina makin marah dengan kelakuan Jhon.


“Kalian jelaskan ada apa?” Nada bicara Rina semakin meninggi.

__ADS_1


“Ma, kita bicara di dalam,” ucap Joan.


Mereka pun masuk ke dalam. Joan memapah Jhon ke kamarnya lalu membaringkannya di ranjang. Joan tahu pasti bahwa Jhon sangat mencintai Andin. Sikap egois dan keras kepala Jhon, telah menghancurkan dirinya sendiri. Joan hanya bisa menghela nafas berat.


__ADS_2