Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
60. Die Die ngambek


__ADS_3

hy readers... mksih buat yg selalu setia nunggu novel ini up. mksih jg buat yg dh like, vote novel ini jg.


_________________


Seren sedang menyiapkan makan siang dibantu sang putri yang kini berusia empat tahun. Irgi tidak boleh makan siang di luar oleh Die Die, panggilan sayang Puteri mereka. Jika Irgi tidak pulang ke rumah untuk makan siang maka Die Die akan marah pada Irgi dan mogok makan.


"Ma, Papa lama banget, sih." Die Die cemberut karena Irgi terlambat datang ke rumah. 


"Sabar, ya, sayang. Papa terjebak macet," jawab Seren. Ia mencoba memberi pengertian pada Die Die. 


***


Irgi mempunyai jadwal rapat makan siang mendadak dan ia tidak bisa membatalkannya. Irgi sudah meminta Ichal untuk menolak rapat makan siang seperti itu. Namun Ichal tidak bisa membatalkan dan mengganti jam rapat. Klien mereka yang satu ini mengatakan bahwa jadwal kosongnya hanya di jam makan siang. Dengan terpaksa Irgi harus datang ke rapat yang diadakan di resto terdekat dari kantornya.


"Chal, kamu saja yang pergi mewakili aku. Ini sudah terlambat lima belas menit dari jam makan siang. Kau tahu seperti apa Die Die kalau sudah ngambek?" Irgi mencoba bernegosiasi dengan Ichal.


"Kakak ipar, aku sangat ingin membantumu, tapi klien kita ini hanya ingin kamu yang pergi. Jadi, pergilah!" Ichal tersenyum meledek Irgi.


Irgi menghela napas berat, ia harus bersiap menghadapi omelan putrinya nanti. Saat ini, Irgi harus pergi ke resto tempat klien mereka menunggu. Ia sejenak melupakan masalah Die Die, putrinya sangat manja.


***


Die Die sudah mulai kesal karena ayahnya masih belum datang. Lara dan Syahdan menghampiri Seren dan Die Die di ruang makan.


"Makan dulu, Ma, Pa." Seren menarik kursi untuk Syahdan dan Lara.


"Loh, Irgi belum datang?" tanya Lara.


"Belum, Ma. Die Die sudah mulai kesal, tuh lihat! Bibirnya sampai lancip sekali, haha," ucap Seren menggoda Die Die.


"Die Die nggak mau makan. Die Die marah sama Papa," ucap Die Die sambil melangkah pergi dari ruang makan dan mengunci diri di kamar.


Jika sudah sampai seperti itu, tidak ada satupun yang bisa merayunya kecuali sang ayahnya, Irgi. Hanya ucapan Irgi-lah yang akan didengar oleh Die Die. Karena itu, saat Die Die meninggalkan ruang makan, Seren, Lara dan Syahdan hanya bisa menghela napas berat. Tidak ada satupun dari mereka yang mengejar dan merayu Die Die untuk makan. Bukan tidak sayang ataupun bersikap masa bodoh, tetapi Die Die benar-benar susah dibujuk saat merajuk. Mereka hanya berharap agar Irgi segera datang.

__ADS_1


Die Die berbaring di ranjangnya setelah mengunci pintu kamar. Ia tertidur dengan mudah di siang hari, tetapi saat malam hari, ia justru sulit untuk bisa tidur. Kelakuannya sekarang seperti Seren saat mengandung dirinya dulu. Jika Die Die marah, ia akan mengunci diri di kamar dan tidur, lalu Irgi akan membujuknya di depan pintu, sama persis seperti empat tahun lalu saat Seren hamil. 


***


Irgi sampai di resto, ia melihat sekeliling dan mencari seorang wanita yang memakai gaun merah. Wanita itu duduk di dekat jendela kaca besar. Gaun yang dipakai wanita itu modelnya sama persis dengan milik Seren. Irgi menghampiri dan bertanya. 


"Permisi, Anda Nyonya Zoya Sulaiman?" tanya Irgi.


"Duduklah, Gie!" Wanita itu menyapa Irgi dengan akrab. 


Irgi menurut dan duduk berhadapan dengan wanita itu. Irgi merasa bingung dan penasaran. Kenapa kliennya bisa tahu panggilan pendeknya.


"Maaf, Nyonya mengenal saya?" tanya Irgi.


"Ya, Tuhan. Apa kau sudah setua itu, Gie? Masa kamu lupa, coba diingat-ingat dulu!" Wanita itu membuat Irgi semakin penasaran. 


Irgi mencoba mengingatnya dengan keras. Namun ia tidak berhasil. 


"Maaf. Tapi, saya benar-benar lupa." Irgi tersenyum canggung melihat kliennya. 


"Zoy." Irgi tercengang mendengar nama itu. Perlahan ingatannya kembali ke masa-masa kuliahnya.


Saat itu, semester akhir masa kuliah. 


"Zoy, mau kemana?" tanya Irgi.


"Em, i-tu aku mau ke ruang dosen." Setelah menjawab pertanyaan Irgi, Zoya berlari meninggalkan Irgi di depan parkiran.


Zoya dan Irgi berteman sejak SMP. Karena mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama-sama, perlahan cinta tumbuh diantara mereka berdua. Irgi mengungkapkan perasaannya pada Zoya di bangku SMA kelas tiga. Tidak diduga sebelumnya oleh Irgi, ternyata Zoya juga merasakan hal yang sama. Sejak saat itu mereka resmi mengganti status hubungan persahabatan mereka, menjadi status sebagai pasangan kekasih.


Bertahun-tahun mereka menjalani hubungan sebagai kekasih. Mereka terkenal sebagai pasangan paling romantis dan paling serasi. Tidak pernah ada pertengkaran dan perselisihan selama mereka berpacaran. Namun, di tahun terakhir kuliah, Zoya tiba-tiba memberikan undangan pernikahan. Tanpa mengucapkan kata perpisahan, Zoya meninggalkan Irgi. Zoya menikah dengan pria lain, dan pindah ke Kalimantan bersama suaminya.


Hati Irgi hancur berkeping-keping. Persahabatan indah yang berlanjut menjadi percintaan manis, berubah menjadi sebuah perpisahan pahit dan menyakitkan. Untuk menghilangkan rasa sakit hatinya, Irgi pergi ke Korea dan tinggal disana selama setahun. Ia bekerja sebagai fotografer di sebuah studio foto. Setelah setahun, Irgi pulang ke Indo. Namun Irgi tidak langsung pulang ke Jakarta, tetapi ia pergi berlibur ke Bogor. Disanalah ia bertemu Seren untuk pertama kalinya. Irgi memotret Seren diam-diam karena ia terpesona dengan senyuman manis Seren. Tidak disangka ternyata mereka berjodoh dan menjadi suami istri. Hingga mereka memiliki putri cantik, Deandra Deviela.

__ADS_1


Setelah bertahun-tahun, Irgi benar-benar telah melupakan masa lalunya dan hidup bahagia. Irgi sudah lupa dengan nama Zoya, apalagi nama belakang Zoya berubah menjadi nama suaminya. Kini, Zoya kembali dihadapannya. 


"Zoy. Mana mungkin aku terus mengingat hal pahit. Mengenangmu adalah hal yang menyakitkan, jadi aku memilih untuk melupakannya," jawab Irgi dengan senyum getir. Irgi baru menyadari, kenapa klien mereka memaksa agar meeting langsung dengan Irgi. Ternyata karena klien mereka  adalah Zoya, sang mantan kekasih.


"Ck, apa kau tidak bisa melupakan itu. Aku rindu sekali padamu, Gie." 


Zoya mengucapkan kata rindu yang membuat Irgi tertegun. Irgi tidak menyangka jika Zoya berani mengatakan rindu dengan bebas pada pria yang sudah beristri.


"Kau tahu kalau aku sudah menikah. Apa kau tidak sadar apa yang baru saja kau katakan?" tanya Irgi dengan nada tidak percaya. Karena Zoya yang ia kenal bukanlah gadis yang terbuka mengungkapkan perasaannya. 


_____________________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘

__ADS_1


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2