
Ken menunggu Andin di depan gerbang rumah Marinka saat mereka tiba di sana. Andin masuk sebentar untuk mengambil sketsa lukisannya di kamar. Andin segera keluar setelah mengambil apa yang dicarinya. Ken dan Andin kembali melaju dengan dengan kecepatan tinggi menuju rumah Joan.
Betapa kesalnya Ken saat melihat Joan masuk ke dalam mobil Radja dan melaju pergi melewati Ken dan Andin. Karena Joan sedang menunduk memasukkan ponselnya ke dalam tas, ia tidak melihat Ken dan Andin yang berhenti di depan gerbang. Ken mengepal kuat. Meskipun ia ingin mencoba percaya pada Joan, tetapi amarah menguasai hatinya. Andin turun dan menelepon Jhon. Ternyata Jhon menjemput Andin ke rumah Andin, karena pintu gerbang Andin terkunci, Jhon putar balik dan langsung berangkat ke kampus.
"Dimana Jhon?" tanya Ken.
"Tidak dijawab. Sepertinya kita terlalu lama, jadi Jhon dan Joan berpikir kita tidak akan datang kesini," ucap Andin.
"Jhon pasti sudah berangkat sendiri. Tetapi kenapa Joan harus pergi dengan Dosennya itu? Kenapa tidak berangkat bersama Jhon?" Ken menggerutu kesal. Ken mengajak Andin langsung berangkat ke kampus. Sepanjang jalan ia mencoba menyingkirkan pikiran buruknya pada Joan. Namun, rasa cemburu yang baru saja reda kemarin karena rayuan Joan, tiba-tiba kembali berkobar. Api cemburu benar-benar sedang membakar hati Ken, membuat hati Ken terasa panas.
Ken dan Andin tiba di kampus, karena Ken yang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi sehingga mobil Radja dan motor Ken tiba bersamaan. Namun karena tempat parkir mobil dan motor berada di tempat terpisah, Joan jadi tidak mengetahui jika Ken sudah datang. Andin memberikan helmnya pada Ken dan segera berlari ke ruang fakultas seni. Sementara Ken ingin menghampiri Joan. Langkah Ken terhenti di belakang Joan saat mendengar Joan dan Radja membicarakan tentang kalung yang dipakai Joan.
"Kalung itu cocok untukmu. Terlihat lebih cantik dan indah di lehermu," ucap Radja.
"Terima kasih, Bapak sudah membelikan saya kalung ini." Joan tidak tahu jika Ken berjalan di belakang mereka. Ken berhenti dan berbalik ke arah ruang fakultas bisnis. Ia melepas kalungnya dan menyimpannya di saku celana.
" Heh, memberikanku kalung untuk merayuku. Tidak kusangka jika ternyata kalung ini pemberian dia untukmu. Kau sudah keterlaluan, Jo," gumam Ken. Ia masuk ke ruang belajarnya dan duduk dengan wajah kesal.
Ken sungguh tidak menyangka, jika kalung yang sangat membuatnya bahagia itu justru pemberian orang yang sedang mendekati Joan. Meskipun Joan hanya menganggapnya sebagai dosennya, tetapi Ken bisa membedakan antara lelaki yang sedang melakukan pendekatan pada wanita dan yang tidak. Joan mungkin belum menyadari tujuan Radja, tetapi Ken sudah tahu. Sebagai sesama pria Ken sudah bisa menebak tujuan Radja.
***
Jam kuliah Joan sudah selesai lebih dulu dari Ken. Sedangkan Ken masih ada kelas. Joan menunggu Ken di parkiran di bawah pohon besar. Rimbunnya pohon Alba itu membuat Joan betah menunggu Ken sambil memainkan game di ponselnya.
"Sedang menunggu Ken?" tanya Radja yang tiba-tiba sudah duduk disamping Joan.
"Ya, Pak. Bapak sudah mau pulang?" tanya Joan.
"Ya. Disini teduh juga, ya? Aku tidak pernah ada teman untuk duduk bersantai disini. Boleh, kan, aku temani kamu sambil menunggu Ken?" tanya Radja.
Joan menyudahi permainan game di ponselnya dan mengangguk. Meskipun sedikit tidak nyaman dan risih tapi Joan tetap mengangguk dan mengijinkan Radja duduk di samping.
Ken berjalan ke parkiran dan ia melihat Joan kembali bersama Radja. Ken mengacuhkan Joan dan berpura-pura tidak melihat.
__ADS_1
Joan melihat Ken sudah keluar dari ruang fakultas bisnis dan berjalan ke parkiran. Joan pamit undur diri dari Radja dan berlari menghampiri Ken, tetapi saat sudah di depan Ken, Joan bingung karena Ken diam saja. Ken hanya memberikan helm tanpa bicara. Joan menerimanya dan memakai sendiri helmnya lalu naik diatas motor Ken. Ken melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Joan heran.
Padahal Ken tahu dengan jelas, jika Joan tidak suka kalau Ken kebut-kebutan saat memboncengnya. Beberapa kali Joan menutup mata ketakutan karena Ken menyalip dan mendahului sebuah truk besar. Karena kesal dengan tingkah Ken, Joan menyuruhnya menepi.
"Ken, berhenti!" ucap Joan.
Ken langsung menepi dan mematikan mesin motornya. Joan turun dan melepas helmnya.
"Kamu apa-apaan, sih, Ken? Kamu tahu aku tidak suka kalau kamu ngebut di jalan raya. Lebih baik aku pulang sendiri kalau begitu," ucap Joan dengan marah.
"Sendiri? Tidak salah, heh. Bukannya sekarang sudah ada seorang yang spesial, yang mengantar jemput kamu? Bahkan sampai membelikan kalung couple untukmu. Ini, berikan separuh hati kamu pada Radja. Kamu salah memberikannya padaku," ucap Ken sambil memberikan kalung yang kemarin Joan berikan padanya. Ken mengambil helm dari tangan Joan dan langsung pergi dengan motornya. Ken meninggalkan Joan di tepi jalan.
Joan terpaku menatap kalung di telapak tangannya. Joan meneteskan air mata, ia terisak melirik ke arah Ken yang sudah menjauh.
"Maksud kamu apa, Ken? Aku tidak mengerti, hiks hiks. Salah apa lagi sekarang? Kenapa aku sekarang selalu salah dimatamu?" Joan menggumam dalam isakan tangisnya. Joan tidak mengerti, kenapa Ken tiba-tiba marah padanya. Padahal semalam mereka sudah berbaikan. Kenapa sekarang Ken cemburu lagi pada Radja.
***
"Seren masih tidur?" tanya Syahdan. Setelah menyapa Irgi tadi pagi, Syahdan pergi ke kantor. Karena Ken sedang kuliah dan Seren tidak mau pergi ke kantor lagi. Padahal Syahdan sudah pergi selama setengah hari, tapi Seren masih tidur dengan pulas di sofa.
Mereka semua hanya menggelengkan kepala mendengar penjelasan Irgi.
"Pak Ronald kemana?" tanya Syahdan.
"Dia pulang tadi bersama Bu Marinka. Karena Ichal dan Ronald harus pergi ke kantor dan Chika sendirian di rumah," ucap Lara.
"Oh." Syahdan duduk disamping Lara. Lara membantu melepas jas Syahdan. Mereka duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang dipakai tempat tidur Seren. Lara dan Syahdan mengobrol membicarakan masalah pekerjaan Syahdan di kantor. Sementara Irgi berbaring setelah meminum obatnya, tak lama ia juga tertidur.
***
Andin pulang bersama Jhon ke rumah Marinka. Tiba di depan gerbang, Andin menawarkan Jhon masuk. Tetapi Jhon harus membantu Zidane di cafe karena Zidane sedang tidak enak badan. Sebelum pulang, Jhon menanyakan masalah tadi pagi, kenapa Andin bisa terlambat. Andin menjawab apa adanya, ia menceritakan soal Irgi dan kenapa Andin bisa terlambat.
"Jadi, Kak Irgi di rumah sakit sekarang?" tanya Jhon.
__ADS_1
"Ya," jawab Andin singkat.
"Ya, sudah. Aku akan mampir kesana sebelum pulang. Di kamar berapa?"
"Edelweis, 112," jawab Andin.
"Ok. Masuklah, tapi, kiss dulu," ucap Jhon. Andin tengak-tengok, saat merasa aman dan tidak ada orang yang lewat, Joan mengecup pipi Jhon dan segera berlari masuk kedalam rumah karena malu. Jhon tersenyum, ia lalu tancap gas dan melaju ke rumah sakit tempat Irgi dirawat.
____________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir juga di sini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏