Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
34. Pesta Syukuran


__ADS_3

Andin masuk ke dalam kamar dan melemparkan tubuhnya di ranjang, ia tersenyum bahagia. Kesalahpahaman antara dirinya dan Jhon sudah selesai. Andin tidak lagi merasa resah, gundah, karena harus memendam rindu. Awal hubungan mereka yang baru setelah sebelumnya mereka putus.


***


Pagi mulai menyapa bumi, bersinar cerah, secerah hati Andin dan Jhon yang kembali merasakan indahnya jalinan cinta. Andin terbangun dari tidurnya karena suara ketukan pintu kamarnya.


Tok! Tok! Tok!


" Andin, bangun sayang! Kamu tidak lupa, kan? Hari ini mau ada pesta syukuran dedek bayi," ucap Marinka.


"Ya, Ma. Andin gak lupa," jawab Andin. Andin segera pergi ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya, lalu keluar dan membantu menata hidangan untuk para tamu undangan. Acara itu hanya akan dihadiri sanak keluarga saja, karena Chika memang tidak mau mengadakan acara mewah.


Diantara senyuman semua anggota keluarga, ada seseorang yang sedikit murung. Seren tersenyum melihat bayi mungil yang sedang digendong Marinka. Seren sedih karena setelah dua tahun menikah dengan Irgi, dirinya belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Seren sangat ingin memiliki momongan, tetapi Tuhan belum mengabulkan keinginan Seren.


"Hei, sayang. Kenapa sedih?" tanya Marinka.


"Tidak apa-apa, Ma. Seren cuma sedih, karena Seren masih belum hamil," jawab Seren. Wajahnya tertunduk, menyembunyikan pandangannya yang mulai berkaca-kaca.


"Jangan sedih! Kamu pasti akan segera memilikinya, percayalah! Tuhan akan mengabulkan doa seorang ibu. Dan Ibu berdoa, di sini, akan segera hadir seorang bayi," ucap Marinka sambil mengusap perut datar Seren.


"Aamiin, Ma. Semoga Tuhan segera mengabulkan," ucap Seren. Seren lalu meminta Marinka mengajarinya cara menggendong bayi. Marinka memberikan cucunya pada Seren sambil mengajarinya cara yang benar memegang bayi saat mau menggendongnya. Seren tersenyum saat ia bisa menggendong bayi kecil yang begitu menggemaskan itu.


"Ma, Andin pergi ke depan sebentar," ucap Andin, pamit membeli sesuatu ke warung di seberang rumah Marinka. Andin merasa perutnya sangat mual, karena itu ia membeli obat herbal untuk masuk angin. Sepertinya hujan semalam membuat Andin masuk angin.


Saat di depan warung, Andin merasa mual dan muntah.

__ADS_1


"Eh, Neng Andin, kenapa? Neng baik-baik saja?" tanya pemilik warung. Ibu pemilik warung membantu memijat tengkuk Andin. Setelah merasa baikan, Andin pun pulang. Baru beberapa langkah dari warung, ada seorang ibu-ibu yang akan berbelanja. Tak sengaja, Andin mendengar ibu itu mencibir.


"Hem, anak muda jaman sekarang. Menikah saja belum, tapi sudah hamil," ucap ibu pembeli.


"Hust, jangan fitnah, Neng Andin sedang sakit," ucap pemilik warung.


Andin menyeberang tanpa melihat kanan kiri.


*Cekiitt.


Sebuah motor mendadak menginjak rem, karena hampir saja menabrak Andin. Andin menutupi wajahnya karena ketakutan. Perlahan ia menurunkan tangannya saat merasa tubuhnya baik-baik saja. Andin tersenyum saat melihat pengendara motor itu turun dan membuka helmnya.


"Sayang, kamu gak apa-apa kan? Tidak ada yang luka? Kenapa menyebrang sambil melamun?" tanya Jhon.


Andin tersenyum tanpa menjawab satupun pertanyaan dari Jhon. Melihat Andin hanya tersenyum, Jhon pun mengibaskan tangannya di depan wajah Andin.


"Cerewet," ucap Andin.


Giliran Jhon yang tersenyum sekarang, karena Andin mengatai dirinya cerewet. Jhon merasakan penderitaan yang dalam saat jauh dari Andin. Karena itu, kini Jhon jadi over protektif terhadap Andin. Ia tidak ingin kembali berpisah dengan Andin.


Andin melangkah masuk ke dalam gerbang dan membuka pintu gerbang, agar Jhon bisa memarkir motornya di halaman rumah Marinka. Mereka masuk bersama ke dalam rumah.


"Hai, Jhon. Apa kabar?" tanya Chika.


"Baik, Kak. Kabar Kakak sendiri, baik, kan? Oh, ia, selamat atas kelahiran dedek bayi," ucap Jhon.

__ADS_1


Jhon duduk di samping Andin. Mereka berkumpul duduk di meja besar dan panjang yang mereka siapkan di halaman belakang. Semua keluarga sudah berkumpul, keluarga Syahdan, keluarga Zidane, keluarga Marinka. Hanya dua orang yang tidak hadir, Irgi dan Papanya Irgi, Ronald.


Setelah memberikan doa pada putrinya Chika, semua mulai menyantap hidangan yang ada di meja. Chika dan Ichal menamai putri mereka, Kayla Nindhiya. Saat mereka menyantap makanan mereka, ada dua orang yang jalan dibelakang Seren dengan mengendap-endap dan mengejutkan Seren.


"Hm, makan sendiri aja, gak ditawarin suaminya?" goda Irgi.


Seren menoleh ke belakang, hampir saja kursi yang Seren duduki terjengkang. Untung Irgi sigap menahan kursi itu. Namun, bukannya senang melihat suaminya pulang, Seren justru marah-marah.


"Kamu ngapain sih, Kak? Gara-gara Kakak ngagetin aku, aku hampir saja terjatuh." Seren bangun dan pergi meninggalkan Irgi. Seren masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Entah kenapa, Seren jadi emosi saat melihat Irgi.


Tok! Tok! Tok!


Irgi menyusul Seren ke kamar. Semua anggota keluarga yang sedang berkumpul itu hanya bisa saling pandang, karena tidak biasanya Seren marah-marah pada Irgi seperti itu. Irgi mengetuk pintu kamar, tetapi Seren tidak membuka atau menjawab.


"Sayang, buka pintunya! Aku minta maaf kalau mengagetkan kamu, buka pintunya! Kita bicara baik-baik ya. Ayo dong, Kakak udah pulang, masa gak kasihan sama Kakak. Kakak kangen sama kamu, sayang," rayu Irgi.


"Aku gak mau lihat muka Kakak, pergi dan tidur saja di ruang tamu," ucap Seren.


Seren merebahkan tubuhnya di ranjang, padahal hari masih pagi tapi Seren dengan mudahnya tertidur pulas. Irgi sampai pegal menunggu Seren membuka pintu, hingga dua jam Irgi berdiri di depan pintu. Seren sudah tidak lagi mendengar suara ketukan pintu.


Irgi akhirnya memilih kembali ke halaman belakang dan berkumpul dengan yang lain.


"Kak, Kak Seren, ngambek?" tanya Ken.


"Iya. Sudah Kakak rayu tapi masih tidak keluar juga dari kamar," ucap Irgi.

__ADS_1


"Aneh, sayang. Biasanya kan, Seren itu tidak bisa jauh dari kamu. Sampai murung terus karena merindukan kamu, Mama jadi curiga." Lara mengungkapkan kecurigaannya. Semuanya juga sependapat dengan Lara. Mereka juga baru kali ini melihat Seren membentak Irgi. Mereka melanjutkan acara makan bersama mereka. Sedangkan Seren tertidur dengan pulas di kamar Irgi.


__ADS_2