Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
22.Kencan Ken


__ADS_3

Andin diam selama perjalanan pulang. Andin tahu, Riko hanya ingin mengatakan kebenaran, tetapi Riko tidak bisa melakukannya tanpa bertanya terlebih dahulu pada Andin. Riko menyetir dengan perasaan tak enak, dia sadar sepertinya dia salah, karenanya Riko hanya fokus menatap jalanan. Dia tidak berani menatap Andin.


Flashback


Andin duduk di ruang fakultas seni, ia terus memegang pipinya yang terasa berdenyut nyeri.


“Nih, bersihkan darah lo,” ucap Riko sambil menyodorkan tisu.


“Terima kasih.”


“Hem. Maaf, gara-gara gue, lo jadi kena pukul,” ucap Riko.


“Bukan salah kamu, aku yang maju sendiri. Aku hanya ingin supaya dia berhenti,” jawab Andin. Ia mengusap bibirnya yang berdarah dengan tisu yang Riko berikan.


“Dengan cara ngorbanin wajah cantik lo?” Riko menatap pipi Andin yang biasanya terlihat merah muda oleh blush on, kini membengkak dan berwarna biru keunguan.


“Bisa tidak? Jangan menatapku seperti itu?” Andin merasa tak nyaman dengan tatapan Riko.


“Ck, padahal lo gak liat gue, tapi lo tahu kalo gue lagi mandangin lo.” Riko mengalihkan pandangannya ke depan, karena Pak Tikno sudah masuk ke dalam ruangan kelas. Pak Tikno mengabsen satu persatu sebelum ia mulai pelajaran. Hingga sampai ia menyebut nama Andin, Andin hanya mengangkat tangan karena ia tidak bisa menjawab dengan lantang. Kursinya yang berada di barisan paling belakang, membuat suara pelannya tidak terdengar oleh Pak Tikno. Sedangkan untuk berbicara keras pipinya terasa sakit.


“Andin,” panggil Pak Tikno. Dia menatap tangan Andin dan mengulangi panggilannya.


“Andin!” Kali ini Pak Tikno mengucapkannya lebih keras. Semuanya jadi menoleh ke belakang dan menatap Andin. Elsa memekik melihat pipi Andin.


“Ya ampun, Andin kenapa dengan wajahmu?” Elsa menatap ngeri pipi Andin.


Pak Tikno mendengar Elsa memekik dan berbicara dengan suara keras. Pak Tikno menghampiri Andin dan melihat memar di pipinya.


“Apa yang terjadi pada wajahmu? Kenapa bisa memar begitu?”


Riko akan menjawab, tapi Andin menahannya dengan memegang tangan Riko. Akhirnya Riko tidak jadi membuka suara. Ia justru menatap tangan lentik Andin yang memegang pergelangan tangannya.


“Saya terjatuh, Pak,” jawab Andin.


“Ya sudah, lebih baik pergi dan obati lukamu atau nanti bisa infeksi. Saya berikan kamu ijin hari ini.”


“Terima kasih, Pak. Saya ijin keluar kalau begitu,” ucap Andin. Ia pun keluar dari ruang kelas, setelah mendapat izin.


Riko mengambil tasnya dan melangkah untuk menyusul Andin.


“Riko, mau kemana kamu?” Pak Tikno segera menegur Riko.

__ADS_1


“Mau mengantar Andin ke rumah sakit, Pak.”


“Ya sudah,” ucap Pak Tikno mengizinkan. Riko berlari menyusul Andin yang masih belum terlalu jauh.


“Gue antar Lo,” ucap Riko.


“Antar kemana?”


“Ke rumah sakit, emang Lo mau kemana?” Riko menatap kesal.


“Aku mau pulang. biar aku kompres di rumah.”


“Gak bisa, Lo harus berobat. Gue maksa,” ucap Riko sambil menarik pergelangan tangan Andin.


Andin tidak bisa lagi membantah, dan menuruti perkataan Riko.


Falsafah off.


Mobil Riko memasuki halaman rumah Andin. Andin ingin turun dan membuka pintu mobil. Dia menoleh ke arah Riko.


“Kenapa dikunci, aku mau keluar.”


“Din, kenapa Lo masih membela dan menutupi kelakuan pacar Lo yang egois itu?” Riko menatap penasaran. Ia heran karena Andin masih saja membela Jhon, tidak pernah Riko temui wanita yang setegar, dan seperhatian ini pada orang yang sangat dicintai. Yang lebih sering Riko temui, justru para wanita yang lebih ingin dimengerti, seperti barisan mantan Riko yang tidak terhitung jumlahnya.


“Maaf, gue salah. Gue cuma gak suka, kalau orang salah masih dibelain. Masuklah, gue pulang.”


Andin turun dari mobil, Riko langsung tancap gas, Andin masuk ke dalam rumah dan langsung berbaring telentang di sofa tanpa mengunci pintu depan. Andin pun tertidur pulas.


***


Siang hari, Ken menunggu Joan di parkiran kampus.


Drtt drrtt drrtt.


Ponsel Ken bergetar, sebuah pesan masuk di ponselnya.


(Sayang, kamu pulang saja lebih dulu. Aku masih sibuk, sepertinya aku pulang malam. Ada tugas kelompok untuk persiapan acara festival di Surabaya. Nanti aku akan menjenguk Andin, setelah itu kita makan malam bareng.)


Ken memasukkan kembali ponselnya ke saku celana, ia memakai helm dan pulang tanpa Joan.


***

__ADS_1


Rembulan mulai menampakkan diri, menandakan hari telah beranjak malam, tetapi tubuh dan pikiran Andin yang begitu tertekan seminggu terakhir, membuatnya masih terlelap. Jika saja bisa, rasanya Andin akan memilih untuk tidak bangun.


Di rumah Lara, Seren, Ken dan Syahdan sedang makan malam.


“Ma, Seren buatkan Mama nasi tim sayuran kesukaan Mama,” ucap Seren.


“Terima kasih, sayang,” ucap Lara sambil menyendok makanannya.


“Sayang, kamu harus banyak beristirahat. Supaya cepat sembuh. Untung saja ada Seren tadi siang,” ucap Syahdan.


“Ya, Mas. Ken, tolong kamu bawakan makanan untuk Andin. Tadi Mama dan Seren bertemu Andin di rumah sakit, wajahnya memar dan kata teman yang mengantar Andin, itu perbuatan Jhon. Apa benar?” Lara menunggu jawaban Ken, tetapi Ken membisu.


“Jadi benar! Akan kakak tegur dia. Kakak tidak suka jika lelaki mengasari wanita,” ucap Seren emosi.


“Sebenarnya tidak sengaja, Kak. Cuma salah paham,” jawab Ken.


Selesa makan malam, Ken membawa nampan berisi makanan untuk Andin. Ken mengetuk pintu rumah Andin, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Ken mencoba mendorong pintu, dan ternyata tidak terkunci.


“Eh, ceroboh sekali, kenapa tidak dikunci.” Ken masuk dan membiarkan pintu rumah terbuka lebar. Ken tidak mau ada yang berpikir macam-macam tentangnya ataupun Andin.


Jhon pergi ke club malam, dia duduk di depan meja bartender. Jhon duduk sambil terus menatap tangan yang sudah memukul Andin. Hati Jhon terasa sakit, karena telah memukul gadis yang dicintainya, juga merasa sakit saat Andin melangkah pergi bersama lelaki lain.


Di rumah Andin, Ken masuk dan melihat Andin yang tertidur di sofa. Ken melihat obat memar yang tergeletak di atas meja. Dia melihat air mata yang menetes di sudut mata Andin. Ken mengambil tisu di meja dan berjongkok lalu mengusap air mata Andin, tepat di saat Joan masuk ke rumah Andin.


“Ken!!” teriak Joan.


Ken menoleh ke arah Joan dan berdiri kembali. Teriakan Joan membuat Andin terbangun dan duduk di sofa.


“Jo, sayang, aku cuma nganterin makanan dari Mama buat Andin. Jangan salah paham, oke!” ucap Ken. Untung saja, Joan tidak berlanjut marah.


“Oh, maaf aku pikir tadi… Ah, sudahlah. Aku bawakan Andin kue,” ucap Joan mengangkat tangan yang menjinjing kotak kue dalam plastik.


“Terima kasih banyak, Jo.” Andin mempersilahkan mereka duduk. Joan duduk disamping Andin, ia membantu Andin mengoleskan krim untuk mengobati memarnya. Joan merasa tidak enak hati karena kembarannya.


---------------------------------------


kalian masih suka kan dengan novel ini


yuk kasih dukungan seperti biasa


vote, like, bintang, favorit.

__ADS_1


terima kasih ♡♡♡♡♡


__ADS_2