Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
20.Acuh (2)


__ADS_3

Ken tiba di depan gerbang kampus, tetapi sudah lebih dari satu jam. Ia turun dengan rasa takut, takut jika Joan kembali marah. Sungguh diluar dugaan, karena kali ini Joan tidak marah.


"Mana?" Joan menadahkan tangan.


"Apa?" Ken pura-pura kebingungan.


"Kamu bilang sedang membeli sesuatu, aku sudah lama menunggunya, mana?" Joan masih menadahkan tangannya.


"Lupa, sayang," jawab Ken.


"Lupa? Terus kamu dari mana? Nyebelin," Joan berjalan menjauh sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Sayang, ini masih mau tidak?" Ken mengambil sebuah kotak dari dalam tasnya. Joan berhenti dan tersenyum, lalu ia merubah wajah tersenyumnya dengan wajah cemberut dan berbalik menghadap Ken.


"Tidak mau, aku sebel sama kamu karena bohongin aku," ucap Joan. Ia berbalik kembali dan melangkah seolah marah pada Ken. Ken segera mengejar dan memeluk Joan dari belakang, Joan tersenyum.


"Sayang, jangan ngambek dong, pacarku kan gadis yang cantik dan pengertian."


"Lepasin, aku masih ngambek!" ucap Joan ketus, tetapi sambil tersenyum.


"Aku tidak mau melepaskanmu, sampai kau mau memaafkanku."


"Aku tidak marah, aku hanya ingin membalasmu karena sudah membohongiku. Mana hadiahku?" Joan berbalik dalam pelukan Ken dan kembali menadahkan tangan.


"Kiss dulu, baru aku berikan," ucap Ken menggoda Joan.


Joan menoleh ke kanan juga ke kiri, setelah yakin tidak ada orang, Joan berjinjit dengan tangan di bahu Ken. Joan memajukan wajahnya dan mencium Ken dengan mata terpejam. Hal yang tak pernah Joan lakukan sebelumnya, karena biasanya selalu Ken yang memulai. Gerbang kampus yang terletak jauh dari jalan membuat mereka begitu asyik saling berpagut dan bermain lidah.


Ken menarik tubuh Joan agar lebih merapat. Kebiasan nakal Ken kembali kumat.


"Aww, Ken!" Joan mendorong tubuh Ken.


"Haha, aku gemas dan tidak bisa menahan diri. Aku selalu ingin mengigitnya, apa sangat sakit?" Ken menyentuh bibir Joan dengan ibu jarinya. Tatapan Ken begitu meluluhkan hati Joan.


"Tidak, hanya saja ... aku kaget," jawab Joan malu-malu.


Ken memberikan kotaknya pada Joan. Kotak kecil berwarna merah terang. Joan menebak dalam hatinya, bahwa itu sebuah perhiasan. Joan menerima kotak itu, ia tersenyum sangat bahagia. Selama mereka berhubungan, ini adalah pertama kalinya, Ken dan Joan tidak bertengkar setelah Ken terlambat.


"Boleh dibuka?"


"Tentu saja, bukalah."


Joan membuka kotak merah itu, dan benar saja apa yang Joan tebak. Isi kotak merah itu adalah sebuah kalung dengan ukiran huruf 'KJ' sebagai bandulnya. Emas putih yang Ken beli bukanlah barang yang mahal, tetapi Ken membelinya dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Cantik sekali kalungnya, terima kasih, sayang, cup."


Joan mengecup pipi Ken dan Ken mengusap rambut Joan dengan gemas. Mereka tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga. Ken mengambil kalung itu dari tangan Joan, dan membantu Joan memakainya. Joan menarik rambutnya ke atas. Setelah selesai mengaitkan kedua sisi pengait kalung itu, Ken mengecup tengkuk Joan.


Joan berjingkat kaget saat Ken mengecup tengkuknya. Ia merasakan darahnya berdesir, tubuhnya menegang kaku. Joan menurunkan kembali rambutnya.


"Ayo pulang, sayang," ucap Ken menggandrng Joan dan menghampiri motornya. Ken membantu Joan memakai helm dan mereka pun pulang.


***


Di rumah Chika, Andin baru saja selesai mandi dan berganti baju. Ia melihat ponselnya bergetar di nakas.


Drrtttt drrttt drrttt.


Andin menghampiri ponselnya dan melihat nomor yang memanggilnya. Itu adalah telepon dari Jhon. Andin tidak ingin berbicara dengan Jhon, ia mengacuhkan panggilan dari Jhon.


***


Malam hari di rumah Zidane, mereka makan malam bersama. Setelah makan malam, Zidane dan Rina masuk ke ruang baca seperti biasanya, mereka menunggu waktu tidur dengan memeriksa pemasukkan cafe. Sedang Jhon dan Joan menonton tv di ruang tengah.


"Jo, ketemu Andin gak tadi?" Jhon penasaran karena seharian ini ia tidak melihat Andin.


"Tidak tuh, kenapa?" Joan menjawab tanpa berpaling dari layar tv. Karena acara yang diputar adalah drama Korea kesukaannya.


"Kalian bertengkar? Karena apa?" Joan mematikan tv dan menatap Jhon di sampingnya. Ia memang sangat menyukai drama Korea, tetapi saudaranya lebih penting.


"Ya. Kemarin waktu lo pergi duluan bareng Ken, Andin tiba-tiba ngilang. Gue nggak tahu dia kemana, jadi gue tunggu dia di rumah Ken. Pas dia datang, dia keluar dari mobil bareng cowok. Gue hajar tuh cowok, eh Andin belain dia. Otomatis dong, gue marah. Bukannya ngerayu gue biar jangan ngambek, dia malah acuhin gue, sampai hari ini," ucap Jhon bercerita.


Bahkan setelah Andin mengacuhkannya, Jhon tetap tidak merasa bersalah. Ia justru merasa Andinlah yang bersalah. Tidak ada rasa penyesalan sedikitpun di dalam diri Jhon. Dia sangat mencintai Andin, tetapi dia tidak tahu banyak tentang Andin. Karena Jhon tidak bertanya pada Andin, ia hanya selalu bercerita tentangnya pada Andin, tetapi ia tidak pernah mendengar cerita Andin.


Egois, sifat yang Jhon milikki sejak dulu. Jhon tidak tahu warna kesukaan Andin, makanan kesukaannya atau apa keinginannya. Tidak ada yang ia tahu tentang Andin, Jhon hanya tahu bahwa Andin mencintainya.


"Kamu yakin hanya karena kamu memukul temannya, apa kau bertengkar dengannya? Beradu mulut atau semacamnya?" Joan mencoba memahami duduk persoalannya sebelum memberi solusi pada Jhon.


"Gue marah-marah sama dia, terus dia bilang capek dan tidak mau berdebat. Ya, gue tanya sama dia, habis ngapain bilang capek, ngamar sama tuh cowok."


"Apa!!" Joan bangun dari sofa dan menatap Jhon dengan pandangan tidak percaya.


"Lo, ngapain sih kaget amat!"


"Kamu bilang 'Ngamar' ke Andin? Cewek baik-baik kaya dia, kamu bilang hal seperti itu. Ya jelas dia marah, dasar gak berperasaan! Pantas saja, tadi pagi Ken gak bawa si Andin ke sini. Jadi dia lagi marah? Aku juga kalau jadi Andin bakalan marah. Aku gak mau bantuin kamu, minta maaf sana!" Joan pergi meninggalkan Jhon.


"Wei, Jo! Ye, dia malah kabur," gerutu Jhon.

__ADS_1


Di kamarnya, Joan mencoba menelepon Andin, tetapi ponsel Andin tidak aktif. Joan merasa kesal sekali pada saudaranya itu. Joan juga memang egois, tetapi ia tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar ketika bertengkar dengan Ken. Hingga berkali-kali Joan mencoba menelepon, tetapi ponsel Andin masih tidak aktif. Joan menyerah dan memutuskan untuk tidur.


***


Tok tok tok.


"Andin, makan malam yuk!" panggil Marinka.


"Ya, Ma."


Andin keluar dengan piyama tidurnya, ia turun dan makan bersama Ichal, Chika dan Marinka. Ayah Chika lebih banyak tinggal di luar kota karena pekerjaannya. Mereka makan dalam diam, tetapi Andin membuka suara.


"Ma, Kak Ichal, Kak Chika, setelah makan, Andin ingin bicara."


"Bicara apa, sayang?" Marinka menatap Andin.


"Nanti saja, Ma," jawab Andin dan mereka melanjutkan makan malam mereka.


Setelah makan malam, Chika membereskan meja dan hendak mencuci piring. Marinka segera mendorong Chika menjauhi washtapel.


"Biar Mama saja, nanti cucu Mama menangis. Pergilah," ucap Marinka. Chika menuruti ucapan Marinka.


Andin datang membantu Marinka di dapur.


"Ma, Andin bantu ya," ucap Andin. Marinka membiarkan Andin membantunya, ia berharap itu bisa membuat Andin sedikit melupakan masalahnya. Setelah selesai mencuci piring, mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Sayang, kamu sudah memikirkan nama untuk putri kita?"


"Belum, Kak. Apa kakak sudah mencari nama?" Chika balik bertanya.


"Belum juga," jawab Ichal.


"O, ya. Andin katanya mau bicara, mau bicara apa, sayang?" Marinka duduk di samping Andin.


"Ya, Andin ingin pindah kuliah ke Paris," ucap Andin.


"Paris!!!" ucap Ichal, Chika, dan Marinka bersamaan.


"Andin sudah ingin kuliah di sana sejak SD, Kak Ichal juga tahu."


"Tapi kenapa mendadak, Ndin?" Ichal menatap heran pada Andin yang tertunduk.


"Jangan menghindar terlalu jauh. Masalah itu harus di selesaikan, bukan dihindari. Mama setuju saja jika Andin pergi tànpa membawa masalah. Selesaikan dulu masalah Andin, nanti kita bicarakan lagi, ok."

__ADS_1


Andin diam tak berbicara lagi, karena tebakan Marinka benar. Andin ingin menghindar dari masalahnya. Andin pamit ke kamarnya. Kembali pikirannya menerawang, Andin mengaktifkan ponselnya. Ia melihat dua puluh panggilan tak terjawab dari Joan. Andin tahu, tujuan Joan pastilah ingin membicarakan soal Jhon. Andin mematikan kembali ponselnya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan mata.


__ADS_2