
Pagi hari setelah sarapan, Rui mengantar Joan ke sekolah. Di pintu gerbang, Joan bertemu dengan Ken. Mereka hanya saling mengabaikan satu sama lain. Rui menyapa Ken di parkiran.
"Ken! apa kabar?" tanya Rui.
"Hai, baik! Bagaimana dengan kabarmu?" Ken bertanya balik pada Rui.
"Baik, cuma hatiku yang tidak baik!" kelakar Rui tersenyum.
"Wah! aku penasaran kenapa dengan hati super star kita ini, tapi hari ini kami ujian. Pulang sekolah kita bisa berbincang puas, ok Rui! aku masuk dulu!" pamit Ken, dia pun berjalan ke kelasnya.
Hari ini Rui berencana kembali mencari Bidadari. Setelah mengantar Joan dan menyapa Ken, Rui melaju ke arah rumah Bidadari.
"Semoga saja hari ini kita bisa bertemu Bidadariku!" gumam Rui dalam perjalanan. Sampai di pintu gerbang, Rui menyapa satpam yang kemarin bicara dengan dirinya.
"Permisi pak, apa Bidadari ada?" tanya Rui.
"Maaf mas! dari kemarin mba Bie belum pulang! Kami juga sedang khawatir, karena kemarin mba Bie di bawa oleh laki-laki, kasar sekali ucapannya!" ucap satpam itu.
"Di bawa laki-laki? kemana pak?" tanya Rui khawatir.
"Saya tidak tahu, mas!" jawab satpam itu.
"Oh, terima kasih ya pak!" Rui masuk ke dalam mobilnya dan merenung cukup lama.
"Bidadari di bawa lelaki semalaman tidak pulang? pacarnya bukan ya?" Rui menggumam lirih. Entah kenapa Rui merasa takut. Takut jika Bidadari yang sudah berjanji untuk menjadi istrinya itu mengingkari janji. Rui takut jika Bidadari hanya mempermainkannya.
Rui menjalankan mesin mobilnya, dia meninggalkan gerbang panti asuhan. Tak jauh dari gerbang, mobil Rui berpapasan dengan taxi yang membawa Bidadari pulang ke panti. Rui tidak memperhatikan dan terus berlalu meninggalkan panti.
"Kiri pak!" Bidadari menghentikan taxi di depan gerbang panti. Bidadari membayar ongkos taxi, lalu turun dan masuk ke dalam gerbang. Satpam yang berjaga itu segera menghampiri.
"Mba Bie, barusan ada yang mencari mba Bie!" lapor satpam.
"Siapa? apa pria yang semalam?" tanya Bidadari. Dia takut yang mencari dirinya adalah Ken.
"Bukan mba! kemarin dia ke sini sebelum pria yang semalam datang!" jawab satpam.
"Apa bapak tanyakan siapa namanya?" tanya Bidadari.
__ADS_1
"Saya lupa, kemarin dia menyebutkan nama Ru, Ru apa ya!" satpam itu mencoba mengingat-ingat.
"Ru apa pak?"
"Ruli atau apa ya?" kata satpam itu masih belum bisa mengingat nama Rui.
"Ruli! apa wajahnya seperti orang Jepang?" tanya Bidadari.
"Iya, iya mba benar!" jawab satpam.
"Rui! kemana dia pak?" tanya Bidadari sedih. Matanya berputar mencari-cari keberadaan Rui.
"Dia baru saja pergi, tadi taxi mba berpapasan dengan mobilnya!" satpam itu menerangkan. Bidadari langsung berlari mengejar mobil yang sudah tak terlihat.
"Rui! Rui! hiks hiks," Bidadari berlari tak tentu arah mana yang akan dia tuju. Dia terisak sambil berlari mencari keberadaan mobil biru yang tadi berpapasan dengan taxi yang dinaikinya.
Sementara di pertigaan gang menuju panti, mobil Rui berhenti karena ban mobilnya bocor. Bidadari sampai di gang tempat mobil Rui mogok dan berhenti. Bidadari sudah terengah-engah karena berlari secepat yang dia bisa. Rui keluar dari mobilnya dan memeriksa ban depannya yang bocor.
"Rui!" panggil Bidadari dari jarak sepuluh meter. Bidadari berhenti berlari dan berdiri sejenak untuk mengatur nafasnya.
Rui yang merasa di panggil itu pun menoleh. Dia berdiri terpaku memandang wanita yang berdiri tak jauh di depannya sedang terengah-engah. Rui tidak mengenali Bidadari, karena mereka tak pernah saling bertukar foto. Mereka yakin jika jodoh akan mempertemukan mereka pada akhirnya.
"Rui!" ucap Bidadari dengan mata berkaca-kaca.
Rui menatap lekat mata Bidadari yang memancarkan sinar cinta untuknya. Rui akhirnya sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah Bidadari.
"Bidadari!" ucap Rui. Bidadari mengangguk, air matanya meluncur mulus di pipinya. Bidadari terharu karena Rui akhirnya mengucapkan namanya.
Rui berlari dan langsung memeluk Bidadari saat sudah berada di depan Bidadari.
"Bidadari!" ucap Rui sambil memeluk Bidadari erat.
"Rui! hikk hikks!" Bidadari tak sanggup lagi membendung tangisnya. Di saat dia sedang bersedih karena perlakuan Ken kemarin, akhirnya ada hal yang bisa mengalihkan kesedihannya. Pertemuan dengan Rui merupakan kebahagian dalam hidup Bidadari. Mereka berpelukkan cukup lama, hingga isak tangis Bidadari mereda barulah Rui melepaskan pelukkannya.
"I found you, Beauty Angel!" ucap Rui sambil mengusap sisa air mata di pipi Bidadari. Bidadari tersenyum menatap Rui.
Rui menangkup dagu Bidadari dan mendongakkan agar menatap wajahnya. Rui lalu mengecup lembut bibir Bidadari. Bidadari dan Rui memejamkan mata, merasakan perasaan cinta mereka. Rui lalu memperdalam ciumannya di bibir Bidadari. Bidadari membalas melingkarkan tangannya di leher Rui.
__ADS_1
Mereka lalu kembali berpelukkan. Kemudian Bidadari menanyakan tentang keadaan mobil Rui.
"Kenapa mobilnya?" tanya Bidadari.
"Kau tidak menanyakanku lebih dulu, tapi malah mobilku yang kau tanya!" Rui cemberut karena Bidadari tak bertanya tentang dirinya.
"Kau cemburu pada mobilmu?" ledek Bidadari. Rui mencubit hidung Bidadari.
"Aw," Bidadari mengusap hidungnya setelah dicubit Rui. Rui tersenyum geli menatap wajah Bidadari. Sekejap kemudian Rui mengingat wajah wanita yang bersama Ken, saat dia mengantar Joan.
"Apa kau mengenal Ken?" tanya Rui ragu-ragu.
"Kau mengenal Ken?" Bidadari malah balik bertanya pada Rui.
"Aku kenal! dia saudaraku!" jawab Rui.
"Dan kau, kau mengenal Ken?" tanya Rui.
"Dia orang yang ku kenal sekilas karena kesalah fahaman!" jawab Bidadari.
"Salah faham apa?" tanya Rui kembali.
"Bisakah kita bicara di tempat lain, aku pegal berdiri!" ucap Bidadari.
Rui menuntun Bidadari masuk ke dalam mobil. Mereka bicara di dalam mobil.
"Pacar Ken memergokiku dan Ken sedang bertengkar. Pacarnya pikir kalau Ken selingkuh denganku. Semalam aku dan Ken berencana meluruskan kesalah fahaman di caffe. Tapi pacar Ken tidak datang!" cerita Bidadari.
"Maaf, tapi aku melihatmu makan di pinggir jalan bersama Ken!" ucap Rui dengan rasa cemburu yang mulai menguasai hatinya.
"Karena aku lapar, jadi kami berhenti untuk makan, setelah makan kami pergi ke caffe. Aku tidak berharap kau mempercayai ceritaku. Aku pulang!" Bidadari membuka pintu mobil dan akan pergi. Bidadari melihat rasa tidak percaya di mata Rui, dia merasa tak berguna juga menjelaskan jika Rui memilih tidak mempercayainya.
"Aku percaya padamu!" ucap Rui sambil mencekal tangan Bidadari. Bidadari duduk kembali di dalam mobil dan menutup pintu mobil.
"Terima kasih jika kau percaya, tapi apa kita akan terus duduk di sini? kau tidak ingin memanggil montir, atau mengganti banmu yang kempis?" tanya Bidadari sambil tersenyum.
"Setelah itu?" tanya Rui. Bidadari hanya bengong tak mengerti pertanyaan Rui.
__ADS_1
"Setelah bannya ku ganti, apa kau akan menyuruhku pulang? Tapi aku masih ingin bersamamu!" ucap Rui memandang wajah Bidadari.