Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
28. Dasar genit


__ADS_3

Seren dan Ken sampai di rumah jam empat sore. Seren segera masuk ke kamarnya, ia ingin segera berendam dalam air hangat. Karena sudah lama tidak beraktifitas di luar rumah, seluruh tubuh Seren terasa pegal dan nyeri. Seren menaruh tasnya di lemari, lalu bersiap masuk ke kamar mandi. Namun baru beberapa langkah, samar terdengar suara ponsel Seren. Seren lupa mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


Seren mengambil ponselnya dari dalam tas yang tadi ia simpan di lemari. Matanya berbinar saat melihat identitas pemanggil. Seren segera mengangkat panggilan video dari Irgi.


"Hai, sayang. Maaf, tadi aku sedang rapat. Bagaimana hari pertama kerja, capek?" tanya Irgi.


"Aku pikir kamu marah. Aku baru pulang kerja, lelah sekali, padahal hanya duduk menatap layar komputer. Nanti di sambung lagi, Kak, aku mau mandi," ucap Seren.


"Hei, kenapa ditutup kalau mau mandi? Bawa ponselnya ke kamar mandi, aku mau lihat kamu mandi," ucap Irgi sambil tersenyum mesum.


"Kak, dasar genit, ih." Seren menggerutu melihat tingkah Irgi.


"Aku serius, dua hari tidak melihatmu, membuat aku sangat merindukanmu. Sampai aku selalu mengkhayalkan tubuhmu," ucap Irgi sambil memasang tampang memelas.


Seren tidak menjawab, tapi Seren juga tidak menolak. Ia membawa ponselnya ke dalam kamar mandi. Seren menaruh ponselnya dengan posisi kamera yang menghadap ke arah bak mandi. Seren membuka pakaiannya satu persatu hingga tubuhnya benar-benar polos. Seren membuka kran dan mengaturnya di suhu hangat. Seren berjongkok di pinggir bak mandi, menunggu bak itu terisi penuh.


"Sayang," panggil Irgi.


"Hem," jawab Seren.


"Aku tidak bisa jauh darimu. Kenapa tidak ikut saja di sini bersamaku?" tanya Irgi.


"Kamu di sana dan papa Ronald sedang sibuk, lalu aku hanya akan tinggal di rumah dengan jenuh. Sampai berapa bulan kamu di sana, sayang?" Seren menutup kran dan masuk ke dalam bak mandi yang sudah ia tambahkan essen bunga mawar. Irgi hanya bisa memandang tubuh istrinya dengan nafsu yang perlahan naik.


"Sayang, kamu rekam mandinya sampai selesai, ya. Terus kirim kepadaku, untuk penyemangat," ucap Irgi.


"Ya, ya, aku heran deh sama kamu, Kak. Kan banyak di internet, kenapa tidak lihat di sana saja? Malah nyuruh istrinya jadi artis po*no, awas kalau videonya tersebar!" ancam Seren. Seren memutus panggilan video dari Irgi, dan merekam kegiatannya di kamar mandi, setelah itu ia mengirimkannya pada Irgi.

__ADS_1


Seren keluar dari kamar setelah berdandan rapi. Ia menghampiri Ken, Syahdan dan Lara yang sedang berkumpul di taman. Mereka duduk berempat, bercengkrama dan bercanda.


***


Di dalam kamarnya, Andin terbangun, mendengar suara tawa dari halaman rumah Syahdan. Andin keluar dan menyapa dari pagar pembatas rumah Syahdan dan Andin.


"Sore Tante, Om, Ken." Andin tersenyum menyapa mereka.


"Aku tidak di sapa?" tanya Seren yang duduk terhalang tubuh Lara. Seren menunjukkan wajahnya pada Andin. Andin tersenyum.


"Maaf, Kak Seren. Andin tidak lihat kakak tadi, selamat sore kak Seren," ucap Andin.


"Sore juga, sayang. Sini gabung!" ucap Seren.


"Andin baru bangun, belum mandi. Andin mau mandi dulu," ucap Andin sambil berbalik hendak pergi. Ken memanggil Andin, membuat langkah Andin terhenti.


***


Di rumah Jhon.


Joan celingukkan mencari kembarannya. Jhon rupanya sedang duduk di cafe Zilla. Joan menghampiri Jhon yang duduk melamun di dekat jendela.


"Kamu ngapain di sini? Apa kau mau menemaniku menonton besok?" tanya Joan.


"Pacarmu kemana? Kenapa mengajakku?" tanya Jhon.


"Aku lagi marahan sama dia, padahal sudah beli tiket dua. Antar aku ya?" Joan mulai melakukan rencananya bersama Ken. Joan tidak mau, kembarannya itu murung terus. Padahal Jhon adalah orang yang banyak bicara. Namun sejak kejadian di depan kampus beberapa hari yang lalu, Jhon berubah.

__ADS_1


Jhon lebih banyak diam, melamun, dan tidak mau pergi keluar. Jhon hanya keluar saat pergi kuliah dan kembali ke rumah. Rina, ibunya, juga merasa bingung. Rina tidak tahu bagaimana caranya membuat Jhon kembali seperti dulu.


Wajah Jhon tak ubahnya seperti langit mendung yang kelabu, muram, tak ada cahaya keindahan sama sekali.


"Hei, kok, melamun? Mau tidak?" tanya Joan.


Jhon terkejut karena Joan mengagetkan dirinya. Jhon mengangguk lesu. Setelah Jhon memberi jawaban setuju, Joan mengirim pesan pada Ken.


"Sayang, Jhon sudah setuju. Sekarang tinggal Andin. Kamu harus berhasil, ok." Setelah mengetik pesan itu, Joan langsung mengirimnya ke nomor Ken.


***


Di rumah Andin.


Andin selesai mandi dan berganti baju, ia menemui Ken yang sudah menunggunya di teras. Andin membawakan es susu cokelat dua gelas, untuknya dan Ken.


"Diminum! Ada apa?" tanya Andin setelah mempersilakan Ken meminum es susu itu.


"Aku sudah beli tiket dua buah, tapi Joan malah ngambek. Bisakah kau temani aku besok untuk menasehati Joan, supaya tidak marah lagi denganku. Aku takut, karena dia mengancam akan pergi dengan pria lain, besok. Jadi, bisa, kan?" tanya Ken.


"Ya, sudah. Aku juga ada janji dengan seseorang, besok. Aku bisa mampir sebentar," ucap Andin.


"Terima kasih."


"Sama-sama," jawab Andin.


Ken tersenyum karena rencananya bersama Joan itu berhasil. Tinggal menunggu besok malam, maka mereka akan tahu hasilnya. Apakah Jhon dan Andin bisa kembali bersama, atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2