Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
Lembaran baru di putih abu abu ch 32


__ADS_3

Mereka akhirnya berangkat,Andin juga ikut dengan Ichal dan Chika satu mobil.Andin bersedekap dan cemberut menatap Ichal dibalik kemudi


"Jangan ngambek dong!,atau kakak putar balik aja deh kalau gitu!" ucap Ichal


*flashback*


"Kenapa malas sama si kembar?"


"Kalau Jhon,Andin gak masalah!.Tapi si Joan tuh!"


"Kenapa dengan Joan?"


"Dia tuh suka sama Ken,nah dia pikir Andin sama Ken pacaran,jadi dia tuh judes banget sama Andin!"


"Memang adik kecil kakak ini sudah berani pacaran?" tanya Ichal dengan tatapan curiga.


"Kak,Andin masih kecil!.Andin gak mau pacaran!,tar Andin tua sebelum waktunya.Karena terlalu pusing mikirin pacar.Andin punya cita cita kuliah di luar negeri!"


"Baguslah kalau begitu!,tapi Andin adik kakak yang cantik.Kak Chika kan ikut liburan,nah kalau Andin gak ikut kakak juga gak bisa ikut.Terus nanti kak Chika nyari pria lain disana,kakak harus bagaimana dong?" Ichal memasang tampang memelas


"Iya deh Iya.Andin ikut,kakak yang pacaran.Andin yang ribet,,huh!"


*flashback off*


"Putar balik aja kalau berani!" Àndin membalas ancaman Ichal.Chika hanya tersenyum geli melihat tingkah mereka.


Perjalanan mereka menuju Surabaya memakan waktu 10 jam.Dengan istirahat dua jam sekali di rest area.Mereka beristirahat agar tidak kelelahan menyetir.Waktu yang mereka tempuh ke Surabaya menjadi 15 jam.Jam 4 sore mereka berangkat dari Jakarta dan tiba jam 5 pagi di rumah neneknya Rina.


Seorang wanita memakai kebaya merah dipadu kain batik itu menyambut mereka di gerbang rumahnya.Rumahnya kecil dan sederhana tetapi tanahnya sangat luas.Dibelakang rumahnya,nenek Rina menanam bermacam sayuran dan juga banyak pohon mangga dan jeruk yang sedang berbuah.Dia juga menanam bunga beraneka macam dari mawar,melati,anggrek dan bunga matahari.


"Kalian sudah datang!,bagaimana perjalanannya?" tanya nenek Rina setelah mereka semua memarkir rapih mobil mereka disamping rumah dan turun menyalami nenek Rina.Joan langsung memeluk eyang buyutnya.

__ADS_1


"Oh..Joan sudah besar sekarang!,cicit eyang tambah cantik!" puji eyang Sulastri


"Eyang bisa aja,Joan kan jadi malu!"


Joan menyembunyikan wajah merahnya dalam pelukan eyangnya.Karena rumah Sulastri kecil,jadi untuk menyambut mereka Sulastri memasang tenda untuk berteduh dan menyiapkan perasmanan kecil kecilan karena tidak akan muat jika makan di dapurnya.


"Nenek sudah menyiapkan beberapa tenda kemah untuk kalian,kalian bisa memasangnya nanti!"


"Terima kasih nek!,jadi merepotkan!"ucap Lara


"Eh..tidak perlu sungkan.Rina jarang ada waktu pulang,jadi kalian semua bisa datang kemari,nenek sangat senang.Rumah ini jadi ramai.Kalian sarapan dulu,sesudah sarapan beristirahatlah.Kalian pasti capek setelah perjalanan jauh!"


Mereka sarapan di tenda yang Sulastri siapkan.Ada empat meja bundar besar disana.Dengan 8 kursi di setiap meja.Sulastri,Rina,Zidane,duo kembar,Lara,Syahdan dan Ken satu meja.Sedangkan Seren dan yang lain di meja yang lain.Andin baru menyuap sedikit makanannya,tapi tiba tiba perutnya sakit dan mulas.


"Eyang,Andin boleh menumpang ke toilet?"


"Boleh sayang!,masa tidak boleh.Ayo eyang antar!" Sulastri mengajak Andin masuk ke dalam rumah dan menunjukan toilet di dapur.Andin masuk dan berteriak


Sulastri yang mendengar teriakan Andin itu segera mengetuk pintu kamar mandi.


tok tok tok...


"Sayang kamu kenapa?" tanya Sulastri.Tapi Andin malah menangis membuat Sulastri bingung.Sulastri memutuskan memanggil Rina.


"Rin,,gadis yang tadi ke kamar mandi itu berteriak dan menangis di kamar mandi.Nenek sudah bertanya tapi dia malah menangis terus!" ucap Sulastri.Ichal yang mendengar ucapan Sulastri itu segera berlari ke dalam rumah disusul mereka semua juga masuk kedalam.


tok tok tok..


"Andin,ini kak Ichal!.Andin kenapa menangis?" tanya Ichal di depan pintu kamar mandi dengan khawatir


"Hikkss hikkss..kakak Andin takut kak!,Andin berdarah banyak sekali,perut Andin juga sakit sekali kak.Andin takut mati kak!..hikkss hikkss"

__ADS_1


"Ber..berdarah?,perut Andin berdarah!,,buka pintunya Ndin!!..kakak antar kamu ke rumah sakit!" Ichal terus menggedor pintu kamar mandi.Tapi Andin hanya menangis dan tak mau membuka pintu.Lara menepuk pundak Ichal


"Nak Ichal,biar tante coba bicara dengan Andin!" ucap Lara.Ichal mengangguk dan mundur untuk memberi ruang bagi Lara.Mereka semua sangat khawatir menunggu di depan pintu kamar mandi.


"Andin sayang,tenangkan diri Andin dulu karena tante ingin bertanya.Andin bisa?"


"Bisa tante!" ucap Andin menahan tangisnya


"Apa Andin merasa perutnya melilit dan apakah yang berdarah itu dari bagian **** Andin?" tanya Lara perlahan lahan.Semua orang saling melempar pandangan bingung


"Iya tante,perut Andin sangat melilit!.Dan yang itu juga benar!,darahnya keluar dari sana!" ucap Andin.Semua orang tersenyum,kecuali Ken,Joan dan Jhon.Mereka tidak mengerti kenapa para orang dewasa itu tersenyum lega.


"Andin jangan takut ya?,tante Lara akan bantuin Andin.Itu tidak akan membuat Andin mati kok sayang,jadi Andin tunggu sebentar ya?"


Mereka semua bubar dan kembali ke tenda.Hanya tinggal Ichal dan Sulastri yang menemani Lara.


"Nak Ichal mengerti ucapan Andin tadi kan?" tanya Lara


"Iya tante!,itu maksudnya menstruasi kan?"


"Benar!,sepertinya Andin mengalami menstruasi pertamanya hari ini!.Kamu tidak usah khawatir.Pergilah bergabung dengan yang lain,karena Andin bisa malu kalau banyak orang.Biar tante yang bantuin Andin!"


"Terima kasih tante!" Ichal pergi keluar dan Lara juga Sulastri mengikutinya.Lara membuka bagasi mobilnya dan mengambil pembalut dari dalam koper.Lara mengajarkan Andin cara memasang pembalut dengan sabar.Andin terharu dengan kebaikan Lara.


(Kenapa bukàn mama yang bantuin aku disaat seperti ini.Justru tante Lara yang membantuku.Alangkah bahagianya mempunyai mama seperti tante Lara!)


Andin bergumam dalam hati sambil meneteskan air mata haru.Lara mengusap air mata Andin dan mengusap rambutnya.


"Menstruasi adalah hal yang biasa bagi perempuan.Tapi untuk pertama kali memang setiap anak remaja akan ketakutan meski tidak semuanya seperti Andin tapi ada beberapa anak yang mengalami ketakutan seperti Andin.Tapi Andin perlu tahu,menstruasi juga menunjukan bahwa Andin sudah mulai beranjak remaja.Jadi tak usah takut lagi,ok!"


"Iya..makasih tante!."

__ADS_1


Lara mengusap rambut Andin dengan penuh kasih sayang.Andin berjalan dibelakang Lara dan berkhayal seandainya saja sang ibu tidak sibuk dengan dunianya,Apakah ibunya akan sebaik Lara,selembut Lara.Tapi Andin hanya bisa menghela nafas,karena ibunya takkan pernah sebaik Lara.


__ADS_2