
Acara pesta pernikahan berlangsung dari jam sembilan pagi hingga malam. Banyaknya tamu undangan yang datang silih berganti lumayan membuat kedua pasangan pengantin kelelahan. Ken melihat ke arah Joan dan Andin yang duduk bersandar di kursi pelaminan. Mereka berdua terlihat sangat lelah. Maklum saja, karena mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekedar mengganjal perut.
"Jhon, tolong bawakan minuman dan kue untuk Joan dan Andin. Aku sedang menemani kolega bisnis dari luar kota, tidak enak jika aku meninggalkannya," bisik Ken pada Jhon.
"Oh, ok!" Jhon pergi mengambil minuman dan sepiring kue dan memberikannya pada Joan.
"Nih, minum dan makanlah sedikit camilan untuk mengisi perut kalian."
"Terima kasih, Jhon. Aku benar-benar dehidrasi karena dari pagi belum minum setetes pun." Joan segera mereguk habis minuman ringan yang Jhon bawakan untuknya. Sedangkan kue yang Jhon bawa sama sekali tidak ia sentuh. Joan kurang suka makanan manis, ia lebih suka makanan pedas.
"Kenapa tidak diminum?" tanya Jhon saat minuman yang dipegang oleh Andin tidak juga diminum.
"Bisakah ambilkan aku air mineral saja?"
"Hm, baiklah tunggu sebentar!" Jhon pergi mengambil minuman mineral dan kembali ke tempat Andin dan Joan. Jhon memberikan botol minuman mineral yang sudah dibuka pada Andin. "Ini, minumlah!"
"Terima kasih." Andin meminum seperempat isi dari botol minuman. Andin juga memakan sepotong kue untuk mengganjal perutnya. Andin memiliki riwayat maag jadi ia tidak bisa memakan makanan pedas seperti Joan. Jhon dan Joan memiliki makanan favorit yang sama yaitu asalkan makanan pedas semua mereka suka.
"Mbak Joan, Mbak Andin, waktunya ganti gaun malam. Salah satu dulu, siapa yang mau ganti baju lebih dulu?" Asisten penata rias Ayu, Gwen, menyuruh pengantin mengganti baju mereka dengan gaun malam. Jam sembilan malam nanti akan ada acara dansa dan tidak leluasa rasanya jika masih memakai gaun pengantin yang panjangnya menyapu lantai.
"Joan saja dulu. Andin biar di sini dulu denganku," ucap Jhon. Jhon duduk di samping Andin dan sesekali berdiri untuk bersalaman menyambut tamu undangan. Sedangkan Joan pergi ke rumah dan mengganti gaun pengantin di dalam kamarnya. Gaun berwarna biru muda dengan belahan dada berbentuk V begitu pas di tubuh Joan. Dengan hight heells setinggi 5 centimeter berwarna biru dongker membuatnya semakin tampak menawan. Gwen merubah tatanan rambut Joan menjadi sanggul sederhana yang lebih simple. Dengan beberapa helaian anak rambut yang di-roll dan dibiarkan menjuntai di samping wajahnya. Setelah riasannya sedikit di rapikan, Joan kembali ke cafe. Dan giliran Andin yang pergi mengganti baju.
"Joan, Ken, Mama sama Papa pulang ke rumah duluan ya, tinggal acara anak muda. Mama dan Papa sudah ngantuk," ucap Lara berpamitan.
"Ya, Ma,Pa, hati-hati di jalan. Ken dan Joan segera pulang kalau acaranya sudah selesai."
"Kakak juga mau pamit, Die Die sudah mengantuk. Ini kunci apartemen Kakak, pulang saja kesana dulu." Irgi menepuk pundak Ken sambil tersenyum penuh isyarat. Ken tersenyum canggung menanggapi ucapan kakak iparnya. Joan yang berdiri di samping Ken pun pipinya langsung merona. Bagaimana tidak, mereka sudah dewasa dan menikah sekarang. Tentunya mereka paham dan menangkap isyarat Irgi yang menyuruh mereka pulang ke apartemen Irgi.
__ADS_1
"Ya, Kak. Terima kasih." Ken menjawab dengan suara pelan.
Syahdan, Lara, Irgi, Seren dan Die Die pergi meninggalkan pesta terlebih dulu. Jhon menghampiri Ken dan Joan yang berdiri dan berbincang berdua.
"Tante sama Kak Seren sudah pulang?" tanya Jhon sambil mengambil segelas minuman ringan.
"Sudah. Lagipula yang hadir tinggal teman-teman kampus dan teman SMA kita dulu. Mana Andin, masih belum datang." Ken celingukan mencari keberadaan Andin.
"Belum. Sepertinya masih dirias. Aku kesana dulu," ucap Jhon. Ia pergi meninggalkan Ken dan Joan.
"Sayang, dansa yuk! Musiknya sudah mulai tuh." Ken mengulurkan tangannya.
"Ayo!" Joan menyambut uluran tangan Ken. Mereka berdansa di tengah pasangan lain yang juga sedang berdansa dengan pasangannya masing-masing. Ken memeluk pinggang Joan sedangkan Joan menempatkan kedua tangannya di pundak Ken. Alunan musik lembut yang mendayu disertai lampu yang diganti dengan lampu warna-warni yang redup, membuat suasana semakin terasa romantis.
Sesekali Ken mencuri-curi kesempatan untuk mengecup pipi Joan. Debaran jantung Joan kian berpacu dengan cepat. Kecupan-kecupan lembut dari Ken membuat seluruh bulu roma Joan meremang.
"Ken, berhenti mengatakan hal-hal mesum seperti itu. Aku baru tahu kalau kamu ternyata punya sifat cabul," ucap Joan dengan suara pelan. Ia melihat sekeliling dan Joan melihat Andin sedang bicara dengan Jhon. "Em ... aku akan menemui Andin dulu." Joan segera berjalan cepat dan menghampiri Andin.
Andin yang memang tidak pede untuk berdansa pun merasa senang karena Joan mengajaknya mengobrol. Jhon tidak mungkin memaksa Andin di depan Joan juga, kan. Andin merasa pegal berdiri dan kembali mengajak Jian duduk di kursi pelaminan. Teman-teman yang hadir juga sebagian adalah teman Jhon dan Ken, jadi Andin dan Joan merasa bebas untuk mengobrol berdua tanpa merasa tidak enak. Karena teman-teman Joan dan Andin sudah pulang sebelum pesta dansa dimulai. Jam sebelas malam para tamu undangan sudah pulang semua.
"Ah. Akhirnya selesai juga. Lelah sekali." Jhon duduk di samping Andin dan menyandarkan kepalanya di bahu Andin.
"Kalian enak, pulangnya dekat. Di samping cafe, cuma jalan sepuluh langkah. Aku dan Joan masih harus menempuh perjalanan tiga puluh menit. Rasanya kalau di sini di sediakan kamar tidur lebih baik langsung tidur di sini." Ken duduk di samping Joan dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Kenapa harus pusing. Kalian kan bisa pulang dulu ke sebelah dan tidur di kamar Joan. Aku yakin kalian juga sangat lelah, ya, kan?" tanya Jhon.
Ken dan Joan mengangguk bersamaan lalu sedetik kemudian menggeleng bersamaan juga. Andin dan Jhon tersenyum melihat tingkah mereka.
__ADS_1
"Ya, sudah, sana pulang!" Jhon mengusir Ken dan Joan. Ken segera bangkit dari kursi dengan semangat dan menarik tangan Joan. Joan melambai pada Andin dan Jhon lalu mereka pun menghilang di balik pintu cafe. Ken dan Joan pulang ke apartemen Irgi dengan mobil hitam milik Ken.
"Lelah? Mau aku pijat?" tanya Andin.
"Sayang, lebih baik kita pulang dan beristirahat. Kamu pasti lelah juga." Jhon bangun dan mengulurkan tangannya pada Andin. Andin tersenyum dan menggenggam tangan Jhon. Mereka keluar dan mengunci pintu cafe lalu pulang ke rumah. Besok pagi para karyawan cafe yang akan merapikan kembali cafe seperti semula.
------------------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
__ADS_1
I Love you, readers ♥️♥️♥️