
Andin dan Ken tiba lebih dulu di gedung bioskop, Ken membeli empat kantong popcorn dan empat gelas minuman bersoda.
"Kenapa banyak sekali, Ken?" tanya Andin.
"Tidak apa-apa, sekalian," jawab Ken.
Andin mengikuti Ken masuk ke dalam pintu nomor 2. Andin duduk di barisan paling belakang dan Ken duduk di depannya.
"Ken, kamu yakin Joan akan menonton di sini?" tanya Andin.
"Aku yakin. Kemarin Joan bilang akan menonton di sini dengan pria lain. Jadi nanti, kamu tolong aku untuk membujuk Joan, ok!" ucap Ken.
"Ok," jawab Andin. Sementara menunggu film diputar, Andin memainkan ponselnya. Ada sebuah pesan dari Riko. Andin membuka pesan itu dan melihat ID pengirim. Riko menanyakan keberadaan Andin. Andin menjawab pesan dari Riko dan mengatakan padanya bahwa dia sedang menonton film. Tidak ada balasan dari Riko, Andin menaruh kembali ponselnya ke dalam tas selempang berwarna coklat.
Sebelum lampu dimatikan, Ken dan Andin melihat Joan yang melangkah naik bersama Jhon. Andin terkejut dan bertanya pada Ken.
"Ken, cowok yang Andin maksud adalah Jhon. Kalian sengaja menjebakku? Aku mau pulang saja," ucap Andin bangun dari tempat duduknya. Andin melangkah hendak pergi, tapi ucapan Ken membuat langkahnya terhenti.
"Sampai kapan kalian saling menghindar? Jika kalian tidak bisa bersama lagi, maka putuslah dengan baik-baik dan kembali berteman seperti dulu. Tingkah kalian seperti ini membuat aku dan Joan tidak nyaman," ucap Ken.
Andin merasa ucapan Ken benar. Mereka bisa berteman saja jika memang tidak cocok menjadi sepasang kekasih. Andin kembali duduk di kursinya. Joan akhirnya sampai di tempat duduk mereka.
"Hai, sayang, lama menunggu?" tanya Joan tersenyum lalu duduk di samping Ken.
"Kalian mengerjaiku?" tanya Jhon. Ia berbalik hendak pergi.
__ADS_1
"Jhon," panggil Andin.
Jhon terhenti mendengar panggilan dari Andin.
"Duduklah!" ucap Andin lagi.
Jhon berbalik menatap Andin. Sudah lama, Jhon rindu suara Andin, kini, saat Jhon ingin melepaskan Andin. Jhon malah dipertemukan dengan Andin. Mendengar panggilan Andin, Jhon mengurungkan niatnya untuk pergi. Jhon kemudian duduk di samping Andin, meski dengan perasaan canggung.
Lampu dimatikan dan film diputar. Saat lampu dimatikan, Joan dan Ken berdiri.
"Kalian bicarakanlah baik-baik masalah kalian! Kami pergi ke tempat lain," ucap Ken.
Ken menggandeng Joan turun dari lantai atas. Mereka keluar dari bioskop, meninggalkan Andin dan Jhon. Entah kebetulan atau memang sengaja. Ternyata di dalam gedung bioskop itu tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua.
"Apa kabarmu?" tanya Andin.
"Tidak terlalu baik, kabarmu?" tanya Jhon.
"Baik." Andin memberikan satu cup minuman bersoda yang Ken beli sebelum masuk ke dalam gedung bioskop.
"Maaf, soal aku memukulmu. Juga, soal keegoisanku. Aku sadar, aku salah. Selama ini kamu pasti tertekan dan merasa tidak nyaman menjadi kekasihku. Aku harap kau mau memaafkan aku. Aku akan merelakan kamu untuk bahagia bersama orang lain, aku pergi," ucap Jhon. Jhon hendak bangun tapi tangannya di tahan oleh tangan Andin.
"Sampai saat inipun, kamu masih saja egois. Setelah kamu bicara, kamu akan langsung pergi. Apa kamu tidak ingin tahu, apa yang ingin aku katakan padamu?" tanya Andin.
Jhon menatap kedua manik mata Andin. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bangun dan tetap duduk di samping Andin. Jhon meminum sodanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu tidak bisa berubah. Karenanya, mari kita putus baik-baik dan kembali berteman seperti dulu. Aku rasa itu lebih baik, daripada kita saling menyiksa hati masing-masing. Mari kita berteman saja," ucap Andin.
Jhon mengepalkan tangannya, mencoba meredam perasaan sakit dihatinya. Jhon memang berusaha melepaskan Andin dari sisinya, tapi Jhon tidak pernah menyangka akan sesakit itu rasanya. Ketika Andin mengatakan kata putus, hatinya seolah disayat-sayat belati tajam. Dengan sekuat hati, Jhon tersenyum getir dan mengulurkan tangannya ke hadapan Andin.
"Mari kita berteman saja, jika itu yang kamu mau," ucap Jhon.
Andin kecewa karena Jhon sama sekali tidak menolak, padahal niat Andin adalah memancing Jhon. Apakah dia masih menginginkan Andin atau tidak. Sungguh di luar dugaan Andin, Jhon justru tersenyum dan menyetujui tanpa penolakan sama sekali. Andin pun menerima uluran tangan Jhon. Mereka berjabat tangan dan tersenyum dengan terpaksa.
Mereka lalu menatap layar bioskop yang terpampang lebar di hadapan mereka. Mata mereka tertuju pada layar yang memutar film romantis, tetapi pikiran mereka berkelana jauh. Tatapan mereka kosong, keduanya merasakan kehampaan saat hubungan mereka benar-benar berakhir.
Tidak pernah mereka bayangkan jika hari ini akan tiba. Hari dimana ikatan cinta mereka terputus karena ego masing-masing. Hingga film habis diputar dan lampu menyala kembali. Mereka tersadar dari lamunan mereka saat cahaya silau menembus mata mereka. Pengunjung bioskop yang akan menonton film selanjutnya, mulai masuk ke dalam gedung bioskop itu.
Jhon mengajak Andin keluar dari dalam bioskop. Mereka berjalan bersama dalam kebisuan. Tidak ada yang memulai percakapan setelah mereka resmi putus.
----------------------------------
hy readers
makasih buat kalian masih setia sm author yaš
ttp dkung author yaš
smpai jumpa next episode
jngn lupa jejaknya yaā¤
__ADS_1