Pengasuh Cantik Sang Putri CEO

Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
67. MP (Joan & Ken)


__ADS_3

HELLO READERS PENGASUH CANTIK.


PENGASUH CANTIK SANG PUTRI CEO


AKAN TAMAT DI EPISODE 150. TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG SUDAH MEMBACA DAN MEMBERI DUKUNGAN PADA AUTHOR DAN NOVEL INI. 🙏🙏🙏


----------------------------------


Joan melangkah perlahan-lahan dan melingkarkan tangannya di perut Ken.


"Kau sudah bangun? Apa aku mengganggumu? Maaf, sayang. Aku lapar," ucap Ken sambil mematikan kompor lalu berbalik menatap Joan.


"Kenapa tidak membangunkan aku?"


"Kamu pasti lelah. Mana mungkin aku tega membangunkan kamu. Apa kau lapar?"


"Sedikit," jawab Joan. Ia melepaskan pelukannya dan membantu Ken membawa makanan ke meja makan.


 Mereka makan malam berdua sambil sesekali saling menyuapi satu sama lain. Senyum bahagia mengembang sempurna di bibir Ken. Lebih tepatnya mereka bukan makan malam, karena sudah jam dua dini hari. Ken selalu melirik bibir Joan, bibir yang sudah sering ia kecup. Tetapi hari ini, entah kenapa bibir Joan seakan memiliki daya hipnotis. Karena Ken merasa tidak bisa menahan hasratnya untuk melum*at bibir itu dengan rakus. Selesai makan, Joan mencuci piring dan menaruhnya di rak.


"Jo."


"Apa?"


"Kenapa kau begitu menggoda hari ini? Aku benar-benar tidak tahan melihatnya."


Joan tersipu malu mendengar ucapan Ken. Joan menghampiri Ken yang masih duduk di depan meja makan. Joan gadis yang dikenal sebagai gadis tomboy oleh Ken, ternyata bisa tersipu juga.  Joan bergerak lebih dulu merayu Ken. Seperti saat dulu ia merayu Ken, ketika Ken marah. Joan menarik kursi tempat duduk Ken lalu Joan duduk diatas pangkuan Ken. Dengan kedua tangan melingkar di pundak Ken, jemari Joan membelai wajah Ken.


"Ini … baru bisa kamu katakan menggoda." Joan meraba leher Ken dengan jemarinya. Dan jemari itu terus turun ke dada bidang Ken. Joan memutar jemari  di perut sixpack Ken, perut dengan otot-otot yang kencang. Ken menangkap tangan nakal Joan dan mengecupnya lalu Ken menghisap ibu jari Joan dengan lembut.


Joan memejamkan mata dan merasakan darahnya berdesir. Seolah semua darah terhisap oleh gerakan menghisap dari mulut Ken. Joan membuka mata saat Ken melepaskan tangan Joan. Ken bangun dan menggendong Joan ke kamar mereka. Joan dibaringkan di tengah ranjang. Ken merangkak diatas tubuh Joan. Ia mengecup kening Joan dengan lembut.


"Akhirnya aku sudah mendapat SIM."

__ADS_1


"SIM? Apa hubungannya dengan pernikahan kita?" tanya Joan kebingungan.


"Itu PR buat kamu. PR-ku sekarang adalah …."


Ken mengecup bibir tipis Joan dengan lembut tetapi dalam. Mereka mulai berpagut dengan penuh perasaan. Seluruh dahaga Ken yang telah ia tahan selama ini pun seakan terpuaskan malam ini. Dengan rakus rakus ia mereguk madu cinta di tubuh Joan. Tidak ada satu jengkal pun bagian tubuh Joan yang terlewat dari kecupan panas Ken. Joan kelimpungan mengimbangi keganasan Kecupan-kecupan dari bibir Ken.


Puas menjelajah dengan kecupan, kini Ken bersiap melakukan ritual inti malam pertama mereka. Saat pertama Ken memulai, Joan mencengkram kedua lengan kekar Ken untuk mencari pelampiasan rasa sakit diantara kedua kakinya. Joan meringis merasakan sesuatu yang terasa robek disana. Ken berhenti sejenak dan memberikan Joan waktu agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Ken menghapus air mata yang menetes di samping kedua mata Joan.


"Sakit? Maaf, sayang," ucap Ken sambil merapikan anak rambut yang menghalangi mata Joan. Joan tidak menjawab ia hanya memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Rasa sakit, perih dan ngilu, masih belum berkurang. Ken mengecup kembali bibir Joan dengan lembut. Ajaib karena setelah Joan berpagut saling menyesap bibir Ken, rasa sakitnya berkurang dan lama kelamaan tidak terasa sakit lagi. Melihat Joan yang sudah tidak terlihat kesakitan, Ken melanjutkan ritual mereka.


Di dalam kamar pengantin itu hanya terdengar suara napas dari dua insan yang sedang berpacu dan berbagi madu cinta. Ken memiliki stamina yang kuat, ya karena Ken selalu menjaga kebugaran tubuhnya dengan olahraga beladiri tinju. Ken juga bukan pecandu rokok, meskipun seringkali ia mendapat ejekan dari teman-temannya. Mereka mengejek, Ken kurang asyik. Namun Ken tidak peduli karena baginya menjaga kesehatan lebih baik daripada mengobati.


Joan kewalahan menghadapi serangan Ken yang begitu dahsyat. Peluh bercucuran dari kedua insan yang di mabuk asmara itu. Dini hari ini terasa lebih panjang bagi Ken dan Joan yang baru saja melewati ritual malam pertama mereka. Joan berbaring di lengan Ken dengan posisi tidur membelakangi. Joan menautkan jari jemari tangannya dengan jari jemari Ken. Sementara satu tangan Ken yang lain melingkar di perut Joan. Ken mengecup rambut Joan dan tersenyum bahagia. Begitupun dengan Joan yang tersenyum malu saat Ken mengecup rambutnya. 


"Sayang."


"Hem," jawab Joan singkat. 


"Tidak jadi." Ken membatalkan niatnya untuk bertanya.


"Kenapa tidak jadi?" tanya Joan.


"Tidak apa-apa. Kalau aku jadi bertanya, memangnya kamu akan jawab?"


"Pasti aku jawab."


"Yakin?"


"Ya. Masa tidak percaya. Jadi kamu mau tanya apa, sayang?" tanya Joan penuh rasa penasaran.


"Baiklah, aku akan bertanya. Jangan menghindar dan jawab dengan jujur. Apa kau puas dengan permainanku?"


Joan tersedak oleh saliva-nya sendiri saat Ken menanyakan hal yang membuat wajahnya memanas seketika. Joan menyesal telah memaksa Ken bertanya padanya. 

__ADS_1


"Em … itu … aku mau ke kamar mandi." Joan hendak bangun tapi Ken menahan tubuh Joan dengan memeluknya erat. 


"Ayo, jawab! Jangan menghindar, aku sudah mengatakannya tadi." Ken menatap Joan dengan tajam.


"Tidak mau." Joan menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ken menggelitik pinggang Joan sampai Joan tidak bisa menahan untuk tidak tertawa, "hahaha, ampun, ampun. Tapi aku tidak mau jawab, pertanyaan apa itu. Dasar mesum!" Joan memegangi kedua tangan Ken agar berhenti menggelitik pinggangnya. 


"Kan cuma mesum sama istri sendiri. Masa tidak boleh," ucap Ken merajuk. Ken menarik kedua tangannya dan berbalik membelakangi Joan. Joan merasa bersalah melihat Ken marah padanya. Padahal Ken hanya berpura-pura merajuk saja. Ken tersenyum geli memikirkan Joan yang sedang bimbang. Apakah Joan harus menjawab pertanyaan Ken atau tidak.


"Kalau aku jawab, apa marahmu akan hilang?" tanya Joan. Ken menjawab dengan anggukkan pelan. "Aku …. Aku …." Joan masih ragu dan juga malu untuk mengatakan kata-kata selanjutnya. Dengan ucapan cepat Joan pun berkata, "aku puas dan kewalahan melayani kegagahanmu." Joan segera bersembunyi kembali di bawah selimut. Malu sekali rasanya Joan berkata seperti itu. Meskipun itu adalah kejujuran, tetapi ia tidak menyangka jika ia harus mengatakan hal memalukan seperti itu. Ken tersenyum dan mengikuti Joan, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan kembali mengganggu Joan. Mereka tertawa dan bercanda di balik selimut.


Setelah kelelahan bercanda, Ken dan Joan membersihkan diri bergantian ke kamar mandi. Surya telah memancarkan cahayanya. Pagi ini, mereka sarapan bersama sebagai suami istri untuk pertama kalinya. Meski mereka sudah sering sarapan bersama, tetapi pagi ini terasa perbedaannya antara dulu dan sekarang. Sarapan pagi ini terasa lebih nikmat dibandingkan dengan biasanya.


------------------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 

__ADS_1


 I Love you, readers ♥️♥️♥️


__ADS_2